The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 43 (Hukuman David)



Aroma kopi menyeruak di ruangan rumah kaca di pagi hari. Beberapa orang sudah duduk mengelilingi meja bundar di dalam rumah kaca. Senyum miring terbit di wajah Sean, kala tubuh David masuk ke dalam rumah kaca.


"Hai! Kawan-kawan!" Seru David ceria seperti dulu kala. Seperti, sebelum negara api menyerang. Oke, lupakan kata negara api.


David berhenti di ujung meja dahinya berkerut kala melihat ada dua wajah baru yang duduk di meja.


"Siapa dia?" Tanya David melihat dua gadis cantik yang mana salah satunya tersenyum manis padanya.


"Ah, itu namanya Ella. Dia bawahan Willem, di samping Ella itu namanya Anne," jelas Delta dengan nada lembut. Di balik ke lembutan tersembunyi senyum iblis nya.


"Ayo, duduk kawan!" Tutur Willem ramah. Tak lupa menunjuk bangku di samping Anne.


Gadis cantik itu tersenyum menggoda pada David. Pria bermata hijau itu duduk dengan gaya sok cool nya. Seperti nya pergi seminggu lebih dari Jepang. Benar-benar keputusan terbaik untuk nya. Terbukti, dua hari sudah ia bersekolah kembali. Dan tidak ada hukuman apa-apa dari Sean dan kawan-kawan nya.


"Mana oleh-oleh dari Belanda kawan?" tanya Vian yang biasanya irit bicara membuka suara.


"Ah, ada kok tenang saja. Nanti malam akan aku berikan." Tidak lupa kedipan maut dari sebelah mata nya.


Jika yang duduk di sana adalah pengemar David. Mungkin mereka akan berteriak histeris karena kedipan maut dari David Miyaki. Model tampan yang mampu meleleh hati banyak gadis.


Sean berdiri dari posisi duduk nya. Di ikuti oleh teman-temannya. David mengerutkan dahinya.


"Mau kemana kalian?" tanyanya dengan nada curiga.


Willem menunduk dan mendekat kan bibir nya ke daun telinga David."Anne kayaknya menyukaimu. Kami beri kau kesempatan berdua dengan nya." Bisik Willem dengan nada pelan.


Sean telah mengandeng tangan Adella keluar. Di ikuti oleh Vian, Delta dan Willem terakhir bersama Ella. Hingga hanya ada Anne dan David. Pria remaja ini tampak tebar pesona pada Anne.


"Sudah lama di Jepang, Anne?" tanya David dengan nada berat dan serak.


Anne tersenyum malu-malu."Sudah lumayan lama. Aku di sini di bawa oleh Tenteku. Kebetulan Tante ku bekerja di bawah tuan Yamato," jelasnya.


"Oh, begitu ternyata. Kerja apa?"


"Tanteku kerja di salon bersama sahabat nya orang Indonesia," jawab Anne masih dengan nada lembut.


Kepala David mengangguk-angguk pelan. Pertanda mengerti.


"Aku dengar, David suka sama cewek secantik aku," ujar Anne dengan lembut.


David menggaruk pelan kepala leher belakang nya yang tidak gatal. Anne sangat cantik, kulit putih pucat. Bibir tipis merah merekah, hidung sedikit mancung dengan mata coklat indahnya. Jangan lupakan dada dan bodi belakang nya yang oke punya.


Anne mendekati kan tubuh nya pada David. Ke duanya tersenyum malu.


"Gila! Mimpi apa aku semalam. Dapat cewek baru secantik ini!" seru hati David penuh rasa syukur.


Bahu ke duanya saling senggol. Masih dengan senyum malu-malu kucing.


Keras.


Dahi David berlipat tiga kala dada Anne menyentuh bahu kekarnya.


"Eh! Punyaku jadi geser!" ujarnya dengan nada lucu.


Mulut David terbuka kala melihat dada Anne berbelok arah. Tergeser ke kiri, tunggu. Bergeser.


Glek!


David Miyaki menelan susah payah air liur nya. Kala Anne menyentuh beda bulat itu dan membenahi tempat nya. Hingga kembali pada tempat semula.


"Heheh...di maklumi aja, ya David. Jeruk Mandarin memang agak licin, susah kalau masukin ke sini. Kesenggol langsung, miring!" Ujar Anne dengan gaya centil.


Mata David berkedip-kedip lucu. Hingga telapak tangannya di bawa menyentuh ke dua jeruk keras itu. Gila!!!!! David terjengkang kebelakang.


"Kau....kau...banci!" Tunjuk David pada Anne masih dengan posisi terjengkang. Pria gagah itu bahkan tergagap.


"Eh, jangan kasar begindang dong ah.... Akika kan Mamang lekong Thailand, Yey thatut sama akika kah?" Ujarnya dengan menggulung rambut nya.


David berdiri cepat. Belum sempat David lari. Anne sudah memeluk David.


"Lepaskan!!! Sean!!!!! Ampun!!!!!!!" Teriak David dengan wajah memerah.


Kecupan demi kecupan di layangkan oleh Anne. Di layar monitor beberapa orang tertawa puas.


David memberontak. Geli dan jijik dalam satu waktu.


"Sean!!!" Teriak David.


Bruk!


Sang banci tersungkur jatuh kala di sikut. Jeruk mandarin di dadanya menggelinding di reremputan. David kabur.


"Jangan kabur Abang, ahh.. Abang tolong hamidahkan akika!!" Teriak Anne dengan nada mendesah manja. Tak lupa ia memunggut jeruk di rumput. Sebelum memasukan nya kembali ke tempat semula.


"Abang!" Teriaknya sembari berlari.


"Ogah!!!!" Teriak David menujuĀ  rumah besar.


Hanya Dera yang bisa menolongnya saat ini.


"Mama Dera!" Teriak David di sela larinya.


"Honey!" Teriak Anne di belakang."Jangan lari terlalu laju, nanti jeruk akika menggelinding lagi, ah...ah..." Teriaknya.


Di ruangan kontrol sudah tidak tertolong lagi. Wajah orang-orang memerah melihat David dan Anne bak film India saja. Beberapa kali jeruk Anne menggelinding dan banci itu kembali memungut nya. Hingga ke dua jeruk itu menggelinding. Anne tidak menyerah mengejar David.


***


Vian dan David masih tertawa terbahak-bahak melihat salinan video David dan Anne di dalam ponsel mereka masing-masing. Kala Videonya di kirim ke grup Chatting.


"Aduh, sakit perut ku!" Keluh Vian wajahnya sudah merah. Ponsel persegi panjang itu di letakan di atas tempat tidur nya.


Sean masih asik mengulang-ulang rekaman Video. David sampai muntah kala pipinya di cium oleh Anne. Delta dan Willem sangat puas melihat bagaimana David berteriak dan hampir menangis karena sang banci tidak jemu mengejarnya. Seakan bernafsu besar untuk menyumbang kecup pada wajah David. Setiap kecupan ada uang ratusan dollar yang akan ia terima.


"Jika melihat ini. Aku jadi kangen sama Paman Leo," seru Vian dengan nada pelan.


"Ah, Paman Leo sudah di Belanda dengan Tante Vera. Mereka natal besok akan pulang bersama Kakek dan Nenek, Bang!" jawab Sean. Sebelum jari panjang nya menghentikan pemutaran video.


"Beberapa kali video call dengan Paman Leo selalu terasa lucu," ujar Vian.


"Paman Leo memang menyenangkan berbeda dengan Papa yang selalu serius," keluh Sean.


Vian mengulum senyum."Papa kita memang begitu. Serba serius."


"Seperti Abang!"


Vian hanya tersenyum kotak mendengar perkataan sang adik.


Sean berdiri dari posisi duduknya. Vian masih menatap gerak gerik Sean.


"Mau kemana?" tanya Vian melihat Sean melangkah menuju pintu keluar.


"Mau ganguin Papa dan Mama," jawab Sean dengan senyum iblis milik nya.


"Ck!ck! Pantas saja Papa melebelkan mu dengan sebutan anak setan," cibir Vian. Sean malah tertawa keras. Sebelum berubah dalam sepersekian detik. Menjadi wajah menakutkan.


"Kau dan aku sama Bang, hanya dalam wujud berbeda!" ujar Sean dengan nada dingin.


Vian tersenyum tak kalah menakutkan.


"Kita berdua tau dengan jelas. Bukan hanya kau ataupun aku, adik-adik kita bukanlah manusia normal. Kita sama-sama bernafsu pada darah, Sean!"


"Mau berburu bersamaku malam ini?" tawar Sean.


"Kau ingin?"


"Ya. Aku pikir jika kita berdua berburu sangat menyenangkan. Aku ingin mengasah ketangkasan ku lagi!"


Vian berdiri dari posisi duduknya. "Kebetulan, aku ingin mencoba racun baru ini!" Ujar nya memperlihatkan sebotol kecil berwarna hijau bening.


"Ayo!" Ajak Sean melangkah terlebih dahulu.


Seperti nya, Sean Yamato harus menunda untuk menganggu sang ayah. Ia ingin berburu manusia dengan sang kakak. Senyum iblis tercetak di wajah ke duanya.