The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 41 (Hipnoterapi)



Door!


Door!


Door!


Tiga tembakan melayang mengenai titik merah yang bergerak. Kembali fokus kala target bergerak kembali. Hingga bunyi memekakkan telinga kembali mengalun. Sean dan Vian tersenyum bangga pada sang ibu. Hiro terlihat mendekati Dera.


"Bagaimana?" tanya Dera pada sang suami.


"Sempurna!" puji Hiro.


Dera tersenyum lebar. Hiro memeluk pinggang Dera dari belakang. Seruan cemooh dari anak-anak mereka terdengar nyaring. Launa hanya memasang wajah masam, anak perempuan cantik ini kembali menatap buku di pahanya. Berbeda dengan Laura si adik bungsu yang ikut-ikutan mengerang kesal bersama ke dua Abangnya.


"Papa!!!!" Teriak ke tiga nya serentak kala Hiro tidak tau malunya mengecup ujung bibir Dera.


Gila. Hiro Yamato tersenyum penuh kemenangan pada ke tiga anaknya. Seolah-olah berkata, ibu kalian adalah milik ku seorang.


"Wah! Benar-benar menyebalkan!" keluh Vian.


"Ini yang aku katakan, Papa itu suka memanapoli Mama, Bang!" ujar Sean buka suara.


"Papa! Lepaskan Mama. Papa tidak boleh cium Mama saja, harusnya juga cium kami!" Teriak Laura dengan suara melengking.


Kontan saja orang-orang di ruangan khusus menutup daun telinga mereka.


"Ogah!" Teriak Vian dan Sean serentak.


Siapa juga yang mau di cium oleh Papanya. Beda pasalnya dengan Laura yang ingin di cium oleh sang Ayah. Keluarga Yeko, hanya tertawa ringan melihat hiburan di malam hari.


"Papa Hiro dan Mama Dera tidak pernah berubah ya, Ma!" ujar Cleo di samping Clara.


Clara tersenyum. Memeluk leher sang putri dan nya.


"Ya, mereka tidak pernah berubah." Angguk Clara.


"Tapi kenapa Papa dan Bunda tidak mau begitu juga?" timpal si kecil.


Clara kontan melihat ke arah sang suami. Yeko, berpura-pura tuli. Cleo hanya mengeleng pelan.


"Papa bukan pria romantis Cherry. Dan Papa itu orang nya pemalu kalau di depan umum. Kamu tidak tau saja, Papa kalau sudah berduaan sama Bunda mereka itu suka kayak roti dem——hhmmppp"


Clara dengan cepat membekap mulut ember putri pertama mereka. Cherry menatap penasaran dengan kelanjutan perkataan sang kakak. Yeko, menarik Cherry ke pelukan nya.


"Tidak usah dengarkan perkataan kakakmu. Dia hanya asal ngomong, Cherry mau belajar menembak sama Papa?" ujar Yeko memberikan tawaran pada sang putri bungsu.


Clara masih membekap mulut ember Cleo. Terlihat bibir Clara berbisik di telinga Cleo. Sebelum Cleo mengangguk perlahan. Baru tangannya di lepas kan.


"Maukan?" desak Yeko.


Dahi Cherry sempat berlipat dalam. Namun mengangguk pelan, mengikuti langkah sang ayah. Dengan tangan kecil di gandeng menuju Hiro dan Dera yang tengah jadi rebutan Laura. Yang menarik-narik Hiro agar lepas dari sang ibu. Sean dan Vian hanya menjadi pemandu sorak. Agar Laura lebih semangat menarik sang ibu lepas dari sang ayah.


***


Aroma lilin terapi memenuhi ruangan. Adella tidur di kursi khusus dengan di dampingi oleh wanita cantik.


"Tidak usah tengang! Tarik napas perlahan, tahan dan hembusan pelan dari mulut," instruksi Clarissa di ikuti oleh Adella.


"Lihat ini, ikuti kemana arah geraknya!" Ujar Clarissa menunjuk bandul di tangannya.


"Baik," jawab Adella pelan.


"Oke, mari kita mulai." Kata Clarissa mengayunkan bandul. Di ikuti oleh manik mata indah Adella. Perlahan-lahan."Hitungan ketiga Adella, kamu akan merasakan semakin mengantuk. Satu.....dua...ti——tiga, tidur!" Titah Clarissa.


Ke dua kelopak mata Adella terkatup rapat. Perlahan Clarissa meletakkan kalung yang ia pegang di atas meja.


"Adella Putri, apakah itu benar-benar nama aslimu?" tanya Clarissa.


"Ya," jawab Adella pelan masih dengan ke dua mata tertutup.


"Baiklah, Adella. Dengar kan aku dengan baik. Sekarang kamu berada di ruangan gelap. Sangat gelap," kata Clarissa.


Ke dua kelopak mata Adella tampak bergetar kala ke dua bola mata Adella bergerak gelisah dengan hembusan napas gusar.


"Tenanglah, perlahan-lahan lampu hidup menyinari sekeliling. Ada begitu banyak pintu di dalam ruangan. Apakah kamu melihat nya Adella?" tanya Clarissa lagi memberikan pengarahan,"jika kau melihat pintu anggukan pelan kepala mu," lanjut nya.


Kepala Adella mengangguk kecil.


"Bergerak lah, carilah pintu yang menarik bagimu," instruksi nya lagi.


Kepala Adella terlihat bergerak. Terdorong kebelakang beberapa kali.


"Pintunya tidak bisa di buka," seru Adella pelan.


"Perlahan saja bukanya, jangan terburu-buru!"


"Tidak bisa?" tanya Clarissa.


Kepala Adella mengangguk."Tidak bisa," jawabnya lirih.


Hembusan napas perlahan Clarissa terdengar. Seperti nya, gadis ini benar-benar belum bisa untuk membuka ingatan masa lalu. Seberat apa ingatan masa lalu yang ingin gadis ini buang.


"Tidak apa-apa cari pintu lain saja terlebih dahulu," ujar Clarissa.


Adella mengangguk mengerti.


"Terbuka!" seru Adella dengan senyum lembut.


"Masuklah!" ujar Clarissa.


Adella mengangguk.


"Sudah masuk?" tanya Clarissa.


"Sudah."


"Apa yang kau lihat?"


"Seorang gadis kecil memeluk seorang perempuan. Ia menangis meminta untuk tidak di bawa. Tapi tetap di tarik," jawab Adella iba.


"Lalu?" tanya Clarissa.


"Jangan! Jangan lakukan itu, jauhkan beda itu padanya. Jauhkan!!?!!!!!!!!" Teriak Adella histeris. Tubuh nya bergetar bergerak, tangan nya mengawang-awang. Seolah-olah ingin menjauhkan anak perempuan itu dari benda berbahaya."Jauhkan besi panas itu!!! Tidak!!!!!" Teriak nyaring mengalun. Air mata meleleh dari ke dua matanya.


Clarissa panik melihat tubuh gadis remaja itu meggelepar dengan air mata meleleh. Air matanya terus mengalir teriakan keras memekakkan telinga.


"Keluar dari sana! Sekarang!" titah Clarissa.


Sayang nya emosi bawah sadar Adella tidak bisa di perintah. Rasa marah dan sakit meluap membuat Adella tuli dengan perintah.


"Sial!" maki Clarissa. Hingga tepukan di bahu membangunkan Adella.


Tubuh nya masih bergetar dengan air mata meleleh.


"Tidak apa-apa. Kau baik-baik saja," ujar Clarissa cepat. Sebelum mengusap puncak kepala Adella.


Gadis itu membeku. Dingin, tubuh nya terasa sangat dingin. Ia tak mengerti kenapa ia bisa merasa begitu emosional kala melihat besi panas di tempel kan di pipi anak berusia tujuh tahun itu. Rasanya, sangat menyakitkan.


Clarissa membantu Adella duduk bersandar di sofa. Memberikan susu coklat hangat sebelum memasang aroma terapi penenang.


***


Angin malam berhembus, mampu menusuk tulang. Kedua manik mata indah Adella masih belum ingin terpejam. Derap langkah kaki, hingga ke dua hahu nya terasa hangat. Pria gagah itu duduk di samping Adella.


"Kenapa masih di sini di jam segini?" tanya Sean.


"Hanya belum mengantuk," jawab Adella. Sebelum mengulas senyum.


"Ada yang membuat mu khawatir?"


"Entahlah."


Sean menarik tangan Adella. Menggosok nya perlahan dengan tangannya. Adella menoleh, menatap wajah Sean.


"Tanganmu sangat dingin, dari jam berapa kau di sini, Hem?"


"Baru satu jam," jawab Adella pelan.


Sean menghembuskan napas lewat mulut. Uap asap mengalun di udara, dapat di lihat betapa dinginnya udara malam di Jepang saat ini.


"Ayo masuk, di sini dingin!" Ajak Sean sebelum berdiri dari posisi duduk nya.


Adella mengigit pelan bibir bawahnya.


"Kenapa?" Dahi Sean berlipat dalam kala Adella tidak kunjung berdiri.


"Kakiku beku," jawab Adella terkekeh lucu.


Sean gemas. Pria itu sontak melepaskan tangan Adella. Berjongkok di depan tubuh Adella.


"Ayo naik," titahnya.


Adella terlihat ragu.


"Naik! Atau aku minta Papa turun buat nikahin kita?" Ancam Sean dengan wajah mesum nya.


Adella memukul pelan punggung belakang Sean. Sebelum terkekeh kecil, perempuan itu naik. Sean mengendong Adella.


Di balik layar monitor. Anak buah Hiro melenguh iri melihat ke romantis sang tuan muda.