The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 78 (Rindu Mama)



Nika melirik aneh wajah teman satu bangku nya. Gerak gerik Adella tampak aneh. Tangan gadis Indonesia itu tampak beberapa kali mengusap dadanya dan menepuk pelan. Di depan sana guru kesenian masih mengulas materi pelajaran.


"Adella! Ada apa dengan dadaku?" tegur Nika dengan nada pelan.


Adella menoleh ke samping. Kepalanya mengeleng kecil, sebelum memasang senyum.


"Aku tidak apa-apa," ujarnya dengan suara pelan,"kau lanjut saja belajar nya. Aku ke toilet dulu!" lanjut nya.


Bibir merah merekah itu terbuka. Namun tertutup kembali, kepalanya mengangguk.


"Ya, sudah. Kalau ada apa-apa, jangan lupa kabari aku ya!"


"Hem!"


Hanya deheman sebagai jawaban. Adella meminta izin kepada sang guru. Sebelum melangkah keluar dari ruangan kelas. Tubuh nya terasa dingin, sangat dingin. Dengan dada terasa panas nyaris membakar jantung nya.


Langkah kakinya memelan. Punggung belakang nya bersandar di tembok di samping pintu masuk toilet.


Tik!


Tik!


Kembali darah mengalir jatuh dari ke dua lubang hidung nya. Tangan Adella membekap cepat darah di hidung. Ia kembali menegakkan tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam toilet. Pergerakan nya tampak panik. Sebelum masuk ke salah satu bilik toilet.


Wuek!!!


Seluruh isi perutnya keluar begitu saja. Bahkan ke dua mata Adella memerah dan berair. Pangkal hidung nya terasa perih. Darah di hidung masih membuat ulah. Menetes di pinggiran kloset, tubuh Adella melemas. Tubuh nya terduduk di lantai marmer kamar mandi. Ini sudah tidak wajar. Satu kata yang melintas di otak Adella.


"Papa!" serunya lemah sebelum merogoh saku almamater nya. Mencari ponsel, gadis ini ingin menghubungi ayah angkatnya.


Tidak peduli jika noda darah di telapak tangan nya mengotori almamater maupun ponsel mahal yang di beli Hiro. Yang jadi tujuan saat ini adalah ayah angkatnya. Mengingat pria itu adalah seorang Dokter.


Tut....


Nada tersambung terdengar jelas saat panggilan tersambung. Kepala Adella terasa pusing, dan memberat.


"Halo! Adella." Seru Anto di negara seberang.


Masih dapat di tangkap oleh Indra pendengaran Adella. Hembusan napas Adella terdengar tidak stabil. Ponsel di tempelkan di daun telinga sebelah kanan.


"Pa!" panggil Adella lirih di sela napasnya yang terasa panas.


"Sayang! Kamu kenapa, ada apa dengan suaramu. Kau baik-baik saja kan di sana?" tanya Anto terdengar panik.


Dahi Adella semakin berlipat kala rasa panas di dada terasa. Punggung telapak tangan kirinya mengusap pelan darah yang masih mengalir di hidung.


"Papa! Tubuh ku terasa aneh. Dari malam kemarin mimisan dan batuk darah," jawab Adella dalam satu kali tarikan nafas.


"Apa yang terjadi padamu?" terdengar jelas suara panik dari Anto di seberang telepon,"cepat hubungi Dokter Ochi," lanjut Anto panik.


Bug!


Ponsel melayang ke lantai. Kala kesadaran Adella menghilang.


"Adella! Kamu dengar suara papakan?"


"Adella!"


"Adella!"


Tidak ada sautan dari Adella. Tubuh nya tersandar di dinding bilik toilet dengan bibir membiru.


...***...


"Jurusan apa yang akan kalian ambil setelah tamat sebentar lagi?" tanya David dengan wajah serius sebelum menatap ke empat sahabat nya berganti-gantian.


"Aku sudah pasti Manajemen Bisnis," jawab Willem. Tuan muda keluarga Zhao satu ini sudah pasti mengambil jurusan tentang bisnis. Mengingat ia akan menjadi pengurus perusahaan yang baru di kembangkan sang ayah. Di samping menjadi tuan muda dari anggota Devil.


"Kalau aku mau ngambil jurusan Hubungan Internasional. Mengingat aku ingin keliling dunia," ujar Sean tanpa berpikir.


"Eh, hei! Kau sudah pasti mengambil jurusan lain Sean. Jika kau ambil jurusan Hubungan Internasional, maka siapa yang akan jadi pemimpin perusahaan?" tukas David.


Sean tersenyum ringan."Aku mau ambil jurusan apapun tidak masalah. Karena untuk urusan perusahaan Abangku yang tangani!" balas Sean sebelum melirik Vian di samping nya.


"Tidak. Dia akan masuk satu jurusan dengan aku dan Willem. Enak saja aku saja yang harus pusing dengan angka-angka dan perusahaan kedepannya. Kau juga harus merasa kan nya, kembarku!" ujar Vian dengan nada serak.


"Nggak mau Abang. Aku ingin ambil jurusan Hubungan Internasional. Biar bisa ajak Adella kemana saja. Singgah di banyak negara menetap beberapa tahun di negara lain. Untuk yang membantumu, kau masih punya Laura yang akan mendampingi mu," tandas Sean. Pria remaja ini sangat tau, Laura juga akan membantu perusahaan ke depannya.


Launa akan menjadi seorang Dokter ke depannya. Mungkin, adik cantik nan kalem satu itu akan menjadi Dokter terhebat di Asia. Mengingat obsesi nya pada banyak operasi. Di tambah arahan Hiro pada Launa sangat terarah. Sean yakin, adik perempuan nya itu akan sangat sukses kedepannya.


"Sudahlah. Itu masalah kalian nanti saja di bahasa. Tulis saja apa yang ingin di tulis. Lalu kau sendiri mau jadi apa Willem, mengingat ibu dan ayahmu memiliki perusahaan media terbesar di Jepang. Tapi kau sekarang seorang model yang akan merambat menjadi seorang aktor. Kau mau ambil apa?" tanya Willem penasaran.


"Hah!" David mendesah resah,"meskipun aku ingin menjadi seorang aktor terkenal. Tetap saja aku akan menjadi pemimpin perusahaan orang tuaku. Kemungkinan besar aku akan mengambil jurusan......ah, entahlah!" lanjut David terlihat dilema.


Serentak ketiga lelaki remaja di meja mengangguk pelan. Sebelum mereka beralih pada Delta yang banyak termenung seharian.


"Ta! Kau sendiri mau ambil jurusan apa?" Tanya David menyenggol pagi Delta.


Gadis imut itu tersentak dari lamunannya.


"Ah?" wajah Delta tampak linglung.


David, Sean dan Willem terkekeh melihat wajah linglung Delta. Vian hanya mengeleng kecil.


"Segitu beratnya kah memikirkan tentang jurusan, Ta?" tebak Willem.


Delta tersenyum canggung."Ya, begitu lah." Jawab nya sembari mengangguk pelan."mungkin aku akan mengambil jurusan desain grafis," jawabnya asal.


"Bukan nya dari kita di sekolah dasar kau ingin mengambil jurusan Administrasi?" tanya Sean dengan wajah penasaran.


"Ah...itu, nggak jadi. Kita kan sering berubah-ubah. Saat itu masih labil lah," balasnya. Tak lupa mengembangkan senyum.


Merdeka berlima kembali mengajukan pertanyaan pada satu sama lain.


...***...


Aroma menyengat dari obat-obatan tercium jelas. Ke dua kelopak mata Adella berkedudukan pelan. Sebelum terbuka perlahan. Beberapa kali kelopak matanya menggerjab, saat hantaman cahaya bohlam lampu menyentuh retina mata.


"Kamu sudah sadar sayang?"


Itu suara Dera panik. Wanita itu bergegas berdiri dari posisi duduknya. Ia mendapat kabar Adella di larikan ke Rumah Sakit. Di temukan pingsan dengan hidung berdarah. Membuat nyonya Yakuza ini kalang kabut.


Beruntung salah seorang teman wanita Adella membuka pintu bilik toilet. Hingga tau, Adella telah tak sadarkan diri.


"Ma!" panggil Adella serak. Kerongkongan nya sakit.


"Ya sayang. Mama disini!" Balas Dera menggenggam pelan telapak dingin tangan Adella.


Adella tersenyum tipis. Ia bersyukur memiliki Dera di samping nya. Wanita yang tidak pernah membeda-bedakan ia dan anak kandung wanita ini. Wanita yang dengan tulus memberikan perhatian padanya.


"Bagaimana perasaan mu?" tanya Dera menatap lambat wajah pucat Adella.


"Lebih baik untuk saat ini, Ma!"


"Kenapa bisa pingsan di toilet, kalau merasa nggak enak badan langsung kabarin mama!" Dera mulai mengomel kecil.


Lagi-lagi Adella tersenyum. Ah, Adella senang mendengar Omelan Dera. Rasanya, seperti Susi yang mengomelinya saat sakit. Adella rindu, Susi sang ibu.