
.
Cairan hijau bening di sedot masuk ke dalam suntik. Wanita tampak kumuh tak terurus. Aroma basuk menyengat menyeruak memenuhi rongga paru-paru pria remaja ini. Senyum miring mampu membuat bulu kuduk siapa saja merinding. Vian tersenyum menyeringai. Kala ujung runcing suntik memasuki pembuluh darah wanita lemah itu. Wajah cantik yang dulu di agung-agungkan tak lagi berbentuk. Rambut yang dulu hitam legam dan lebat tak lagi sama.
"Hai, Mom!" Seru Vian di sela seringai nya.
Wanita ini mampu menangkap panggilan Vian padanya. Sayang nya, tubuh kurus itu tidak mampu di gerakkan. Bahkan kelopak mata saja tidak bisa terbuka.
"Ini adalah racun terbaru yang aku buat. Aku tidak terlalu tau bagaimana reaksi nya pada tubuh mu nanti, karena aku telah kebal pada racun. Sama seperti yang kau inginkan dulu," tutur Vian lagi.
Mirabel ingin sekali mencekik leher Vian. Anak lelaki yang pernah ia culik, dan di besarkan di bawah bimbingan nya. Siapa sangka, anak ini menjadi senjata makan tuan untuk nya. Vian tidak membiarkan dirinya mati. Setelah racun yang menyiksa diri, anak psikopat itu akan memberikan penawar padanya. Keturunan Yamato memang gila dan berjiwa psikopat. Bagi Mirabel kematian jauh lebih baik dari pada hidup dalam kesensaraan.
"Bukankah menyenangkan Mom, saat racun itu memasuki pembuluh darahmu. Rasa panas menjalar. Racun itu serasa mencekik leher dan membakar kulitmu. Melunakkan daging-daging di tubuh mu." Papar Vian tertawa keras bak orang kesetanan.
Tawa keras Vian mengalun. Mengisi ruangan penjara bawah tanah. Siapapun yang mendengarkan tawa keras Vian pasti akan bergidik ngeri. Wajah dingin dengan senyum kotak hanya wajah lain di balik jiwa gila nya.
Di luar pintu Hiro berdiri. Bersandar di dinding bangunan yang berdebu. Ayah empat orang anak ini tau sekali, bagaimana kepribadian anak-anak nya. Ia sendiri pun juga sama. Meski anak-anak nya terlihat normal. Tidak ada yang tau napsu membunuh di dalam diri mereka sangat besar kala di usik.
Hiro sendiri, masih sangat sulit mengontrol amarah. Haus akan darah di tangan. Keturunan Yakuza memang tidak ada yang benar-benar waras. Hiro tau dengan pasti. Beruntung, ia menikah dengan wanita seperti Dera. Ia dapat mengontrol nafsu membunuh nya secara perlahan-lahan. Hiro sedikit khawatir untuk putra-putri nya. Terutama Vian, anak satu itu sangat sulit mengontrol diri.
Itulah mengapa Vian di tempat kan menjadi pewaris Perusahaan raksasa yang ia dirikan. Dari pada harus membiarkan tambuk kekuasaan Yakuza pada Vian. Meskipun Sean dan Vian adalah saudara kembar. Ke duanya memiliki tingkat yang berbeda dalam mengendalikan emosi dan hasrat membunuh. Untuk tingkat ke sabaran, Sean lebih unggul dari pada Vian.
Jika Vian menduduki jabatan Bos Yakuza. Maka darah dan darah akan terus tumpah. Itu sangat menakutkan. Mafia memang tak pernah lepas dari yang namanya darah. Namun bukan berarti darah menjadi hasrat besar dalam diri.
***
"Gosok lebih keras lagi Kak!" tutur Laura memberikan semangat pada Launa.
Launa berdecak kesal. Adella meringis ngeri melihat apa yang tengah di kerjakan oleh si kembar. Ayolah, manusia normal mana yang mau memandikan Beruang dan Panda. Meskipun ke duanya masih belum terlalu besar. Tetap saja mengerikan, jika Panda masih terlihat ada imut-imut nya. Tapi, Beruang? Ugh! Mengerikan.
Dera terkekeh pelan melihat bagaimana Adella menatap ke dua putri bungsu nya.
"Ayo di minum, Del!" Ujar Dera meletakan beberapa cemilan dan minuman di atas meja untuk teman anaknya.
Adella menoleh. Tersenyum sungkan, Sean gila itu malah membawa nya ke rumah. Dan berakhir meninggalkan nya di rumah. Tidak tau kemana perginya Sean. Adella tidak terlalu mau mencari kemana arah pria itu pergi.
"Terimakasih Ma!" kata Adella. Sebelum meraih gelas berisikan jus jeruk dingin.
Ia meneguknya perlahan. Dera pun ikut menyeruput minuman nya. Ke dua nya duduk di bangku taman belakang. Di mana posisi kursi langsung menghadap ke arah taman besar. Taman yang di hiasi oleh pohon Sakura, berbagai macam bunga dan kolam besar.
Cherry tampak berlari membawa dua botol sampo tambahan untuk peliharaan Laura.
"Dia menurun mu bagaimana?" Dera membuka suara.
Adella mengernyit. Gadis berpipi chubby ini tidak mengerti kemana arah pembicaraan ibu temannya ini. Dera menoleh ke samping. Ia tersenyum lucu melihat ekspresi aneh Adella.
"Maksud Mama, Sean! Menurut mu dia pria yang bagaimana?" koreksi Dera dengan nada sedikit terselip godaan.
Kontan saja ke dua pipi Adella memerah. Gadis ini menunduk. Meletakkan gelasnya yang isinya telah di teguk separoh. Ekspresi yang di tampilkan oleh Adella tak luput dari netra Dera.
Dera tersenyum misterius. Wanita satu ini sangat tau rona apa yang ada di wajah cantik Adella. Gadis satu ini memang lembut dan kalem. Seperti nya dulu, beda nya. Adella dan Sean seumuran. Dan bertemu dengan cara yang wajar tidak seperti dirinya dan Hiro.
"Hanya itu?"
"Eh?"
"Apa hanya baik saja. Tidak ada yang lain misalkan Sean tampan, mempesona dan hangat. Mungkin," goda Dera.
Hampir saja Adella tersedak oleh air liurnya sendiri mendengar ucapan ibu dari pria yang sudah terang-terangan menggoda nya. Bukan hanya sekali, Sean menggodanya secara terus menerus. Teman satu sekolah nya pun tau bagaimana seorang Sean Yamato mengejarnya. Pria itu bahkan sering mengambil mata pelajaran yang sama dengan nya. Hanya sekedar untuk bisa satu ruangan dengan Adella.
Foto di akun sosial media pria itu pun di banjiri oleh banyak nya kata patah hati dari para gadis cantik. Ada yang mengatakan ingin bunuh diri jika Sean berpacaran. Tentu saja itu tidak akan pernah di gubris oleh pria Yamato itu.
"Itu——"
"Astaga sayang! Bagaimana bisa kau menggoda Adella." Seruan keras memotong laju kata yang akan keluar dari bibir Adella. Derap langkah kaki terdengar jelas.
Hiro Yamato tak pernah malu atau segan mempertontonkan keromantisan ia dan sang istri. Lihat lah, sekarang Hiro memeluk Dera dari belakang. Membungkuk kan tubuh nya, meletakan dagu runcing nya di atas bahu Dera. Sebelum kelayakan kecupan di pipi Dera. Wanita itu merona.
Sungguh lucu. Meski sudah bertahun-tahun berumah tangga. Dera masih saja tersipu kala mendapatkan perlakuan manis dari Hiro. Adella diam-diam tersenyum malu. Otaknya mulai berpikir. Apakah jika nanti Sean dan dia juga menikah. Apakah Sean akan seperti Hiro memperlakukan Dera?
Tunggu. Adella ingin memukul kepalanya jika saja tidak ada orang di sekelilingnya. Belum apa-apa ia sudah memikirkan masa depan yang belum pasti.
"Lepaskan Kak. Malu di lihat calon mantu," bisik Dera masih dapat di tangkap oleh Indra dengar Adella.
Adella semakin merona. Hiro mau tak mau melepaskan pelukannya nya. Melangkah duduk di samping Dera. Sang istri.
"Apa kabar calon menantu Papa?" tanya Hiro.
Bluss!
Wajah Adella memerah sudah. Dera terkekeh geli. Sebelum memukul sayang bahu Hiro.
"Tadi kayaknya gak boleh menggodanya. Tapi malah Kakak yang menggoda nya!" tukas Dera dengan pandangan berpura-pura mengintimidasi sang suami.
Hiro tertawa pelan. Derap langkah kaki mendekati mereka terdengar jelas.
"Maaf membuat mu lama menunggu," seru Sean kala sampai di samping meja.
Serentak ke tiganya menoleh ke arah Sean. Pria remaja itu memberikan buket bunga mawar putih dan merah pada sang ibu. Sebelum menyodorkan yang satu lagi pada Adella.
Adella menerima nya malu-malu. Hiro berdecak sebal."Hei Son! Isterku jangan di goda juga. Cukup goda calon menantu kami saja. Mama mu biar Papa aja yang godain!" seru Hiro.
Sean mencabik. Sedangkan Dera tergelak keras, hingga tetapan orang-orang tertuju pada ke empat nya. Warna merah menjalar sampai ke daun telinga Adella.
Keluarga Yamato benar-benar keluar yang unik dan terbuka.