
Gadis itu merapatkan jaket kulit kusam yang kebesaran pada tubuh nya, hingga menutupi kandungan nya yang telah membesar. Di Hokong, berada di musim panas. Membuat udara tidak terlalu terasa menusuk pori-pori. Wanita paru baya tergopoh-gopoh keluar dari bangunan rumah susun yang terlihat sangat tua.
"Adella!" serunya kala sampai di belakang tubuh ibu hamil ini.
Kepala Adella menoleh ke belakang. Tersenyum lebar pada wanita yang telah merawat nya dengan baik. Bahkan memberikan nya tempat tinggal.
"Ada apa Bibi?" tanya Adella menatap lambat wajah Wu Zia dengan pandangan tak paham dengan ke khawatiran wanita paruh baya itu.
"Kita harus cepat-cepat berkemas. Katanya besok akan ada pemeriksaan untuk menangkap imigran gelap," ujarnya dengan nada cemas.
Adella yang tadinya duduk dengan menatap indah bintang di atas langit malam langsung berdiri dari posisi duduknya yang beralaskan batu.
"Apa yang harus kita lakukan, Bi?" tanya dengan wajah cemas.
"Kita berkemas sekarang," ujarnya.
Sebelum menarik tangan Adella perlahan. Keduanya melangkah cepat menyusuri jalan gang sempit. Beberapa kali Adella mengusap pelan perut besarnya. Satu bulan lagi, ia akan melahirkan sang buah hati.
"Kamu tunggu di sini. Biarkan aku yang mengemasi barang-barang kita," ujar Zia di sela napas yang memberi. Kala mereka berhenti di depan tangga.
"Tapi..."
"Jangan membatah. Kondisimu sudah sangat sulit untuk menaiki anak tangga yang banyak. Lihat! Kakimu saja sudah membengkak begitu." Rujuk Zia pada ke dua kaki Adella yang membesar.
Adella menunduk dan menghela napas pelan. Ia hanya bisa merepotkan wanita paruh baya yang baik hati ini saja. Padahal yang tidak memiliki visa tinggal adalah dirinya.
"Baik, Bi!" ujarnya pelan pada akhirnya.
Zia mengulas senyum. Ia melangkah cepat menuju tangga. Menaiki satu persatu anak tangga. Adella memilih duduk di undak anak tangga ke dua. Meluruskan ke dua kakinya yang membengkak. Telapak tangannya mengusap pelan perut besarnya.
"Maafkan mama ya, sayang. Karena mungkin tidak bisa memberikan kehidupan yang bahagia untukmu!" Lirihnya di sela usapannya.
Adella merindukan Sean. Sering kali ia memimpin sang pujaan hati. Yang kabarnya selalu di dapat kan dari Delta. Gadis imut itu selalu mengirimkan nya foto-foto terbaru Sean. Perkembangan ayah dari anaknya ini. Bahkan gadis imut nan baik hati itu selalu mengirimkan uang secara rutin untuk nya. Adella tidak kekurangan uang untuk kehidupan nya. Ia bisa hidup dengan nyaman berkat Delta.
Meskipun Adella sempat menolak uang di transfer oleh Delta. Gadis itu bersikeras membantu Adella. Delta berharap Adella bisa baik-baik saja dimana pun Adella berada.
"Adella! Ayo!" Seruan keras dengan helaan napas kasar menderu menyentak kesadaran Adella.
Adella berdiri dari posisi duduknya. Melangkah meraih koper berukuran sedang. Ia menariknya di ikuti oleh Zia. Ke duanya harus bersembunyi sementara waktu di penampungan ilegal. Tentunya dengan bayaran yang mahal untuk beberapa hari ke depan.
...***...
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Sean menoleh kebelakang. Manik mata coklat tajam itu menilik gadis berambut pirang itu.
"Kau sendiri apa yang kau lakukan di sini?" Sean balik bertanya dengan nada dingin.
Sandra Park mengangkat ke dua sisi bahu nya acuh. Tungkai kaki jenjang nya semakin mendekati dimana Sean berdiri. Gadis asli Korea yang telah lama tinggal di Selandia Baru ini tampak acuh. Berdiri di sisi Sean. Menatap hamparan manusia di bawah sana. Ke duanya berada di atap gedung fakultas.
Sean tidak menjawab. Pria ini malah menengadahkan kepalanya mengamati gugusan awan yang berjalan beriringan. Hembusan angin siang berhembus menyejukkan. Rambut hitam legam tebal itu tampak di belai perlahan oleh angin siang. Dari ekor matanya, Sandra melirik Sean. Rahang tegas benar-benar mempesona, bibir tebal di atas tipis di bawah benar-benar menggoda, garis hidung memanjang nan tinggi, bulu alis mata yang tebal dan lentik. Sempurna.
Satu kata yang bisa gadis ini bisa gambar kan tentang pria di samping nya ini. Ada banyak gadis Eropa menyukai pria Asia ini. Pandangan mata yang membius setiap wanita. Tenggelam dalam pesona nya. Apa lagi sikap dingin dan tatapan elang yang mampu melumpuhkan lawan dalam satu kali tatap. Jangan lupakan kemampuan nya bertarung bukan lagi isapan jempol semata. Kalau boleh jujur Sandra menyukai nya dalam diam.
"Puas menatap wajahku nona Korea?" sinis Sean kala menutup ke dua kelopak matanya.
Sandra terperejat. Ah! Sulis sekali mengendalikan dirinya. Padahal ia sudah bersusah payah untuk terlihat dingin pada pria ini. Bersikap masa bodoh dan terlihat biasa saja pada seorang Sean Yamato. Yang menjadi incaran banyak gadis-gadis di kampus nya. Bahkan ada yang terang-terangan menggoda Sean untuk tidur satu malam dengan nya. Lucunya, Sean hanya menatap dingin gadis itu dan berlalu.
Sikapnya yang sombong tak lantas membuat orang-orang membenci dirinya. Salahkan pria ini terlalu sempurna, bahkan di bidang akademik saja. Banyak orang kalah telak oleh otak jenius seorang Sean Yamato. Banyak dosen-dosen menyukai Sean Yamato. Menjadikan pria ini sebagai panutan.
"Hah!" Sean mengehela napas. Kepala yang tadinya menengadah seketika di tundukan. Kelopak matanya terbuka.
Oh! Itu dia. Manik mata coklat elang milik Sean. Sandra merasa jantungnya berdetak tak normal.
"Sean!" serunya pelan.
"Jangan mendekatiku. Aku peringatkan padamu, tolong jangan datang ke sini saat aku ada di sini itu sangat menganggu!" sinis Sean.
Pria itu membalikan tubuhnya. Melangkah meninggalkan Sandra di belakang.
"Sean! Tidak bisakah aku mendekatimu!" teriaknya cukup keras.
Langkah kaki Sean berhenti. Tidak membalikkan tubuhnya untuk melihat ekspresi memelas Sandra Park.
"Tidak!" jawabnya tegas mengalun terdengar sangat tegas,"aku memilih seseorang yang aku tunggu kedatangan nya. Hanya dia!" sambungnya masih dengan nada tegas.
...***...
Delikkan tajam di hunuskan pada setiap mata genit melirik pria nya. Tangan nya tak lepas dari pergelangan tangan sang kekasih. Seolah-olah tengah menegaskan jika seorang Vian Yamato adalah miliknya. Hanya milik Delta Amanda. Mereka melangkah melewati lorong fakultas.
"Hai!" Sapa David dengan senyum lebarnya.
Langkah kaki sepasang kekasih itu berhenti. Delta melengguh kesal. Jika sudah ada David dan Willem. Sudah pasti kesempatan nya berduaan dengan Vian hanya menjadi angan semata. David melangkah mendekati keduanya. Willem melangkah malas mengikuti langkah kaki David mendekati Delta dan Vian. Ayolah! Willem merasa kesal jika harus berhadapan dengan ke dua pasangan ini. Semuanya tentu karena tatapan tak senang Delta padanya dan David. Lucunya, David seperti orang bodoh. Tidak peduli bagaimana tatapan Delta pada ia dan Willem.
Bibir Davis terbuka namun tertutup kala pelototan Delta padanya.
"Kita mau makan berdua saja!" imbuh Delta cepat pada keduanya.
"Ehei! Tidak boleh seperti itu. Kita itu sahabat. Meskipun kau dan Vian telah bersama. Jangan acuhkan aku dan Willem, dong!" bujuk David dengan senyum mautnya.
Beberapa anak perempuan yang melewati mereka menahan pekik terpesona pada David Miyaki. Willem mengeleng kepalanya kecil.
"Gak boleh! Besok-besok kan ada. Masa kalian selalu saja merecoki kami!" protes Delta pelan.
"Kita makan lain kali aja, Dav!" timpal Willem dengan nada kalem.
"Nah! Itu benar!" sembur Delta cepat sebelum David kembali membuka mulutnya.
Vian hanya mampu mengulum bibir nya melihat bagaimana lucunya Delta dan David. Kedua seperti kucing dan tikus saja. Satu hari tidak akan afdol jika tidak bertengkar. Ia dan Willem selalu menjadi pendengar pertengkaran ke duanya.
"Vian aja nggak keberadaan. Benarkan Vian?" tukas David santai. Melirik sang sahabat.
Vian melirik Delta. Gadis itu tampak manyun. Kekehan renyah dari Vian terdengar jelas.
"Maaf, kekasihku seperti nya keberatan!" balas Vian.
Kontan saja David berdecak sebal. Delta tersenyum penuh kemenangan. Sebelum mengulas senyum sinis pada David.
"Ayo, sayang kita ke kantin!" ujar Delta terdengar semakin menyebalkan di telinga David.
"Ya, udah. Kita ke kantin duluan ya, Dav! Will!" Pamit Vian mengangkat tangannya pada keduanya.
Sebelum melangkah menuju arah kantin. David membalikkan tubuhnya menatap punggung ke duanya. Senyum pedih tercetak samar. Ia tulus pada Delta, sangat. Melihat Delta tersenyum bahagia adalah hal terindah dalam hidup nya. Meskipun menyakitkan hatinya. Tak apa. Asalkan Delta bahagia. Sudah cukup baginya.
Willem menepuk pelan bahu kiri David."Kita makan di restoran saja," ujarnya pelan.
Secepat kedipan mata. Raut wajah David berubah sumringah. Sesekali senyum mesum terbit kala ada beberapa gadis cantik melewati mereka. Biarlah dirinya di cap seorang playboy. Hanya untuk menutupi hati yang rapuh. Menutupi cinta yang tak termilik.
...***...
^^^3 Tahun ke mudian^^^
Gemuruh tepukan tangan di aula gedung besar kampus terkenal di Selandia Baru. Pria gagah dengan senyum di paksakan mendapatkan prestasi menakjubkan. Empat tahun menyambar gelar S2 dengan nilai sempurna. Di bangku para undangan Dera tersenyum dengan air mata berlinang. Kala Sean mengulas senyum padanya dan Hiro. Di samping mereka ada Delta dan Vian.
Bola mata hitam itu menatap lurus ke depan. Senyum bahagia ikut terbentuk di bibir merah merekah nya. Berdiri di balik tiang gedung. Di gendong nya seorang balita berusia tiga tahun menatap bergantian sang ibu dan pria di depan sana.
"Mommy!" serunya dengan nada lucu.
Adella menoleh. Tak lupa tersenyum lebar pada sang putra.
"Itu! Adalah Papamu!" Tunjuk Adella pendek.
Manik mata coklat tajam itu tampak menelisik dari kejauhan. Sean turun dari panggung mendekati keluarga nya.
"Pa...pah?" ulang nya cadel.
"Hem! Papanya Dior!" Balas Adella sembari menghujani pipi gembul sang putra.
Dior Yamato. Yang memiliki hati kaya. Kekayaan keluarga Yamato dan hartanya satu-satunya. Bulu mata lentik Dior bersatu dan terpisah kembali. Kala anak kecil tampan itu berkedip kecil. Seolah-olah takjub dengan pria di depan sana. Ayahnya!
Adella tersenyum bahagia. Air matanya luruh. Berkat bantuan Delta ia bisa datang diam-diam ke tempat ini. Ia memalingkan wajahnya kala seorang gadis yang datang tiba-tiba dan mengecup pipi kanan Sean kala pria itu lengah. Gemuruh riuh terdengar dari mahasiswa yang datang. Adella melangkah terburu-buru keluar dari aula.
Hiro menoleh kebelakang. Dahinya berlipat. Seakan sadar ada yang mengamati ia dan keluarganya. Dera tercekat melihat kekurang ajaran gadis cantik yang tersenyum dan berlari menghindari kerumunan orang-orang. Sean tampak mengeraskan ke dua sisi rahang nya. Mengusap kasar pipinya dengan wajah memerah karena kesal. Vian dan Delta hanya mengeleng kecil. Mereka berdua tau jika ada banyak gadis yang tergila-gila pada Sean Yamato.
Di lorong, Dior memeluk leher sang ibu dengan erat. Isak pelan terdengar samar. Tangan kecil nya mengusap pipi ibunya yang basah. Ia tak mengerti kenapa ibunya menangis dan menjauh. Apakah ia tak jadi di pertemukan dengan sang ayah? Setidaknya itulah yang berasa di otak anak lelaki berusia tiga tahun yang menggemaskan ini.
———————————————————————
Gimana udah terhibur sama ceritanya?🤣🤣🤣🤣🤣 Aku kasih ekstra bab🤣🤣🤣 Jangan lupa 1 Januari 2020 cerita ini akan kembali menghibur kakak semua nya. Mohon menunggu dengan sabar ya kakak-kakak ☺️ aku tau kok rindu itu berat,🤧 tapi apa boleh buat. Kita harus belajar dari kata rindu untuk tau seberapa berarti dan berapa beratnya menunggu 🤭