The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 70 (Satu Pemikiran)



Hujan badai salju menyelimuti di beberapa tempat di Tokyo-Jepang. Beberapa ruas jalan di tutup mengingat sangat rawan untuk para pengendara tetap melaju di atas salju yang tebal. Televisi sampai media masa menayangkan badai salju yang cukup besar melanda negara sakura itu. Sekolah sampai aktifitas kerja terpaksa di liburkan sementara. Udara dingin di luar rumah mampu membuat tubuh manusia menjadi beku dalam hitungan menit.


Aroma teh hijau dengan gorengan menyeruak ke seluruh penjuru rumah besar Yakuza. Ruangan tengah menjadi tempat bagi mereka berkumpul. Setidaknya, kesempatan berkumpul kembali di dapatkan oleh mereka.


"Ada enak nya juga kalau ada badai salju kali ini," celetuk Cleo sebelum mencomot pisang goreng coklat di atas meja.


Clara menjitak dahi sang putri membuat anak gadis remaja itu mengaduh kesal. Belum sempat memasukan goreng pisang hangat itu ke dalam mulutnya. Malah mendapat kan sentilan jari dari sang ibu. Orang-orang di dalam ruangan terkekeh senang melihat wajah kesal Cleo.


"Tidak sekolah malah senang," cibir Clara.


Cleo mendengus."Bunda seperti tidak pernah remaja saja. Sekolah itu membosankan sekali Bunda. Tiap hari baca buku, tiap hari pecahkan rumus belum lagi tugas yang menumpuk!" papar Cleo dengan wajah sok serius.


"Alah! Bilang saja kak Cleo tidak suka belajar. Terlalu banyak alasan." Timpal Laura di sela kunyahan bakwan.


"Kunyah dulu baru ngomong!" tegur Sean. Anak lelaki itu mengusap pelan remahan bakwan yang menempel di sudut bibir sang adik.


Laura tersenyum. Cleo mencabik mendengar perkataan Laura.


"Mau jadi apa kalau nggak suka sekolah?" ujar Clara dengan nada berang.


"Mau jadi artis Korea dan menikah dengan penyanyi Korea lah, Bun!" jawab Cleo dengan ke dua mata berbinar-binar.


Kembali suara Cleo mengaduh dan Clara mendengus kesal. Dera mengeleng pelan melihat ibu dan anak itu. Hiro memilih acuh, pria ini mengambil kesempatan dalam kesempitan. Menggenggam tangan Dera menyadarkan kepalanya di bahu Dera. Tidak lupa garis bibir di angkat tinggi. Vian mengurus Launa yang duduk di samping nya. Pria dengan senyum kotak itu meniup tahu isi yang masih agak panas.


"Kakak Cleo terlalu bermimpi," cibir Cherry.


Yeko yang awalnya bermula sebal langsung terkekeh mendengar lidah tajam putri ke duanya. Jika Cleo putri yang bermulut besar dan ember bocor. Maka Cherry adalah putri dengan kata-kata beracun. Jarang bicara, tapi sekali ia angkat bicara. Sudah pasti, rasanya menusuk.


Cleo memberikan tatapan tajam pada si imut Cherry."Apa salahnya sih mimpi begitu. Kan tidak merugikan siapa pun!" kesal Cleo.


"Ya, tidak merugikan. Tapi, kalau bermimpi tapi nggak kesampaian bakal sakit loh!" peringat Cherry.


Cleo manyun seketika. Orang-orang di dalam ruangan benar-benar puas melihat kekalahan mutlak dari Cleo. Usapan pelan di punggung tangan membuat Adella tersentak dari lamunannya. Gadis remaja satu ini tidak sadar jika ruang tengah sedang ricuh. Bahkan ia tidak sadar jika gorengan di tangannya sudah dingin. Kepalanya menoleh ke samping. Bibir Sean bergerak pelan, seolah-olah bertanya keadaan nya.


Adella mengulas senyum."Aku hanya memikirkan tentang lomba saja," jawabnya dengan nada kecil.


Suara Clara dan Cleo berserta Cherry masih cukup jelas terdengar. Ketiga nya malah berdebat, saat Cleo membalas kekalahan nya.


"Sudahlah, kau kan sudah berusaha yang terbaik. Jadi, kalau hasil nya keluar dan kau tidak menang. Tidak ada masalah. Yang penting di sini kau sudah berusaha," ucap Sean dengan nada lembut dan lambat.


Adella mengangguk dan tersenyum. Diam-diam Launa memperhatikan kakak ke duanya. Benar-benar, tidak terpisahkan. Sudah dua hari ini Adella pulang ke Jepang. Dan selama dua hari pula Sean seperti anak ayam yang mengikuti induknya. Kemana Adella di sana ada Sean.


"Kenapa menatap Abang Sean begitu?" bisik Vian yang ikut menatap Sean dan Adella.


Kepala Launa menengadah. Sebelum mengeleng kecil."Hanya merasa apa yang di katakan buku tentang jatuh cinta itu ada benarnya," jawab Launa dengan wajah serius.


Vian mengangkat sebelah alis matanya pertanda tidak mengerti.


Kepala Vian mengangguk-angguk kecil. Sebelum tersenyum, pria ini mengusap pelan puncak kepala Launa.


"Jangan cepat dewasa. Kau masih sangat kecil. Bermainlah dan bersenang-senanglah. Soal cinta-cintaan itu masalah anak remaja dan dewasa," kata Vian dengan nada berat khas milik nya.


Launa tersenyum sebelum mengangguk. Vian semakin mengembangkan senyum nya. Sebelum mata elang miliknya melirik Sean dan Adella. Tidak ada gambaran jelas bagaimana ekspresi seorang Vian Yamato.


***


Gio menatap serius cairan yang di tetesi oleh Vian ke dalam tabungan. Tiga kali tetes, warna cairan buru itu berubah menjadi putih bening. Senyum mengembang di wajah ke duanya. Butuh waktu lama merubah ramuan racun itu menjadi tidak berwarna dan berbau. Bukan hanya Gio dan Vian saja yang tersenyum, Sean yang masuk ke dalam laboratorium khusus itu ikut tersenyum melihat keberhasilan sang kakak.


"Wah! Ini benar-benar hebat, Bang." Puji Sean menatap berbinar cairan racun yang ada di tangan Vian.


Vian menoleh."Ya, tentu saja. Setelah ini. Kita bisa membunuh tanpa jejak!" balas Vian.


"Itu jika di perlukan saja, Bang! Tidak seru jika kita tidak membunuh kalau tidak melihat darah!" bantah Sean dengan senyum miring.


Vian menarik sebelah garis bibirnya. Gio merinding, pria ini agak——ngeri dengan ke dua anak lelaki kembar ini. Apa lagi saat ia melihat bagaimana Launa. Anak perempuan yang terlihat paling normal itu jika sudah berada di meja operasi. Ataupun dalam menjahit luka salah seorang anggota Yakuza yang terluka. Ia terlihat sangat menakutkan.


Tidak jauh dari ke dua kakak lelaki nya. Gio menghela napas pelan. Setidaknya, pria ini merasa masih beruntung. Mengingat anggota Yakuza bukanlah seorang pembunuh tanpa alasan. Kelompok Mafia Yakuza, yang menguasai daratan Asian ini hanya akan membunuh orang yang bagi mereka tidak pantas untuk hidup. Orang-orang yang jahat dan serakah pada harta.


Di balik itu, pria bule ini juga merasa bangga menjadi bagian dari Yakuza. Mengingat bagaimana Yakuza menguasai Asia dengan cara yang bersih. Tidak ada kekejian di dalamnya, kekayaan yang Yakuza milik tidak lah kotor. Setidaknya, tidak seperti pendiri Yakuza terdahulu. Yang mencoba menguasai negara-negara Asia dengan tindakan kejam dan sangat menakutkan.


"Mau berburu dengan ku beberapa hari lagi?" tawar Sean pada Vian.


"Berburu," ulang Vian.


Kepala Sean mengangguk dan tersenyum lebar.


"Kita menghadapi siapa kali ini?" tanya Vian penasaran.


"Aku dapat bocoran dari informan papa. Jika bos pengedar narkoba memasuki pelabuhan Jepang empat hari lagi," ujar Sean.


"Bukan bocoran ini, bilang saja kau mengancam orang itu dengan kekuasaan mu, Sean!" cemooh Vian.


Sean tergelak keras mendengar bagaimana sang kakak tau dengan kebiasaan nya.


"Abang tau saja dengan kehebatan ku," balas Sean setelah tawa kerasnya.


"Tentu saja, kau adalah kembaranku. Tentunya, aku tau tabiat mu!"


"Yeah! Kita kembaran yang sehati namun beda wajah," ujar Sean.


Vian terkekeh dan mengangguk kecil. Gio cukup pening melihat kakak beradik ini. Beda wajah namun satu pemikiran ini berbahaya. Mengingat ke dua nya sama-sama sangat mematikan.