
Meja makan rumah Yamato terasa agak aneh. Sean terlihat kurang berselera makan. Dera menghela napas pendek. Tangannya bergerak menyumpit lauk pauk dan meletakan nya di atas mangkuk Sean. Kepala yang sempat di tundukan langsung terangkat. Dera tersenyum lembut pada sang putra.
"Maka yang banyak," ujar Dera,"jangan loyo begitu. Lagian Jumbo kan udah baik-baik saja sekarang," lanjut Dera yang sangat tau kerisauan sang putra.
Sean menganggukkan kepala nya pelan. Vian menggeleng pelan, adiknya memang sangat cinta pada binatang predator yang hidup di dua tempat itu.
"Aku juga mau diperhatiin," seru Hiro dengan nada sok imut.
Kontan saja beberapa orang memasang tampang mual mendengar nada yang keluar dari Bos Mafia satu ini.
"Hei! Ada apa dengan wajah kalian?" denggus Hiro semakin kesal.
"Kau seperti bayi yang merengek ingin susu, Bang!" cibir Leo,"dan itu sangat menjijikan saat terdengar," lanjut Leo dengan wajah jijik.
"Benar. Sudah tua tapi malah berlagak seperti anak kecil," kini suara Sean terdengar.
Hiro mencabik. Dera terkekeh pelan, ibu empat orang anaknya itu bergerak menyumpit lauk pauk. Meletakan di atas mangkuk sang suami.
"Sudah," ucap Dera,"sekarang lanjut kan makannya, suami ku." Dera kembali berucap.
Wajah yang semula mencabik berubah dalam persediaan detik. Tersenyum lebar pada Dera. Vera dan Clara hanya menjadi penonton keluarga Yamato yang kini kembali berdebar. Saat suara Sean terdengar.
...***...
Tak!
Botol minuman kaleng hangat terletak di atas meja perpustakaan. Kepala gadis itu menengadah menatap sang pemberi minuman. David tampak santai, tidak ada raut salah tingkah.
"Kau minum saja. Aku tau hari ini adalah periode pertama datang tamu,mu." Ucap David sebelum melangkah duduk tepat di depan Delta.
Dahi Delta berkerut. Bagaimana bisa pria bule ini hapal dengan periode datang bulannya. Bahkan sengaja memberikan minuman pereda nyeri haid. Tanpa malu? Bukankah itu terasa sangat aneh.
"Kenapa kau tau dengan hal seperti ini, huh?"
"Kau lupa?" David memberikan jeda,"aku adalah pencinta wanita. Para wanita selalu mengeluhkan hal yang sama saat datang bulan. Karena kau sahabat ku. Tentu saja aku hapal secara tidak sengaja," jelas David dengan penuh kebohongan.
Delta menyipitkan ke dua matanya menatap David dengan pandangan curiga. David memang memiliki banyak wanita di sekeliling nya. Baik itu dengan status resmi maupun tidak resmi. Sayang, hanya itu yang Delta tau. Gadis ini tidak tau jika David menyimpan perasaan padanya.
"Hei! Kenapa kau menatap ku seperti itu?" tegur David.
Delta memilih mengangkat ke dua sisi bahunya acuh. Sebelum meletakan buku bacaannya ke atas meja. Meraih kaleng minuman. Menegak perlahan minuman herbal siap saji itu. Diam-diam David tersenyum tipis. Andai saja, gadis di depannya ini juga mencintai nya. David rela melakukan apapun. Dan rela melepas apapun hanya untuk Delta.
Sayang nya, perasaan tulusnya hanya bertepuk sebelah tangan saja. Sangat mengerikan. Derap langkah kaki terdengar jelas. Hingga mengisi tempat duduk tepat di samping David.
"Kau, kapan sampai di sini?" seru Vian kala sudah duduk di samping David.
David menoleh kesamping kanan. Tersenyum, memperlihatkan dalamnya lesung di salah satu pipinya.
"Baru saja," balas David,"kau sendiri sudah dari tadi di sini?" kini giliran David yang bertanya.
Kepala Vian mengangguk."Ya, aku dari tadi di sini. Hanya saja aku mencari buku ini terlebih dahulu!" Balas Vian mengangkat dua buku paket tebal di tangan nya.
Dapat David lihat dua buku dengan judul yang berat baginya. Jika sudah tentang reaksi kimia dan tentang zat-zat yang aneh itu. David sudah akan mundur.
"Ah, begitu ternyata."
"Ya."
Vian yang semula ingin membuka lembaran awal buku menghentikan kegiatan nya. Pria remaja gagah itu mengakar pandangan nya, sebelum menoleh ke samping.
"Ya. Aku ke sini dengan Delta. Katanya dia juga mau baca buku," jawab Vian dengan jujur.
David mungut-mungut. Sebelum menoleh menatap ke depan. Dimana Delta menatap wajahnya dengan pandangan tidak terbaca. Senyum segaris terlihat. Sebelum David memutus kan pandangan ia pada Delta. Menoleh ke arah rak-rak buku perpustakaan sekolah. Senyum sinis terbentuk. Delta masih mengejar-ngejar Vian Yamato. Meskipun Vian tidak memiliki rasa yang sama pada gadis di itu. Nyatanya, Delta tidak menyerah.
...***...
Adella mendorong troli. Didepan sana Dera dan Sari terlihat masih begitu antusias dengan belanjaan. Ke dua kakak-beradik itu terlihat begitu antusias dengan produk-proruk Indonesia. Baik bahan-bahan dapur sampai aneka makan tradisional Indonesia yang awet. Adella bertugas mengambil cemilan yang ada di daftar. Langkah kaki Adella terhenti kala ia merasa ada yang aneh. Seakan ia tengah di ikuti oleh seseorang.
Kepalanya menoleh kebelakang. Manik mata hitam legam itu terlihat menyapu tempat lorong barisan cemilan Indonesia. Kosong, tidak ada satu orang yang berbelanja di sana.
"Aneh!" ujarnya pelan,"apa ini hanya perasaanku saja?" lanjut nya dengan nada penasaran.
Kepalanya menggeleng kecil. Menolak prasangka yang ada. Tangannya bergerak meraih beberapa cemilan makanan ringan. Masukkan ke troli, sebelum kembali melangkah maju. Dahinya berlipat dalam, saat kembali merasa di awasi.
Manik mata indahnya menatap ke depan. Tidak ditemui lagi seluet tubuh Dera dan Sari. Langkah kakinya terayun perlahan.
Hap!
Gretak!
"Ouch! Sakit! Sakit! Del!" Seruan hampir terdengar nyaring. Kala tepukan di bahu malah di pelintir oleh Adella.
Gadis itu terkejut. Ia melepaskan tangan Sean. Dan mundur beberapa langkah kebelakang. Sean mengusap pelan pergelangan tangannya yang terasa hampir bergeser.
"Maaf," cicit Adella dengan wajah penuh bersalah.
Sean masih mengusap pergelangan tangannya yang memerah. Jika saja yang hampir membuat tangannya terasa ingin patah itu bukan gadis yang ia cintai. Sudah pasti kepala orang itu menggelinding di lantai.
"Ouch! Sakit." Ujar Sean mengusap pelan.
Adella melangkah mendekati Sean. Pria remaja itu mengangkat pandangan nya ke arah wajah cantik Adella.
"Maaf," sekali lagi permintaan maaf mengalun,"aku tidak sengaja. Kau sih, datang tiba-tiba membuat aku terkejut saja," lanjut Adella setengah kesal bercampur khawatir.
Sean mempoutkan bibir merah merekah seksi miliknya.
"Masa nggak sadar kalau pria yang di cintai mendekati mu," balas Sean.
Sontak saja wajah Adella terlihat semakin bersalah. Ia menunduk dalam, Sean tersenyum kecil. Sebelum kembali merubah ekspresi wajah nya.
"Elus dong!" Ujar Sean menyodorkan tangan kanannya pada Adella.
Kepala Adella terangkat. Gadis ini meraih tangan Sean mengusap lembut pergelangan tangan Sean yang memerah. Tangan kekar dengan warna yang begitu putih kontras dengan warna merah yang tercipta di pergelangan tangan nya. Adella hanya diam sembari mengusap pergelangan tangan Sean.
"Kau harus tangan jawab!" putus Sean.
"Tanggung jawab?" ulang Adella membeo.
"Ya!" Kepala Sean mengangguk yakin.
"Caranya?"
"Jadilah tangan kananku untuk kedepannya," putus Sean.