The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 12 ( Licik itu di turunkan)



Tubuh Adella terasa sangat lemas. Beberapa kali ia memasukan kata sandi lokernya. Hingga bunyi terbuka terdengar. Cepat-cepat Adella mengeluarkan tas kecil di dalam loker bersamaan dengan tabung air.


BRUK!


Tubuh Adella terjerembab di lantai. Ke dua kakinya tak lagi mampu menopang berat tubuh nya. Jantung nya masih berdebar keras. Jari jemari Adella bergerak membuka resleting tas kecil mengeluarkan obat penenang. Meneguk cepat, sebelum di susul oleh air. Napas Adella masih tak teratur. Tangannya bergetar hebat. Dua bulir bening jatuh membasahi pipi Adella. Gadis ini sangat sulit untuk tetap bertahan dalam wajah baik-baik saja.


Ke dua netra indah nya berbenturan dengan sepatu putih mahal yang ia kenal. Ia mengangkat kepala nya menatap pria yang kini berjongkok di hadapan nya. Pria itu merogoh saku celana nya. Mengeluarkan saputangan hitam, mengusapnya perlahan berganti-gantian pada pipi chubby Adella.


"Apa ada yang mengganggumu?" Tanya suara berat itu di sela menghapus air mata yang masih saja jatuh.


Kepala Adella mengeleng lemah. Tangannya masih bergetar. Hembusan napas berat keluar, Sean memasukkan botol obat kembali ke dalam tas kecil. Pria ini meraih botol minum dan tas kecil Adella. Sebelum berdiri dari posisi nya. Meletakan ke duanya kembali pada loker yang terbuka. Pria ini menutup nya peralatan. Sean berjongkok, membelakangi tubuh Adella.


"Ayo naik!" titahnya serius.


Adella meragu.


"Cepatlah!" desak nya.


Adella dengan perlahan mengalungkan ke dua tangannya di leher Sean. Sebelum pria ini berdiri perlahan-lahan. Mengendong tubuh lemah Adella. Gadis ini menyadarkan sebelah wajah nya di bahu Sean. Membiarkan rambut hitam legam nya menutup wajah cantik nya.


Ke duanya melangkah menuju lorong. Beberapa orang yang keluar dari kelas, hanya sekedar untuk ke kamar kecil atau ke perpustakaan menatap syok pada Sean yang melalui mereka. Mengendong tubuh gadis di punggung belakang.


Beberapa orang mulai mengambil foto Sean. Ada juga yang mengvideo kan nya. Ini kali pertama seorang Sean Yamato bersentuhan dengan seorang gadis. Besar kemungkinannya jika itu bukanlah Delta. Mengingat postur tubuh dan warna rambut Delta tidak begitu.


Bunyi line di saku para siswa dan siswi menambah gaduh. Sosial media khusus sekolah di banjiri oleh foto Sean. Banyak yang memberikan komentar. Tidak satupun yang berkonsentrasi belajar.


Di dalam ruangan Sejarah. David memberikan kode pada Delta di samping nya. Menyodorkan layar ponsel mahalnya pada Delta. Gadis itu menepuk pelan pundak Willem menunjukan hal yang sama. Sebelum beralih pada Vian yang berada di samping Willem. Pria itu menatap lama layar ponsel David.


"Biarkan saja. Nanti teror dia," ujarnya sebelum kembali menoleh ke depan.


Teman-teman satu kelas dengan mereka terlihat tidak fokus. Seakan sangat penasaran dengan siapa gadis yang di gendong Sean. Sesekali mereka melirik ke empat teman mereka. Tidak terlihat wajah aneh atau pergerakan aneh dari ke empat nya. Wajah ke empat nya sangat tenang menatap ke arah infocos yang tengah menyela. Memperlihatkan bagaimana penemuan benda-benda bersejarah Jepang.


"Siapa ya gadis itu?"


"Ke empat nya pasti tau!"


"Lihat lah. Mereka begitu tenang."


"Setelah ini aku yakin, tidak akan ada hari tenang lagi. Aku sangat penasaran dengan dia."


"Irinya!"


Itulah bisik-bisik lirih yang di tangkap oleh pendengaran ke empat nya. Delta memutar malas ke dua bola matanya. Orang-orang terlalu sibuk dengan urusan yang tak seharusnya mereka urus. Rasa ke ingin tauan benar-benar menyebalkan bagi Delta. Gadis ini tau dengan pasti bagaimana menyebalkan nya orang-orang.


Terutama perempuan. Siswi perempuan hanya akan mendekati nya jika ada maunya. Salah satunya, tentu nya karena ia ingin mendapatkan informasi tentang ke empat teman nya. Di belakang nya, ia tau dengan pasti para anak perempuan membenci nya. Mengutuk, hanya karena ia dekat dengan Sean dan yang lainnya.


Yang paling menyebalkan adalah di saat ia mendapat banyak pesan ke bencian. Yang tidak di ketahui oleh teman-temannya. Jika teman-teman tau, sudah pasti orang-orang itu tidak akan bernasib baik. Mengingat, ke tiga temannya adalah anak dari seorang Mafia. Delta tau pasti watak ke tiganya.


***


Ke dua kelopak mata Adella tertutup rapat. Angin sore bertiup menggoda gorden jendela yang terbuka. Gadis ini kehilangan kesadaran setelah Sean sampai membawanya ke dalam mobil mahalnya. Pria ini ingin membawa ke Rumah Sakit khusus keluarga nya. Lucunya, ia malah banting stir menuju rumah besar nya. Oke, anggap saja ia membolos sekolah untuk kali ini saja. Setidaknya, bolosnya di ketahui oleh Dera dan Hiro.


Di sinilah Adella berada. Di rumah besar Yakuza. Si kembar terlihat menatap intens teman sang kakak. Ibu mereka meminta ke duanya menunggui Adella yang tertidur setelah sempat bangun sekedar minum obat dan makan bubur.


"Bagus sekali, bolos dengan membawa anak gadis orang!" seru Dera dengan wajah serius.


"Aku tidak bolos, Ma!" rengek Sean.


Hiro tersenyum miring."Mana ada tidak bolos tapi sudah di rumah sampai dua jam!" Hiro ikut menimpali.


Sean menatap sang papa dengan pandangan tak percaya. Pria yang duduk di lantai ini meringis kala menoleh ke arah Ibu.


"Kau apakan gadis itu?"


"Heh?"


"Kenapa ia sampai pingsan dan sampai trauma?" interogasi Dera.


"Ayolah, Ma. Aku yang tampan dan imut ini tidak pernah seperti itu Mama. Mama kan yang mengajarkan untuk menghargai wanita. Jangankan untuk macam-macam, satu macam saja aku tak berani Mama!" ujar Sean jujur.


Hiro mencabik. Yang benar saja, Sean tidak macam-macam? Pria ini tak yakin. Putra nya yang sok polos ini memiliki otak yang licik. Dan Hiro tau sangat hal ini, meskipun sang istri menganggap putranya satu ini imut dan polos.


"Benarkah?" Tanya Dera sembari memicingkan ke dua matanya.


Sean memasang tampang teraniaya khas miliknya.


"Jangan percaya sayang, putra kita ini licik. Jauh berbeda dari tampang nya itu. Jangan percaya," timpal Hiro menghasut sang istri.


"Ya, aku licik karena turunan dari Papa!" seru Sean dengan nada pelan.


Masih dapat di dengar oleh suami-istri ini. Kontan saja Hiro menatap tajam Sean. Dera menoleh ke samping menatap sang suami yang memberikan pandangan intimidasi pada sang putra.


"Ya, benar juga ya. Anaknya licik ya turunan dari Papanya." Monolog Dera mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Heh?" Hiro syok."Mana ada!" protes Hiro.


Dera memangku ke dua tangannya di dada.


"Apa kakak lupa dengan apa yang terjadi dulu, Hem!" Goda Dera sembari memberikan kedipan maut.


Hiro membuang muka. Pria ini terlihat malu, kini giliran Sean yang mencabik melihat tingkah sang papa.


"Papa saja menyekap Mama di rumah saat di Indonesia. Mama tidak boleh bertemu pria manapun. Tapi malah menuduh aku yang gak-gak!" cibir Sean.


Dera terkekeh ringan.


"Benar. Papamu begitu," Dera mendukung Sean.


Hiro merajuk menarik pinggang Dera merapat padanya. Meski telah berumur, ke dua pasangan ini masih awet muda dan semakin mesra saja. Terkadang Vian dam Sean akan berteriak frustasi melihat kemesraan ke dua orang tuanya.


"Jangan begitu, itu semua aku lakukan karena cinta kamu!" bisik Hiro dengan nada manja.


"Modus!!!" tukas Sean.


Kontan saja ketiga nya tertawa pelan.