The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 65 (Rencana Yang Gagal)



Brak!!!


Bruk!!!


"Kurang ajar!!" gadis cantik itu memaki keras setelah semua benda di sekeliling nya di hempaskan. Napas nya memburu dengan rasa amarah yang sudah sampai di puncak ubun-ubun.


"Nona!" seruan pelan pria di belakang tubuh nya.


Ella membalik kan tubuh nya. Menatap tajam lelaki yang selalu menjadi kaki tangan sang ayah. Pria itu meringis ngeri, melihat bagaimana tajamnya Ella menatap nya.


"Kenapa kau ke sini?" tanya Ella dengan nada tak suka.


"Tuan besar merindukan nona. Tuan ingin nona kembali ke Texas," ucapnya memberitahukan jika ayah dari gadis ini ingin Ella pulang kembali ke negaranya.


"Aku masih ada banyak urusan. Katakan saja pada Daddy jika aku menemukan pria yang aku sukai. Dan ingin merebut hati pria itu," tukas Ella sewot.


"Maaf nona, kali ini tuan benar-benar ingin nona pulang ke Texas. Tuan berkata mau tak mau, suka tidak suka. Nona harus kembali ke Texas. Itu perintah tuan besar," ujarnya dengan nada melambat di akhir kata, Ella melotot ke arahnya.


Gadis cantik ini mengusap kasar wajah cantik nya. Belum sempat rasa marah menguasai hati dan otaknya karena urusan Adella. Satu lagi masalah yang harus segera ia bereskan.


"Kau pulanglah dahulu. Aku akan pulang nanti," titah Ella.


"Maaf sekali lagi nona. Aku tidak bisa, kali ini tuan benar-benar bersikeras untuk nona pulang!" bantahnya.


"Alex!!!!!!!!" teriak Ella melengking. Gadis cantik ini benar-benar marah. Wajah putih langsung berubah warna menjadi merah. Napasnya kembali tidak teratur,"kau tidak bisa memutuskan apapun semuanya. Mentang-mentang kau adalah sisa anggota Dragon. Kau harus ingat, ayah ku tidak punya kuasa atas semua nya. Meskipun ia adalah ayahku. Apa lagi kau! Jadi, tolong ingat tempat mu di mana Alex!" lanjut Ella dengan nada dingin.


Alex diam. Ella melangkah keluar dari gudang kumuh di sudut kota. Meninggalkan Alex sendiri di dalam gudang. Pria ini mendesah resah. Ella sama saja seperti ibunya, sangat keras kepala dan tidak kenal rasa takut.


***


Laura diam-diam melirik Sean yang duduk di samping Dera. Pria itu masih tampak berwajah masam. Kue yang ingin mereka buat malah tidak jadi. Tapi, dapur sudah seperti kapal pecah. Dera sempat menceramahi ia, Sean dan Launa perihal dapur. Dan itu, membuat kakak lelaki nya itu semakin kesal saja.


"Laura! Kenapa tidak makan makanan nya?" tegur Dera melihat anak perempuan bungsunya terlihat tak nafsu makan.


Laura mengangkat pandangan nya pada Dera. Sebelum melirik ke arah wajah Sean. Vian mengangkat tangannya, menjatuhkan pada puncak kepala Laura. Mengusap pelan.


"Laura takut pada Abang Sean, Ma!" seru Launa.


Kontan saja orang-orang yang berada di meja makan menatap Sean dengan pandangan beragam. Pria remaja itu baru akan menyuapkan makan ke dalam mulutnya, di urungkan. Perlahan di turunkan sumpit di jarinya.


"Ada apa?" ujar Sean dengan wajah tak mengerti.


"Apa Sean bertengkar sama adek Laura?" tanya Dera dengan nada lembut. Wanita yang masih tampak imut di usia muda ini mengulas senyum pada putra ke duanya.


Sean mengerutkan dahinya. Sebelum menoleh ke arah Laura yang tertunduk saat matanya beradu dengan mata sang kakak.


"Nggak kok Mama. Hanya sedikit kesal saja, karena Laura meludahi wajah tampan ku," papar Sean.


Dera terkekeh bersama Clara mendengar betapa pedenya Sean terhadap ketampanan nya. Laura tampak manyun.


"Kan udah minta maaf," tukas Laura dengan nada mencicit.


Sean menoleh menatap wajah Laura. Vian memeluk tubuh sang adik dari samping. Walaupun Laura adalah setan betina dalam keluarga Yamato. Entah kenapa, Vian merasa gemas dengan adik perempuan nya yang bar-bar satu ini.


"Lain kali jangan ulangi!" ujar Sean memperingati Laura.


"Ya, Laura gak begitu lagi!" jawabnya,"Abang jangan masam begitu mukanya," lanjut Laura.


Sean memasang wajah dingin sebelum menarik ke dua garis senyum di kedua bibirnya. Dera tersenyum lega.


***


"Yang enak ya, sayang!" seru Vera dengan nada ceria.


Leo menoleh sebentar ke belakang. Vera tertawa perlahan, bibir Leo sudah berubah menjadi merah merekah seperti baru di sengat tawon. Belum lagi alis mata yang di gambar setebal dan sehitam alis kartun Shinchan. Bulu mata anti badai melekat di ke dua mata Leo. Dan jangan lupakan ke dua pipi yang di berikan perona wajah. Sudah seperti di pukuli oleh orang saja.


Vera benar-benar gila saat ngidam. Di jam dua malam wanita hamil itu membangun'nya. Betapa syoknya Leo, menatap pantulan wajah' di cermin. Sedangkan sang istri tertawa terbahak-bahak. Sebelum meminta di buat nasi goreng. Beginilah jadinya sekarang. Membuat nasi goreng dengan bentuk wajah mengalahkan Ondel-ondel Jakarta. Untung sayang.


"Siap nyonya muda," ujar Leo dengan lesu. Sebelum kembali menghadap ke arah kuali.


Vera masih saja tertawa di kursi, meja makan. Beruntung dua hari ini setan betina Lea sedang tidak di rumah. Anak perempuan mereka tengah keluar dengan mertua nya. Vera tidak tau jelas apa yang membuat Lea mau ikut dengan Zeo ke luar kota.


"Oke! Selesai!" Seru Leo dengan tangan bergerak mematikan api kompor. Pria ini meraih piring, meletakan nasi goreng buataannya.


"Aku tidak sabar mencicip buatan kak Leo," ujar Vera antusias.


Wanita ini kembali tertawa setiap melihat wajah kacau Leo. Sampai mengusap pelan perutnya.


"Ayo cepat makan nasi gorengnya," titah Leo menghiraukan tawa keras Vera yang semakin menjadi. Pria ini meletakkan piring berisi nasi goreng di atas meja.


***


Sean menatap layar ponsel nya dengan wajah sebal. Meski waktu sudah menunjukan pukul dua puluh tiga lewat empat puluh dua menit. Jepang lebih cepat tujuh jam dari pada Paris. Beberapa kali ia menguap lebar. Adella sudah menyuruh untuk pria remaja atau ini tidur. Sayangnya, Sean tidak menuruti nya, di samping ranjang Sean. Vian sudah melayang entah kemana dengan mimpi nya. Kini yang masih terjaga hanya Sean.


"Kenapa masih satu Minggu lagi?" tanya Sean manja.


Di layar dapat di lihat Adella mengulas senyum.


"Ada sedikit masalah dengan lombanya. Jadi ada pemunduran untuk jadwal pulang."


"Kalau begitu besok aku terbang ke Paris saja," oceh Sean.


Adella menggelengkan kepalanya menolak ide gila Sean.


"Hei! Kau masih ada sekolah Sean!"


"Besok kan hari Sabtu. Dan lagipula ada waktu dua hari Adella," tukas Sean.


"Tetaplah di Jepang. Jangan ke sini, aku akan usahakan untuk pulang secepatnya. Aku janji!" kata Adella mencoba menenangkan Sean. Bisa gawat jika Sean ke Paris. Pria remaja ini bisa tau dengan apa yang terjadi. Dan ini sangat membuat Adella khawatir.


Dapat Adella lihat di layar ponsel. Sean mengeluh dengan wajah semakin masam saja. Pria ini benar-benar keras kepala. Sama seperti Hiro, yang masih berada di Paris. Kini Adella tau, keras kepalanya Sean di dapat dari siapa.


"Tidurlah. Sekarang di sana sudah sangat malam," ucap Adella.


"Besok libur, jadi nggak apa-apa kalau aku bergadang!"


"Aku lelah, seharian beraktivitas. Mau istirahat, bolehkan besok kita sambung lagi?" Adella berusaha keras agar pria di seberang sana mau mengistirahatkan tubuh nya.


"Oh! Kalau begitu kita akhiri saja. Cepat istirahat," balas Sean.


See! Beginilah Sean Yamato. Keturunan Mafia Jepang, yang memiliki tingkat bucin akut seperti Hiro.


"Oke, good night and sweet dream Sean!"


"Hem! Good night and sweet dream too!" balas Sean.


Video call mereka terputus Sean mendesah jengkel. Sebelum membuang asal ponsel mahalnya di atas tempat tidur.