
Manik mata coklat kelam itu menatap hamparan danau buatan di belakang rumah besar Yakuza. Seminggu di lalui bagaimana satu tahun. Pria remaja itu memilih bungkam dengan banyak pertanyaan. Menyendiri lebih baik dari pada bersama banyak orang namun merasa kesepian. Sean Yamato berubah total, pria yang selalu ceria berubah menjadi pendiam dalam satu waktu. Saat nama Adella di pertanyakan keadaan dan keberadaan nya. Sean memilih untuk meninggalkan tempat ia berada.
Angin di musim panas berhembus mengusik anak rambut hitam legamnya yang ikut menari. Derap langkah kaki terdengar jelas, kala telapak sendal bergesekan dengan rerumputan sintetis. Sean tidak memutar kepalanya hanya sekedar tau siapa yang kini mendekat ke arahnya.
"Wah! Ternyata di sini juga menyenangkan untuk duduk di musim, panas ya?" Ujar pemilik tubuh sembari mengambil tempat duduk di samping Sean.Duduk di rerumputan tanpa alas.
Sean tak bergeming. Seolah anak remaja itu ingin berpuasa untuk berbicara. Leo menghela napas, aroma bunga teratai di pinggir danau menyeruak kala di tiup angin.
"Sean!" panggil Leo pelan. Sebelum telapak tangannya menepuk pelan pundak Sean.
Sean menoleh ke samping. Di mana sang paman tersenyum padanya.
"Paman ke sini tidak untuk menanyakan apa yang terjadi padamu maupun Adella," ujar Leo memberikan pengertian,"paman hanya khawatir melihatmu seperti ini," lanjut nya.
Sean menghela napas."Aku tidak apa-apa paman. Jangan khawatir," ujar Sean pada akhirnya.
Leo memang lelaki yang memiliki kadar keceriaan yang menakjubkan. Di kerjai habis-habisan Leo tak pernah marah besar padanya. Meskipun, ia nakal dan membuat Leo kesal. Paman tampannya satu ini tak pernah menghukum nya dengan hukuman keras. Leo Yamato, benar mirip dengan nya. Ceria dan tangkas. Yang berbeda antara mereka adalah Leo sudah terlalu matang dan terkesan tenang. Karena faktor umur yang terus mendekati usia empat puluhan. Sedangkan Sean, ia masih terlalu muda. Dengan emosional yang sangat tinggi. Begitu pula dengan gengsi berserta harga diri.
"Mana ada baik-baik saja namun seperti pasien sakit jiwa," ledek Leo.
Sean mendelik. Sebelum mendengus kesal. Leo terkekeh renyah. Ia meluruskan kaki yang awalnya di tekuk dengan pandangan lurus ke depan.
"Kau terlihat menyimpan kekecewaan dan luka Sean. Jangan terlalu berlarut-larut dalam luka. Tidak selamanya luka itu hal buruk dalam hidup. Tanpa rasa sakit kau tidak akan tau bagaimana rasanya terluka," ujar Leo masih menatap lurus dan jauh ke depan,"perlu kau tau Sean. Semua manusia di dunia ini tidak satupun yang tidak merasakan luka dan kecewa. Bukan tentang luka yang terpenting Sean. Tapi yang terpenting adalah tentang bagaimana cara kau mengatasi dan mengobati lukamu sendiri!" lanjut nya.
Kepalanya menoleh ke arah Sean kembali. Leo sama sekali tidak berbohong. Ia juga pernah merasakan luka. Luka kehilangan orang paling penting dalam kehidupan. Kecewa karena ketidak mampu Zeo melindungi ibu dan keluarga ibunya. Bahkan rasa sakit dari patah hati kehilangan wanita yang tanpa sadar ia cintai.
Karena telah banyak terluka. Leo dengan sangat jelas tau bagaimana cara mengatasinya. Jika berlarut-larut, mungkin tidak ada yang namanya masa depan dan kebahagiaan. Apa yang terkadang menyakitkan bagi kita dan terasa sangat buruk bagi kita. Terkadang tak semua nya benar. Seperti saat ini, meskipun Dera tidak menjadi miliknya. Namun Tuhan hadirkan Vera untuk nya. Dengan Lea putri pertama dan kebahagiaan tak terhingga.
Bukankah Tuhan menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang bertahan? Begitulah cara Leo berpikir.
Sean mengigit pelan bibir bawahnya. Sebelum mengulas senyum, paman nya benar. Dan Sean tak ingin tengelam pada luka dan ketidak pastian. Adella pasti memiliki alasan di belakang nya jikapun gadis itu benar-benar menjadi mata-mata.
"Terimakasih paman," ucap Sean.
Leo Yamato mengangguk cepat. Sebelum kembali menepuk pelan pundak Sean. Di balik pohon besar, Vian bersandar. Vian harap adiknya bisa ceria seperti sedia kala. Meskipun Vian terlihat dingin dan cuek pada Sean. Pria ini sungguh menyayangi Sean. Sama seperti ia menyayanggi Launa dan Laura. Jika cinta dan kasih sayang nya pada Launa dan Laura terlihat jelas. Beda dengan kasih sayang nya pada Sean. Ia tidak menampakkan nya secara jelas pada kembarannya.
Salah satu bukti sayang putra pertama Hiro dan Dera ini adalah dengan melepaskan Adella. Tidak mudah melepaskan gadis yang di cintai. Apalagi gadis itu adalah cinta pertama nya. Namun bagi Vian jauh lebih tak mudah lagi melihat Sean terluka.
"Aku berharap kebahagiaan untukmu, Sean!" lirihnya.
...***...
Bunyi berkelahian terdengar samar di luar pintu kamar. Beberapa kali gerakan tuju di layangan kan dengan lugas. Sayang nya pria itu terlalu tangkas. Tidak peduli berapa banyak barang yang menjadi korban di dalam kamar. Gadis itu tak berhenti menghantam Kris.
Sret!
Plak!
Bug!
"Akh!"
Sudut bibir kanan Adella pecah karena tamparan. Perutnya di hantam dengan kekuatan sedang. Hingga punggung belakang nya menghantam dinding kamar. Kris mengerang kesal.
"Bukankah sudah berapa kali aku katakan. Jangan membuat aku marah sayang," ujarnya menahan kesal.
Cuih!
Adella membuang darah yang menyatu dengan air liurnya. Mata nya menatap nyalang Kris. Pria itu benar-benar gila, Adella telah menuruti keinginan Kris. Melepaskan Sean dan keluarga Yamato. Gilanya, pria itu malah menginginkan nya menjadi miliknya. Bagaimana seorang kakak bisa segila itu. Meskipun ia dan Kris beda ibu, bagaimana bisa Kris ingin menikahinya.
"Lepaskan aku, Kris!" ucap Adella dengan nada dingin,"aku tidak akan pernah bisa kembali dengan Sean. Apa lagi dengan keluarga Yamato. Aku hanya ingin bebas. Aku janji, aku tidak akan menginjak lagi negara ini," lanjut Adella dengan nada lirih di akhir kata.
Gadis ini tidak ingin masuk ke dalam permainan gila pria di depannya ini. Langkah kaki panjang Kris terlihat jelas mendekati nya. Hingga tangan besar itu di tepis kala ingin menyentuh wajah nya.
Kris terkekeh sinis kala mendapatkan perlakuan kasar dari gadis yang ia cintai.
"Sayangku, kau pikir aku hanya menginginkan kau pergi dari Sean, huh?" ucapnya,"bukankah berkali-kali aku katakan aku menginginkanmu. Menjadi milikku, hanya milikku!" lanjut nya.
Greb!
Buk!
Sebelah tangan Kris meraih rahang Adella. Menekannya dengan keras, sebelah lagi mengunci tangan Adella. Hingga tubuh gadis itu menempel di dinding.
Mata Adella menajam. Beda dengan tubuh nya yang gemetar dan lemah. Satu Minggu di sekap, selama itu pula Adella melakukan perlawanan. Membuat beberapa bagian tubuh nya memar. Karena perlawanan nya pada Kris. Gadis ini bahkan tak segan untuk mogok makan. Dalam keadaan lemah ia tetap melawan. Ken sendiri, bahkan tidak mampu menghentikan kegilan Kris.
"Jangan berteriak padaku, Adella! Aku bahkan telah memperlakukanmu dengan sangat baik di sini. Aku berikan makanan terbaik, baju bagus, kamar yang luas. Bahkan aku curahkan perhatiaan aku padamu. Lalu apa lagi yang kurang hem? Hingga kau masih ingin pergi dariku!" Ujar Kris sembari menekan kedua sisi rahang Adella.
Sakit! Sungguh. Rasanya rahang Adella bergeser dari tempatnya.
Kepala Adella bergerak memberontak. Kris tertawa keras. Sebelum melepaskan rahang Adella yang di apit keras oleh tangan besarnya.
"Aku mohon, lepaskan aku!" ujarnya lemah. Jika cara kasar tidak mempan. Adella memilih memohon dengan lembut. Air matanya mengalir deras. Perubahan nya hancur.
Gadis ini takut. Sungguh! Dengan kegila dan nekatnya Kris. Adella takut berada di sisi Kris. Pria ini gila, sungguh gila. Kadar kegilaannya tak mampu di ukur dengan logika.
"Kau ingin kembali padanya bukan?" tebak Kris,"aku tidak bodoh Adella. Kau ingin kembali pada Sean. Baik akan aku beri kau kesempatan untuk bertemu dengan Sean. Namun sebelum itu mari buat kesepakatan dengan ku?" ujar Kris memberikan tawaran.
"Apa?"
"Jika Sean bisa mempercayaimu. Saat nanti aku lepas, kau boleh kembali ke sisi Sean atau pun pergi kemanapun. Namun jika Sean tak bisa percaya padamu. Kau harus kembali kesisiku. Tanpa protes maupun perlawanan."
Kontan saja kepala Adella mengangguk. Ia percaya dengan Sean. Pria itu akan memberikan kepercayaan padanya. Jika ia menjelaskan.
"Baik!" jawab Adella cepat di sela tangisnya.
Kris tersenyum. Sebelum pekikan Adella terdengar nyaring. Tubuh nya meronta-ronta, bahkan kakinya tak berhenti mencoba menendang Kris. Pria itu bergerak mengapit kaki Adella. Membuat mangsa lumpuh. Kris berterimakasih karena Adella tidak menyentuh makanan yang ia berikan. Hingga gadis ini menjadi lemah.
Kecupan dan seseapan di leher membuat gadis itu semakin berteriak keras. Beberapa kali di layangan kan hingga mencetak maha karya yang menjijikan bagi Adella.
Bruk!
Tubuh Adella merosot ke lantai. Saat tanda merah keunguan terpajang jelas di leher jenjang putih miliknya.
"Dengan begitu, kita bisa lihat. Apakah Sean percaya padamu. Atau percaya pada logika akan bukti yang ada pada lehermu. Jika ia lebih percaya kamu, maka bukti di lehermu tidak lebih dari sekedar jebakan bagi Sean. Namun jika ia percaya pada bukti di lehermu. Maka cinta nya padamu masih terlalu dangkal untuk tetap kau tinggali, Adella!" ucap Kris penuh kemenangan.
Pria itu keluar dari kamar. Membiarkan gadis itu menangis keras.
...***...
Dera mengusap pelan puncak kepala Sean. Putranya tertidur lelap di kamar yang sama. Kamar yang satu Minggu ini menjadi tempat persembunyian nya.
"Mama berharap putra dan putri mama bahagia. Mama akan lakukan apapun untuk melihat senyummu kembali, sayang!" Ucap Dera di sela usapan di puncak kepala Sean.
Merasa di pandangi dari pintu. Dera menoleh. Di sana Hiro tersenyum lembut ke arah nya. Sebelum melangkah masuk ke dalam kamar tamu. Berdiri di samping ranjang.
"Ayo, ke kamar. Jam sudah sangat larut untuk tetap di sini. Sean adalah pria yang kuat. Apapun yang ia coba lakukan dan ia sembunyikan. Aku yakin, itu terbaik untuk dirinya maupun kita. Tidak lama lagi ia akan kembali seperti semula," ucap Hiro dengan nada serak.
Dera mengangguk pelan. Tangan Hiro meraih selimut tebal. Menariknya hingga batas dada Sean. Ia menunduk, mengusap pelan kepala Sean. Dera menarik tangannya dari puncak kepala Sean.
"Selamat tidur, son!" ujarnya pelan.
Hiro kembali menegakkan tubuhnya. Sebelum menarik tangan sang istri untuk keluar dari kamar Sean. Keduanya melangkah masuk ke kamar mereka. Yang tidak terlalu jauh dari kamar Adella lama.
"Bagaimana dengan informasi terbaru tentang Adella, kak?" tanya Dera kala sampai di kamar mereka.
"Tidak ada info terbaru. Hanya ponsel tanpa data yang berhasil di dapatkan," jawab Hiro pelan.
Pria itu memeluk tubuh Dera. Seolah tengah mengisi semangat dari tubuh sang istri. Dera mengusap pelan punggung belakang Hiro.
Menepuk-nepuk pelan punggung sang suami. Jika Hiro merasa letih, maka pria itu akan bertingkah manja padanya. Seperti saat ini.