The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 36 (Syok)



Gemuruh langkah di sela ranting yang terinjak terdengar samar. Hembusan napas yang tidak teratur mengudara dengan bebas. Pria itu terus berlari tanpa arah, membelah hutan di bagian selatan Jepang. Wajahnya di penuhi oleh cairan amis. Transaksi ilegal yang ia lakukan gagal. Beberapa kali lehernya di putar kebelakang melihat pengejaran Yakuza padanya.


Suara ranting patah begitu nyaring semakin membuat sang pria yang di buru semakin mempercepat larinya.


BRUK!


Tendagan keras membuat pria berusia tiga puluhan itu tersungkur. Senyuman miring dari anak remaja lelaki itu sungguh membuat nya merinding.


"Mau kemana buru-buru sekali, Hem!" tanya nya dengan nada berat. Ke dua tangannya di lipat di depan dada.


Derap langkah lainnya membawa gaduh.


"Tuan muda!" ujar Yeko dengan nada formal.


Sean tidak menatap bawahan sang ayah. Pandangan matanya coklat kelam itu berkilap dalam malam yang kelam.


"Bagaimana bisa, tikus seperti nya mengatas namakan Yakuza. Untuk melakukan transaksi ilegal. Dan kalian sangat lambat dalam menangkapnya!" kesal Sean dengan nada yang begitu menyeramkan.


"Aam...pun...!" Ujar pria itu bersujud di sepatu Sean.


Yeko membeku. Pria ini tidak menyangka jika Sean ikut dalam operasi besar-besaran Yakuza dalam berburu tikus. Para bawahan yang baik berkhianat atau orang yang sengaja mengatas namakan kelompok besar Yakuza untuk melakukan transaksi ilegal.


"Mengapuni mu?" ulang Sean dengan nada menyeramkan.


Kepala pria itu mengangguk cepat. Ia berharap belas kasihan dari putra mahkota Yakuza. Teman-teman nya telah meregang nyawa. Ia berhasil kabur, siapa sangka. Yang menangkapnya adalah Sean Yamato. Bukan anggota Yakuza lainnya. Pria ini berharap belas kasihan dari Sean.


"Saya.....mohon!" ujarnya dengan nada bergetar.


Yeko tidak angkat bicara. Pria ini hanya diam, mengingat satu pria ini lolos dalam operasi yang di pimpin olehnya. Sudah pasti, setelah ini dirinya tidak akan aman. Entah hukuman apa yang akan Sean berikan padanya. Meski anak remaja ini terlihat sangat manis. Percayalah, Sean Yamato benar-benar sosok iblis dengan balutan penuh pesona.


Senyum menyeringai terbentuk. Sebelum katana di pinggang Yeko di tarik.


Slas!!!


Bruk!!!


Darah menghujam tubuh Sean. Wajahnya tak luput dari percikan darah. Ekspresi yang selalu polos dengan senyum bersahaja miliknya tak lagi terlihat. Wajah datar tanpa ekspresi, tatapan menajam berkali-kali lipat. Tubuh pria yang berpisah kepala dan badan itu mengelepar-ngelepar. Bak ikan yang kehabisan air.


Sean mengerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Tersenyum menyeringai, penuh kepuasan. Hasrat akan darah terasa bergejolak. Sean sangat suka dengan perburuan, sangat menyenangkan saat ke dua tangan bisa menebas dan menghilang banyak nyawa yang menjadi parasit bagi dunia.


"Yeko! Kau bergeraklah menyisir hutan ini. Pasti tidak satupun terlewatkan. Kau harus bisa menangkap mereka hidup-hidup. Atau kepala mereka berpisah dengan tubuh mereka. Kau tau bukan, bagaimana jika Papa tidak mendapatkan satupun yang hidup, huh!" ucap Sean dengan nada dalam.


"Baik, tuan muda!" jawab Yeko merasa pening seketika.


Sudah pasti. Esok pagi, ia dan anggota lain nya akan mendapatkan hukuman. Jika Sean sudah terjun, anak ini akan menghabisi mangsa nya. Tidak akan ada yang bisa lolos dari kejaran Sean Yamato. Sedangkan Hiro ingin buruan yang hidup untuk di sebagian umpan.


Memiliki pandangan berbeda. Hiro dan Sean. Ke dua Bos dan tuan muda Yakuza itu terkadang membuat anggota Yakuza kerepotan. Sean masih suka dengan tindak kan semena-mena. Hiro lebih suka bertindak dengan pergerakan mulus. Hiro tidak dapat memarahi Sean, mengingat ia saat muda dulu juga sama. Suka semena-mena dan haus akan darah. Nafsu membunuh begitu liar di dalam diri.


"Mari mulai!" titah Sean. Sebelum mengeratkan genggaman nya pada katana.


Beberapa anggota mengangkut mayat. Beberapa lagi berlari bersama Sean dan Yeko. Perburuan besar kembali di buka. Desiran angin, dengan ranting yang beradu serta di injak benar-benar menjadi nada untuk malaikat maut berpesta.


***


Gerakan tangan Adella menyulam sapu tangan terlihat sangat cekatan. Nika yang berada di samping tubuh Adella merasa terpukau dengan sulaman bunga mawar yang Adella buat. Benar-benar hebat. Satu kata yang dapat di tarik oleh Nika Yamada.


Adella menoleh ke samping. Ia mengulas senyum.


"Benarkah?" tanya nya dengan wajah sumringah.


"Ya." Nika mengangguk antusias."Aku pikir kau hanya hebat dalam bermain Piano saja. Siapa sangka, kau juga hebat dalam menyulam," kagum Nika dengan ke dua mata berbinar.


"Heheh.....aku pikir ini keahlian ke dua ku," kata Adella.


"Punyamu bahkan sudah selesai. Punyaku lihat lah, sangat berantakan," keluh Nika.


"Kau harus lebih banyak berlatih lagi kawan!"


"Ya. Harus berlatih lebih keras lagi. Mau beri saputangan nya ke Sean, ya?" goda Nika.


Adella tak mampu menahan senyum yang terbit di wajahnya.


"Menurut mu?" Adella malah balik bertanya.


Nika sontak mengangguk. Tidak lupa ke dua alis mata nya di naik turunkan. Ke duanya terkekeh pelan. Hanya sepuluh menit di kelas. Adella keluar dari kelas, izin ke toilet. Derap langkah kakinya membuat gema di lorong. Langkah kakinya memelan kala merasa ada yang memperhatikan nya.


Dilihat ke kiri ke kanan tidak ada ada seorangpun disana. Adella mengurutkan dahinya karena merasa aneh dengan keadaan sekitar. Dia kembali melanjutkan langkah yang sempat tertunda karena merasa ada yang memperhatikannya.


Derap langkah kaki kembali menyapa lorong gedung sekolah. Akan tetapi rasa itu kembali membuat langkah kaki Adella memelan. Adella merasakan kan jika feeling dirinya tidaklah salah. Kala ia menatap dengan ekor matanya ada bayangan kan seseorang yang bersembunyi di pilar yang berada di belakangnya. Adella menggigit bibir bawahnya. Ia memutar keras otaknya nya tahu siapa apa yang tengah mengikuti dirinya.


Kaki panjang Adella membuat gadis remaja ini mudah dalam mempercepat langkah kakinya. Ia sengaja mencari jalan memutar untuk mengetahui siapa yang tengah mengikuti dirinya.


Adella menghilang. Hingga sang penguntit mempercepat langkah kakinya.


Tap!


Tap!


Tap!


Hap!


Tangan yang di tangkap oleh Adella malah memutar tubuhnya. Pergerakan ke dua nya saling mengunci pergerakan tubuh masing-masing terdengar jelas. Karena gesekan sepatu dengan lantai.


Hingga bunyi nyaring punggung belakang berbenturan dengan lantai marmer membuat gaduh.


Bug!


"AW! Aduh, sakit Del!" Keluh Sean kala tubuh nya di banting.


Adella syok. Gadis remaja itu mundur beberapa langkah. Mendadak otaknya bleng. Sean duduk dari posisi tidurnya. Pemuda remaja ini juga tidak menyangka jika Adella bisa mencekal bahkan membanting tubuhnya. Yang notabene nya lebih berat dan besar dari dirinya. Sean bermaksud menjahili Adella. Dengan mengejutkan gadis cantik itu dari belakang. Tapi, yang terjadi malah sebaliknya.


"Adella!" Panggil Sean dengan tangan di sodori ke Adella. Bermaksud agar Adella membantu nya berdiri.


Sayangnya. Adella masih syok dengan yang ia lakukan. Seolah-olah ia pernah mengalami kejadian barusan. Yang menjadi pertanyaan bagi gadis ini adalah, bagaimana bisa ia membanting Sean? Padahal ia tidak pernah belajar ilmu bela diri?


"Bagaimana bisa?" Seru Adella dengan wajah tak percaya.


Dahi Sean berkerut. Ia tak tau apa yang membuat Adella berwajah pucatpasi seperti saat ini.