The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 88 (Hiro & Dera moments)



Ella memutar malas bola matanya. Rasanya sangat jenuh dan bosan dengan kegiatan nya yang monoton. Itu lagi dan itu lagi, sungguh sangat membosankan. Hatinya terasa resah dan gelisah karena tidak kunjung melihat pria yang sangat ia cintai. Sudah dua Minggu lebih, dirinya tidak bisa melihat Sean Yamato. Pria yang benar-benar membuat nya lebih hidup dan memiliki keinginan untuk maju. Hembusan napas gusar oleh Ella membuat Jon menoleh.


"Ini sudah mau tiga Minggu kau begini. Tidak kah kau ingin mengakhiri kegilaan mu itu?" ujar Jon dengan nada lembut. Bagaimana pun Ella masih seorang anak remaja.


Gadis remaja yang menang sedang gilanya akan yang namanya jatuh cinta.


"Bukankah ini memang keinginan mu, Dad!" tukas Ella.


Jon menghela napas kasar. Pria itu berusaha bersabar menghadapi sang putri.


"Daddy membawamu kembali bukan lantaran ingin melihat mu uring-uringan tidak jelas begini Honey!" bantah Jon,"Daddy ingin kau bisa beraktivitas seperti biasanya. Tidak kah kau ingin sekolah seperti biasanya. Kau putri pengusaha terhebat dan terkaya di Texas. Kau tinggal belajar dan shopping. Tidak perlu khawatir banyak hal. Apa yang kau inginkan bisa kau raih. Kecuali dengan keinginan gila mu, pada anak Mafia Jepang itu," lanjut Jon.


Apa yang di katakan oleh pria bule ini benar adanya. Bukankah ke hidup Ella sangat lah menyenangkan. Kehidupan seperti anak perempuan remaja pada umumnya. Yang harus anak ini lakukan adalah belajar dan bersenang-senang dengan mudah. Tanpa harus khawatir dengan berapa banyak uang yang harus ia keluar kan di dompet. Tidak perlu berpikir dua kali hanya untuk menggosok kartu ATM tanpa limit miliknya.


Anehnya, Annabelle malah memilih hidup tak normal. Bertarung dan bergelut dalam dunia bawah. Dunia kelam, yang sangat di hindari oleh orang normal. Jon, mencoba memaklumi hal itu. Mengingat putri nya memiliki darah Mafia. Akan tetapi, pria ini tak ingin sang putri mengikuti jejak wanita itu. Wanita yang memberikan nya seorang putri yang sangat cantik.


"Apa salah jatuh cinta, Dad!" protes Ella pada akhirnya.


"Tidak ada yang salah sayang. Yang salah adalah kau menjatuhkan hati bukan pada orang yang tepat," tukas Jon.


"Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri Dad?"


"Itu adalah kesalahan masa lalu, Ella. Tidak ada hubungannya. Semua nya sudah berlalu, dan kau tau dengan jelas akan kisah itu."


Kepala Ella menggeleng keras. Seakan ia menolak perkataan sang ayah.


"Kau terlalu munafik, Dad. Jelas-jelas sampai sekarang pun kau masih menyimpan perasaan yang sama. Jika itu adalah masa lalu. Terus, kenapa kau memilih sendiri tanpa pendamping di sisi mu. Jelas-jelas wanita manapun rela menyandang gelar sebagai nyonya besar rumah ini, Dad!" papar Ella dengan nada meremehkan.


Jon bungkam.


"Kau ingin mengalami kisah yang sama dengan Daddy mu yang menyedihkan ini, Ella?" tanya Jon dengan pandangan terluka.


"Tidak. Aku sudah pasti tidak akan seperti mu, Daddy. Aku pasti akan mendapatkan pria yang aku cintai Daddy. Dan menjadi kan dia menantu mu," bantah Ella dengan penuh percaya diri.


Jon diam. Pria itu berpikir keras, terlihat kerutan keras di dahi nya.


"Kalau begitu, belajarlah yang baik Ella. Menjadi wanita yang pintar dan pimpinan perusahaan Daddy dengan baik. Jika kau bisa, maka kau boleh menerus kan kisah asmaramu dengan pria itu. Bukankah untuk menekan pria itu kau butuh kekuatan dan kekuasaan?"


Ella mengulas senyum."Ya, aku akan membuktikan nya pada Daddy. Jika aku mampu, dan kisah ku tidak akan sama seperti mu, Dad!"


Jon hanya mengangguk kecil. Pria ini akan membantu sang Putri. Setidaknya, ia akan berusaha. Jika anak Mafia itu tidak bisa di miliki oleh sang putri. Maka, kematian yang akan Jon hadiahkan pada anak lelaki yang di cintai oleh sang putri. Karena melukai dan menolak sang putri. Sama saja, menyakiti nya. Dan yang menyakiti diri nya harus mati. Begitulah pemikiran Jon.


Jaket tebal itu di pasangkan dengan senyum tulus. Terkadang ke duanya terlihat seperti sepasang kekasih yang bisa membuat banyak khalayak umum merasa iri. Tubuh yang sempat di bungkuk kan itu berdiri tegap dengan tangan sarung tangan tebal menyentuh telapak tangan yang lebih kecil dari telapak tangannya. Jari jemari saling bertautan. Ke dua nya melangkah mendekati area Ice Skating yang terbentang luas.


Ada banyak orang-orang yang tengah berseluncur. Dera menggenggam tangan sang suami. Kala sepatu milik nya meluncur di atas hamparan Ice yang sangat beku.


"Kenapa?" tanya Hiro melihat ekspresi aneh di wajah Dera.


Dera menengadah menatap wajah sang suami.


"Takut," gumamnya membuat senyum di bibir Hiro Yamato terbit. Ayah empat anak ini gemas pada sang istri.


Tubuh nya membungkuk kecil. Mensejajarkan wajahnya dan wajar sang istri. Pipi Dera tampak merona, sungguh lucu.


"Aku selalu di sampingmu. Jangan takut, aku akan menggenggam tanganmu erat-erat. Dan tidak akan membiarkan mu terluka, sayang!" ucap Hiro dengan nada lembut.


Blush!


Wajah Dera semakin merona saja. Hiro terkekeh kecil. Ke duanya memilih kencan keluar. Hiro sengaja memilih wahana Ice Skating untuk ia dan sang istri. Supaya, Dera terus menerus menggenggam tangannya. Seperti saat pertama kali mereka mencoba wahana berjalan di atas lapisan es yang membeku. Berputar dan melaju kencang. Hanya mereka berdua saja.


"Kakak selalu saja suka menggombal," ujar Dera malu.


"Aku bahkan tidak bisa bersuara jika bukan mengeluarkan kata-kata manis," balas Hiro.


Bug!


Dada bidang yang di lapisi jaket kulit tebal di pukul pelan. Hiro tergelak melihat balasan dari perkataan nya. Ini yang sangat ia sukai, berdua dengan sang istri. Menikmati waktu luang hanya berdua. Membiarkan anak-anak mereka di rumah. Tentunya bersama Leo dan Vera. Jangan lupakan Lea Yamato. Setan betina, yang lebih setan dari pada para setan. Tidak tau seberapa kuatnya anak perempuan pertama sang adik.


Bahkan diam-diam Hiro berpikir. Apakah Vera saat hamil mengidam punya anak seperti putra ke duanya. Atau gen dari Leo terlalu banyak hingga Lea bisa menjadi senakal dan seberani itu. Bahkan anak perempuan itu tak segan-segan membujuk dirinya dengan rayuan yang membuat ia bisa dengan mudah mengangguk. Menuruti perkataan Lea. Sungguh benar-benar berbahaya. Lebih bahaya dari pada Laura.


Hiro beruntung, hari ini bisa menghindar dari Lea. Membiarkan rumah besarnya di kuasai oleh setan betina kecil itu. Setidaknya, meskipun rumah besar Yamato ribut. Tidak ada dia di dalamnya.


"Mau main?" tanya Hiro menatap Dera penuh harap.


Dera membuang pelan oksigen. Membawa uap hangat mengalun di udara. Kepalanya mengangguk kecil. Hiro menarik tangan Dera dengan perlahan. Besi di sepatu, mulai beradu dengan licinnya lantai es. Dera terpekik keras. Sebelum di sambut tawa oleh Hiro. Dera mungkin belum terlalu ahli bermain di atas lapisan es. Mengingat negara Indonesia adalah negara tropis.


Meskipun begitu bukan berarti wanita ini belum pernah mencoba meluncur di atas lapisan es. Di Indonesia juga ada, lapisan es buatan. Di salah satu Mall terbesar di Jakarta juga ada area bermain Ice Skating. Mall Taman Anggrek, hanya dengan membayar biaya lima puluh ribu rupiah. Ia sudah bisa bermain, dengan degup jantung yang berpacu.


"Pegangan yang erat, De!" Titah Hiro sebelum menarik Dera berputar bersamanya.


Tawa Dera melambung. Ke duanya seperti pasangan kekasih yang tengah mabuk asmara. Sesekali Hiro dengan kurang ajarnya mengecup pipi Dera di depan umur. Dan dengan memeluk pinggang sang istri. Tidak ada yang tau jika di rumah besar Yamato, Leo tengah dalam ke adaan mengerang kesal karena ulah anaknya dan anak kakaknya. Hiro benar-benar berterimakasih pada sang adik. Karena membuat ke empat anaknya melupakan keberadaan ia dan sang istri.