
Tok!
Tok!
Tok!
Tiga ketukan di luar kamar rawat inap. Adella menoleh ke ambang pintu menatap siapa yang kini yang mengetuk pintu.
"Masuk!" seru Adella cukup keras.
Srak!
Pintu di tarik ke samping membawa bunyi gaduh. Gadis remaja itu dapat melihat tiga orang yang berada di pintu. Dua di antaranya adalah anggota Yakuza yang menjaga Adella. Pria yang berkaca mata tersenyum lima jari pada Adella.
"Bo——boleh masuk?" tanyanya dengan tergagap.
Ke dua anggota Yakuza tampak menatap intens pria yang masih memakai seragam sekolah yang sama dengan tuan muda mereka dengan pandangan awas. Seolah-olah siap menahan siapapun yang masuk ke dalam kamar jika gadis remaja yang berada di atas ranjang pesakitan melarang pria remaja itu masuk.
"Biarkan dia masuk. Dia temanku," ujar Adella yang paham dengan situasi dan kondisi.
Ke duanya mengangguk kecil. Sebelum mendorong pelan punggung belakang pria itu masuk. Kris tersenyum, sebelum menaikan kaca matanya yang merosot. Ia melangkah lebar dengan buket bunga mawar merah.
"Hai! Adella. Bagaimana kondisi mu. Aku sudah satu minggu mendengar kondisi mu. Hanya saja aku tidak bisa datang, aku takut pada kekasih mu!" Ujarnya sembari memberikan buket bunga pada Adella.
Kris mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Tidak ia lihat ada tanda-tanda orang yang menunggui Adella. Pilihannya sudah tempat datang saat tidak ada Sean ataupun yang lainnya. Ia memilih jam delapan pagi untuk menjenguk Adella.
"Hem. Hai juga Kris, keadaan ku lumayan baik saat ini. Duduklah!" ujar Adella menatap bangku di samping ranjang nya.
Kris menuruti perkataan Adella, ia duduk kursi tepat di samping ranjang pesakitan Adella.
"Kau tidak sekolah Kris?" tanya Adella,"kenapa pagi-pagi sudah di sini?" lanjut nya.
Kris terkekeh kecil sebelum menggaruk leher belakang nya yang tidak gatal."Aku pikir Sean akan marah.
Adella hanya mengulas senyum. Ya, gadis ini tau. Tuan muda Yamato satu itu memang sangat posesif fakta ini tidak bisa di bantah oleh gadis berambut sebahu ini. Sebagai ia mencintai dan menyayangi Sean. Seperti itu pula Sean padanya. Meski dalam tahap yang berbeda. Mengingat bagaimana Sean memperlakukan nya.
"Maaf, aku tidak bisa membantah akan hal itu. Tapi, Sean akan menerima mu dengan baik jika kamu punya niat baik. Sean tak seburuk yang kamu pikir kan kok," ujar Adella,"dan maaf soal latihan pianonya. Aku tidak bisa membantu," lanjut Adella pelan penuh sesal.
Kris mengulas senyum. Pria Uchiha ini merasa lega melihat senyum Adella. Tidak masalah jika senyum itu hadir bukan karena nya. Namun, ia bahagia karena bisa melihat wajah Adella.
Bibirnya terbuka namun laju kata tertahan kala pintu di buka cepat. Kepalanya menoleh ke belakang, menatap siapa gerangan yang membuka pintu.
Wajah tampan itu tampak memerah. Langkah kaki panjang nya tampak lebar mempersempit jarak antara ia dan ke dua orang yang berada di dalam. Pandangan matanya tampak dingin dan menakutkan. Bahkan dua orang yang menjaganya tampak memucat. Pintu kamar di biarkan terbuka lebar. Vian ikut masuk dengan wajah tak terbaca membiarkan sang adik meninggalkan dirinya di belakang.
"Siapa kau dan kenapa kau ada di sini?" tegur Sean dengan nada dan wajah memerah menahan rasa cemburu yang membakar hati. Sungguh! Sean tidak bisa melihat Adella di dekati oleh pria manapun. Tanpa terkecuali.
Kris berdiri dari posisi duduk nya. Sebelum menunduk cepat memberikan salam hormat pada tuan muda Yakuza itu.
"Ha——halo, namaku Kris. Aku...aku tem——teman Adella," ujarnya di buat terbata-bata. Tidak lupa raut wajah takut ikut terlihat.
Sean mendengus keras. Menatap tidak bersahabat pada pria yang baru saja memperkenalkan diri padanya.
"Pulanglah!" titahnya tak terbantah.
"Ba....ba...baik," ujarnya. Sebelum kembali menunduk pelan ke arah Sean dan Vian yang kini sudah berada di samping ranjang sisi kiri Adella.
Sean hanya menatap Kris dengan pandangan mengintimidasi. Kris melangkah menuju pintu keluar yang terbuka lebar. Adella hanya menggeleng pelan. Gadis remaja itu, hanya menghela napas pelan. Wajah Sean tampak sangat kesal. Terlihat jelas, saat ia merenggut sebelum melangkah menuju kamar mandi. Sekedar membasuh wajah dengan air dingin untuk meredakan percikan api cemburu yang menyala di dalam dada.
Vian berdecak kesal melihat bagaimana sang adik. Pria yang cenderung tenang ini terlihat merogoh tas kecil yang ia bawa. Adella menoleh ke samping kiri nya.
"Apa itu?" tanya Adella dengan nada penasaran melihat cairan merah menyala berada di botol seukuran jari kelengkeng nya.
"Ini obat yang aku kembangkan!" Jawab Vian sembari mengeluarkan suntik. Menarik tuas suntik untuk menyesap obat penawar yang berhasil ia buat.
"Wah! Sudah mau jadi anak farmasi sekarang, Hem!" goda Adella.
"Aku tidak tau apakah obat ini akan bereaksi cepat atau lambat padamu. Yang terpenting saat ini kita sudah menemukan obatnya," jawab Vian lembut.
"Ya, terimakasih Vian!" ujar Adella,"kau adalah teman terbaik yang aku miliki," lanjut nya.
Vian hanya mengulas senyum kotak khas miliknya sebelum menyuntik kan obat penawar yang ia buatan dua hari dua malam ke dalam tabung infus. Pria pertama Yamato ini bergerak cepat, sebelum membuang botol dan bekas jarum suntik ke tong sampah kecil di kaki ranjang. Sebelum menarik buket bunga yang ada di tangan Adella. Gerakan terlihat begitu cepat, Vian membuang nya ke tong sampah. Adella terkanga melihat apa yang di lakukan oleh Vian.
"Kok di buang?" tanya nya terlihat bodoh.
"Kau mau Sean semakin mengamuk seperti banteng, huh?"
"Tapikan kasihan bunganya. Tidak layu saja di buang," ujar Adella dengan nada lucu.
Vian terkekeh kecil mendengar perkataan Adella."Kalau bunga tidak masalah di buang Adella. Yang tidak patut di buang adalah hati dan ingatan."
Deg!
Adella tercekat. Vian kembali mengulas senyum.
"Kenapa wajahmu begitu?"
"Ah?" Adella terlihat bodoh seketika,"memang nya kenapa dengan wajahku?" lanjut nya.
"Terlihat seperti maling tertangkap basah!" jawab Vian seadanya.
Adella hanya tersenyum. Tidak membalas perkataan Vian.
...***...
Lea tampak takjub saat keluar dari pintu ke datangan luar negeri. Leo tersenyum lebar melihat bagaimana ekspresi sang putri. Vera di samping nya menghela napas letih. Mereka bertiga pulang ke Jepang tanpa memberitahu kan siapapun. Ingin memberikan kejutan pada keluarga Hiro. Dengan kehadiran mereka. Leo bilang akan datang dua bulan lagi. Siapa sangka belum tiga Minggu ia sudah sampai di Jepang.
"Wah! Jepang sangat indah!" ujar Lea dengan nada takjub.
"Tentu. Di sini papa bertemu mamamu dan mengejar cinta mama. Bisa di bilang, Osaka adalah tempat di mana kenangan papa dan mama bersama." Ujar Leo mengusap pelan puncak kepala Lea.
"Ah! Lea nggak sabar ketemu mama Dera, papa Hiro dan kakak sepupu lainnya!" ujar Lea antusias.
"Tentu saja. Papa juga tidak sabar," jawab Leo tersenyum lima jari. Sebelum mengedarkan pandangannya pada Bandara Internasional Jepang yang terlihat ramai.