The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 100 (Keanehan Yang Terjadi)



Hiro menatap pintu kamar ruangan tamu yang tertutup rapat. Putranya dari empat jam yang lalu tidak keluar dari balik pintu kamar yang di tempati oleh Adella. Gadis remaja itu tidak dapat di hubungi beberapa jam yang lalu. Semenjak Hiro mendapati keadaan keluarga nya yang hampir saja membuat nya mati berdiri. Jika terjadi sesuatu pada istri tercinta dan ke dua putri kembarnya. Hiro Yamato, Bos besar Yakuza itu tak tau apakah ia masih bisa hidup.


Derap langkah kaki mendekati tubuh Hiro membuat pria itu membalikkan tubuhnya. Menghadap Yeko yang berdiri di depannya.


"Bagaimana?" tanya Hiro langsung pada pokok permasalahan yang tengah ia cari.


Yeko terdiam sesaat. Sebelum membuka bibirnya."Panggilan terakhir yang masuk ke ponsel tuan muda Sean adalah Adella. Tak jauh jaraknya, tuan muda Sean langsung berteriak dan memanggil orang-orang," jelas Yeko dengan mata menatap was-was Bos Yakuza di depannya ini.


Hiro tak bergeming. Ia hanya diam, dengan dahi berlipat. Otaknya berpikir keras, terasa aneh. Panggil terakhir putranya adalah Adella. Hingga di ketahui jika ada bom yang telah di letakan di dua gedung. Manik mata coklat kelam dalam nan tajam itu langsung menghunus wajah tampan bawahan nya ini.


"Cari tau pembicaraan Sean dan Adella," titah Hiro setelah berpikir lama.


Yeko menghela napas berat."Tuan muda Sean menghapus rekaman panggilan ia dan Adella, Bos."


Pangkal hidung Hiro dan dahinya semakin mengerut dalam. Ini benar-benar aneh, Hiro membalikkan tubuhnya menghadap pintu kembali. Ada hal besar yang di sembunyikan oleh Sean. Anak ke duanya itu bukan orang yang mudah menangis. Bukan orang yang mudah kacau. Jika, bukan hal besar yang mengacaukan nya. Maka seorang Sean Yamato, pewarisan tambuk kekuasaan Yakuza tidak akan pernah sebegitu terpuruk.


"Bos!" panggil Yeko.


"Lacak keberadaan Adella. Temukan gadis itu, dan seret ia ke sini sekarang juga!" titah Hiro tanpa harus membalikkan tubuhnya.


Yeko mengangguk kecil. Meskipun tidak dapat di lihat oleh Hiro.


"Baik, Bos!" Jawab Yeko sebelum menunduk perlahan. Dan melangkah mundur sekaligus undur diri. Meninggalkan Hiro yang masih menatap pintu.


...***...


"Kau membuat kekacauan di anggota Yakuza, Kris?" tegur Ken kala pria itu menyambut pintu mobil Kris yang berhenti di halaman besar rumah Uchiha.


Kris tak menjawab. Pria itu memilih mengabaikan sang ayah. Melangkah memutari mobil sedan miliknya. Sebelum membuka pintu penumpang di samping pintu kemudi. Ken menghela napas kasar, sebelum kursi roda nya di dorong dari belakang oleh Very. Tangan kanan, yang amat ia percayai.


"Kau...kau..." Ken tak mampu melanjutkan kata kala sampai di samping pintu penumpang.


Kris mengendong tubuh gadis remaja yang tentu saja ia ketahui. Meskipun rambut hitam legam sebahu itu menutupi wajah Adella.


"Bagaimana bisa...apa yang terjadi? Kau apakan dia?" teror Ken saat Kris melangkah melewatinya menuju pintu besar rumah.


Gadis itu tampak kehilangan kesadaran. Beberapa panjang membungkuk pada Kris saat tuan muda Uchiha itu melewati mereka. Sedangkan beberapa maid yang berjaga di pintu. Langkah menunduk dan membukakan pintu besar.


"Very!" panggil Ken dengan nada suara berat.


"Ya, Bos!"


"Selidiki apa yang terjadi pada Adella. Dan jangan lewatkan apapun. Anak itu pasti melakukan hal buruk pada adik nya," titah Ken pada Very.


"Baik, Bos!" jawab Very.


Pria yang memiliki kedudukan besar di Joker itu memberikan kode pada salah satu anggota Joker untuk membawa Ken ke dalam rumah. Very menunduk dan melangkah pergi.


Sedangkan di dalam rumah. Kris terlihat meletakan tubuh Adella di atas ranjang King Size miliknya. Duduk di bibir ranjang dengan senyum penuh kemenangan. Tangannya bergerak menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Adella. Dapat pria ini lihat bekas air mata tercetak jelas. Serta mata yang membengkak.


Ia mengendus sebal saat mata tajam nya menatap tangan Adella yang berdarah. Gadis ini sempat memberikan nya perlawanan saat ingin ia bawa. Kris cukup kepayahan menghadapi Adella. Sebelum berhasil melumpuhkan Adella dengan bius yang sengaja ia bawa untuk berjaga-jaga.


"Harusnya kau tidak melawanku sayang. Tak peduli, meskipun dunia menolak hubungan kita. Kau dan aku, tidak ada yang bisa memisahkan. Bahkan malaikat maut pun tak akan pernah bisa. Jika kau mati maka aku juga akan mati. Dan sebaliknya, jika aku mati. Maka kau juga harus mati, sayang!" Ujarnya di sela elusan seduktif di pipi Adella.


Bunyi derap langkah kaki dan roda yang menggelinding di lantai membuat Kris menghela napas kecil. Hingga pintu kamar terbuka sang lebar. Ayahnya masuk dengan salah satu anggota Joker.


"Kris!" panggil Ken saat kursi roda Ken sampai di belakang tubuh Kris. Pria itu mengangkat tangannya, memberikan kode untuk bawahnya keluar dari kamar Kris.


Anak buah nya menunduk pada ke duanya berganti-ganti dan melangkah keluar. Tak lupa menutup pintu kamar.


"Papa tentang saja, dia baik-baik saja. Aku tidak melukainya dan tidak pula membunuh nya," ucap Kris yang tau apa yang ada di otak sang ayah.


Ken mengerakkan roda kursi nya. Hingga berada tepat di samping ranjang.


"Kau mau menerima adikmu dengan baik kan, Kris?" tanya Ken dengan wajah sumringah.


Pria tua ini salah paham. Ia berpikir Kris tidak membunuh Adella lantaran pria ini menerima Adella sebagai adiknya. Tidak tau saja Ken perasaan terlarang yang ada di otak dan hati sang putra.


"Ya, adik!" Angguk Ken cepat.


Ke dua tangan Kris berada di ke dua sisi kursi roda.


"Papa, aku tidak pernah mengakui dia sebagai adikku," balas Kris membuat dahi Ken berlipat,"karena dia adalah gadisku, Pa!" lanjut nya.


"Apa??" Ken berteriak tak percaya.


Kris mengulas senyum."Papa tenang saja. Jika dia berstatus sebagai adikku. Maka ia akan menerima kematian. Namun jika ia berstatus sebagai gadisku. Tentu saja di akan baik-baik saja," lanjut Kris dengan senyum ringan.


"Gila!" maki Ken pelan.


"Ya, aku telah gila papa. Jika aku tidak gila bagaimana bisa Joker bisa berkembang pesat di tanganku, papa?"


Ken mengetat kan ke dua sisi rahangnya. Jika saja pria tua ini memiliki kaki yang tidak cacat. Dan tenaga yang masih kuat. Sudah pasti ia akan memberikan bogem mentah pada sang putra. Bagaimana anaknya ingin memiliki adik sedarah dengan nya.


"Kau gila. Dia adikmu! Bagaimana bisa ia menjadi kekasih apa lagi wanita mu, Kris. Sadarlah Kris. Orang-orang akan menganggap mu gila!" bantah Ken.


"Sssttt!!!! Papa tidak boleh bilang begitu. Tidak ada yang tau fakta ini selain papa dan Very. Karena itu, papa harus menutup mulut untuk keselamatan dia." Ucap Kris di sela jadi telunjuk menutup bibir sang ayah.


Ken merasa kepalanya pening. Darah tingginya bisa naik jika seperti ini. Kris tersenyum iblis. Sangat menakutkan. Kris melepas kan jarinya di bibir Ken sebelum kembali menghadap Adella. Jari panjang nya bergerak mengusap bibir merah Adella dengan gerakan pelan.


"Ya, kan Adella. Kau mau denganku bukan?" Tanyanya dari sela usapan jari di bibir Adella.


...***...


Willem melangkah tergesa-gesa masuk ke dalam rumah kaca. Dimana Vian berada. Beberapa orang yang menjaga rumah besar Yakuza membungkuk hormat pada Willem. Rumah besar Yakuza tampak di jaga ketat. Pintu kaca itu didorong cepat. Willem masuk ke dalam dan melangkah lebar. Pria Zhao itu duduk di hadapan Vian.


"Apa yang terjadi?" tanyanya dengan wajah khawatir.


"Aku juga masih belum bisa membaca situasi saat ini," jawab Vian jujur.


Pria Yamato ini untuk pertama kalinya merasakan tubuhnya bergetar karena takut yang teramat. Kala menyelamatkan adik-adiknya keluar gedung sekolah. Saat gedung di amankan, anak buah nya mendapati bom rakitan dengan waktu berjalan mundur. Terlambat sedikit nyawa adik nya sudah melayang. Belum lagi Dera sang ibu juga sama.


"Bagaimana keadaan mama Dera dan adik-adikmu?" tanya Willem. Pria ini saat sampai di rumah besar bersama ibu dan ayahnya. Ia langsung menuju rumah kaca. Membiarkan Sari dan Carlos menuju rumah besar.


"Hah!" Vian menghela napas berat,"mama dan adikku baik-baik saja," jawab Vian pelan.


"Sean. Bagaimana dengan nya?" tanya Willem kembali.


"Sean kacau."


"Tentu saja, bagaimana ia tidak kacau jika hampir saja ibumu dan adik-adik hampir meregang nyawa," ujar Willem mengerti keadaan,"lalu dimana Adella?" Tanyanya mengedarkan pandangannya.


"Dia menghilang," balas Vian pelan.


"Ah?"


"Dia tidak tau kemana. Papa dan Yeko tengah menyelidiki keberadaanya," jawab Vian.


Willem menyadarkan punggung belakang nya di kursi. Jari telunjuk nya mengetuk jadi telunjuk di atas meja. Aneh, satu kata yang ia dapatkan. Seakan kejadian ini sudah di perkirakan. Rencana yang tersusun rapi.


Satu pemikiran terlintas di otaknya. Bibirnya terbuka namun, hanya mampu terkanga kala suara keras di balik pohon bonsai yang di potong rapi menampakkan dirinya.


"Mata-mata, itu yang tengah terlintas di otak Abang Will bukan?"


Kontan saja Willem dan Vian menatap anak perempuan imut itu dengan pandangan tak terbaca.


Lea memangku tangan di dada. Melangkah mendekati ke duanya. Berdiri dengan angkuh.


"Perencanaan yang matang. Seolah-olah ini adalah ulah orang dalam. Begitulah Abang Willem baru saja pikirkan," lanjut nya.


God. Willem merinding. Bagaimana anak ini membaca pikiran nya. Vian menatap lambat Lea, anak Leo Yamato ini kemungkinan besar memiliki nalar yang lebih stabil dan lebih rasional. Meningkat Lea Yamato sedikit berbeda dari ia dan adik-adiknya.