
Sesekali Vian melirik kebelakang. Menatap gadis yang sudah sedari tadi mengikuti nya. Vian menghela napas kasar, tubuh kekar itu berbalik. Yang tadinya memunggungi kini berhadapan dengan gadis imut itu.
"Ada apa?" akhirnya, kata tanya terlempar juga.
Delta tersenyum canggung. Membawa kerutan halus di dahinya terlihat jelas.
"Itu," jeda Delta,"kau mau kemana?" lanjut nya pelan. Sebelum hati kecilnya memaki pelan atas kebodohan nya.
"Aku mau ke laboratorium. Memangnya kenapa?" kini giliran Vian yang ikut melemparkan pertanyaan serupa namun tak sama.
Delta linglung. Jujur saja, gadis remaja ini merasa terusik dengan pesona pria satu ini. Dingin di luar hangat di dalam.
"Sebenernya ada yang ingin aku bicarakan," kata Delta lirih.
"Kalau begitu bicara saja."
Delta mengigit pelan bibir bawahnya. Sebelum menggakat pandangan nya, jatuh pada netra coklat dingin Vian. Manik mata yang begitu indah bagi Delta.
"Kau.....suka Adella?" ujarnya meragu.
Vian bungkam. Air wajah nya berubah. Semakin dingin dan menakutkan. Langkah kakinya terlihat, mengikis jarak antara ia dan Delta. Hingga menyisakan satu langkah saja. Sampai tidak ada lagi jarak yang tersisa.
Vian menunduk perlahan. Mendekatkan bibirnya ada daun telinga Delta.
"Tentang perasaanku, jangan terlalu ikut campur Delta. Aku menganggap mu teman, bukan berarti kau terus menerus menanyai ku tentang rasa. Satu lagi, tolong jangan tanyakan hal yang seperti itu. Aku tidak ingin, adik ku mendengar pertanyaan itu," ucap Vian dengan nada dingin dengan penuh kecaman.
Vian Yamato sangat tidak suka dengan orang yang mengusik hidup nya. Apa lagi hatinya, pria ini sulit di tebak dengan baik. Vian kembali menarik kepalanya ke belakang. Berdiri dengan sempurna. Dan membalik kan tubuh nya meninggalkan Delta dengan hati yang kacau. Ini kali pertama, Vian berkata seperti itu.
Bibirnya bergetar, air mata luruh dari ke dua matanya. Ke dua tangan terkepal kuat. Menatap punggung lebar Vian yang kian menjauh.
"Aku," monolognya serak,"mencintaimu lebih dari pada yang terlihat. Namun kau mencintai gadis yang bahkan baru hadir dalam hidup mu," lanjut nya dengan nada semakin berat sebelum isakan pelan mengalun.
***
Adella membalut tubuh Vian dengan jaket kulit. Menarik resleting jaket ke atas. Sebelum memasang syal ke leher sang pria pujaan hati. Manik mata coklat tajam itu tak pernah lepas dari wajah serius Adella. Wajah yang tak pernah jemu untuk di pandang. Kini, Sean Yamato tau. Kenapa sang ayah menggila jika ia mengganggu waktu bersama sang ibunda tercinta. Meskipun begitu, Sean tidak bisa melepaskan keusilan nya. Karena melihat wajah datar dan menakutkan sang ayah berubah menjadi wajah kesal dan uring-uringan begitu lucu di mata Sean. Mungkin, bisa di bilang bentuk kasih sayang yang aneh.
"Oke, selesai!" Seru Adella dengan menepuk pelan dada bidang Sean yang sedikit membungkuk. Hingga deru napas Sean menerpa pipi chubby Adella."Berdirilah dengan tegap tuan muda Yamato!" titah Adella dengan rona di ke dua pipinya.
Sean menelengkan kepalanya ke kanan. Membuat pergerakan bola mata Adella bergerak gelisah, salah tingkah dengan ulah pria ini.
"Kau sangat indah," serunya pelan.
"Ya ya ya! Sudah gombal nya tuan muda. Jangan sampai salju malu turun karena gombalan mu," tukas Adella sedikit terbata.
Sean terkekeh. Ia menarik kepalanya nya dan tegak dengan lurus. Tangan nakalnya tak diam, meraih tangan Adella. Memasukannya pada jaketnya. Ke duanya melangkah menuju parkiran bawah tanah di salah satu mall besar.
"Bagaimana rasanya kerja?" Tanya Adella di sela langkah kaki mereka.
"Cukup melelahkan. Kau bahkan tertawa melihat bagaimana mereka menggodaku. Sebenarnya sayang nggak sih sama aku!" Sean mulai menggerutu karena ulah Adella yang malah tertawa melihat ia kesusahan.
"Bukankah itu menyenangkan di eluh-eluh oleh banyak gadis cantik." Canda Adella.
"Nggak boleh begitu, nama nya juga perempuan. Kalau mereka menggoda kamu berarti mereka masih normal." Kelakar Adella.
"Cih! Aku maunya di goda kamu saja." Ujar Sean tidak tau malu.
Ke dua sudut bibir Adella berdenyut, ingin tertawa mendengar gombalan Sean yang terasa agak aneh di pendengaran nya.
"Hei ada apa dengan wajahmu itu!" Ucap Sean mengehentikan langkah mereka.
"Kenapa dengan wajahku?" tanya Adella dengan nada tak mengerti.
Sean tersenyum miring. Belum sempat pria ini melakukan hal yang ada di otaknya. Cubitan di perut nya membuat Sean terperanjat dan menggaduh.
"Aw! Ampun!" Ujar Sean dengan mengusap perutnya. Kala tangan Adella terlepas dari saku jaket kulitnya.
"Makanya. Otak itu nggak boleh kotor!" cibir Adella.
"Kan kotornya kalau sama kamu aja!" godanya lagi.
Sontak saja pukulan keras di dada nya membuat Sean tertawa keras dengan tangan menahan pukulan Adella. Gadis itu ikut tertawa.
***
Aroma masakan menyeruak masuk menyentuh Indra penciuman. Cleo tampak ikut menyiapkan makan malam. Sedangkan Clara hari ini tidak di rumah besar. Membuat si bungsu Cherry uring-uringan. Putri bungsu Yeko dan Clara memang sangat susah berpisah dengan sang ibu. Berbeda dengan Cleo yang memang sudah terbiasa di tinggal sendiri.
"Laura tolong panggilkan papa di ruang kerja. Katakan makanannya sudah selesai!" titah Dera kala sampai di meja makan. Meletakan kuah sup.
Laura turun dari kursi meja makan. Melangkah cepat ke arah selatan di mana sang ayah masih saja sibuk bergelut dengan beberapa dokumen. Pintu di ketuk beberapa kali dari luar sebelum gadis kecil ini membuka pintu.
Kreat!
Pintu terbuka perlahan. Laura menghela napas kasar, Hiro tampak tertidur di kursi kerja. Raut wajah kasihan tampak tergambar jelas di wajah anak perempuan cantik itu. Langkah kaki Laura terlihat sangat lambat. Takut-takut sang ayah terkejut dengan kehadiran nya.
Senyum kecil terbit di wajah cantik nya. Jari jemari kecil Laura jatuh pada dahi sang ayah. Mengusap wajah yang tampak kelelahan. Sangat tampan, dan terlihat sangat muda. Ayahnya benar-benar sangat tampan. Membuat ia tau dari mana datangnya ketampanan kakak lelaki nya. Ia dan Launa.
Beberapa menit di habiskan Laura melihat wajah letih sang ayah. Jari yang terlihat begitu kasar dan beberapa bekas luka. Jari kecil yang awalnya berada di dahi Hiro kini berpindah pada telapak tangan kasar dan banyak kapalan. Senyum sendu terlihat. Sosok Hiro adalah sosok ayah yang hebat dan sempurna di mata nya. Hiro adalah cinta pertamanya. Hiro adalah pahlawan baginya. Begitu lah Hiro Yamato di mata anak-anak nya.
Meski Hiro terlihat sangat kuat dan tak terkalahkan. Laura tau, sang ayah juga lemah dan juga bisa sakit. Meskipun lelah, Hiro tidak pernah memperlihatkan nya pada ia dan kakak-kakak nya.
"Papa pasti capek. Nanti kalau Laura besar. Laura akan bantu papa dan mama. Agar papa punya waktu istirahat. Papa Laura yang tampan, jangan sakit ya. Laura sayang papa. Sangat sayang papa dan mama." Ujar Laura sangat lambat.Kecupan pelan jatuh di atas dahi Hiro.
"Papa nggak boleh bekerja terlalu keras. Kita nggak butuh banyak uang kok papa. Kita butuh papa sehat dan bahagia. Mama juga begitu, mama suka sedih kalau lihat papa bekerja keras. Sampai telat makan ataupun kurang tidur. Laura sedih kalau melihat mama sedih dan melihat papa kecapean. Laura malu kalau ngomong langsung, jadi Laura ngomong sekarang. Laura cinta papa. Cinta mama. Laura berharap, papa dan mama akan selalu ada untuk Laura dan kakak-kakak. Agar kami bisa membahagiakan papa dan mama. Agar kami tidak melihat papa kerja keras. Saat dewasa kami yang akan menggantikan beban berat papa. Sekali lagi, Laura sayang papa!" Ucap Laura dengan nada pelan. Dan kembali mengecup pipi Hiro.
Sebelum tersenyum lembut. Meskipun Laura terlihat bar-bar dan nakal. Anak ini, sangat perasa dan memiliki hati yang lembut seperti Dera.
Dera yang berada di ambang pintu menghela napas pelan. Sebelum menarik ke dua sudut bibirnya. Ia merasa aneh dengan Laura yang sangat lama memanggil sang suami. Hingga memutuskan menyusul anak bungsu nya yang sangat nakal ini. Siapa sangka, ia malah melihat dan mendengarakan adegan mengharukan. Tidak terasa air mata nya menetes pelan. Dengan senyum di wajah.
Ia berhasil mendidik anak-anaknya menjadi anak yang peduli. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi ke dua orang tua. Melainkan melihat anak-anak mereka membalas cinta dan kasih. Bukan dengan cara memberikan uang ataupun material. Tapi dengan kecupan sayang dan perhatian hangat. Sangat sederhana. Dan itu seiring di lupakan oleh banyak anak-anak di luar sana.
Mereka berpikir hanya uang satu-satunya yang membuat orang tua bahagia. Tanpa mereka sadari, hal yang paling berharga adalah hal yang sederhana. Bukan uang dan permata. Sekedar perhatian kecil. Atau bahkan mengatakan kata cinta dan sayang. Mungkin terdengar memalukan. Namun jauh di lubuk hati orang tua, kata cinta dari anak-anak mereka. Membuat hati mereka bergetar bahagia.