The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 14 (Di rumah Yamato)



Cleo menyunggingkan senyum setelah puas dengan hasil kerjanya. Gadis remaja ini menatap wajah Adella di cermin rias. Tidak tampak pucat lagi. Dera membelikan beberapa stelan musim panas pada Adella. Biasanya, di setiap musim orang Jepang memakai pakaian yang berbeda. Saat musim Panas melanda, maka orang-orang di negara Sakura ini akan memakai pakaian tipis. Mengingat musim panas Jepang lebih panas dari pada panas di negara Indonesia. Rambut Adella di tata rapi.


"Kakak terlihat cantik," seru Cleo membuat Adella tersenyum malu.


"Tidak. Aku tidak cantik," bantah Adella pelan.


Cleo tersenyum lucu. Gadis imut itu menarik tangan Adella berdiri dari posisi duduknya. Di luar kamar bunyi gaduh sudah sangat menekankan telinga. Pasalnya, hari Minggu benar-benar akan membuat rumah besar Yakuza ini seperti berada di pasar saja. Dimana teman-teman Vian dan Sean akan datang pagi-pagi. Belum lagi keluarga Zhao yang ikut serta. Adik dari Nyonya besar Yakuza ini membawa anaknya ikut mengacau.


Ke duanya melangkah menuju tangga. Turun dengan perlahan, di dapur tiga wanita tengah sibuk menyiapkan makan pagi. Di mana Dera, Sari dan Clara terlihat bolak balik meja makan dan dapur. Di bantu oleh beberapa maid. Sedangkan untuk para pria dewasa, mereka tengah membicarakan proyek besar yang tengah digarap oleh dua Perusahaan.


Di taman belakang yang di sekat dengan kaca besar tranparansi. Memperlihatkan empat anak perempuan tengah berlarian di kejar oleh Panda dan Beruang peliharaan Laura. Sean dan sahabat nya yang lain duduk mengawasi adik-adik nya.


"Aku mau membantu Mama Dera saja!" ujar Adella kala ingin di tarik oleh Cleo ke arah taman belakang.


"Kenapa tidak bergabung saja dengan Abang Vian dan yang lainnya?" Dahi Cleo berlipat. Anak perempuan ini penasaran.


Adella mengeleng pelan. Ia masih agak canggung dengan geng Sean. Tangannya bergetar. Cleo menunduk kan kepalanya merasa tangan yang ia genggam bergetar.


"Kakak baik-baik saja?" tanya Cleo khawatir.


Adella diam. Ia tau harus berbicara apa saat ini. Jika ia jawab baik-baik saja ia tidak dalam keadaan begitu. Ia terbiasa mengonsumsi obat penenang saat beraktifitas.


"Aku butuh obat penenang!" lirih Adella.


Cleo membulatkan ke dua matanya. Gadis imut itu melepaskan tangan nya dari Adella.


"Kakak duduk di anak tangga dulu saja. Atau kalau mau kita balik ke kamar lagi?" tanyanya.


Peluh menetes deras. Jantungnya terpompa keras, napasnya tersengal.


"Ke——keatas saja!" ujarnya lemah.


Cleo mengangguk pekan. Ia kembali meraih tangan Adella. Ke dua nya kembali menaiki satu persatu anak tangga menuju kamar atas.Dera mengerutkan dahinya kala melihat ke duanya kembali naik ke lantai atas.


"Ada apa kak?" tanya Sari yang entah kapan sampai di samping tubuh Dera.


Dera menoleh ke samping."Sari tolong urus di sini dulu ya. Aku ingin ke atas sebentar!" ujarnya.


Sari mengangguk pelan. Dera melepas kan Appron di tubuh nya. Memberikan nya ada sang adik. Ia melangkah menuju tangga. Wanita ini tau ada hal yang tak beres pada Adella. Tak butuh waktu lama ia sudah sampai di lantai atas. Melangkah lebar menuju kamar sang putri.


Kreat!


Pintu terbuka perlahan. Terlihat Cleo memberikan obat dan segelas air pada Adella. Wajah Adella terlihat pucat. Derap langkah kaki membuat Cleo menoleh ke ambang pintu. Dera melangkah masuk ke dalam kamar.


"Gangguan paniknya kembali datang, Mama Dera!" jelas Cleo yang melihat cara Dera menatapnya.


Dera mengangguk mengerti.


"Cleo katakan pada Bundamu, untuk menyiapkan makanan untuk Adella. Bawa ke atas saja," titah Dera.


"Baik, Ma!" jawab Cleo.


Gadis remaja itu berdiri dari posisi duduknya. Perlahan-lahan Adella meletakan gelas di atas nakas di samping ranjang. Dera mengambil tempat, tepat di samping Dera. Mengusap peluh yang menetes.


Sebelah tangan nya meraih tangan Adella."Tidak apa-apa sayang. Mama di sini di samping mu. Adella istirahat di kamar saja ya," ujar Dera pelan.


"Terimakasih Ma!" jawab Adella pelan.


Dera mengangguk pelan. Ibu empat anak ini membenahi tempat tidur. Meletakan satu bantal di lurus. Wanita ini membantu Adella terlentang dengan nyaman.


"Mama akan di sini," ujarnya.


Dera mengeleng pelan. Mengangkat tangannya mengusap pelan puncak kepala Adella. Ia pernah berada di posisi Adella. Saat ia merasa stress kehilangan ke dua orang tuanya. Dan saat ingatan buruk itu kembali, ia akan merasa sangat ketakutan. Ia butuh seseorang di samping nya, beruntung sang suami tak pernah meninggalkan nya. Terus di sisinya.


***


Angin siang menggoda kelopak bunga Mawar untuk gugur. Sean dan yang lainnya duduk di dalam rumah kaca. Sembari bermain monopoli di temani oleh dua teko jus buah. Cleo juga ikut dalam permainan.


"Kenapa Adella tidak turun?" tanya David. Pasalnya dari awal ia dan tiga teman nya sampai di rumah besar ini Adella tak kunjung terlihat.


"Keadaan kakak Adella masih belum membaik," seru Cleo menjawab rasa penasaran David.


Pria bule itu mengangguk pelan. Willem menjalankan miliknya dengan tenang.


"Ngomong-ngomong kenapa dia bisa mengalami gangguan panik ya?" seru Delta.


Gadis imut itu terlihat berpikir keras. Biasanya gangguan panik di alami karena trauma yang besar. Seperti yang Sean katakan, pria ini sudah dua kali membantu Adella. Kala gadis itu terserang gangguan panik.


"Apa dia pernah menjadi korban' bullying?" tebak Willem.


Kontan saja pergerakan tangan Sean mengocok dadu terhenti. Vian juga sama.


"Tidak terdapat informasi itu dalam berkas," ujar Sean.


"Eh? Kau mencari tau tentang nya kawan?" goda David. Tak lupa pria bermata hijau ini mengedipkan sebelah matanya.


Sean membolakan kan ke dua bola matanya. David mulai lagi.


"Menurut mu?" kesal Sean.


"Kau seperti tidak tau Sean saja Dav! Saat dia suka dengan seorang gadis. Sudah pasti dia akan melakukan hal itu!" Ujar Delta mengalungkan sebelah tangannya di leher David.


Pria itu mengangguk-angguk pelan. Cleo hanya menjadi pendengar yang baik saja. Tidak mengeluarkan suara.


"Siapa tau itu sengaja di sembunyikan," seru Willem kembali.


"Untuk apa?" tanya David.


"Tidakkah kau pernah membaca tuan muda Miyaki. Menjadi anak bullying akan membuat orang-orang selalu menatapnya dengan banyak pandangan. Bisa di bilang informasi itu bisa menjadi dua mata pedang untuk nya. Ada yang mengasihaninya dan aja juga meremehkannya," papar Willem.


"Wah! Tuan muda Zhao memang memiliki otak yang hebat!" puji David.


"Ya, tidak seperti otak seseorang yang hanya ada cara menggoda wanita saja!" cibir Willem.


Kontan saja ke lima orang yang ada di sana tertawa keras. David cemberut. Dia lagi dan lagi, David kesal.


"Ini termasuk pembullyan secara non verbal loh! Aku adukan ke Pengacara keluarga ku!" ancam David.


"Mana ada di bully tapi sangat senang!" cibir Sean.


"Tidak. Aku tidak senang. Lihat lah wajahku sengsara!" Ujar David memasang tampang ternaniaya.


Delta menurunkan tangannya dari leher David.


Bug!


"Aw! Sakit, Ta!" teriak David kala mendapatkan pukulan di punggung nya.


"Visum itu untuk bukti Dav!" ujarnya sebelum ia dan yang lain tertawa.


David semakin kesal saja. Delta sama saja dengan yang lainnya. Jika boleh jujur, sebenarnya yang lain menyayangi David. Hanya sesekali mereka merasa kesal dengan tingkah kekepoan David yang berada pada tingkat dewa. Pria tampan ini, sudah seperti seorang wartawan gosip saja. Cleo mengeleng pelan kepalanya. Ia sudah terbiasa dengan dengan ke limanya sejak kecil.