
Angin sore bertiup membawa rasa dingin menusuk tulang. Di beberapa ruas jalan Jepang tampak beberapa tumpukan salju yang di kumpul di pinggir badan jalan. Suasana terasa senyap di antara pria remaja berwajah dingin ini dengan gadis imut di samping kemudi. Hanya suara radio menjadi pengisi nada yang kosong.
Mobil sport putih itu berhenti di lampu merah persimpangan jalan. Beberapa kali, gadis imut itu mencuri pandang pada pria di balik kemudi.
"Kenapa dari tadi menatap ku, apakah ada yang ingin kau katakan Delta?" tanya Vian dengan nada serak seksi miliknya.
Delta menoleh, menatap wajah tampan Vian Yamato. Garis rahang yang tegas, terlihat benar-benar menggoda untuk di sentuh.
"Hem!" Delta berdehem guna menetralkan debaran jantung dan nada suara yang akan ia keluarkan,"sebenarnya sih, hanya penasaran saja," lanjut nya.
Vian menoleh sebentar ke samping kiri. Sebelum kembali menoleh ke depan. Menatap beberapa mobil yang berada di barisan depan sana.
"Tentang apa?" tanya Vian.
"Gadis yang kau suka," jawab Delta jujur,"aku perhatikan kau terlihat agak aneh pada Ella. Apakah kau mencintai nya?" tanya Delta dengan nada agak ragu.
"Kenapa kau berpikir begitu?" tanya Vian dengan sebelah alis mata menungkik tajam.
"Karena setiap ada Ella kau terlihat lebih aneh. Seakan manik matamu memperhatikan Ella," balas Delta. Gadis remaja ini mengigit bibir bawahnya pelan.
Vian diam. Pria remaja ini tidak membalas ataupun membantah perkataan Delta. Mengingat masih terlalu awal untuk Delta maupun teman-teman nya yang lain tau siapa Ella. Pergerakan Ella masih di lacak, untuk tau apa mau gadis itu sebenarnya.
"Ah, ternyata kau benar menyukainya!" ujar Delta lagi dengan nada tak biasa. Ada getar yang hadir di sana.
Vian masih diam. Perlahan, Vian menginjak gas mobilnya kala lampu kembali hijau. Suasana di dalam mobil semakin terasa aneh untuk ke duanya. Lebih baik Delta salah paham pada Vian. Daripada Delta menghancurkan rencana ia dan Sean. Jika boleh jujur, Vian tidak bisa membicarakan masalah agak rumit ini pada siapa pun. Terkecuali pada saudara kembar dan sang ayah. Semakin sedikit orang yang tau, maka rencana mereka akan semakin aman.
***
Adella tampak siap-siap keluar dari Rumah Sakit besar di bantu oleh Ino. Gadis remaja itu menghela napas beberapa kali. Seolah-olah ada banyak pikiran yang ada di otaknya. Ino menarik resleting koper kecil, mengunci koper yang penuh dengan pakaian baru Adella selama rawat inap di Rumah Sakit.
"Papa Hiro sudah kembali ke Jepang, Ino?" tanya Adella kala ke duanya telah selesai berkemas.
"Ya, tadi pagi-pagi sekali ia sudah berangkat ke bandara. Dan satu jam yang lalu pesawat nya sudah berangkat," jelas Ino.
Kepala Adella mengangguk pelan.
KLIK!
Pintu kamar ruang inap terbuka perlahan. Keduanya serentak membalik kan tubuh. Dokter pria itu tersenyum pada keduanya.
"Sudah mau pulang?" tanya Dokter Se Jun.
"Ya, Dokter. Terimakasih atas bantuan dan perawatan nya beberapa hari ini, Dok!" ujar Adella dengan senyum lembut.
Se Jun merasa gemas melihat senyum anak perempuan yang beberapa hari yang lalu ia tolong. Dokter muda berasal dari Korea itu semakin mendekat ke arah Adella dan Ino.
"Sama-sama, yang penting rawat lukanya dengan baik agar tidak infeksi," balas Se Jun.
"Baik Dokter," jawab Adella.
"Hati-hati di jalan. Jika ada sesuatu jangan sungkan hubungi aku," ujar Se Jun dengan lembut.
Adella hanya mengulas senyum. Sebelum ke duanya berpamitan untuk pulang. Di lorong gedung Rumah Sakit, seorang pria menatap pergerakan Adella dan Ino. Senyum sinis tercetak jelas, bak predator yang siap menerkam mangsa. Semakin lama semakin jauh, punggung Adella menghilang di balik tikungan.
"Benar-benar memiliki banyak nyawa," ujarnya,"sayangnya kau tidak boleh kembali pada keluarga Yamato. Kau harus mati, agar nona kami bahagia," lanjut nya. Sebelum mengayunkan langkah kakinya meninggalkan lorong Rumah Sakit.
***
"Ssstt!" David mengode Sean yang berada di depan nya. Sebelum menyenggol ujung sepatu Sean di bawah meja.
Sean mengangkat pandangan nya. Dengan raut wajah penuh tanya. Dengan bibir seksinya, David menunjuk Delta.
"Delta!" panggil Sean dengan nada berat,"kenapa makanan nya hanya di aduk-aduk?" tanya Sean.
Delta tersentak, menoleh ke samping kanan di mana Sean duduk di samping kanannya dengan wajah penuh tanda tanya. Beberapa kali kelopak mata Delta berkedip cepat. Sebelum gadis remaja ini mampu mengontrol raut wajah nya. Ia tersenyum tipis, sebelum menatap tiga pria berganti-ganti. Kecuali Vian, pria itu masih makan dengan tenang. Tidak terlalu peka dengan apa yang terjadi di meja makan.
"Hanya kurang enak badan saja," bohong Delta.
"Jika kurang enak badan harusnya kamu tidak harus masuk sekolah, Delta!" ujar Willem.
"Benar sekali, takutnya malah tambah parah," kini David ikut menimpali.
"Jika masih tidak enak badan ada baiknya jam ketiga langsung pulang atau mau mampir ke Rumah Sakit dulu?" saran Sean dan memberikan tawaran pada sahabat nya satu ini.
Kepala Delta mengeleng pelan."Tidak usah. Lagipula beberapa jam ke depan tidak ada banyak pelajaran yang menguras otak. Kita sudah kelas tiga, takut nya aku banyak ketinggalan pelajaran," jawab Delta dengan nada pelan.
"Kalau soal pelajaran mah mudah aja. Di kelas kan ada aku, Sean, Vian dan David. Kami bisa membantumu mengejar ketertinggalan pelajaran, jadi gak usah khawatir!" ujar David dengan pemikiran dewasa nya.
"Sudahlah, pulang saja nanti. Biar kami antar!" putus Sean.
Delta menghela napas sebelum mengangguk pelan. Jika sudah begini ia tidak bisa bersikeras untuk tetap sekolah. Diam-diam ia melirik Vian dari ujung ekor matanya. Sayangnya, wajah pria itu masih dingin dan datar.
Sangat mengecewakan.
***
Dera meletakan segelas teh hijau hangat tanpa gula di atas meja ruang tengah rumah besar Yamato. Hiro mengembuskan napas perlahan, sebelum menjatuhkan kepalanya di atas paha sang istri yang mengambil tempat duduk di samping nya. Hiro mendarat di Bandara Internasional Jepang pukul satu dini hari. Sampai di rumah pukul dia pagi lewat tiga puluh menit.
Dera yang memang menunggu ke datangan sang suami, sudah menunggu di ruang tengah dari jam sebelas malam sampai jam dua pagi.
"Pijet!" Pinta Hiro membawa tangan Dera ke atas dahinya yang terasa sangat pening.
Tampa di minta dua kali, tangan Dera langsung memijat pelan dahi sang suami. Hiro pasti sangat lelah beberapa hari ini.
"Apakah Adella baik-baik saja?" Tanya Dera di sela kegiatan nya memijet dahi Hiro.
Kontan saja kelopak mata Hiro terbuka cepat. Baru saja kelopak mata nya tertutup. Langsung terbuka saat pertanyaan di lemparkan oleh Dera.
"Dari mana kau tau?"
"Aku mendengar pembicaraan kakak dan Yeko saat hari kejadian. Dan Clara memberi tahukan tentang kepergian kakak dan keadaan Adella," jawab Dera jujur,"jangan berpikir untuk memarahi Clara! Aku berhak tau apa yang terjadi kak," lanjut Dera memperingati sang suami.
Hiro menghela napas."Benar, istri ku berhak tau. Maaf aku tidak memberi tahu maupun melibatkan mu," sesal Hiro.
Kepala Dera mengeleng pelan."Kakak tidak sepenuhnya bersalah. Kakak melakukan itu agar aku tidak khawatir. Tapi aku mohon kedepannya, tolong! Apapun yang terjadi, jangan pernah sembunyikan apapun dari ku!"
"Ya, aku tidak akan melakukan nya lagi!" kata Hiro sebelum membawa tangan Dera pada pipinya. Dan mengecup nya perlahan.