
Sean menatap sang kakak dalam. Vian terlihat berpikir keras dengan apa yang baru saja di paparkan oleh sang adik. Beberapa kali ia mengecek cctv tidak terlihat pergerakan Ella saat itu. Hatinya sedikit meragu, namun jika di pikir ulang. Bukankah Ella memiliki kesempatan lebih besar. Ia berpikir bermain-main dengan Ella akan terasa menyenangkan. Siapa sangka, jika mereka berdua salah perhitungan. Untuk racun, jelas Ella lebih tau akan hal itu lebih dari pada siapapun.
"Menurut Abang bagaimana?" tanya Sean dengan nada serius.
Vian menghela napas pelan.
"Entah lah," jawab Vian meragu. Dan itu dapat di tangkap oleh Sean.
Dahi Sean berlipat dalam."Apa yang membuat Abang ragu?" tanya Sean dengan nada penasaran.
Vian menoleh ke samping kanan. Menatap lambat ke dua manik mata Sean.
"Terasa aneh, namun seakan jika di pikir dengan logika itu terasa di benarkan. Seakan kebohongan yang di kamuflase dengan kejujuran," ujar Vian.
"Kata-kata mu terdengar aneh," cibir Sean.
Vian mengulum senyum. Ketukan di pintu membuat ke duanya sontak menoleh ke ambang pintu.
Kreat!
"Abang!" seruan dari nada manja membuat ke dua bola mata Sean berotasi malas.
"Abang yang mana?" tanya Vian sebelum melirik ke ranjang Sean yang berada di seberang ranjang nya.
Lea tampak tersenyum aneh. Jujur saja, Sean merasa kesal dengan Lea dengan Laura. Menghadapi Laura saja sudah sangat menyebalkan. Apa lagi di tambah dengan menghadapi Lea. Setan betina yang bisa di nobatkan menjadi ratunya para setan. Karena Lea, ia gagal keluar bersama Adella. Ia malah harus berada di kamar. Semuanya karena fitnah Lea padanya. Katanya Sean ingin macam-macam dengan Adella. Sedangkan pria ini tidak melakukan hal aneh-aneh. Gagal kencan, semakin membuat mood Sean down.
"Abang Vian," jawab Lea dengan nada lembut,"ayo main bareng. Kita mau main sama Anang Vian di kolam," lanjut Lea tak lupa tersenyum aneh.
Bulu kuduk Vian berdiri melihat senyum yang tercetak di bibir Lea. Oke, Laura adik bungsu nya memang aneh bin jail. Namun, tingkat nya masih sangat jauh dari Lea. Mengingat sang ibu selalu memberikan batasan pada mereka. Membuat Laura tidak bisa berkembang menjadi ratunya jahil. Tapi, Lea? Ini berbeda.
Karena Leo terlalu memanjakan Lea. Membuat anak perempuan itu benar-benar sangat nakal. Dan memiliki banyak ide jahil, bahkan tidak segan-segan membuat perang dunia. Kecil saja sudah begini, apa lagi kalau sudah remaja nanti.
"Mau ya, Bang!" bujuk Lea kala Vian tidak kunjung memberi kan jawaban dari permintaan nya.
Sean langsung menggelepar turun dari ranjang. Vian menoleh ke arah Sean.
"Mau kemana?" tanya Vian.
Sean menghentikan langkahnya. Sebelum menoleh ke belakang.
"Kabur dari dunia kegelapan," jawaban nya ringan.
Belum sempat bibir Vian membantah. Sean Yamato lebih dahulu melangkah cepat dan kabur. Dengan sebisa mungkin melewati titisan setan betina dengan kadar keimutan membuat hati tak tega jika sudah mengeluarkan jurus membujuk. Sebelum di ajak dan terhasut, Sean lebih memilih kabur.
"Itu.....nanti, ah besok saja ya!" bantah Vian dengan nada lembut terlihat gagap.
Wajah imut Lea langsung berubah sebal. Seakan anak perempuan itu memiliki dua wajah yang berbeda.
"Aku tidak memberikan pilihan loh, Abang. Tapi di sini aku memerintah Abang untuk bermain bersama kami!" ujarnya dengan nada serius. Bahkan wajah dingin terlihat mengerikan.
Glek!
Vian kesulitan meneguk air liur yang berada di kerongkongan. Ia linglung. Ia tidak tau apakah apakah anak perempuan di depan sana benar-benar adalah Lea Yamato. Adik sepupu nya yang terlihat imut dan menggemaskan. Jujur saja, Lea benar-benar terlihat aneh. Wajah psiko terlihat jelas di wajah cantik nya. Mata sipit itu terlihat menajam. Tidak ada senyum terukir di wajah imutnya.
Langkah kaki kecilnya menuju tempat tidur single Vian terlihat jelas. Mengikis jarak antara mereka.
"Ayo main!" ujarnya lagi. Masih dengan wajah yang sama. Aura kamar Vian dan Sean berubah gelap.
Itulah yang terlintas di otak Vian. Kepala Vian menggangguk pelan raut wajahnya seperti kucing tengah terjepit.
"Y——ya!" Jawab Vian di sela anggukan kepalanya.
Dipersekian detik raut wajah dingin Lea berubah. Senyum polos bin lugu terlihat jelas. Wajah menakutkan itu berubah menjadi anak kecil yang imut. Kini Vian tau, jika Lea memiliki kekuatan untuk mengintimidasi lawan. Menekan lawan dengan aura yang tersembunyi. Jika Lea menjadi seorang interogator, maka orang tersebut akan mengatakan seluruh kebohongan bahkan dosa mereka.
"Terimakasih Abang Vian. Ayo, kita main!" Ujarnya dengan nada polos. Sembari menarik Vian dari tempat tidur.
...***...
Willem menggaruk pelan leher belakang nya. Saat Sari menatap nya dengan tatapan mengintrogasi. Carlos hanya menjadi penonton saja. Pria Mafia yang kini menjadi budak cinta sang istri tak bisa berbuat apa-apa.
"Apakah itu keinginan mu, Will?" tanya Sari dengan nada tak percaya.
Willem melirik sang ayah yang duduk di sofa, tak bisa berkutik.
"Jangan memilih papamu, jawab saja pertanyaan mama!" tegur Sari melihat putra tirinya menatap sang suami.
Willem menoleh. Menatap raut wajah sang ibu.
"Maaf, Ma!" jawab Willem dengan nada pelan,"aku tetap akan menjadi pewaris tambuk kekuasaan papa," lanjut Willem pelan.
Sari menghela nafas pelan. Tangan Sari bergerak, menyentuh tangan sang anak tiri nya. Menggenggam nya erat.
"Willem. Dengarkan mama. Mama nggak mau kamu menerima tanggung jawab yang tidak kamu ingin kan sama sekali. Lagipula tidak ada guna nya bermain dalam dunia bawah. Sudah cukup Sean dan Vian saja yang berada di sana. Jujur saja, mama nggak mau kamu ikut-ikutan sama hal aneh begini. Kita punya perusahaan, dan Yakuza bisa melindungi kita. Ayolah, Will! Mama tau ini bukan keinginan mu," ujar Sari lembut.
Carlos Zhao hanya menghela napas. Pria ini tau, jika Sari sangat menyayangi sang putra. Bahkan istri nya itu berkali-kali mengungkap jika ia ingin Carlos berhenti dalam dunia kelam itu. Semua nya demi anak-anak mereka. Sayang nya, sumpah telah terucap. Hingga, Carlos tidak bisa menariknya. Ia dan keturunan nya akan menjadi pelindung keluarga Zhao. Janji seorang pria adalah harga mati.
"Ya, ma!" jawab Willem lambat. Sebelum mengangguk pelan. Tidak ada jawaban dari pada kata 'iya' untuk saat ini. Yang terpenting Sari merasa tenang. Itu lebih dari cukup. Jika Sari menyayangi nya, Willem lebih sayang lagi. Karena sosok Sari adalah ibu sempurna untuk nya.
...***...
Lantunan melodi piano mengalun di lapangan indoor di Sekolah. Sean menatap lambat Adella yang terlihat begitu tenang dengan permainan pianonya. Sebelum suara paduan suara terdengar nyaring mengisi kekosongan nada denting piano. Banyak siswa-siswi duduk di kursi. Mereka merayakan ulang tahun sekolah. Ada beberapa acara yang di susun oleh sekolah.
"Cih!" decak Sean sebal.
Kontan saja Vian dan Willem yang mengapit tempat duduk Sean menoleh.
"Hei! Ada apa dengan mu, Bung?" tanya Willem.
"Kau terlihat seperti orang yang ingin menelan manusia lain nya hidup-hidup," timpal Vian.
"Kalian tidak melihat ada banyak mata yang menatap gadis yang di sukai oleh Sean?" David ikut menimpali. Kala menelusup kan kepalanya di antara leher Sean dan Vian.
Kontan saja Vian dan Willem menatap kelompok pria. Yang memang berada di barisan mereka. Benar saja, ada yang menatap Adella dengan pandangan kagum. Bukankah, ada banyak yang penasaran dengan Adella. Wanita yang terlihat biasa saja. Tidak terlalu cantik atau pun jelek. Hanya menonjol karena bakal bermain piano dan menjadi kekasih Sean secara tak tertulis.
"Sabar kawan!" Ujar Willem setelah tau penyebab yang membuat Sean berdecis sembari menepuk-nepuk pelan punggung belakang Sean.
Vian mengulas senyum. Sebelum kembali membawa pandangan nya pada wajah Adella. Wajah yang terasa asing di mata, namun terasa familiar di hati. Gadis yang sangat ia kagumi dan ia lindungi. Perasaan pria ini tulus. Namun, apalah arti ketulusan jika tidak bisa memiliki. Menyedihkan.
Sean ingin mengomel. Kepala nya menoleh ke arah Vian. Sebelum menoleh ke arah Adella. Ada denyutan tak rela. Namun ia juga tau tempat dan keadaan. Entah siapa dan siapa pula yang menjadi dinding antara mereka. Mencintai wanita yang sama. Sama-sama tulus dan sama-sama tak ingin menyakiti. Begitu lah pengorbanan persaudaraan.
Cinta yang patah. Masih bisa mendapatkan cinta yang baru saat musim hati bersemi. Namun persaudaraan yang hancur, tidak akan ada jalan kembali untuk utuh kembali.