
Laura mengembangkan ke dua pipinya, Lea menatap sang kakak sepupu dengan pandangan lucu. Ke dua mata sipit namun terlihat begitu besar tengah menatap kakak sepupunya yang merajuk karena di tinggal pergi oleh sang paman dan sang bibi.
"Hei! Wajah mu tampak seperti ikan buntal Laura," goda Vian mengusap pelan puncak kepala Laura dengan penuh kasih sayang.
Laura menengadah menatap wajah tampan sang kakak. Ia merengek pelan.
"Abang!" panggil Laura merengek. Memeluk pinggang Vian dengan erat.
Telapak tangan besar Vian mengusap pelan pipi Laura dengan lembut.
"Besok Abang sama Abang Sean bawa Launa, Laura, Lea dan Cherry main ke luar." Bujuk Vian lembut.
Sean yang baru membuat susu hangat melewati ruangan tamu. Di mana adik bungsu nya merajuk.
"Mana seru main sama Abang. Serunya main keluar sama mama dan papa, Laura!" goda Sean pada sang adik.
Vian melongo mendengar perkataan sang adik.
"Benar kak. Enak main itu sama mama dan papa dong. Main sama Abang Sean dan Abang Vian kurang seru," kini Lea ikut menimpali.
God. Senyum miring Sean dan Lea terlihat sangat jelas tercetak. Terlihat begitu sama, kini Vian mengerti kenapa sang adik dan adik sepupunya itu mendapat gelar setan.
Kontan saja Laura merengek. Ia menghentak-hentak ke dua kakinya di lantai. Lea tersenyum lebar pada Sean. Duo setan benar-benar membuat orang kewalahan.
Vian mengeleng pelan. Sebelum memberikan tatapan mematikan pada adik lelaki nya. Sean membuang muka, dengan raut wajah terlihat begitu polos. Seakan tidak ada dosa yang telah ia lekukan.
"Sean!" seru Vian dengan nada rendah namun tak menampik rasa kesal di dadanya.
Leo yang berada di lantai dengan pandangan letih. Bagaimana tidak, letih. Ia menjadi kuda hidup yang mengendong Lea dan Luara di punggung. Selama tiga jam. Owh! Terkutuk lah kakak lelaki nya, yang menjadikan ia sebagai umpan untuk anak-anak nya. Leo terkekeh lemah melihat bagaimana ekspresi keponakan bungsu nya.
...***...
Ke dua mata coklat tajam itu mendelik. Menatap intens sang ayah yang duduk dengan manik mata yang tak bisa diam. Hiro Yamato sebisa mungkin untuk terlihat tenang. Meski di hati merasa takut di tatap dengan pandangan mematikan dari sang putri. Lucu bukan? Seorang Hiro Yamato takut pada putri bungsunya sendiri.
"Kenapa mulutnya kayak gitu dari tadi Laura?" itu suara Dera yang terdengar membuat Laura menoleh ke arah depan. Dimana sang ibu tengah menatapnya dengan pandangan tak terbaca.
"Papa jahat," kesal Laura.
"Emangnya papa jahat kenapa?" tanya Vera penasaran mendengar nada lucu dari Laura.
"Itu loh Ma!" ujar Lea,"kak Laura merajuk karena di tinggal pergi sama papa Hiro. Kakak Laura marah Ma!" lanjut nya dengan wajah ceria dan suara menggebu-gebu.
Vera melirik kakak iparnya yang terlihat berusaha keras untuk memasang wajah tidak berdosa. Leo terkekeh pelan sebelum menyuapi nasi dengan lauk gurame goreng di mulutnya.
Hiro melirik dari ekor matanya menatap kesal adik nya. Leo terlihat begitu menyebalkan di mata Hiro.
"Mau jalan kemana sayangku, Hem?" tanya Dera dengan nada lembut. Berusaha membujuk putri bungsunya. Sedangkan putri sulungnya terlihat biasa saja. Tidak ikut bicara, terlihat malas untuk ikut menimpali.
Laura mengangkat pandangan nya. Menatap wajah sang ibu, sebelum beralih menatap Hiro dengan mendengus kecil. Sedangkan Hiro melirik wajah Dera. Seakan meminta pertolongan atas dosa yang telah ia perbuat. Laura memang sangat sulit di bujuk. Dan itu menyebalkan.
"Kita ke Bali, yuk dek!" Suara Sean terdengar sembari mengusap pelan pelan pipi adik kecilnya yang duduk di samping nya."Tapi nggak usah ajak papa. Kita bawa mama aja, biar papa tau kalau tidak di ajak itu menyebalkan," hasut Sean.
Ke dua mata Hiro terbelalak mendengar hasutan putra nya.
"Benar itu kak. Pasti menyenangkan. Apa yang di lakukan oleh orang. Itulah yang harus kita balas," ujar Lea ikut memberikan hasutan.
Satu detik.
Dua detik.
Hahahaha.......
Tawa Leo pecah melihat wajah nelangsa wajah sang kakak. Pria bengis yang selalu di takuti malah terlihat nelangsa di mata Leo. Adella menghela napas melihat Sean yang sangat suka memberikan hasutan sesat pada Laura. Cherry tertawa pelan melihat Leo tertawa. Anak remaja itu merasa terhibur pagi-pagi di hari Minggu sudah mendapatkan drama aneh di dalam rumah.
Vera mengeleng kecil melihat keluarga aneh sang suami. Dan kini, Leo juga semakin ikut aneh.
Dera ikut tertawa pelan kala Hiro menoleh ke arahnya. Dengan wajah mengiba. Seakan-akan ia tengah dianiyaya.
...***...
Sean menarik kasar kerah baju David. Pria bule itu hanya pasrah mendapatkan kemarahan sahabat nya. Tubuh nya di sudut kan ke dinding. Wajah putih Sean memerah, menandakan jika ia sangat marah dengan pengakuan David.
"Kenapa kau hanya diam saat itu, huh!" Ujar Sean dengan nada berat menakutkan.
"Saat itu yang terpenting adalah keselamatan Adella. Aku baru tau dan saat itu keadaan tengah kacau," balas David dengan nada lemah.
"Saat kau berada di Rumah Sakit menjenguk Adella kau tidak mengatakan apa-apa, sialan!"
David menghela napas."Maaf, bukankah saat itu kita mendengar jika kalian juga sudah mendapatkan penyebab Adella sakit?"
Sean menutup ke dua kelopak matanya. Menahan amarah yang tengah berada di ubun-ubun.
Bruk!
Sean mendorong tubuh David ke samping. Membuat David terjerembab kelantai.
"Dia juga tiba-tiba menghilang. Karena itu aku semakin bingung Sean," ujar David kembali terdengar.
Ke dua telapak tangan Sean mengepalkan kuat. Ia pikir Ella tidak melakukan hal gila pada Adella. Mengingat tujuan Ella mendekati mereka adalah untuk membebaskan ibu kandung nya. Ia tidak menyangka jika ini yang terjadi. Sean dan Vian berpikir ada musuh dalam selimut yang menargetkan Adella. Lalu siapa sangka jika yang terjadi malah sebaliknya.
"Brengsek!" maki Sean dengan mata menajam. Ia tidak akan membiarkan Ella lepas. Bahkan Mirabel, wanita itu akan menjadi penerima ganjarannya.
Ia akan menghancurkan. Bahkan akan membunuh Mirabel jika di perlukan.
"Maafkan keterlambatan informasi ini Sean!" ujar David penuh sesal.
Dan ia juga menyesal karena telah membohongi Sean saat ini. Jika Vian dan Sean mengalih lebih dalam lagi. Maka Delta akan terseret lebih dalam. Seribu kata sesal hanya mampu di tanam di dalam hati. Seribu kata maaf yang tak mampu lisan ucapkan.
"Hah!" Sean menghela napas pelan,"sudahlah!" ujar Sean.
David berdiri dengan perlahan. Menepuk pelan celaan belakang nya yang kotor. Sean membalikkan tubuhnya, meninggal kan David di gudang sekolah. Pria itu mencari sang kakak untuk di ajak diskusi. David menatap punggung belakang Sean dengan pandangan lemah.
Derap langkah kaki terdengar semakin mendekat.
"Kenapa kau melakukan nya?" tanya Delta dengan nada tak mengerti dengan apa yang di lakukan oleh David.
"Menurut mu?"
"Aku tidak tau. Karena itu aku bertanya padamu David!"
"Itu.... karena kau. Aku tidak ingin kau pergi bahkan hancur. Kau sahabat ku, yang hanya tersesat sesat. Dan aku ingin memberikan mu kesempatan untuk merubahnya, Delta!"
Delta diam. Gadis remaja ini tidak tau harus merespon seperti apa. David tidak ingin memperjelas kan perasaan nya. Biarkanlah waktu yang membuka perasaan tersembunyi itu. Ketulusan tidak akan pernah membawa kesakitan. Jika itu terjadi, maka yang salah bukanlah ketulusan. Yang salah adalah manusia itu sendiri.
Keduanya hanya berdiri dalam diam. Sibuk dengan isi pemikiran nya sendiri.