The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 61 (Perasaan Tidak enak)



Lampu senter dari kamera menjadi penerang jalan bagi gadis remaja ini. Ia melangkah mendekati jendela balkon apartemen nya. Dapat manik mata ini lihat jika satu gedung mati total. Dahinya mengerut, ia berdecak pelan. Sebelum melangkah mendekati nakas. Mencari lampu dengan daya baterai.


"Ah, akhirnya terang juga!" monolog Adella stelah menghidupkan lampu kecil di nakas.


Tok!


Tok!


Tok!


Tiga ketukan di luar pintu membuat Adella menoleh ke belakang. Gadis ini melangkah tanpa kata. Kembali menyalakan lampu ponselnya. Melangkah mendekati pintu masuk.


Klik!


Kreat!


"Maaf apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Adella dengan nada formal.


Wanita cantik itu tampak tersenyum tipis.


"Begini. Aku takut sendiri, papa dan mamaku belum pulang dari bekerja. Kata pengurus apartemen ada masalah dengan listrik nya. Mungkin tiga jam lagi bisa di perbaiki. Bolehkan aku minta di temani," ujarnya dengan wajah mengiba.


Adella menatap lambat wajah wanita di depannya. Kira-kira dua tahun lebih tua dari nya.


"Aku mohon," ujarnya kembali mengiba.


Adella mengangguk-angguk patah-patah. Sebelum mempersilahkan wanita itu masuk ke dalam apartemen nya. Adella menutup perlahan pintu apartemen.


"Oh, iya. Kita belum berkenalan. Namaku Hani!" Ujarnya mengulurkan tangan nya pada Adella.


"Adella!" Balas nya kala menyabut uluran tangan Hani."Silakan duduk, Hani!" ujar Adella lagi.


"Terimakasih!" Kata Hani duduk di sofa kecil.


"Mau minum apa?" tanya Adella dengan ramah.


"Apa saja, maaf merepotkan mu!" ujarnya.


Adella mengulas senyum."Tidak masalah. Aku senang bisa membantu," ucap Adella lembut.


Hani ikut mengulas senyum. Ia melangkah menuju dapur mini yang tidak jauh dari ruang tamu. Membuat dua hot kopi. Mengingat cuaca Paris cukup dingin.


Tak!


Dua gelas kopi hangat terhidang dia tas meja. Adella duduk di depan Hani.


"Silahkan di minum, Hani. Aku tidak tau apakah kopinya sesuai dengan seleramu atau tidak."


"Tidak masalah. Aku bukan orang yang pemilih!" ujarnya lembut sebelum menyesap Kopi dengan perlahan.


Adella ikut menyesap kopi buatan nya. Ke duanya berbincang kecil.


***


Hiro tampak membaca kata demi kata di dokumen dengan teliti. Pangkal hidungnya mengerut dalam kala membaca laporan yang di bawa oleh Yeko. Sedangkan Yeko berdiri di depan Hiro dengan tegap.


"Apakah informasi ini benar?" tanya Hiro tanpa mengalihkan pandangan matanya pada Yeko.


Kepala Yeko mengangguk pelan.


"Ya, Bos. Awalnya aku sempat tidak yakin. Sampai orang kita yang berada di Indonesia bertemu dengan Anto. Dia Dokter yang menangani Adella. Semua informasi yang di butuhkan ada di dalam sana, Bos!" jelas Yeko.


Hiro meletakan dokumen Adella di atas meja. Sebelum ke dua telapak tangannya melayang mengusap kasar wajah tampan nya.


"Bagaimana bisa, mereka orang yang sama?" keluh Hiro.


"Itu mungkin, dan sangat mungkin Bos. Mengingat Adella sudah sangat terlatih dalam teknik bertarung, sampai sangat ahli beladiri. Apa yang ada di pikiran kita tentang dia sudah terselesaikan," kata Yeko dengan nada tenang.


"Pemikiran kita tentang dia memang usai. Namun bagaimana dengan Vian?"


Hiro tau dengan pasti perasaan putra pertama nya. Yang sangat setia menunggu kedatangan dan kehadiran Adella kecil. Teman yang sudah lama ia nantikan. Apa yang akan Vian lakukan saat tau jika Adella kecil yang ia tunggu adalah perempuan yang kini menjadi gadis yang di cintai oleh kembarannya.


Perasaan Vian sangat berharga bagi Hiro. Begitu pula dengan Sean Yamato. Ke dua putranya sangat berharga. Jika seperti ini, salah satu dari mereka akan tersakiti. Yeko diam-diam mendesah pelan, ayah mana yang tidak khawatir. Jika putra mereka mencintai wanita yang sama. Kisah lama akan terulang kembali, itulah yang ada di benak Yeko. Entah siapa yang menjadi Hiro dan Leo dalam kisah yang sama ini. Yeko, pun tidak tau.


Drtdrt!


Ponsel Yeko bergetar. Dengan tatapan mata, Hiro mengode untuk Yeko mengangkat panggilan.


"........."


"Apa? Bagaimana bisa terjadi?" ujar Yeko dengan wajah pucat pasi.


"......."


Hiro mengerutkan dahinya melihat ekspresi Yeko.


"Baiklah, sebaiknya cari dengan teliti. Jika mati temukan mayatnya!" ujar Yeko.


"......."


"Ya," kata Yeko.


Tut——


Sambungan telepon di matikan.


"Apa ada yang terjadi?" tanya Hiro dengan wajah menuntut jawaban.


"Bos!" panggil Yeko dengan nada berat. Ragu-ragu Yeko membuka mulutnya,"Adella......dia, kecelakaan!" lanjut Yeko dengan wajah pucat.


"Apa?" Sontak saja Hiro berdiri dari posisi duduknya. Ke dua matanya terbelalak mendengar kabar yang keluar dari mulut Yeko. Untuk hari ini, sudah dua kabar yang membuat Hiro merasa pening seketika.


"Ino berkata, Apartemen yang di tinggali oleh Adella mengalami kebakaran. Saat ia keluar membelikan pasokan makanan. Saat sampai di sana api sudah sangat besar. Dua anak buah kita juga kemungkinan mati di sana. Ino berkata, api melahap dengan cepat apartemen. Seluruh penghuni yang ada di sana tidak selamat. Kemungkinan sebentar lagi, akan ada banyak berita yang keluar di media sosial. Kita harus bagaimana?" tanya Yeko bingung.


Hiro merasa linglung. Ke dua kelompak matanya tertutup perlahan. Mencoba mereda rasa yang tidak tau harus di gambarkan dengan kata. Kelopak mata Hiro terbuka perlahan.


"Hentikan memberitaan nya membesar," titah Hiro.


"Meskipun kita melakukan nya. Pihak sekolah akan mengumumkan nya juga Bos," tukas Yeko.


"Lalu apa yang harus kita lakukan!" desah Hiro frustasi.


Di luar pintu masuk. Dera membeku, beberapa kali manik matanya menggerjab perlahan. Tubuh nya bak di siram oleh air dingin. Membekukan dan sangat menakutkan.


"Adella!" hanya itu yang ia ucapkan. Ke dua manik matanya basah.


***


"Hei! Ada apa dengan wajah mu itu Sean?" tanya David melihat pandangan mata kosong Sean.


"Sean!" Panggil Delta menggoyangkan pergelangan tangan Sean.


"Ah? Eh!" jawab Sean kala tersentak dari lamunannya.


"Kenapa dengan mu hari ini. Kau baik-baik saja kan?" tanya Delta khawatir.


"Jika kau kurang sehat, sebaikan di jam ke dua nanti di UKS saja. Wajahmu tampak aneh," kini suara Willem terdengar.


"Dia hanya rindu Adella saja," celetuk Vian pelan.


"Ah masa sih. Hanya karena rindu wajah nya aneh begitu?" jawab David tak percaya.


Sean mengigit bibir bawahnya pelan.


"Di sini, rasa nya sesak dan gelisah!" Ujar Sean menunjuk ke arah jantungnya.


"Alah! Kau gaya-gayaan. Tiga hari lagi Adella akan pulang," cibir Willem.


"Benar itu, hanya tinggal tiga hari lagi. Lagak mu sudah seperti Adella tidak pernah pulang saja!" cemooh David.


"Sudahlah. Jangan begitu lagi, kasihan kan Sean. Wajahnya jadi kesal begitu," lerai Delta.


Vian mendesah kecil. Jika ada yang memperhatikan Vian dengan seksama. Maka mereka akan tau dengan jelas. Jika Vian Yamato juga tidak tenang. Beberapa kali Vian menghela napas. Seakan ada rasa sesak yang melanda dadanya. Bedanya, Vian dapat mengontrol eskpresi wajah lebih baik dari pada Sean. Yang terlihat sangat jelas akan kegelisahan nya.


"Akh!" Sean mengusap pelan dadanya. Rasanya sesak dan benar-benar membuat ia meringis.


"Hei! Kau sakit?" tanya Delta khawatir saat mendengar desahan Sean.


Sean berdiri dari posisi duduknya. Melangkah keluar setengah berlari ke arah pintu. Meskipun teman-teman berteriak memanggil nya. Sean terus berlari. Meninggalkan teman-teman dan kembarannya. Rasanya benar-benar tidak tenang. Di balik pilar besar, Ella tersenyum penuh kemenangan.


"Katakan selamat tinggal pada dia, Sean!" Ujarnya dengan garis senyum yang di tarik semakin tinggi.