
Jari jemari panjang milik Willem bergerak mengutak-atik media sosial nya. Rambut hitam legam itu masih sedikit basah. Ke dua dahinya terangkat kala berhenti akun Instagram sahabat nya menampilkan foto. Sean Yamato memasukan dua foto.
"Gila!!!" Willem histeris. Anak remaja itu bahkan bangkit dari posisi duduk nya.
Ibu jari Willem turun ke bawah. Pupil matanya semakin melebar melihat foto dan caption di bawah foto.
Sean_12
Ada yang berdenting, namun bukan jarum Jam❤️
❤️957,357 Like
💌893,37 Komentar
Gelak tawa mengalun di dalam kamar. Willem melangkah keluar dari kamarnya, menuruni satu persatu anak tangga. Derap langkah kaki membuat tiga orang yang duduk di sofa depan televisi menoleh serentak ke arah anak tangga.
"Mau kemana?" tanya Sari kala Willem meraih kunci motor yang tergantung di atas Kosen pintu.
"Ke rumah Sean dan Vian!" jawab Willem jujur.
"Ngapain?" kini suara Carlos terdengar.
Mika terlihat menatap sang kakak penuh harap. Namun tak berani buka suara. Karena sang kakak membawa motor bukan mobil. Dan waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit. Beberapa menit lagi sudah waktunya anak perempuan Zhao itu tidur.
"Ada keperluan mendesak, Papa!" bohong Willem.
"Rambut mu saja belum kering. Minta antar sama Jack di luar!" tutur Sari menatap khawatir anak tiri nya ini.
Willem mengangguk pelan. Sebelum menukarkan kunci motor dengan kunci mobil. Bukanya tak bisa membantah sang Ibu. Willem hanya tak ingin berdebat saja. Anak lelaki itu setengah berlari menuju pintu keluar. Ponsel mahal di tangan kirinya bergetar sedari tadi, saat ia menuruni anak tangga. Seperti nya, group chat Line nya sedang rame. Karena foto di Instagram Sean.
***
"Pulanglah ke rumah masing-masing!" usir Sean dengan nada lembut.
Serentak ke tiga kepala mengeleng pelan. Delta duduk di ranjang Vian. Pemuda itu terlihat acuh, main game kegemaran nya. Membiarkan ketiga sahabat nya meneror sang kembaran.
"Kami penasaran bagaimana kencan pertama mu," tukas Delta.
"Benar. Biarkan kami mendengar curhatmu," kini giliran David angkat suara.
"Jangan pelit-pelit cerita pada Sahabat sendiri, Sean!" bujuk Willem.
Kembali serentak ketiga nya mengangguk setelah perkataan Willem terdengar. Sean mencabik.
"Hei! Ini soal asmara bukan soal ujian yang bisa di bagi-bagi," bantah Sean.
"Ayolah!" David berdiri dari posisi duduknya. Melangkah mendekati meja belajar Sean. Menarik bangku satu lagi, mendekati bangku Sean.
Sean merotasi kan malas ke dua bola mata coklat kelamnya.
"Mau nanya apa?" akhirnya Sean menyerah juga.
"Bagaimana tadi kencan nya, seru tidak?" tanya Delta dengan raut wajah penasaran. Sangat penasaran lebih tepat nya.
"David kan juga pernah kencan. Tapi kenapa kalian penasaran nya dengan aku," protes Sean dengan nada lucu.
Jika soal kencan Sean pasti mereka penasaran. Berbeda pasalnya, jika David yang kencan. Pria bermata hijau itu terlalu sering berkencan dengan gadis yang berbeda-beda. Membuat mereka hilang nafsu untuk mempertanyakan seputar kencan.
"Hah! Kalau David beda kawan. Dia sudah terlalu sering kencan. Dan kau tau sendiri, cerita nya selalu konyol." Ujar Willem sembari mendesah kasar.
David menatap kesal Willem. Tuan muda Zhao itu sangat menyebalkan di mata David.
"Ya, jelas lah. Kan aku yang ajarin Sean untuk kencan. Semuanya aku yang atur, pasti wow lah!" kata David bangga.
Sean terkekeh pelan. Manik mata coklat tajam milik nya menatap satu persatu wajah teman-teman nya. Yang kini diam dan memasang ke dua telinga masing-masing mendengar kisah romansa seorang Sean Yamato saat berkencan.
Segaris senyum tipis terlihat."Aku tidak tau bagaimana cara menjabarkannya. Yang pasti aku merasa ini adalah kencan pertama yang sangat sempurna," tuturnya dengan nada berat.
Kontan saja ke tiga sahabat nya berteriak menggoda. Vian menghentikan permainan game di ponsel nya. Pria ini pikir lebih seru mendengar cerita kembaran nya. Dari pada bermain game. Ia mulai menyimak.
"Apa saja yang kau rasakan saat jalan dengan Adella?" tanya Delta cepat. Sebelum di curi start oleh David, si biang rumpi.
Sean mengerutkan pangkal hidung nya. Seraya berpikir, tentang bagaimana perasannya.
"Jika boleh jujur, aku merasa deg degan. Berjalan berdampingan dengan nya benar-benar terasa berbeda. Pandangan mataku hanya tertuju padanya. Saat telapak tangan kami bersentuhan, rasanya.....ada sengatan listrik yang mengalir hingga jantung ku berdebar lebih keras lagi. Hatiku terasa kesal, saat ada mata pria lain yang ikut menatap kearah wajahnya. Rasanya ingin aku congkel keluar bola matanya dan aku cincang tubuh nya," ujar Sean yang membuat Delta dan David ngeri,"tapi, mengingat ada Adella di samping ku. Aku berusaha fokus dan terlihat keren di matanya. Benar-benar sulit," lanjut nya.
Delta diam-diam melirik Vian. Bisakah dia dan Vian juga begitu? Ah, ia terlalu berharap. Willem tersenyum lucu. Sedangkan David, anak lelaki satu itu menggeser sedikit kursinya.
"Kalian tidak, Hem...Hem?" Tanya David dengan kode menyatu ke dua tangannya.
Kontan saja muka Sean memerah seperti kepiting rebus. Astaga, seorang keturunan Mafia juga bisa merona karena malu. Delta berdecak sebal. Pemikiran bule satu ini benar-benar berbeda.
Bug!
"Akh! Sakit Willem!" Kesal David menyingkirkan bantal yang sempat di timpuk Willem padanya.
"Dasar bule mesum!" Cibir Delta.
David tertawa."Pria memang begitu Delta. Kau tak tau saja pemikir pria berapa persen saja yang waras."
Delta ikut melemparkan bantal ke tubuh David. Pria itu berteriak keras. Sedangkan Sean dan Willem hanya menggeleng kan kepala mereka melihat kegilaan Delta.
Jika di lantai atas tengah ribut. Beda lagi halnya dengan lantai dasar. Aroma makanan menyeruak. Hiro terlihat gagah memakai Appron biru tua. Mengaduk bumbu spaghetti yang telah selesai. Si kembar tampak bersemangat. Dera melangkah menuju rak piring. Meletakan beberapa piring di atas meja.
"Yey! Akhirnya masak!" sorak Laura dengan ceria.
Sedangkan Launa hanya tersenyum.
"Launa panggilkan Abang-abang dan Kak Delta untuk turun!" titah Dera pada putri ke tiganya.
Launa mengangguk. Anak perempuan itu turun dari kursi. Meninggalkan kembarannya di meja makan. Meski sudah sangat malam untuk makan. Namun bagi keluar Yamato tak begitu. Mengingat, keluar besar Mafia ini tidak akan gemuk meski pun makan malam.
Rutinitas oleh raga yang teratur memberikan jaminan tubuh tetap sehat.
***
Jam weker berbunyi nyaring. Kelopak mata Adella masih tertutup sempurna. Tangan gadis ini bergerak mencari jam di atas nakas. Bergerak mematikan alarm yang ia pasang.
"Hoam!" Mulutnya mengusap dengan tangan kanan menutup mulut.
Adella meletakan asal jam weker di atas tempat tidur. Sebelum menggeliat perlahan, meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Cahaya matahari menyerbu masuk melalui celah-celah lubang ventilasi.
Ke dua kelopak matanya terbuka perlahan. Sebelum menggerjap pelan. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina mata.
"Sudah pagi saja," gumamnya dengan nada serak khas bangun tidur.
Telapak tangan nya bergerak menyentuh liontin kalung Maple
dari Sean. Segaris senyum meninggi, gadis ini merasa senang. Beberapa detik kemudian dahinya mengernyit, kala merasa Dejavu dengan kegiatan nya barusan.
"Apakah aku pernah mengelus kalung sebelum nya?" monolog Adella kurang yakin.
Adella duduk dengan perlahan bersandar pada dasbor ranjang singel milik nya. Rasanya tak nyaman, kepalanya terasa pusing. Adella menarik nafas pelan dan membuangnya perlahan.