
Dua piring terakhir di letakan di atas meja makan. Dera duduk di samping sang suami. Seruan keras 'selamat makan' sebelum makan, menjadi rutinitas bagi semua orang di rumah Yakuza. Sean tampak mendesah beberapa kali, sebelum mengunyah malas makanan di mulutnya.
"Hei ada apa dengan wajahmu di pagi hari ini, son?" seru Bos Yakuza itu menatap wajah masam Sean.
Serentak orang-orang yang ada di meja makan menatap ke arah Sean. Pria remaja itu menelan cepat makanan yang ada di mulut nya. Sebelum mendengus, kesal.
"Papa masih bertanya?" cibir Sean kesal.
Hiro terkekeh pelan. Jika di lihat dengan seksama, bukan hanya Sean saja yang berwajah masam di lagi hari. Si setan betina, Laura Yamato pun terlihat sama. Anak perempuan ini diam-diam mencibir karena sang ayah terkekeh.
"Memangnya ada apa sampai Abang kesal?" tanya Cleo dengan nada imut.
Vian tersenyum. Melihat wajah Laura yang menguyah kasar makanan di mulut nya. Launa makan dengan tenang tanpa keluhan. Sean menoleh ke arah Cleo.
"Abang di kunciin tadi malam. Untung saja ada kamar mandi nya di dalam kamar. Kalau tidak ada, sudah Abang dobrak pintu kamar!" Ujar Sean sembari menatap sinis sang ayah.
Clara dan Yeko, hanya mengeleng pelan. Suami-istri ini tau jika sang Bos besar selalu merasa terganggu oleh anak-anak nya. Yang paling menganggu, tentu saja Sean Yamato dan Laura Yamato. Tak jarang, Hiro akan tidur bertiga dengan anak-anak nya. Meskipun sudah besar, Sean tidak pernah mau kalah. Masih saja suka merecoki Dera dan Hiro.
Beruntung, ada Adella di dalam rumah besar. Hingga sifat manja dan anehnya sedikit berkurang. Setidaknya, Sean tau malu kalau ada Adella. Tidak mungkin ia tidur di kamar sang ibu jika ada gadis yang ia sukai. Mau di taruh di mana mukanya. Berbeda dengan Laura, yang masih tidak tau kata malu. Anak ini tidak sungkan-sungkan menegur Hiro kalau mencium sang ibu di depan nya.
"Hah! Abang mah masih mending di kunciiin di kamar. Biar Abang tidak melihat roti dem——hhhppzzz!"
Clara membekap mulut anak perempuan nya. Wajah cantik nya memerah, sedangkan Yeko terkekeh-kekeh di buat-buat. Adella, Sean dan Vian menatap penasaran ke arah Cleo. Mereka ingin tau apa yang ingin Cleo katakan. Cherry, mengeleng pelan kepala nya.
"Sudahlah! Ayo lanjutkan makannya," ujar Dera lembut. Ini empat anak ini tau kemana arah perkataan Cleo.
Dera merasa keheranan, mengapa sampai sebesar ini, Cleo masih saja suka ember. Dan masalah ini tentu saja pada ke dua orang tua gadis remaja itu. Jika ingin, harusnya tau waktu. Urusan ranjang, harus nya anak perempuan mereka tidak harus tau. Apa lagi kata-kata aneh.
***
Pipi gembul anak perempuan cantik itu terlihat begitu menggemaskan. Ia merajuk, seperti biasanya. Karena perhatian sang ayah terus pada sang ibu. Anak perempuan berusia enam tahun itu mengebungkan pipinya. Kepala nya di toleh ke kanan dan ke kiri, menghindari sang ayah. Pria gagah itu berusaha membujuk putri sulungnya untuk mau berhenti merajuk.
"Putri cantik papa sayang. Jangan merajuk dong!" bujuk Leo dengan berjongkok di depan Lea sang putri. Karena lelah, di abaikan oleh Lea.
"Lea benci papa. Papa lebih cinta Mama dari pada Lea dan cinta adek bayi di banding Lea!" rajuknya. Sebelum bibir merah nya mengerucut.
Oh, ingin sekali Leo mengigit pipi gembul Lea. Entah kenapa anak nya ini sangat pecemburu pada sang istri. Apa lagi, Vera sekarang dalam keadaan hamil muda. Membuat wanita yang di perjuangkan mati-matian itu suka merajuk juga. Kalau Leo memperhatikan Lea, maka Vera lah yang akan merajuk.
Rasanya Leo semakin pusing saja karena ulah ke dua perempuan yang sangat berarti dalam ke hidupnya ini. Ngomong-ngomong soal Vera, sang istri memang sangat jauh berubah di saat hamil anak yang ke dua. Vera suka sekali merajuk saat keinginan nya tidak terwujud. Dan sangat mudah menangis kalau Leo meninggikan sedikit saja nada suaranya. Padahal saat hamil anak pertama mereka, Vera tidak pernah merajuk atau pun menangis.
"Papa sayang Lea sangat sayang dan cinta Lea." Bujuk Leo lagi tak lupa mengusap pelan pipi sang putri.
Lea melirik pintu masuk. Dimana sang ibu masuk dengan sang nenek. Ke duanya, baru pulang dari supermarket. Senyum jahil dari Lea terlihat.
"Papa lebih sayang Lea atau Mama?" tanya nya dengan suara sengaja di keraskan.
Vera berhenti mendadak bersama ibu mertua nya. Vera mengeleng pelan melihat sang putri dan sang suami. Padahal Lea sudah merajuk dari sebelum ia pergi. Sampai ia pulang masih saja merajuk. Benar-benar perajuk ulung, Putri cantik nya itu.
"Bukan begitu. Pertanyaan nya adalah Papa lebih sayang Lea atau Mama?" tukas Lea.
Leo menghembuskan napas kasar. Leo tidak menyangka Lea hampir mirip Sean. Bagaimana bisa Lea begitu keras kepala dan semaunya. Sebelum mendengar kan apa yang ia mau. Anak perempuan nya ini cenderung merajuk lama. Menyesal Leo memanas-manasi Sean saat kecil. Sekarang, Leo baru sadar. Jika karma tidak pernah salah alamat. Jika Sean mencari perhatian Dera. Maka Lea mencari perhatian nya.
"Papa tentu nya lebih sayang Lea," jawab Leo pada akhirnya.
Wanita tua itu mendesah letih. Sebelum melirik sang menantu yang berwajah masam. Leo yang memunggungi mereka berdua, hingga tidak tau. Jika ada hati ibu hamil yang sensitif.
"Benar ya. Papa lebih sayang Lea," tuntut Lea.
"Ya. Papa lebih sayang Lea!" jawab Leo dengan lembut.
"Hem!" dehem Vera dengan keras.
Glek!
Leo Yamato susah payah meneguk air liur nya. Mati dia, di bujuk Lea malah sang istri yang akan merajuk.
"Dengar kan Ma. Papa lebih sayang Lea!" ujar Lea dengan senyum miring khas milik nya.
Nomi terpaku sesaat. Seakan-akan pernah melihat adegan seperti ini sebelumnya. Meski dengan kondisi dan orang yang berbeda. Kerutan di wajah tuanya terlihat jelas, sebelum Nomi tersenyum. Ah, Nomi jadi kangen dengan cucu nakalnya.
Leo berdiri cepat. Pria ini kalang kabut kala Vera melangkah menuju kamar. Meninggalkan Lea dan sang ibu mertua. Leo melangkah mengejar Vera.
"Habislah, Papa!" seru Lea terkikik geli.
Nomi melangkah mendekati sang cucu. Mengusap pelan puncak kepala sang cucu cantik nya.
"Lea tidak boleh begitu. Kasihan Papa kena marah sama Mama!" Nasehat Nomi sembari mengusap pelan puncak kepala Lea.
"Habisnya, Mama suka sekali memanopoli Papa!" jawab Lea dengan lugunya. Persis sama seperti jawaban Sean.
Nomi terkekeh. Zeo yang tak sengaja menonton pertunjukan keluarga kecil sang putra ke dua hanya mengeleng pelan kepalanya. Sebelum membuka pintu kerjanya. Pria tua ini masih aktif di organisasi Mafia. Meski hanya bisa mengontrol dari jarak jauh.
.
.
.
Bersambung.....
Tiga kali update lagi ya kakak-kakak 😁