
Gema mengalun dan memantulkan nada gesekan tapak sepatu mahal pria remaja itu. Raut wajah panik yang tidak bisa di gambarkan. Betapa takut nya pria remaja satu ini. Hingga rasanya ke dua tangkai kaki nya terasa lemas. Namun dipaksakan untuk tetap berlari. Hingga sampai di ujung lorong gedung Utara.
Brak!
Atensi Nika dan seorang dokter cantik menatap ke arah pintu yang di buka paksa. Sean masuk ke dalam tanpa kata. Hingga menarik kursi yang sempat di duduki oleh Nika. Gadis itu tau pria ini pasti khawatir pada Adella. Hingga dengan cepat berdiri dari posisi duduknya, kala Sean mendekati salah satu ranjang UKS.
"Dok, aku pamit dulu!" Ujar Nika tidak lupa membungkuk sebelum keluar dari ruangan meninggalkan tiga orang di dalam ruangan kesehatan sekolah itu.
"Bagaimana dengan keadaan nya Dokter?" Tanya Sean sembari menautkan jari jemarinya. Mengisi ruang yang kosong di sela jemari Adella. Dapat pria ini rasakan tangan Adella sangat dingin.
"Seperti nya ia pingsan karena tekanan. Untuk kondisi tubuh nya tidak ada yang salah, hanya untuk mentalnya saja yang ada sedikit masalah," papar sang dokter.
Sean mengangkat wajahnya. Menatap tajam pada dokter cantik di seberang ranjang.
Glek!
Dokter cantik itu susah payah menelan air liur yang ada di kerongkongan nya. Pandangan mata anak remaja itu mampu membuat bulu kuduknya merinding. Bagaimana bisa, anak remaja ini memiliki pandangan mengintimidasi yang begitu pekat.
"Dia tidak gila dokter!" tukas Sean dengan nada yang menyeramkan.
"Si———siapa bilang dia gila. Orang yang mempunyai gangguan mental tidak selalu di kategori kan gila. Jangan salah paham dengan penjelasan saya. Saya hanya ingin menyarakan untuk membawanya ke psikolog, untuk mengobati trauma yang ia miliki. Hanya itu," jelas sang dokter tergagap.
Pandangan mata mengintimidasi Sean memudar. Dokter cantik itu bergerak cepat melangkah keluar dari ruangan UKS. Baginya lebih baik keluar dari pada harus di dalam sana. Tidak masalah di tegur karena tidak berada di ruangan kerjanya. Dari pada mendapatkan tatapan mengerikan dari seorang Sean Yamato. Kini ia tau apa perbedaan pemuda itu dengan anak lelaki lainnya.
Kembali ke dalam ruangan kesehatan. Sean mengusap pelan permukaan telapak tangan Adella. Tak lupa menghembuskan napas hangatnya. Berharap Adella akan merasa hangat.
"Ini ke dua kalinya kau membuat jantung ku, hampir berhenti berdetak Adella!" Ujarnya di sela kegiatan yang ia lakukan.
Meskipun Adella tidak mampu mendengar apa yang ia katakan. Sean bertahap gadis bermata bulat penuh itu bisa lekas sadar. Sebelah tangan Sean merogoh saku celana nya. Sebelum mencari nomor kontak bawahan sang ayah untuk membawa Adella ke Rumah Sakit besar. Pria remaja ini merasa khawatir dengan apa yang terjadi.
Ada baiknya, Adella di berikan penanganan serius. Seperti yang di katakan oleh dokter keluarga nya. Jika sekali lagi Adella pingsan, maka ia harus di bawa ke dokter spesialis kejiwaan. Hanya untuk tau apa yang di butuhkan oleh Adella.
***
Manik mata coklat kelam milih Hiro menatap berkas yang baru saja di serahkan oleh Yeko padanya. Hiro tampak serius membaca kata demi kata yang tertera di dalam berkas. Informasi yang di dapat kan oleh Yeko membuat ia merasa kan ada yang ganjil.
"Tidak ada foto masa kecilnya?" tanya Hiro tanpa mengangkat pandangan nya dari kertas di tangannya pada Yeko.
"Tidak ada Bos. Hanya ada data-data dan foto terbarunya saja. Dan informasi jika Adella mendapatkan kecelakaan tragis. Mengakibatkan ia mendapat luka bakar sekujur tubuh nya. Ia sempat koma satu tahun, melakukan operasi besar setelah ia di selamatkan nyawanya. Dan melakukan banyak pengobatan termasuk terapi kejiwaan," jelas Yeko.
Hiro mengangguk kecil pertanda mengerti. Ia meletakan berkas berisikan informasi Adella Putri di atas meja kerjanya. Sebelum menyandar kan punggung belakang nya di kursi singgasana nya.
"Lalu bagaimana dengan informasi Susi dan Adella teman kecil Vian?" tanya Hiro.
Yeko menghela napas pendek."Susi telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Adella menghilang tiba-tiba, tidak ada yang tau keberadaan nya. Ada yang bilang Adella mati dan ada yang bilang Adella pergi dari Indonesia. Setidaknya hanya berita itu yang aku dapat kan Bos!"
"Sembunyikan tentang kematian Adella jika pun gadis itu terbukti mati. Vian sangat menyukai nya, entah itu sebagai teman atau tidak. Aku tidak ingin Vian merasa sedih," titah Hiro.
"Baik, Bos!" balas Yeko dengan tegas.
"Keluarlah!"
Yeko membungkuk penuh hormat. Sebelum keluar dari ruangan kerja sang Bos. Hiro memutar ke belakang kursi yang ia duduki. Menatap gedung pencakar langit lainnya di seberang sana. Wajah dingin nya terlihat lebih. Ancaman tempo hari masih melekat di otaknya. Masih belum di ketahui siapa yang tengah mengancam keluarga nya. Dendam lama, itulah yang membuat kepala Hiro semakin pening.
"Apapun yang terjadi, aku berharap bisa melindungi keluarga ku!" monolognya dengan nada berat.
***
Krasak krusuk terdengar samar-samar di telinga Adella. Indra penciuman nya di desak oleh aroma obat-obatan. Hingga pangkal hidung nya mengerut menerima aroma yang tak sedap itu. Ke dua ujung kelopak matanya berkedut, hingga kelopak matanya terbuka perlahan.
Kabur.
Penglihatan nya terasa kabur. Beberapa kali Adella menggerjab perlahan. Menyesuaikan retina matanya menerima pencahayaan lampu. Rasa pening masih terasa di kepala nya. Ia menoleh ke arah sumber suara berisik yang di hasilkan oleh kantong keresek.
Dapat ia lihat punggung yang ia kenal tengah menyusun beberapa makan atau buah-buahan mungkin, di dalam lemari pendingin yang berada di sudut ruangan.
"Ma!" seru Adella.
Dera menghentikan kegiatan nya. Ia membalik kan tubuh nya. Dengan sebelah tangan mendorong pintu kulkas. Menutup pintu lemari pendingin sebelum melangkah cepat menuju ranjang Adella.
"Kau sudah sadar sayang!" Ujar Dera di sela langkah kaki yang ia ayunkan.
Adella mengulas senyum.
"Ya, Ma!"
"Mau minum?"
"Ya," jawab Adella serak.
Dera membantu membenahi posisi ranjang. Agar Adella tidak kesusahan untuk minum. Kepala ranjang sedikit naik ke atas. Membuat posisi terlentang Adella me menjadi duduk secara otomatis. Tanpa harus di bantu duduk.
"Ini! Minum perlahan!" Tutur Dera menyodorkan sedotan pada bibir pucat kering Adella.
Gadis cantik itu menerima nya dengan tersenyum. Menyesap perlahan-lahan air putih yang ada di dalam gelas. Hanya separoh saja, setidaknya gadis ini butuh membawahkan kerongkongan nya. Dera meletakan kembali gelas di atas meja. Kala Adella menjauhkan bibir nya dari sedotan. Ibu empat anak ini duduk di kursi tepat di samping ranjang pesakitan.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Dera khawatir.
"Terasa lebih baik, Ma!" balas Adella,"siapa yang membawa ku ke Rumah Sakit, Ma?" lanjut Adella melempar kan pertanyaan.
"Sean yang membawamu ke sini. Saat sampai di Rumah Sakit, dia menghubungi Mama agar Mama datang ke sini. Kalau merasakan perasaan tidak enak badan, Adella jangan diam saja. Adella bisa bilang sama Mama. Biar kita ke Rumah Sakit. Kalau sakit tapi diam-diam, terjadi sesuatu pada Adella akan banyak yang sedih loh," tegur Dera dengan lembut.
Rasanya sangat hangat. Adella sangat merindukan perasan di perhatikan seperti ini. Entah kapan terakhir ia merasakan perasaan seperti ini. Air matanya meleleh. Kontan saja Dera panik, wanita itu berdiri dari posisi duduknya mengusap pelan air mata yang mengalir di ke dua sudut mata Adella.
"Hei! Kenapa menangis sayang?" Tanya Dera panik di sela ibu jarinya mengusap pelan air mata Adella.
"Ter——terimakasih, Ma!" ujar Adella tercekat.
Dera mengelus pelan pelan pipi Adella.
"Sini Mama peluk!" Ucap Dera merentangkan ke dua tangan nya. Membawa masuk tubuh anak perempuan remaja ini. Mengusap pelan punggung belakang nya penuh kasih sayang.
Tanpa mereka sadari. Ada langkah kaki yang di ambil mundur oleh beberapa tubuh. Sean dan yang lainya baru saja masuk dengan nada pelan membuka pintu rawat inap. Mereka menutup nya dengan perlahan. Setelah berdiri di depan kamar rawat inap Adella.