The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 39 (Salahkan rasa ini?)



Tubuh di mandikan keringat, ke dua manik mata indahnya di tutupi dengan kain hitam. Adella mengandalkan indera dengarnya hanya untuk tau di mana lawan menyerangnya. Hiro berdiri angkuh, menatap latihan Adella. Bos Yakuza ini memilih melatih Adella. Tentu tanpa sepengetahuan Sean Yamato. Pria remaja itu tidak boleh tau jika Adella dilatih khusus untuk menjadi wanita tangguh.


Prang!


Prang!


Dua benda tajam beradu keras. Kala Clara memberikan serangan. Adella dengan cekatan menangkis serangan Clara. Kembali suara pedang panjang itu beradu.


Slas!


"Akh!" Adella menyentuh lengan kirinya yang terkena sabetan Katana tajam. Darah mengalir di lengan kirinya.


"Fokus Adella!" teriak Hiro kala melihat gadis remaja itu lengah.


Clara mengigit pelan bibir bawahnya. Ibu dua anak ini, merasa merinding. Sungguh! Ia tak sengaja melukai Adella. Ia pikir Adella akan menangkis serangannya. Clara berharap Sean Yamato tidak akan pernah mengetahui darah gadis yang ia cintai. Tumpah di tangannya.


Clara mundur beberapa langkah. Ia memberikan jeda. Adella mengeratkan pegangan tangannya pada pedangnya. Memasang kembali Indra dengarnya dengan setajam mungkin. Derap langkah ringan Clara mendekati nya terdengar jelas. Senyum menyeringai dari Adella tercetak jelas.


"Hyat!" Teriak Adella membalik kan tubuh nya. Dan mengayunkan pedang milik nya.


Prang!


Prang!


Prang!


Prang!


Ruangan latihan kembali gaduh. Hiro menatap gerak kan Adella dengan teliti. Menyerang, bertahan dan menangkis. Mulai terlihat, gerakan yang sesungguhnya. Ke dua daun telinga Adella bergerak kala kaki Clara berpindah. Benar-benar menakjubkan melihat pertarungan ke duanya. Jika ada yang menonton pertunjukan ke duanya. Tidak akan ada yang percaya jika ini ke dua kalinya Adella Putri menggenggam pedang untuk bertarung.


Melihat bagaimana Adella menyerang dan menangkis serangan Clara. Bahkan wanita cantik itu kewalahan. Tubuh Adella berputar dua kali sebelum mengajukan pedangnya tepat sasaaran.


Prang!!!!!


Bruk!


Pedang di tangan Clara terpelanting terbang melayang sebelum jatuh. Bersamaan dengan tubuh Clara yang terjengkang ke belakang.


Prok!


Prok!


Prok!


Tiga tepukan tangan bergemuruh. Kala mata pedang tajam katana menyentuh leher jenjang Clara. Tubuh Adella bergetar, hembusan napas-napasnya saling bersautan. Penutup mata miliknya di buka.


Adella membuang asal pedang nya. Mengulurkan tangan pada Clara. Wanita cantik itu tersenyum menerima uluran tangan Adella. Gadis bermata bulat ini bahkan lupa, jika tangan kirinya telah mengeluarkan rintik-rintik cairan merah di ujung jarinya.


"Hebat! Kau benar-benar seperti yang kami pikirkan," puji Clara.


"Terimakasih, Bunda Clara!" jawab Adella. Sebelum mengulas senyum.


Hiro melangkah mendekati ke duanya. Manik mata jam nya menatap Adella dengan pandangan puas. Sebelum beralih pada lengan baju latihan yang robek. Kala tersayat oleh pedang.


"Mengeluarkan darah, mampu melancarkan dan mempertajam indera dengar mu. Kau butuh di paksa untuk memberikan pertahanan diri, Adella!" ujar Hiro.


Adella meringis."Aku tidak tau Papa. Aku hanya mencoba mengikuti insting saja," jawaban nya.


Hiro mengangguk mengerti. Sebelum pria ini mendesah pelan. Sean akan sangat posesif jika tau gadis di depan nya ini terluka.


***


Gebrakan meja membuat beberapa tubuh terperejat. Wajah imut gadis Indonesia itu terlihat sangat tidak terima dengan apa yang terjadi. Adella mengusap pelan dadanya karena ulah Delta. Sean berdecak sebal, Willem menatap kesal Delta. Berbeda dengan Vian, pria satu ini memang sempat terkejut dengan apa yang di buat Delta secara tiba-tiba. Dengan cepat ia menguasai raut wajah terkejut nya. Ella hanya mengulas senyum konyol melihat ekspresi teman-teman sang Bos.


"Hei! Ada apa dengan mu, huh!" terik Willem kesal.


"Aku kesal sangat. Karena David belum pulang. Papa dan Mama ku selalu saja membahas pergaulan bebas padaku. Ini dan itu baik atau tidak nya. Gara-gara video itu, aku masih sangat kesal!" ujar Delta sebelum mengacak-acak Surai yang di warnai menjadi coklat gelap.


"Benar juga sih, karena David benar-benar membuat tanganku gatal!" kini giliran Sean yang angkat bicara.


"Sudahlah, lagipula dia besok akan kembali bukan?" tanya Vian dengan nada berat sedikit serak milik nya.


"Kalau begitu tinggal laksana saja pembalasan dendam kita," ujar Delta dengan senyum iblisnya.


"Tapikan itu ide Sean. Aku sendiri tidak tau otak gila apa yang akan di lakukan oleh Sean," kata Willem. Sebelum merubah arahan pandang nya pada Sean. Di ikuti oleh teman-temannya.


"Tenang saja. Tidak seru jika kalian tau rencana ku." Ucap Sean dengan kedipan mata mautnya.


Kontan saja ke dua pria yang duduk di bangku memasang wajah mau muntah. Adella hanya mengeleng pelan. Delta memasang wajah tak peduli. Ia lebih suka melihat ekspresi Vian yang berubah.


"Tapi, kau tidak akan membuat David meregang nyawa kan, Sean?" tanya Adella penasaran.


"Inginnya begitu. Tapi, sayang sama wajah jeleknya. Setidaknya, David akan menerima pelajaran setimpal," jawab Sean dengan nada lembut.


"Cih! Sama Adella saja, suaranya lembut!" goda Willem.


"Cemburu?" balas Sean dengan wajah pongah miliknya.


"Gak, ya! Ngapain cemburu pada hal begituan," tukas Willem.


"Ya jelas lah, kan sekarang Willem sudah ada gandengan!" goda Delta dengan senyum miring.


"Apaan, sih!" kesal Willem.


"Bilang saja kau malu sama Ella kan?" goda Delta lagi.


Willem mendengus. Ella hanya diam, manik mata indahnya mencuri pandang pada Sean. Benar-benar sempurna, satu kata yang tidak bisa lepas dari otak Ella. Sean Yamato, pria satu ini benar-benar seperti Medan magnet. Dari awal jumpa, Sean sudah memberikan getaran aneh pada dirinya.


Anggap saja Ella tidak tau diri. Mengingat status nya hanya sebagai peliharaan Willem. Malah menaruh hati pada Sean Yamato. Pria yang beberapa tahun lagi akan menjadi Bos Mafia Yakuza. Salahkan saja hatinya. Yang terperosok pada pesona Sean.


"Kau mengemaskan Adella," ujar Sean menggoda Adella.


Gemuruh kesal terdengar. Adella merona. Jari telunjuk Sean tak segan-segan mencolek pipi Adella. Mendapatkan tepisan dari Delta yang iri. Ayolah, kaum jomblo tidak boleh melihat hal-hal yang manis dari orang lain. Itu sangat menyakitkan mata.


"Aku terlalu berharap padanya," keluh hati kecil Ella.


***


Dera memejamkan kedua matanya kala merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Hembusan angin malam membelai tirai balkon terlihat jelas. Kelopak mata Dera kembali terbuka kala derit pintu mengalihkan atensinya pada pria yang baru selesai membersihkan diri. Pria dengan balutan handuk kimono hitam yang kontras dengan warna kulit putihnya terlihat begitu gagah.


Hiro melangkah menuju lemari pakaian di sudut kamar. Sesekali menyugar hujan kecil dari rambut nya yang basah. Dera bangkit dari posisi tidur nya. Melangkah mendekati sang suami.


"Ayo duduk di sini dulu, Kak. Rambut nya harus di keringkan dahulu!" Perintah Dera kala ia meraih hairdryer di lemari meja rias.


Hiro meriah beberapa potong pakaian tidurnya sebelum melangkah mendekati meja rias. Duduk di kursi. Dera dengan perlahan mengusap perlahan rambut Hiro. Dengan hawa panas yang keluar dari mulut hairdryer yang ada di tangan kirinya.


"Mau berlibur di Bali bulan nanti?" tanya Hiro menatap wajah sang istri melalui pantulan cermin.


"Bulan besok." Dera memberikan jeda. Ia berpikir tentang kegiatan bulan besok."Anak-anak kita belum libur kak. Mereka akan libur di bulan besoknya lagi. Setelah ujian semester." Lanjut nya.


Hiro menghentikan kegiatan Dera mengusap rambut nya. Dera menunduk. Menatap wajah tampan sang suami.


"Itu yang aku cari. Ayolah, kita kenapa kalau mau keluar harus mengajak anak-anak. Sesekali jalan berdua saja. Selama ini kita belum bisa keluar negeri hanya berdua. Seperti orang yang masih pacaran," kata Hiro.


"Kita udah tua, kak!" Kekeh Dera.


Hiro mengulas senyum. Menarik pinggang Dera. Memeluk nya erat. Dengan wajah menyentuh perut Dera. Kepalanya kembali menengadah.


"Kita nikmati waktu tua bersama. Lagian kita belum tua-tua amat. Kita bikin anak lagi," ujarnya membuat Dera terkekeh renyah.


Brak!


Sontak ke duanya menoleh ke arah pintu masuk. Dimana si nakal Laura berdiri dengan wajah kesal. Boneka beruang milik nya di peluk erat.


"Papa tidak boleh bawa Mama kemana-mana, enak saja mau berduaan sama Mama, aku dan Kakak-kakak lain nya tidak di ajak!" kesal Laura.


Glek!


Hiro tertangkap basah ingin berduaan dengan Dera. Wanita ini malah tertawa keras. Menggoda Sean adalah menyenangkan bagi Hiro. Ia lupa, masih punya setan betina kecil penganti Sean.