The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 42 (Racun baru)



Aroma obat-obatan tercium jelas meyeruk masuk ke dalam paru-paru. Cairan infus seperti rintik hujan, memasuki selang infus. Wajah tampan itu terlihat sangat gelisah menatap keadaan sang ayah kembali tumbang. Pria Uchiha ini selalu saja mengalami sakit berkepanjangan setelah kehilangan sebelah kakinya. Mata tajam bak elang menerkam mangsa itu terlihat begitu sendu. Telapak tangan nya tak henti-hentinya menggenggam tangan sang ayah.


"Papa," panggil nya lirih.


Pria tua itu masih tak sadarkan diri.


"Rasanya sakit melihat keadaanmu seperti ini," lirihnya kembali.


Masih sama. Tidak ada jawaban dari bibir pucat Ken. Kris mengusap pelan punggung tangan kasar sang ayah. Pria tua ini telah lama menderita. Karena menyelamatkan nyawa, kala peristiwa berdarah itu. Ken rela hampir di potong ke dua kakinya. Meski Ken bilang Hiro bermurah hati hanya memotong satu kaki saja. Sayang nya, bagi Kris tidak begitu.


"Mereka berbahagia dengan keluarga dan hartanya. Dan kita harus seperti ini," keluhnya.


SRAK!


Pintu ruangan salah satu rawat inap di Rumah Sakit itu terbuka. Sebelum di tutup kembali, pria itu membungkuk di belakang tubuh Kris.


"Bos!" serunya pelan.


"Bagaimana?" tanya Kris tanpa mengalihkan tubuh nya menghadap bawahan nya.


"Masih sangat sulit menembus pertahanan Yakuza Bos. Ella juga tidak bisa apa-apa selain menjadi mata-mata saja. Sean dan Vian terlalu awas dengan orang baru. Ella tidak bisa masuk ke dalam ke rumah besar Yakuza," jelasnya.


Kris mendesah pelan."Bagaimana dengan Devil?" tanya Kris.


"Mafia Devil hanya bergerak seperti biasanya Bos. Tidak ada hal yang menarik di sana. Ella berkata jika di sana pertahanan nya tidak sekuat Yakuza. Tuan muda mereka, bahkan masih jauh di bawah ke dua tuan muda Yamato!"


"Cih!" Kris berdecak kesal,"Pantau terus perkembangan nya. Seperti nya memang aku sendiri yang harus turun tangan," lanjut Kris dengan nada kesal.


Sang bawahan hanya menunduk dalam.


"Maaf, Bos!" sesalnya.


"Sudahlah. Saat ini yang kita butuhkan adalah mencari banyak sekutu. Pantau saja Yakuza dari jauh. Jangan bertindak dahulu, beri jeda. Jika kita tidak ingin, gerakan di baca oleh Yakuza. Biarkan kembali permukaan air tenang," titah Kris.


"Baik, Bos!"


"Pergilah!" titah Kris dengan nada berat.


Pria itu membungkuk hormat. Sebelum keluar dari ruangan kamar rawat inap sang Bos besar. Joker memang tak sehebat Yakuza. Mengingat Yakuza adalah kelompok terbesar di Asia Tenggara. Bahkan sekutu Yakuza sekali pun dapat hancur jika Yakuza menginginkan nya untuk hancur. Benar-benar harus di acungi jempol untuk kelopak Yakuza.


Bukankah roda itu berputar? Ada saatnya di atas dan ada saatnya di bawah. Kris Uchiha berharap melihat Yakuza berada di bawah. Untuk bisa ia injak, seperti Yakuza menginjak Joker.


"Pasti ada saatnya itu terjadi," gumam Kris dengan nada bas nya.


***


Wajah masam dari si kembar membuat Dera tersenyum geli. Katanya mereka ingin belajar memasak juga bersama Sean, tapi lihat lah. Bagaimana pusingnya mereka menghapal bumbu dapur. Sean juga terlihat masih pusing, kala sang ibu mengenalkan bumbu-bumbu dapur padanya.


"Kenapa garam dan gula terlihat sama saja Ma?" ujar Sean. Menatap gula dan garam halus berganti-gantian.


"Benar, warna nya sama-sama putih. Tekstur nya sama-sama kasar meskipun lebih kasar gula." Kini suara Laura terdengar dengan tangan mencolek gula dan garam bergantian.


Dera kembali tertawa renyah. Launa, anak perempuan cantik itu malah cencatat dengan wajah masam. Apapun yang Mamanya katakan ia catat dengan cekatan.


"Gula dan garam jelas terlihat berbeda sayang. Gula butirannya terlihat jelas bulat dan kurang sedikit putih dari garam. Ada juga gula yang terlihat lebih kuning loh," ujar Dera pada akhirnya.


"Bukan gula saja loh Ma. Santan sama susu itu kalau di satukan bikin susah membedakan," ujar Sean.


Dera melangkah menuju gelas berisi susu dan santan.


"Lihat lah, kalau di susu tidak ada permukaan yang terlihat berminyak Sean." Jelas Dera menunjuk permukaan ke duanya.


Dera merasa mumet sudah. Kalau sudah begini, anak-anak benar-benar harus lebih keras lagi berusaha.


"Benarkan, Papa sudah bilang. Bumbu-bumbu Indonesia itu semua susah-susah. Terlalu banyak dan terlihat sama, beda dengan Jepang. Tidak banyak bumbu," seru Hiro di ambang pintu masuk.


Pria itu masuk dengan gagahnya. Sebelum mengecup dahi Dera. Meski mendapat pelototan dan raungan kesal dari anak-anak mereka. Hiro Yamato tidak peduli, toh Dera istri sahnya. Mau peluk ataupun cium ya, suka-suka nya.


"Ah....aku mau nikah dengan Adella secepatnya!" keluh Sean mendapatkan tawa keras dari suami-istri itu.


"Emang mau kasih makan apa?" goda Hiro.


"Ya, makan nasi lah. Masa mau makan orang!" jawab Sean seadanya.


"Uang nya dari mana?" tanya Hiro dengan wajah meremehkan.


"Dari Papa lah," jawabnya enteng.


Kontan saja Hiro dan Dera kembali tergelak.


"Iyakan, cepat atau lambat kan bakal menjadi penganti Papa," tukas Sean.


"Tidak semudah itu, Son!" bantah Hiro,"begini saja, kau cobalah kerja paruh waktu di luar sana. Sabtu-Minggu kerja. Menikahi anak orang harus bisa tanggung jawab. Kalau uang dari Mama sama Papa, mah sama saja itu Papa dan Mama yang menikah," papar Hiro.


"Siapa takut," balas Sean.


"Oke, sana besok cari kerja. Kamu harus bisa cari uang sendiri. Biar tau, sakit cari uang bagaimana. Sebelum ngomong nikah. Kalau soal nikah mah gampang. Menghidupkan anak orang yang susah, ya kan sayang?" tanya Hiro.


"Tentu saja. Mama setuju kalau Sean harus coba cari uang di luar. Agar tau, susah senang nya cari uang. Kalau udah bisa, nanti Mama dan Papa bantu nikahin Sean sama Adella," timpal Dera.


Launa dan Laura hanya menjadi pendengar yang baik. Mereka tidak terlalu ambil pusing dengan pembicaraan ke dua orang tua dan kakak lelaki nya.


***


Cras!


Cairan hijau bening itu di satukan dengan racun baru yang ia peroleh. Gio ikut membantu Vian meneliti racun baru yang mereka kembangkan.


"Apakah kita bisa merubahnya menjadi racun yang tidak terseksi?" tanya Gio kala melihat Vian memasukan nya pada tabung baru.


"Kita harus mengetesnya lagi. Reaksi racunnya akan lebih jauh dari pada racun pada umumnya. Dengan minim gejala, agar tidak satupun tau jika orang yang meminum nya terkena racun." Ujar Vian menggoyangkan perlahan tabung di tangannya.


"Tapi ini masih terjauh Vian," ujar Gio,"warna nya saja masih belum berubah bening. Kita harus melakukan banyak percobaan dan pencampuran zat agar bisa merubah warnanya," lanjut Gio.


Kepala Vian mengangguk pelan. Masih banyak percobaan yang harus ia lakukan. Vian Yamato, cukup tergila-gila dengan racun yang ia temukan. Entah kenapa rasanya menyenangkan jika bisa mengembangkan racun baru.


"Kita harus mencoba nya pada Mirabel," ujar Vian dengan senyum miring.


"Dia akan langsung mati Vian, karena racun ini belum ada penawarnya," balas Gio.


Vian mengerutkan pangkal hidung nya. Benar juga, anak remaja satu ini lupa. Jika mainannya mati, permainan tidak akan asik lagi.


"Haruskah kita coba pada si tua jumbo dan Jery?" monolog nya.


"Kau mau melihat Sean mencak-mencak karena si tua-tua keladi itu mati," peringat Gio.


Kontan saja Vian tertawa. Adiknya itu pasti akan mengila kalau Buaya tua itu mati.


"Ah, merepotkan!" keluh Vian sebelum terkekeh renyah.