
Ruangan tertutup itu terdengar gaduh. Kayu berbentuk pedang kecil berbenturan. Rambut panjang hitam legam milik ke duanya di ikat tinggi ke atas. Peluh menghias ke dua sisi wajah cantik si kembar. Hiro melipat tangan di depan dada. Pandangan matanya menatap tajam pergerakan sang putri. Adella tidak tau, kenapa Hiro Yamato mengajak nya melihat pertandingan si kembar. Bahkan seorang Dera, ibu sekaligus istri tercinta Bos Mafia satu ini tidak tau menahu. Jika kedua putrinya di latih diam-diam oleh suaminya.
"Lihat pergerakan ke duanya Adella. Tolong katakan setelah ini di mana letak kekuatan dan kekurangan ke duanya!" seru Hiro tanpa mengalihkan pandangan matanya dari pertarungan ke dua putri nya.
Adella mengangguk pelan. Ia menatap setiap pergerakan, baik menyerang, menangkis hingga bertahan dari Launa dan Laura di depan sana.
Brak!
Brak!
Benturan kayu semakin nyaring. Hembusan napas ke duanya tidak teratur. Launa tampak kelelahan dengan serangan membabi buta dari Laura padanya. Hingga....bunyi pedang kayu terjatuh dan terbentur dengan lantai.
Ujung pedang kayu Laura bertengger di leher Launa. Tepuk tangan Hiro dan Adella menggalun. Laura menarik pedang kayunya. Dan membungkuk pada Lunan. Begitu pula dengan Lauan ikut membungkuk pada Laura.
"Bagaimana Papa?" Tanya Laura setengah berlari ke arah Hiro dan Adella.
Launa hanya berjalan santai. Tenaganya di kuras cukup banyak.
"Menurut mu bagaimana Adella?" Hiro membalikkan pertanyaan pada Adella di samping nya.
"Meski Launa kalah dalam pertandingan hari ini. Dapat di lihat dengan jelas, Launa memiliki ketenangan dalam baik dalam menghindar maupun bertahan. Launa memiliki peluang menang jika ia meningkatkan keseriusan dan juga teknik menyerang nya. Laura hebat dalam teknik menyerang, akan tetap terlalu berburu napsu untuk menuntaskan pertandingan. Jika saja lawan nya lebih tangguh dari Launa. Sudah pasti, kekalahan akan ada di tangan Laura," jelas Adella setelah mengamati ke duanya.
Hiro tertawa keras mendengar penuturan Adella. Meski jauh dalam hati, Hiro Yamato waspada dengan Adella. Gadis di sampingnya ini masih belum jelas asal usulnya. Jika ia menjadi lawan bagi Yakuza, maka ia pasti akan menjadi seorang pemimpin seperti Mirabel. Tapi, jika ia menjadi seorang sekutu bagi Yakuza. Maka sudah pasti, ia sangat cocok berada di samping Sean untuk membantu Sean lebih berkembang lagi kedepannya. Hiro memiliki tuntutan untuk memperjelas posisi Adella. Sebelum memutuskan menarik Adella di sisi Yakuza. Atau melenyapkan Adella dari dunia. Karena kehebatan tidak selalu memberikan keuntungan bagi diri. Begitu lah kondisi Adella. Meskipun memiliki keterbatasan karena trauma. Bakat alami seorang Adella Putri tidak bisa di tidur bersama memori yang terkunci.
Si kembar hanya menatap Hiro dengan pandangan berbeda-beda. Sedangkan, Adella. Gadis ini merasa risau seketika. Karena tawa Hiro bukan tawa kebahagiaan yang biasa. Seakan-akan ada ancaman yang ikut serta.
****
Di meja makan rumah besar Keluarga Zhao. Sari beberapa kali melirik Ella, gadis seusia dengan Willem. Gadis itu sangat cantik, seperti manusia Barbie. Carlos telah berbicara pada Sari, dan perempuan ini menyetujui rencana Carlos. Karena ini demi Willem Zhao kedepannya.
"Kakak Ella sangat cantik sekali," puji Mika dengan nada mengemaskan.
Ella hanya mengulas senyum. Membuat gadis remaja itu semakin mempesona. Willem hanya diam, pemuda ini memilih makan dengan tenang.
"Terimakasih pujiannya. Nona Mika juga sangat cantik," balas Ella memuji nona muda keluarga Zhao itu.
Carlos diam-diam melirik ekspresi sang putra. Datar, sangat datar. Seolah-olah tidak tertarik dengan keberadaan Ella di samping nya. Meskipun Carlos telah membicarakan perihal Ella pada Willem.
"Ella akan bersekolah di tempatmu, Will. Tolong bantu Ella beradaptasi di sana. Dan ingat, dia adalah tangan kananmu!" jelas Carlos.
Willem menghentikan pergerakan tangannya yang menyumpit lauk pauk ke atas mangkuk nya. Wajah tampan itu di angkat, menatap wajah sang ayah. Dapat Carlos lihat wajah kesal sang putra.
"Ya, Pa!" jawab Willem pada akhirnya.
Ella melirik wajah Bos masa depannya. Willem Zhao, sangat tampan. Bahkan tidak mampu di gambarkan dengan kata-kata.
Ting!
Bunyi ponsel di atas meja membuat Willem berhenti mengarahkan sumpit berisi makanan ke dalam mulutnya. Ia meletakan makan kembali ke mangkok. Lalu meraih ponsel miliknya. Satu video di kirimkan oleh David ke dalam group chatting Line mereka.
Jari jemari panjang Willem bergerak menekan tombol play. Di bawah Video bertulis kan, kata 'Berikan penilaimu pada Video di bawah ini' itulah yang di baca Willem sebelum menekan tombol play.
Dahi Willem berkerut kala gambar Video kosong dan gelap. Hingga detik ke tiga suara yang keluar membuat Willem membeku. Bukan hanya Willem Carlos tersedak makanan yang ia makan. Sari menutup ke dua daun telinga Mika.
Ah...ah...ah.. come on baby...ah...
Brak!!!!!!
Ponsel mahal itu di banting hingga hancur oleh Willem. Wajahnya memerah. Sungguh memalukan. Sari syok dengan apa yang terjadi. Hal yang sama terjadi pada rumah Yakuza. Seluruh orang di meja makan mematung dengan bunyi desahan orang tengah memadu kasih. Sean memucat, tangannya bergetar menekan tombol stop.
Glek!
Sean menelan cepat air liur yang tersangkut di kerongkongan. Bayangkan ada banyak reaksi yang di dapat kan oleh orang-orang yang duduk di meja makan. Meja makan rumah Yamato bukan hanya ada keluarga Yamato saja. Di sana ada keluarga Yeko dan juga Adella. Gadis yang di cintai oleh Sean Yamato. Bayangkan bagaimana memalukan Sean Yamato dengan apa yang baru saja terjadi.
Vian di depan kursinya ikut mendesah kasar. Banyakan dua bunyi desahan saling bersautan di ponsel ke dua tuan muda Yamato. Dan di dengar oleh banyak orang. Bukan hanya orang tua, tapi juga ada anak di bawah umur.
"David!!!!!!!!!!!!"
Teriakan keras mengelegar di ke dua rumah besar Yakuza dan Devil. Ketiga pria remaja itu akan memberikan David Miyaki pelajaran. Si bule mesum.
***
"Ada berapa informasi baru yang kau dapatkan?" tanya Kris kala membalikkan kursi ke kekuasaannya pada sang anak buah.
"Kami mendapat informasi tentang bisnis baru yang di geluti oleh Yakuza, Bos!"
Kris mengangguk pelan. Senyum menyeringai terbentuk.
"Lalu formulir kepindahku ke sekolah Sean dan Vian, bagaimana?" tanya Kris lagi.
"Saya sudah menyiapkan semua berkasnya bos. Besok Bos hanya tinggal duduk di kelas yang sama dengan Vian dan Sean. Meski anak baru di sana," jawabnya.
"Siapkan beberapa rencana cadangan kedepannya. Kita baru memulai semuanya, semoga semua nya berjalan lancar!" ujar Kris dengan senyum miring.
"Baik, Bos!" ujar sang pria. Sebelum membungkuk perlahan Dan keluar dari ruangan Kris.