The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 9 (Bergabung)



Kotak bekal di buka, gadis berpipi Chubby ini terlihat menundukkan pandangan nya. Delta menatap gadis di samping Sean dengan pandangan tak terbaca. Setelah kelas Seni melukis selesai, Adella di tarik oleh Sean untuk naik bersamanya ke atap. Pria ini takut jika terjadi sesuatu pada Adella. Karena ia kelepasan menggoda Adella di depan teman-temannya yang lain.


"Sudah berapa lama sekolah di sini, kenapa aku tidak pernah melihat mu?" tanya Delta menatap lekat Adella.


"Baru mau masuk satu Minggu," jawab Adella seadaanya.


Sean menyodorkan kotak nasi dengan beberapa lauk pauk ke depan Adella. Masih di tatap oleh Delta, gadis itu melipat ke dua tangan nya di dada.


"Hei! Makan saja lagi. Jangan terlalu banyak tanya nanti makanan nya dingin!" Seru Sean meletakan sumpit di depan mangkok Delta.


"Aku hanya penasaran. Karena dia anak baru," ujar Delta dengan nada kesal,"Apa salahnya bertanya!" Cibir Delta menurunkan tangan yang di lipat ke dada.


Adella hanya mengulas senyum.


"Tidak masalah. Tanyakan apa yang ingin anda tanya akan nona," balas Adella.


"Jangan formal begitu. Kau orang Indonesia kan?"


"Ya."


"Kalau begitu panggil saja aku dengan nama akrab, Delta. Itu namaku. Oh, iya aku belum tau namamu. Siapa namamu?" tanya Delta penuh semangat.


Sean berdecak mendengar kecerewetan Delta.


"Ah, nama ku Adella Putri. Delta bisa memanggil ku dengan Adella," jawab Adella lembut.


Delta tercekat. Kepalanya dimiringkan, nama yang baru saja di sebutkan sangat tidak asing. Seakan ia pernah mendengar nya. Tapi kapan dan di mana?


"Sudah-sudah. Ayo makan, kelas Seni akan kembali masuk bukan tiga puluh menit lagi?" ujar Sean.


"Ya." Adella mengangguk cepat.


Ke tiganya memulai makan. Sesekali Sean meletakan lauk pauk di atas mangkuk Adella. Membuat gadis remaja berpipi chubby itu terlihat Canggung.


Apa lagi tatapan Delta di depannya terlihat aneh.


"Makan yang banyak. Masakan Mama ku semuanya enak-enak. Jika mau lagi, kau bisa katakan pada ku. Mama akan memasakkan makanan untuk mu!" Kayanya bersemangat mempromosikan masakan sang ibu.


Adella memaksakan senyum. Delta mengeleng pelan melihat keanehan dari Sean. Sahabat nya ini adalah pria yang irit bicara. Meskipun tidak seirit Vian, tetap saja Delta merasa aneh. Sean Yamato biasanya, akan begini jika bersama dengan Dera. Ibu dari si kembar.


"Makan makananmu Delta. Jangan menatap nya seperti itu, ia tak nyaman!" tegur Sean.


Delta tersentak. Berdecak sebal dengan tuduhan Sean.


"Hei, bung! Kau salah. Di sini yang membuat ia tak nyaman adalah perlakuan mu itu. Bukan tatapan ku!" balas Delta dengan nada kesal.


"Mana ada!" bantah Sean.


"Kau tak lihat di atas mangkuk nya. Banyak lauk pauk. Itukan ulahmu!" papar Delta yang tak suka dengan tuduhan Sean.


Sean menunduk, senyum malu terlihat. Benar saja, di atas mangkuk Adella sudah di penuhi oleh lauk pauk yang begitu banyak.


Adella tersenyum tipis melihat ke duanya. Kini mulai adu mulut lagi. Persahabatan ataukah rasa saling suka? Yang mana yang benar dari hubungan ke duanya ini. Adella tak tau pasti apa hubungan ke duanya yang sebenarnya.


***


Hembusan angin menggoda anak rambut Sean, untuk menari-nari. Senyuman terus terlihat. Kala menatap lukisan yang ia buat. Anak lelaki remaja ini duduk di ayunan khusus orang dewasa. Sembari menikmati aroma bunga mawar. Yang ikut di terbangkan oleh angin.


"Susu hangat nya!" Seruan di depan tubuh nya membuat lamunan tersentak.


Dera tersenyum lebar, sembari meletakan dua gelas susu hangat dan cemilan di meja. Bersamaan dengan nampan yang ia gunakan untuk membawa dua gelas susu dan cemilan. Dera melangkah mendekati sang putra duduk di samping Sean.


"Apa itu?" tanya Dera melirik buku gambar besar yang berada di tangan Sean.


Spontan Sean menutup buku gambar. Meletakan nya di samping tubuh nya. Dengan muka tersenyum lucu. Dera hanya memasang wajah kalem. Ibu empat anak ini menyadarkan punggung belakang nya di sandaran ayunan besar yang tengah ia dan sang putra duduki.


"Ii——ini, bukan apa-apa, Ma!" jawab Sean tergagap.


Ingat.


"Bagaimana hari ini di sekolah?"


"Seperti biasanya."


"Yakin?"


"Eh?" Sean tercekat,"Maksud Mama?" lanjut nya malah melempar kan kata tanya balik.


Dera menepuk pelan pundak keras Sean. Putranya terlihat sangat gagah, terlihat lucu jika sedang merasa terjepit.


"Aku siapa?"


"Mama!" Jawab Sean dengan dahi berlipat. Merasa aneh dengan pertanyaan sang Ibu.


"Mamanya siapa?" Dera kembali melempar kan pertanyaan yang sudah sangat jelas jawaban nya.


"Mamaku," jawab Sean pelan.


"Nah, itu tau. Mama mengandung kamu dan Vian selama sembilan bulan. Merawat mu sampai sekarang. Semua gerak-gerik mu, Mama jauh lebih paham. Apa yang kamu rasakan, bagaimana keadaan mu. Mama jauh lebih tau. Bagaimana bisa Sean menyembunyikan hal yang terlihat jelas dari Mama, Hem?" kata Dera pelan.


Sean diam. Anak berusia sembilan belas tahun ini menipiskan bibirnya. Jujur saja ini adalah hal yang memalukan baginya. Membicarakan tentang perihal hati. Berbicara pada sang Ibu? Sean tidak yakin.


"Kenapa meragu?" seru Dera yang dapat membaca ekspresi sang putra.


Sean mengigit pelan bibir bawahnya.


"Karena ini memalukan," jawab Sean jujur.


"Apakah jatuh cinta adalah hal yang memalukan?" tanya Dera,"Sayang! Jatuh cinta itu wajar. Apa lagi kau sudah remaja dan beranjak dewasa. Tidak ada tempat terbaik curhat tentang ini dari pada Mama," lanjut Dera.


Sean memberanikan diri menatap sang Ibunda. Benar. Meski perasaan asmara terasa begitu memalukan untuk di cerita kan pada Ibu. Tapi, tak banyak yang tau. Ibu adalah tempat curhat yang paling tepat di sekian banyak tempat.


Seorang Ibu akan memberikan nasehat dan jalan terbaik untuk anak-anak mereka. Tidak akan membocorkan apa yang anak-anak mereka katakan. Yang penting di sini, ibu bisa mengatakan hal buruk dan baik tanpa perlu di tutupi. Mungkin, banyak Ibu-ibu di dunia ini akan menolak putra-putri mereka. Kala ini mengeluarkan isi hati mereka. Hingga banyak yang lebih nyaman berbicara pada teman sebaya atau orang lain yang di atas mereka. Karena orang tua mereka akan melarang atau mengolok-olok perasaan mereka. Hingga anak-anak mereka jera.


Bagi Dera, lebih baik menjadi tempat curhat anak-anak nya. Dan tidak mengolok-olok perasaan anak-anak nya. Wanita ini hanya ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga nya. Agar anak-anak nya tak salah jalan.


"Sini!" Ujar Dera menepuk pelan pahanya.


Sean tersenyum lebar. Sudah lama ia tidak tidur di pangkuan sang Ibu. Entah kapan terakhir ia bisa bermanja-manja dengan sang Ibu. Karena kehadiran Vian bahkan si kembar cantik itu. Waktu bermanja-manja Sean jadi sedikit. Bahkan menghilang.


"Ayo, Mama mau dengar isi hati putra Mama yang ganteng ini!" Ujar Dera mengusap pelan rambut hitam legam Sean.


"Mulai dari mana ya," seru Sean tak tau mulai dari mana.


"Hem!" Dera berpikir keras,"Mama saja yang bertanya kalau Sean bingung, mau mulai dari mana," lanjut Dera.


Sean mengulas senyum.


"Siapa namanya?"


"Adella Putri," jawab Sean cepat.


"Ah?"


"Namanya sama seperti teman kecil Abang Vian."


"Ah,.. pantas Mama merasa familiar dengan namanya."


"Dia juga berasal dari Indonesia. Wajahnya berbeda, awalnya aku pikir dia adalah teman masa kecil Abang. Tapi dia tidak tau siapa Abang dan aku. Ia di besarkan oleh Ayahnya. Karena Mamanya sudah meninggal. Dia anak tunggal katanya. Dia membuat Sean menjadi aneh," curhat Sean membuat Dera tersenyum.


"Aneh kenapa?"


"Jantung Sean berdebar keras. Saat malam, Sean tidak henti-hentinya membayangkan cara ia tersenyum. Bagaimana suaranya dan cara yang memandang. Sean merasa ingin selalu di sisinya," lanjut nya.


Dera mengerti. Perasaan jatuh cinta. Telapak tangan Dera tak henti nya mengusap pelan rambut sang putra. Sesekali menimpali curhat sang putra. Ke duanya tertawa pelan. Tanpa sadar membuat dua gelas susu hangat di atas meja telah dingin.