
Hap!
Pergelangan tangan Adella di tangkap. Membuat laju langkah gadis itu berhenti. Tubuh nya di tarik menjauh dari area ramai sekolah.
"Vian!" seru Adella dengan nada tak percaya.
"Hai!" sapa Vian terdengar aneh di pendengaran Adella.
"Oh, eh?" Adella linglung,"ah! Hai juga," lanjut nya kikuk. Sebelum membawa pandangan matanya pada pergelangan tangannya.
Vian ikut menoleh. Sontak saja ia terperanjat, perlahan Vian melepas tangan Adella.
"Kenapa kau terlihat aneh hari ini?" tanya Adella dengan raut wajah tak mengerti.
Wajah yang biasanya datar dan dingin tampak berbeda. Pria remaja itu menggaruk pelan leher belakang nya.
"Entahlah," jawabannya pelan.
Kening Adella berlipat dalam."Apa kau butuh sesuatu?" tanya Adella.
Kepala Vian mengeleng pelan. Pria ini pun tidak mengerti, kenapa dengan dirinya. Rasanya berbeda, dari waktu ke waktu.
"Lalu?" desak Adella.
"Hanya.....ingin," jawabnya asal,"aku hanya ingin berbincang dengan adik iparku. Hanya itu," lanjut nya.
Kepala Adella mengangguk kecil pertanda mengerti. Ia mengulas senyum, sangat manis dan menenangkan. Hati Vian menghangatkan, ingin rasanya Vian mengusap pipi Chubby Adella. Atau sekedar membawa tubuh gadis berambut sebahu ini masuk ke dalam pelukannya. Sayangnya, ada batasan yang terbentuk untuk itu.
Vian tidak ingin membuat kesalahpahaman terjadi. Baik pada gadis ini maupun pada adiknya. Sean mencintai gadis ini, dan ia——ah. Vian bukan pria yang mampu mengobarkan sebuah rasa.
"Aku pikir ada apa," ujar Adella sebelum mengembangkan senyum lebar.
Gadis ini senang bisa berbincang begini dengan sahabat kecil nya. Bisa di bilang, ia merasa kembali hidup. Vian sangat berarti baginya, namun dengan kadar berbeda. Bagi Adella, tuan muda Yamato di depannya ini sudah seperti kakak dan saudara. Memberikan perlindungan dan kenyamanan. Namun, adik lelaki ini adalah tempat ternyaman dan tempat yang menjadi persinggahan terakhir.
"Kalau ada Sean, dia akan sangat cemburu. Karena itu agak sulit berbicara dengan mu," ujar Vian,"bagaimana kabarmu?" lanjut nya.
"Kabar?" Kembali dahi Adella berlipat.
"Ah, maksud ku. Apakah kau sudah sehat. Karena saat pulang dari Paris. Mama bilang kesehatan mu agak menurun," bohong Vian.
"Aku sudah lebih baik," jawab Adella lembut.
Keduanya berbincang-bincang kecil. Seputar sekolah dan hubungan Adella bersama putra ke dua Yamato. Setiap membicarakan Sean, pipi Adella merona.
Tak jauh dari tempat Vian dan Adella berbincang-bincang. Ada mata lain yang menatap dengan pandangan terluka.
"Bukankah yang aku katakan benar. Aku tidak menyukai Vian, dan Vian tidak menyukai aku. Dia menyukai gadis murahan itu," seru Ella dengan nada memanas-manasi,"awalnya aku tidak terlalu percaya dengan apa yang aku lihat. Tapi, saat melihat Adella selalu diam-diam menggoda Vian. Aku merasa kasihan pada Sean. Aku beberapa kali melihat Adella berbicara diam-diam dengan Vian seperti saat ini. Tapi, aku tidak tau harus berbuat apa. Jadi, aku putuskan untuk memperlihatkan nya padamu. Sebagai sahabat Vian dan Sean, kamu pasti tidak ingin hubungan persaudaraan mereka hancur hanya karena gadis tidak jelas itu bukan?" hasut Ella kembali. Gadis cantik ini berharap Delta akan memisahkan Sean dengan Adella.
Atau bahkan menendang jauh Adella dari kelompok mereka. Agar ia dengan mudah bisa mendapatkan Sean Yamato. Mengarang dan berbohong adalah hal mudah. Apa lagi, sebagai seorang pemimpin kelompok yang tersisa Ella tau jelas bagaimana cara membuat lawan terhasut.
"Sejak kapan?" tanya Delta pelan. Sorot matanya terluka.
"Aku tidak tau sejak kapan mereka berhubungan. Tapi, aku pertama kali melihat saat aku bergabung dengan kalian," bohong nya.
Ke dua telapak tangan Delta mengepal di ke dua sisi tubuh nya. Tubuh nya bergetar oleh rasa marah dan terluka.
"Aku tidak akan membiarkannya!" Seru Delta dengan menatap tajam ke arah Adella yang tertawa pelan.
Cinta adalah racun dunia. Racun tak berwana atau pun berbau. Sangat mematikan. Dan mudah tumbuh pada setiap hati yang terluka bahkan kecewa.
***
"Jahat sekali dia!" racau Clara dengan nada serak. Air mata terus mengalir.
"Sayang! Kamu tidak boleh seperti pria itu, hiks..hiks.." suara Sari terdengar sumbang.
Kepala Carlos mengeleng."Tidak sayang. Aku tidak akan pernah menyakitimu. Seperti pria brengsek itu!" tukas Carlos sebelum kembali menyeka ingusnya.
Ugh! Hiro dan Yako menghela napas serentak. Ketiga pasang suami-istri itu melakukan kencan kecil saat anak-anak mereka tengah sekolah. Sekedar nonton bersama, di gedung khusus. Dimana ada layar lebar di dalamnya. Dengan film yang diinginkan.
Hiro awalnya semangat, Bos Mafia satu ini berpikir akan di bawa menonton film aksi atau film romansa. Tapi, harapan dan pemikir melebur. Kala panggilan 'Oppa' menggelegar di dalam gedung. Film yang di tonton bukan film bisa. Tapi film tentang perselingkuhan. Hiro dan Yeko, bukanlah pencinta film dari negara Gingseng itu. Mereka lebih suka film action. Dengan banyaknya darah dan pertarungan. Setidak-tidaknya, mereka suka film fantasi dengan balutan pertarungan. Bukan romansa dengan air mata.
"Astaga!" kesal Hiro. Sebelum mengusap air mata yang mengalir di pipi sang istri.
"Film nya sedih kak," ujar Dera dengan nada lirih.
"Kalau sedih apa gunanya nonton film bikin nangis. Lebih baik film horor saja. Kalau film begini kami para suami tidak ada fungsinya," gerutu Hiro.
Sari yang tadinya menangis terkekeh kecil mendengar gerutu kakak ipar nya. Ia menoleh kebelakang tempat duduknya.
"Kami butuh yang bisa mengusap air mata kakak ipar. Bukan hanya pelukan saat takut saja," serunya.
Hiro mendengus pelan."Sayangnya, kakak iparmu ini tidak suka melihat ratu cantik ku ini menangis. Aku lebih suka melihat ibu dari anak-anakku tertawa dari pada menangis. Apa lagi hanya karena drama atau film aneh yang kalian sukai," tukas Hiro.
Kontan saja seruan sedikit serak terdengar. Dera yang awal nya menangis langsung berhenti menangis. Wanita itu malah menepuk pelan dada bidang sang suami. Sebelum senyum kesemsem terbentuk.
"Nah, kayak begini. Rasanya aku gemas mau langsung bawa ke kamar!" goda Hiro.
Gemuruh terdengar jelas. Film sedih di layar lebar terabaikan. Saat tiga pasang suami istri malah sibuk karena godaan sang tuan rumah. Hingga membuat Dera bersembunyi di dalam dada bidang si penggoda.
***
Adella terkekeh kecil melihat bagaimana sibuknya Sean di balik etalase tokoh. Ia duduk di salah satu bangku tunggu. Dimana sang pria tengah kelimpungan dengan banyaknya wanita yang berebut ingin di layani oleh Sean. Pria ini memutuskan untuk berjualan produk kecantikan.
"Semangat!" Gumam bibir Adella dengan tangan di angkat tinggi.
Sean tersenyum dalam kesusahan. Jika saja bukan karena tantangan ke dua orang tuanya. Mana mau Sean seperti saat ini. Bukan masalah kerja paruh waktu yang menyebalkan. Tapi karena para perempuan yang gila ingin di layani olehnya.
"Yang ini tolong pasangkan padaku untuk percobaan di kulit kak!"
"Eh! Tidak aku yang dahulu!"
"Tidak. Aku duluan."
"Jangan dorong! Sialan!"
"Kakak!"
"Kakak tampan!"
"Aku duluan."
"Tolong bungkus ini sama kakak sekalian!"
"Kakak! Layani aku dulu!"
"Kakak minta nomor telepon nya dong!"
Sangat gaduh. Sean ingin sekali berteriak dan membentak gadis-gadis yang merebut perhatian nya. Padahal di samping nya ada tiga orang pria yang juga melayani penjualan produk.
Adella tertawa melihat wajah memerah Sean. Adella yakin seratus persen, jika Sean ingin memaki saat ini. Namun karena ingat di mana ia berada. Ia tidak bisa melakukan apa-apa.