The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 48 (Kedewasaan Launa)



Sean memutar malas bola matanya. Willem menggebu-gebu menceritakan kekalahan Sean pada Adella. Delta memeluk Adella dari belakang. Ella menatap sinis Adella.


"Wah! Aku juga mau latihan beladiri. Aku tidak menyangka jika Adella sangat hebat," seru Delta dengan nada kagum.


"Ck!Ck Bagaimana bisa kau kalah dengan Adella, tuan muda Yamato?" cibir David dengan wajah bahagia.


"Kau seperti bisa saja beladiri," sewot Sean.


David hanya mengangkat  ke dua sisi bahunya acuh.


"Aku memang tidak terlalu hebat bela diri. Tapi aku berani jamin, kalau aku hebat di atas ranjang kawan!" Jawab David dengan tidak tau malunya.


Kontan saja orang-orang di sana mencibir mendengar jawaban David. Vian memilih membuka ponsel, bermain game lebih baik. Dari pada mendengar obrolan aneh dari teman-teman nya.


"Oh, Iya. Kan yang membicarakan taruhan hanya Sean kemarin Adella. Tapi kau yang memang, memang tidak menuntut sesuatu pada Sean karena kau yang menang?" tanya Willem.


Adella menatap lambat Sean yang juga ternyata menatap ke arahnya.


"Entahlah," jawab nya dengan kekehan renyah.


"Kau minta Sean jadi babu mu saja Adella!" hasut Delta.


"Hei! Hei! Jangankan jadi babu nya, jadi pijakan nya saja aku rela," balas Sean.


Seruan cemooh keras terdengar. Sebelum tawa keras dari orang-orang yang ada di meja. Ella hanya mampu memaksakan senyum. Diam-diam Vian dan Sean memberikan kode lewat mata. Ke duanya hanya ingin melihat sejauh apa gadis Rusia itu ingin mengetahui tentang mereka.


"Kalau ingin berlatih, seperti nya Ella bisa membantu mu, Delta!" ujar Vian dengan nada serak seksinya.


Delta menoleh menatap Ella. Gadis yang baru bergabung dengan kelompok nya ini. Delta hanya tersenyum kecil.


"Aku maunya Vian saja yang ajari. Kalau tidak Sean saja, kalau wanita yang ajari kurang pas," bantah Delta. Menatap Vian penuh harap sebelum menatap Sean.


"Vian saja yang ajari!" tolak Sean.


Vian menoleh ke arah Delta. Sebelum kembali menarik atensinya pada Ella. Gadis itu hanya diam. Benar-benar tidak terpancing, diam-diam Vian mendengus jengkel.


"Seperti nya Vian dan Sean keberatan kalau, aku aja yang ajarin bagaimana?" tanya David dengan wajah mesum.


"Kau mah bukan ajarin beladiri David. Yang ada di ajarin aneh-aneh. Sama banci aja kamu kalah, bagaimana mau ajarin Delta!" cemooh Willem.


David mendengus kala tawa teman-teman terdengar.


***


Kelopak mata Hiro tertutup rapat. Kala merasakan pijitan di bahu kekarnya. Benar-benar terasa sangat enak dan nyaman. Belum lagi di ke dua sisi kakinya ikut di pijit oleh si kembar. Dengan iming-iming di buatkan spaghetti. Menurut si kembar spaghetti terenak adalah buatan sang ayah. Dan begitu lah sekarang, ke duanya ikut memijit sang ayah yang lelah.


"Papa jangan kerja terlalu keras." Ujar Launa di sela pijitan nya.


"Benar! Papa harus santai sesekali. Libur ke luar negeri atau keluar kota bersama kami!" Lanjut Laura yang ikut melancarkan modus nya.


Hiro tersenyum di sela pejaman nya. Dera mengeleng pelan.


"Jangan sampai liburan hanya berduaan dengan Mama saja. Kami juga ingin liburan bersama Papa dan Mama!" Lanjut Laura sedikit menyindir sang ayah.


Hiro membuka ke dua matanya terkekeh bersama Dera. Laura Yamato benar-benar anak pendendam ternyata. Itulah yang ada di otak suami-istri ini. Sedangkan Launa, anak ini fokus memijit sang ayah. Dengan harapan makan spaghetti.


Laura sempat menghentikan pijitan nya. Sebelum kembali lagi memijit kaki sang ayah.


"Itu tidak boleh. Nanti terjadi kecemburuan sosial. Kalau Papa pergi nya sama Mama aja kita tidak di ajak. Suatu saat keadaan yang sama juga terjadi pada Papa. Ingat hukum karma itu berlaku!" Jawab Laura dengan gaya sok dewasa.


Dera tertawa bersama Hiro mendengar jawaban Laura.


"Jadi, maunya pergi nya harus bersama-sama ya sayang?" tanya Dera.


Kepala Laura mengangguk semangat.


"Sudahlah. Lagipula kalau Papa dan Mama mau berdua saja ya, biarkanlah. Papa dan Mama juga butuh waktu berlibur berdua saja!" Suara Launa terdengar. Anak cantik ini membela sang ayah.


"Tidak. Laura tidak setuju." Tolak Laura keras kepala.


Launa menghentikan kegiatan nya. Menatap dalam sang kembaran.


"Laura tidak boleh begitu. Bayangan kan saja, Papa dan Mama selalu mengurus kita dan Abang-abang dari kecil sampai sekarang. Jarang ada waktu berdua. Apa salahnya membiarkan Papa dan Mama bersenang-senang berdua. Kan cuma satu Minggu. Sedangkan Papa dan Mama mengurus kita bertahun-tahun. Di tinggal satu Minggu saja sudah protes. Kita sebagai anak tidak boleh seperti itu. Menyenangkan orang tua adalah kebaikan untuk kita," nasehat Launa panjang lebar.


Dera dan Hiro merasa terharu mendengar nasehat Launa yang begitu dewasa. Laura menunduk pelan. Dera melepaskan tangannya dari bahu sang suami.  Beringsut menarik Laura ke dalam pelukan nya. Dan memberikan kode agar Launa juga mendekati nya. Launa dengan senang hati beringsut masuk ke dalam pelukan sang Ibu.


"Anak Mama sama Papa adalah anak-anak yang baik dan pintar!" Puji Dera mengusap pelan punggung belakang ke dua putri nya.


Hiro tidak mau kalah. Pria ini ikut memeluk ke tiga nya dari belakang. Keempat nya tersenyum lebar. Kalau ada Sean dan Vian sudah pasti mereka juga tidak mau ketinggalan.


***


Cuaca mulai terasa dingin kala mendekati musim dingin. Sean menarik Adella memasuki tokoh baju couple. Gadis ini hanya menurut saja kala di tarik ke sana ke mari. Ke duanya memilih jalan bersama sehabis pulang sekolah. Meninggalkan teman-teman mereka.


"Ini bagus gak?" tanya Sean menunjukkan baju kaos hitam berlengan panjang dengan corak hati yang terbelah.


"Bagus!" jawab Adella.


"Mau ambil yang ini?" tanya Sean.


"Boleh. Sama yang ini juga ya?" Ujar Adella menunjukan baju yang baru ia ambil.


Sean membeku. Baju kaos pink dengan motif tangan. Bukan motif nya yang membuat Sean membeku. Namun warna baju nya yang membuat pemuda ini mati kutu.


"Kenapa? Gak suka ya?" tanya Adella dengan raut wajah sedih.


"Ah? Tidak-tidak kok! Hehehe.....yang itu juga kita beli," jawab Sean dengan berat hati.


Baiklah. Tidak masalahlah ya, memakai pakaian pink. Asalkan gadis yang ia cintai ini tidak terlihat sedih. Adella melangkah mendekati Sean. Menarik Sean ke ruangan ganti pria. Dan memberikan baju kaos pink ke tangan Sean.


"Hari ini kita pakai baju ini berkeliling Mall dan nonton. Aku juga mau ganti," ucap Adella dengan semangat empat lima.


Tampa memperpanjang kata. Adella melangkah menuju ruangan ganti wanita. Meninggalkan Sean yang terpaku.


"Hah! Untung sayang!" ujarnya menghembuskan napas gusar. Kalau tidak sudah pasti baju yang ada di tangan nya tidak akan pernah ia pakai.


Memang benar kata orang-orang. Kalau sudah cinta, semua nya akan di lakukan untuk menyenangkan pasangan.