The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 23 (Curiga dengan Adella)



Sean menarik koper besar Adella dengan senyum mengembang. Meski beberapa orang ingin membantu, pria remaja itu menatap dengan pandangan mematikan. Hal hasil, bawahan sang ayah hanya mampu menatap punggung belakang sang tuan muda.


"Biar aku saja yang bawa." Seru Adella di sela langkah kakinya yang di ayunan bersama Sean.


"Tidak. Aku saja yang bawa." Tolak Sean.


"Tapi itu berat."


"Ini tidak berat. Yang berat itu jika kehilangan kamu."


Blush..


Gombal lagi. Adella merasa benar-benar melayang kala mendapatkan gombalan dari Sean. Adella akui, jika Sean bukan pria yang mudah berkata receh. Tapi... entah kenapa saat bersamanya. Sean selalu mengeluarkan kata-kata gombalan. Rayuan aneh di dirinya. Hingga membawa getaran tersendiri.


"Jangan terus merayu ku." Tegur Adella malu-malu kucing.


Lihat lah ke dua tulang pipinya memerah. Sean terkekeh renyah melihat bagaimana ekspresi Adella saat ini. Bibir merah itu terbuka namun terkatub kembali. Kala seruan keras dari dalam rumah terdengar jelas.


"Adella!" Seruan Dera melangkah cepat merentangkan ke dua tangan nya.


Adella menyambut. Ia masuk ke dalam pelukan Dera. Perempuan yang masih terlihat imut di usia nya yang tak lagi muda. Dera mengusap punggung belakang anak perempuan berpipi chubby itu dengan lembut.


"Akhirnya, Adella mau juga tinggal di sini sama Mama!" ujar Dera ramah.


"Terimakasih karena menerima aku di sini, Ma!"


"Apa sih, pakek terimakasih segala. Ayo masuk, Mama sudah siap kan makan pagi." Ujar Dera sembari melepaskan pelukannya dari tubuh calon menantu.


Adella terkekeh."Tapi, itu kopernya?" Tunjuk Adella pada koper di tangan Sean.


"Itu biarkan Sean yang bawa ke kamar. Kita langsung ke ruangan meja makan." Ujar Dera menarik Adella tanpa mau mendengarkan jawaban dari Adella.


Sean hanya melambaikan tangan nya kala Adella menatap ke belakang. Tangan Sean kembali menarik koper, menuju tangga.  Terlihat kekuatan Sean kala mengangkat koper berukuran besar itu sampai ke lantai paling atas.


"Woh! Abang Sean kuat sekali!" puji Laura melihat sang kakak sampai di lantai atas.


"Ya, dong. Abangnya siapa dulu?" sahut Sean.


"Laura dan Launa!" seru Laura antusias.


Launa hanya menggeleng kecil.


"Abang kita kebawah dahulu ya," ujar Launa angkat suara. Sebelum kembaran'nya ini mengeluarkan kecerewetan yang lainnya.


Sean mengangguk pelan. Terlihat Launa menarik Laura menuju anak tangga. Pemuda itu kembali menyeret koper menuju kamar yang terletak tepat di dekat tangga. Tidak terlalu jauh lah dari kamarnya. Sean tersenyum konyol saat memasuki kamar Adella yang sengaja di dekorasi oleh sang ibu. Lebih feminim dengan warna pink pastel di padupadan kan dengan warna putih.


"Ah, apa yang aku pikirkan!" Decaknya sembari menepuk pelan dahinya.


Sebelum kembali keluar dari kamar. Membiarkan koper di samping lemari baju. Ia melangkah turun ke bawah.


***


PRANG


CRAK


PRANG


Suara gaduh di area pertandingan tidak membuat ke duanya kehilangan fokus. Tubuh bagian atas yang sengaja tidak di tutupi oleh sehelai benang. Dengan celana panjang berbahan sutra berwarna hitam. Dada bidang dengan enam kotak keras di banjiri oleh keringat. Keringat yang terlihat enggan beranjak dari dahi ke duanya. Membuat aura ke duanya begitu seksi.


"Semangat Sean!" seru David dengan suara keras.


"Semangat Abang Vian!" seru Laura tak kalah kerasnya.


Hembusan napas kasar terlihat memburu. Hiro menatap tenang ke dua putranya. Berbeda dengan Dera. Ibu satu ini selalu saja gelisah melihat ke dua putra nya beradu pedang. Siapapun yang memang tidak akan membuat ia bangga. Begitu pula sebaliknya, siapapun yang kalah akan membuat hatinya terasa nyeri. Karena akan selalu ada darah di salah satu katana yang ke duanya pegang.


"Menurutmu bagaimana?" tanya Delta di samping Adella.


Adella menoleh ke samping. Membiarkan pertandingan ke dua pria gagah di sana di abaikan.


"Apanya?" tanya Adella tak mengerti.


"Itu loh, pertandingan di depan. Siapa yang akan memenangkan pertandingan nya menurut pendapat mu?" tanya Delta penasaran.


Adella kembali membawa atensinya ke depan. Dimana bunyi pedang Samurai atau di kenal dengan nama lain Katana terus beradu nyaring. Manik mata hitam bening itu terlihat memperhatikan gerakan ke duanya dengan intens.


"Sean," balasnya.


"Eh? Alasannya?" seru Delta tidak mengerti.


"Gerakan Sean tidak terburu-buru. Ia terlihat santai menyerang bukan karena menganggap remeh lawan. Tapi mencoba memancing emosional lawan. Cara Sean menangkis cukup kuat. Vian bisa saja memenangkan pertandingan ini. Jika ia tidak terburu napsu menyerang Sean. Vian terlihat sulit mengontrol emosional nya. Ia lebih ingin menyerang dan mendominasi. Beda dengan Sean yang mencari kesempatan menjatuhkan pedang Vian. Tidak butuh waktu lama lagi permainan berakhir," ujar Adella memberikan penjelasan.


Prang!


Benar saja. Pedang panjang itu terbang jatuh di belakang tubuh Vian. Sean menjadi pemenangnya. Delta mengangga melihat bagaimana tebakan Adella sangat akurat. Bukan hanya Delta yang terkanga. Yeko di belakang tubuh ke duanya juga syok.


Bagaimana bisa Adella membaca pergerakan Vian dan Sean dengan begitu mudahnya. Seolah-olah gadis remaja itu pernah berlatih taktik pedang. Dan cara menyerang bahkan bertahan dalam permainan Samurai.


Di depan sana Sean memberikan senyum pada Dera terlebih dahulu. Wajah khawatir Dera sudah berubah. Wanita itu tidak lagi merasa jantung nya berdetak keras. Karena tidak ada darah yang tumpah. Di sana Vian di ganti dengan posisi Willem. Pria itu tersenyum pada Sean.


"Kali ini aku yang akan menang!" ujar Willem.


Sean tersenyum miring."Seperti nya kau masih akan kalah seperti biasanya, tuan muda Zhao!"


"Kita lihat saja nanti," balas Willem.


Di kursi penonton Mika Zhao berteriak keras untuk sang kakak. Sari yang duduk di apit oleh Carlos dan Mika mengulas senyum untuk sang anak tiri.


"Ah, sebenarnya aku tidak ingin membuat sepupuku yang cantik itu kecewa. Tapi apa boleh buat, kali ini gadis yang aku sukai juga menonton," ujar Sean.


Willem hanya mengangkat bahu telanjang nya. Ke duanya di beri aba-aba memberikan penghormatan. Menunduk dalam untuk satu sama lain. Sebelum memulai pergerakan.


Gemuruh terdengar jelas dari dua pedang beradu. Manik mata Adella menatap tajam setiap pergerakan ke duanya. Seakan tengah mengamati ke duanya.


"Kali ini menurutmu siapa yang menang nona Adella?" tanya Yeko penasaran.


Adella menoleh kebelakang menatap wajah Yeko. Ia menggigit pelan bibir bawahnya. Pedang tajam itu masih berbenturan keras di depan sana.


"Sean!" serunya,"gerakan Willem memang terlihat sempurna. Namun ketangkasan Willem dalam menyerang tak sesempurna Vian. Kuda-kuda kaki Willem terlalu lemah. Jika Sean menggepur Willem dengan waktu cepat tanpa jeda. Maka Willem akan langsung kalah. Seperti Sean akan segera menyudahi pertarungan. Mengingat stamina nya sudah di kuras oleh Vian. Tapi....jika Willem ingin memang. Dia harus nya lebih kuat menahan kuda-kuda kakinya. Dan bertahan lah lebih lama lagi. Jika Wilem bisa bertahan satu jam saja. Maka Pamenang nya adalah Willem. Sayangnya, Sean lebih cepat membaca kelemahan Willem!" papar Adella menatap ke depan.


PRANG!


Pedang Willem melayang dan menggelinding. Laura bersorak gembira bersama dengan Cherry. Keduanya tampak memungut uang taruhan. Delta mengeleng kecil. Melihat adik Vian dan Sean yang menjadikan Sean sebagai taruhan. Di kursi penonton Sari berdiri dan melangkah dengan tangan membawa handuk kecil.


"Ini berikan pada Sean!" seru Delta. Kala handuk kecil melayang pada paha Adella.


Gadis itu mau tak mau berdiri. Menuju lapangan luas. Yeko melangkah mendekati Hiro. Membisikkan sesuatu hingga pandangan tajam Hiro jatuh pada Adella dan Sean di depan sana.