The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 99 (Kehancuran di Mulai)



Langkah kaki yang di ayunkan tampak tergesa-gesa. Wajahnya tampak memucat, bibir merah merekah itu berkomat-kamit tak jelas. Sebelum ia sampai di tikungan jalan terakhir. Masuk semakin jauh pada pemukiman kumuh yang terletak di pinggir kota. Ia berhenti tepat di depan pintu gedung kosong terbangkalai. Gedung pabrik yang telah kehilangan beberapa bagian jendela. Membuat sinar mentari masuk melalui celah. Bau Pesing serta bau anyir menyatu menusuk indra penciuman.


Tubuh gadis itu masuk semakin ke dalam. Ponsel di genggaman semakin erat saat ia sampai di tempat sesuai petunjuk. Ada dua kursi yang saling membelakangi. Adella duduk di sana tanpa harus meras takut. Derap langkah kaki terdengar dari arah lain. Gadis itu mencoba untuk tetap tenang.


"Kau akhirnya datang," serunya tepat di belakang tubuh Adella.


"Siapa kau sebenarnya?" ujar Adella dengan nada lambat,"apa maumu, hingga mengancamku dengan identitasku?" lanjut nya tergesa-gesa.


Dapat gadis ini rasakan kursi di belakang tubuh terdorong mengenai punggung belakang nya. Ingin sekali Adella berdiri dan berbalik. Menatap siapa yang tengah mengirimkan ia pesan ancaman. Tentang siapa dirinya sesungguhnya. Darah yang mengalir di tubuh nya, membuat ia mau tak mau harus tetap menemui orang yang mengirimkan nya pesan. Ia duduk meremas ke dua tangan yang mengapit benda persegi panjang di tangannya.


"Apakah siapa aku terlalu penting untukmu, nona Uchiha?" ujarnya dengan nada dalam,"lagipula kau adalah anak haram dari kelompok Mafia Joker. Kau tau siapa itu Joker bukan?" lanjut nya dengan nada merendahkan.


"Aku tidak ada hubungannya dengan Joker. Meskipun aku anak pria itu sekalipun. Ia tidak ada hubungan apa-apa, selain sebatas berbagi darah yang sama. Dan kau tidak punya hak mengancam identitasku. Keluarga Yamato, akan menerimaku dengan baik. Meskipun ayah kandungku adalah Ken Uchiha," ujar Adella penuh keyakinan.


Ah, gadis ini mencoba meyakinkan dirinya. Jika Sean dan keluarga pria itu akan menerima nya. Jika Yakuza bisa menerima Devil. Lalu kenapa tidak bisa menerima Joker? Setidaknya itulah yang ada di otak Adella.


"Bisa menerimamu?" ulangnya dengan nada remeh,"sadarlah Adella. Kau sediri bahkan ragu jika mereka bisa menerimamu. Jika mereka tau siapa kau sebenarnya, bukan?" tebaknya tepat sasaran.


Glek!


Adella menelan kasar air liur nya.


"Ti——tidak aku percaya. Lagipula, Joker tidak ada masalah dengan Yakuza. Joker berada di bawa Yakuza. Dan di kendali kan oleh Yakuza juga," bantah Adella cepat.


Tawa menggelegar mengisi gudang pabrik kosong itu terdengar jelas. Kris tak menyangka, di balik kehebatan Adella. Gadis ini memiliki pikiran polos atau bodohkah? Bagaimana bisa ia berpikir Joker mau berada di bawah Yakuza. Yang benar saja. Ia tidak akan membuat Yakuza berada di atasnya. Apa lagi mengendalikan kelompok nya. Adik tiri——tidak. Kris tidak mengakui jika gadis yang duduk di belakang nya ini adalah adik tiri nya. Tidak akan pernah.


"Kau tau kesalahan yang pernah kelompok Joker lakukan pada Yakuza, Hem?" ucap Kris setelah mengendalikan tawanya.


"Apa?"


"Ella! Dia adalah anak buah Joker. Dan kau tau siapa Ella sebenarnya sekarang?" tanya Kris,"ah, kau tidak akan tau siapa Ella. Gadis licik sialan itu adalah anak Mirabel. Wanita gila yang tergila-gila pada Hiro Yamato. Bahkan membuat Vian, terpisah dari ke dua orang tuanya. Dan Joker memiliki peran menutupi jejak keberadaan Vian juga saat itu. Karena tawaran dari Dragon, kau pikir Joker bisa bangkit berkat siapa, Hem? Kami bangkit berkat Dragon. Dan kau pikir Yakuza akan membiarkan hal itu berlalu begitu saja. Kau adalah keturunan sekaligus anak dari Joker. Tentu saja kau tidak akan di maafkan. Joker bagaimana pun akan menghancurkan Yakuza dengan perlahan. Kau pikir Yakuza akan mempercayai mu. Jika kami berkata, kau adalah bagian dari mata-mata Joker untuk mengawasi Yakuza," papar Kris dengan lugas.


Tubuh Adella terasa membeku. Bak terjun ke dalam lautan es. Ke dua tangannya bergetar ketakutan. Jika Susi tak sengaja membuat Vian masuk ke tangan Mirabel. Beda dengan ayahnya, yang dengan sadar membantu penutup hal itu. Adella terguncang dengan fakta baru.


Kret!


Adella berdiri cepat. Dunia terasa bergoyang, saat ia berdiri. Kris ikut berdiri. Tangan yang bergetar masuk ke dalam saku jaket kulit miliknya. Bergetar tangan itu menarik pelatuk. Sebelum berbalik menyodorkan moncong pistol ke arah Kris. Saat berbalik.


Deg!


Jantung nya berdetak keras. Bibirnya bergetar melihat siapa yang berada di depannya. Kris tersenyum miring. Pria yang selalu berbicara lembut dan sesekali tergagap itu tampak berbeda 180° terlihat begitu menakutkan.


"Kris?" panggil Adella tak percaya.


"Hai! Adik tiri!" balasnya. Sebelum melipat tangan di dada. Tidak ada raut wajah ketakutan di wajah Kris. Meskipun Adella menodong nya dengan pistol.


"Kau...kau.." Adella tak mampu merangkai kata.


"Mau menembakiku, huh?" ujarnya,"silahkan kalau kau bisa. Tidak masalah." Lanjut nya sembari mengangkat ke dua sisi bahunya acuh.


Adella menatap Kris dengan pandangan tak terbaca.


"Bukankah tidak bisa?" ujarnya lagi saat tidak ada jawaban dari Adella,"kau tau, saat ini. Aku telah menyusun ke hancuran untuk keluarga Yamato." Ucapnya sembari mengangkat ponselnya. Di mana ada video Dera sedang berbelanja di temani oleh anggota Yakuza. Dan di samping itu ada ke dua adik Vian dan Sean tengah berada di gedung sekolah. Belajar seperti biasanya."Aku, telah memasang bom waktu di sana. Meskipun Yakuza kuat. Tapi mereka tetap manusia memiliki kelemahan. Dan saat waktu nya tepat. Maka...BOM! Meledak!!!" lanjut Kris.


Hahahaha......


Tawa kembali mengalun kala ia melihat ke dua manik mata Adella bergetar.


"Apa maumu!!!!" teriak Adella melengking keras.


Kris masih tertawa. Dera tampak di hampir oleh Vera yang tengah hamil besar. Adella merasa tubuhnya benar-benar tak bertenaga.


"Tinggalkan Sean saat ini. Katakan padanya, kau tidak mencintai nya. Dan kau hanya menjadikannya sebagai pria yang di manfaatkan. Ucapkan selamat tinggal padanya adikku," balas Kris,"dengan begitu. Ibu, adik serta istri paman nya selamat," lanjut Kris memberikan ancaman.


"Kau!!!!" Adella mengeratkan pegangannya pada pistol.


"Mau tembak, silahkan. Saat suara tembakan mengema. Bom pun meledak. Kita mati bersama-sama. Bayangan kan bagaimana berdukanya Yakuza. Bagaimana wanita yang kau sayangi itu mati karena keegoisan mu, Adella!" ancam Kris dengan mata menajam,"ayo pilihlah. Bersama Sean atau meninggalkan nya. Jadi pengkhianat di mata Sean tidak akan masalah. Asalkan bukan menjadi pembunuh," lanjut Kris tersenyum miring.


Bug!


Pistol di tangannya terjatuh di lantai berdebu. Tangan kirinya yang menggenggam ponsel di angkat. Jari tangan nya bergetar menekan menelpon Sean. Dengan kode mata Kris meminta menloudspeker panggilan.


Suara panggilan terhubung terdengar jelas. Hingga di angkat tanpa menghitung detik.


Bibir Kris berkomat-kamit. Meminta untuk Adella berbicara dengan tenang.


"Oh, Hallo. Sean," jawab Adella. Menatap Kris dengan air mata mengalir.


Kris menunjuk layar ponselnya.


"Ingat Bom!" ujarnya setengah berbisik.


Tik!


Air mata meleleh. Menatap Kris dengan ke dua sisi rahang mengetat.


"Kapan pulang?" tanya Sean dengan nada manja,"aku kangen!" lanjutnya dengan nada tak kalah manja.


Bibir Adella bergetar. Ia menarik napas perlahan, saat menjauh kan ponsel dari bibir nya. Sebelah tangannya mengusap kasar air matanya. Sebelum kembali mendekatkan ponsel kembali ke depan bibir nya.


"Kau terlihat terlalu mencintaiku, Hem?"


"Ya, aku terlalu mencintaimu tentu saja. Kita dua Minggu lagi akan menikah. Kenapa kau menanyakan hal itu?"


Kris mencabik mendengar perkataan Sean.


Adella tertawa keras. Di sela air mata. Membuat Sean di seberang sana mengerutkan dahi.


"Oh, astaga! Bagaimana ini. Aku pikir kau akan tau seberapa liciknya aku, Sean!" ujar Adella memberikan jeda,"aku pikir mendekatimu dan Vian adalah hal yang mudah. Membuat kau dan Vian mencintaiku. Membuat Vian dan kau saling melukai. Kenapa susah sekali? Aku capek berpura-pura lemah dan bodoh pada keluarga Yakuza bodohmu itu. Apalagi mamamu yang jelek itu, sangat bodoh juga, Sean!" lanjut Adella menahan hati.


Kris tersenyum lebar. Dan mengangguk pelan.


"Adella! Apa maksudmu?" Sean terdengar tak percaya dengan perkataan Adella yang tiba-tiba aneh dan menghina ibunya.


"Hei! Kau boleh mengerjaiku. Tapi bagaimana bisa kau mengatai ibuku yang jelas sang menyayangi mu. Adella, becandamu tidak lucu!" ucap Sean lagi terdengar panik dan marah dalam satu waktu.


Tangan kiri Adella mengepal. Kris kembali menuju ke arah ponselnya. Dimana waktu terus terhitung mundur.


"Hei! Kau bodoh sekali. Kau pikir aku benar-benar mencintai mu, huh? Kau terlalu naif. Hampir saja aku mati karena racun dari Abang gilamu itu. Aku tidak ingin bersandiwara lagi. Kalau aku masih di sana aku akan mati. Dan terakhir, ini untuk kebaikan mu. Karena telah berlaku baik padaku yang seorang mata-mata ini. Kau selamatkan adik dan ibumu dari bom waktu. Itu sebagai terimakasih telah memperlakukan aku dengan baik. Good bye pria bodoh!" Ucap Adella dengan cepat menekan tombol merah. Dan mematikan ponselnya.


Bug!


Bruk!


Tubuh Adella terjatuh bersamaan dengan ponsel. Kris melangkah mendekati Adella yang menangis keras di lantai. Ia menekuk sebelah kakinya. Memeluk posesif tubuh Adella. Pria ini mencintai gadis ini. Cinta terlarang. Tidak peduli gadis yang mendorong dan memberontak ini sedarah dengan nya. Ia tetap cinta.


"Benar begitu sayang. Kau harusnya begini. Kau milikku!" Bisik Kris di daun telinga Adella.


Gadis itu meronta. Kris tersenyum lebar. Ah, ia akan melawan siapa saja yang untuk mendapatkan Adella. Termasuk Ken sendiri.


...***...


Yakuza tampak heboh. Supermarket besar itu tampak di tutup dan di kerumuni. Alat pelacak bom pun di terjunkan. Dera di amankan. Sean bertugas menjemput sang ibu. Sedangkan Vian di sekolah si kembar. Dera melangkah mendekati Sean yang tampak kacau. Vera sudah di bawa pulang oleh Leo yang bersikeras ikut dengan Sean.


"Sean!" seru Dera kala sampai di depan sang putra,"apa yang terjadi?" tanya Dera dengan wajah penasaran.


Bibir Sean terbuka. Namun terkatup kembali kala suara Yeko terdengar.


"Bom nya sudah di amankan. Begitu pula dengan di gedung sekolah nona Laura dan Launa," ujar Yeko dengan napas memburu menghampiri Sean dan Dera.


Ke dua tungkai Sean tak bertenaga. Ia merosot, terduduk di lantai gedung depan. Wajah Dera terlihat linglung.


"Bom?" ulangnya tak percaya.


Sean menatap kosong udara hampa. Yeko menatap aneh ke arah Sean. Tiba-tiba saja tuan mudanya itu berteriak-teriak di dalam rumah. Meminta orang-orang untuk melakukan penyisiran di tempat Dera belanja dan gedung sekolah si kembar.


Dera menekuk sebelah kakinya. Menepuk pelan pundak Sean yang terlihat kebingungan.


"Sean!" panggil Dera pelan.


Sean mengangkat wajahnya. Sebelum menghambur dalam pelukan Dera. Pria remaja ini menangis dalam diam. Ia cemas dan merasa perasaan carut marut. Derap langkah kaki terdengar jelas. Hiro dengan napas memburu berdiri di belakang tubuh Sean dan Dera. Pria yang berada di kantor itu kalang kabut meninggal kan kantor karena berita sang istri dan sang putri.


Dera menghela napas. Menepuk pelan baju Sean. Hati Dera tiba-tiba tidak enak. Seumur-umur, Dera baru kali ini melihat Sean menangis. Hiro menoleh menatap Yeko dengan pandangan bertanya. Kepala Yeko mengeleng pertanda tak mengerti. Kehancuran hati, seakan mengrogoti hati Sean.


Entah takdir pelik seperti apa yang akan pria itu alami ke depan nya. Tentunya, hubungan pernikahan kandas tanpa kebahagiaan. Adella adalah seorang pengkhianat. Yang tidak akan pernah Sean lepaskan. Jika saja Dera dan adiknya terluka, Sean tentu tak segan-segan menebas leher Adella. Meskipun harus membunuh hatinya sekaligus dengan kematian orang terkasih.