
Gerakan telapak sepatu bergesekan kasar dengan lantai lorong gedung sekolah terdengar menggema. Wajah imut itu memerah. Langkah kaki terdengar kasar, pria di belakang tubuh nya tak berhenti mengejar langkah kaki Delta.
"Delta!" Kesal David menarik pergelangan tangan Delta dengan kasar. Pria remaja bule ini kesal dengan reaksi Delta.
Delta melangkah kan kaki jenjangnya. Tangannya menghempas kasar cekakan tangan besar David pada pergelangan tangannya. Menengadah menatap nyalang pada wajah tampan sahabat nya ini.
"Apa lagi?" balas Delta kesal,"jangan menceramahiku, David. Kau bukan bukan ke dua orang tuaku. Urus saja kelakuan tidak beres mu itu!" tutur Delta dengan nada pedas.
David mengerang kesal."Kau mau Sean dan Vian tau kelakuan mu?"
"Aku akan urus sendiri, jadi jangan ikut campur!"
"Hei! Kau tau jelas aku mengkhianati sahabat ku sendiri untuk mu. Lalu apa ini balasan mu pada ku?"
Delta mendengus kesal. Gadis remaja ini tidak tau dari mana David tau dengan apa yang terjadi padanya. Entah ia harus berterimakasih pada pria bermata hijau ini. Atau harus menyingkir kan David dalam hidup nya. Mengingat sahabat nya ini tau rahasia gila itu. Ella menghilang entah kemana. Bahkan anggota Mafia Evil dan Yakuza kehilangan jejaknya. Ingin rasanya Delta memaki karena apa yang terjadi.
Hidup terlalu sialan untuk di jalani. Sekarang ia sendiri. Untuk melindungi dirinya, ia hanya bergantung pada dirinya sendiri. Tidak pada siapapun. Kehilangan Ella entah kabar baik atau buruk untuk nya. Di satu sisi, ia merasa sedikit lega. Karena tidak akan ada yang tau dengan apa yang telah ia perbuat. Belum sempat merasakan kelegaan. Pria Miyaki ini malah membuat nya malah semakin resah. Karena tau dengan apa yang ia buat.
"Lalu apa mau mu?" ketus Delta menatap tajam David.
"Ikuti perkataan ku. Jangan lakukan hal aneh lagi, kita kubur kesalahan mu ini. Jangan sampai anggota Yakuza tau akan hal ini. Aku tidak ingin kau maupun Vian dan Sean saling melukai, Ta. Karena itu, berhenti sampai sini!" nasehat David terlihat serius.
Ini kali pertama David terlihat sangat serius. Pria yang biasanya terlihat pecicilan dengan gaya anehnya. Wajah yang suka sekali menggoda banyak wanita. Wajah yang tak pernah tidak terlihat genit saat di depan wanita. Ini pertama kalinya Delta melihat perbedaan itu. Bahkan raut wajah nya menegang.
"Memangnya ada jaminan kau tidak akan mengkhianati ku?" tanya Delta dengan pandangan penuh selidik ke arah wajah David.
"Aku tidak akan mungkin mengkhianati mu," jawab dengan nada serius.
Delta tergelak keras. Membuat kerutan halus di dahi David terlihat.
"Bagaimana bisa aku percaya padamu David," ujar Delta setelah mampu mengontrol tawanya,"kau bahkan mengkhianati Sean. Sahabat yang sangat kau sayangi. Hanya untuk aku yang baru saja menjadi sahabat mu. Lalu kau pikir aku tidak berpikir jika kau bisa saja satu waktu mengkhianati aku?" lanjut nya dengan nada remeh.
David bungkam.
Pria ini merasa tersentak oleh perkataan Delta yang menusuk jiwanya. Gadis yang ia cintai ini tidak salah. Ia bahkan mengkhianati Sean yang notabene nya adalah sahabat pertama nya. Hanya untuk gadis yang baru hadir di hidupnya ini. Namun apakah Delta tidak tau, jika cinta bisa merubah segalanya. Rela menusuk orang terdekat hanya untuk membuat orang yang mereka cintai aman.
Tapi tolong. Tolong katakan pada gadis di depan nya ini. Jangan menyudut kan nya. Ia melakukan semua nya karena atas dasar mencintai. Dan ingat melindungi orang yang ia cintai. Salahkan saja rasa sialan yang membuat dirinya bodoh dan buta ini.
"See! Kau bahkan tidak bisa menjawabnya David. Karena itu aku tidak bisa mempercayai mu!" seru Delta.
Gadis itu membalikkan tubuhnya. Meninggalkan David seorang diri di dalam lorong gedung barat yang memang selalu sepi.
"Jika kau gila karena cinta. Aku pun juga sama Delta!" keluh David dengan nada lirih.
Pria ini hanya dapat melihat punggung Delta semakin menjauh dari padangan matanya. Sebelum menghilang di balik tikungan.
...***...
"Bagaimana?" tanya Sean kala melihat sang kakak mencampurkan darah Adella dengan cairan yang Sean sendiri tidak tau apa itu.
Gio berdiri di samping Vian mengamati reaksi cairan yang ada di tangan Vian. Kepalanya mengangguk kecil.
"Penawarnya bekerja dengan sangat baik," bukan Vian yang menjawab. Gio menjawab pertanyaan tuan muda Yakuza satu ini.
Kontan saja Sean mengulas senyum dengan wajah penuh rasa syukur. Pria ini lega. Sungguh sangat lega. Vian bersyukur dalam diam, karena Adella berhasil sembuh dengan obat penawar yang ia buat. Meskipun tidak menampik rasa kesal bergelayut dalam hati. Karena racun yang masuk dalam tubuh Adella adalah racun buatannya. Jika terjadi sesuatu pada Adella, dan ia tidak bisa menyembuhkan nya. Maka, Vian berjanji akan menghukum diri nya sendiri karena itu.
Sean terkekeh renyah. Tangannya menepuk pelan pundak Vian.
"Ya, Abangku menang selalu hebat!" Timpal Sean sembari menempuh pelan pundak sang kakak. Tak lupa senyum sumringah tercetak di wajahnya.
"Huk! Huk!" batuk keras di sengaja terdengar jelas. Mereka menoleh menatap ambang pintu. Dimana Hiro Yamato berdiri di ambang pintu Labor yang sudah di perbaiki usai amarah menggelora dari Sean dengan pandangan aneh.
"Bukankah itu berkat benih seseorang?" tanya Hiro dengan nada serak seksinya.
Kontan saja bola mata ke dua putra Yamato itu berotasi malas. Begitu pula dengan pria yang berada di belakang tubuh Hiro.
"Terlalu percaya diri tidak lah baik, Abang!" tegur Leo yang kini sudah berada di samping tubuh Hiro.
Hiro menoleh. Pria itu mendengus kesal.
"Bukankah itu sudah jelas adikku. Mereka adalah anak-anak ku. Tentu saja bibit yang hebat akan menghasilkan buah yang menakjubkan. Seperti Vian misalnya," ujar Hiro membenarkan apa yang ia katakan.
Gio diam-diam tersenyum geli kala matanya melihat bagaimana ekspresi ke dua tuan muda Yamato menatap ayah mereka. Leo bergidik geli mendengar perkataan kakaknya.
"Jika Sean dan Vian adalah putraku tentu akan lebih lagi," tukas Leo tak mau kalah.
Sean dan Vian mengeleng pelan. Mereka tidak tau jika semakin berumur ke dua kakak-adik beda ibu itu terlihat semakin meninggikan diri sendiri.
Jika tadi Leo yang geli mendengar perkataan Hiro. Maka saat ini Hiro yang menatap jijik sang adik.
"Hei! Mana bisa begitu. Mereka putraku, aku yang kasih kecebong. Dera yang melahirkan nya, jadi jangan sama-sama kan itu ya!" protes Hiro.
Leo mengoyangakan jari telunjuk nya. Menolak perkataan sang kakak.
"Tidak bisa begitu. Kecebong kakak belum tentu seunggul milikku!" bantah Leo.
Sean, Vian dan Gio berdecek. Ke tiganya melangkah diam-diam keluar dari ruangan laboratorium. Membiarkan ke dua adik kakak itu bertengkar dengan topik aneh bin nyeleneh. Semakin menjadi orang tua, semakin membuat ke duanya aneh saja.
...***...
Dera menarik selimut hingga batas dada anak gadis remajanya yang baru saja satu jam sampai di rumah. Elusan di pipi tirus itu membawa penanaman mata dari Adella.
"Kamu istirahat ya," ujar Dera.
"Ya, Ma. Selamat istirahat juga mama!" balas Adella. Gadis remaja itu mengulas senyum.
Kepala Dera mengangguk. Ibu empat anak itu melangkah keluar dari kamar Adella. Tak lupa menantikan lampu kamar. Meskipun waktu baru menunjukkan pukul delapan malam. Adella memang harus tidur lebih cepat dari pada yang masih sehat.
"Kenapa ke sini?" tanya Dera saat sampai di depan pintu yang baru saja di tutup.
Sean tersenyum aneh."Nggak, mau apa-apa kok!" jawabnya salah tingkah.
"Bohong mama. Abang Sean mau berduaan sama kak Adella. Kami berani jamin itu!" teriak di belakang tubuh Sean membuat ke dua rahang Sean mengeras.
Setan betina satu itu memang sangat menyebalkan.
"Kemarin sore saja Abang Sean berani pegang pipi kak Adella loh mama Dera," kini suara Lea terdengar.
Launa yang berada di antara dua setan betina hanya menghela napas pelan. Satu setan betina saja sudah sangat sulit. Malah tambah satu lagi. Sean memaki kesal dalam hati. Namun di wajah tetap memasang senyum pada sang ibu. Dera mengeleng pelan pada Sean. Kontan saja, senyum Sean patah.