
Sean berhenti di depan kaca besar, memindai dirinya dari bawah sampai atas. Sepatu putih, celana jins hitam dan terakhir kaos pink lengan panjang. Sean menghembus kan napas gusar. Beberapa anak gadis mencuri pandang pandang padanya. Tak jarang mereka berbisik-bisik lirih dan terkikik geli melihat pria gagah ini. Ada pula yang mengedip manja ke arahnya.
Adella masih terlihat asik membeli dua cup besar popcorn dan dua minuman. Jika Sean berpikir buruk tentang penampilan nya. Berbeda dengan beberapa gadis-gadis remaja yang menatapnya penuh minat. Meski telah memiliki pasangan, anak perempuan itu tidak bisa hentikan pandangan matanya menatap Sean.
"Kenapa menatapnya terus sih!"
"Sayang! Selesai nonton nanti kita ke butik koleksi baju pasangan yuk. Lihat lelaki itu mau pakek baju pasangan dengan warna pink. Lucu!"
"Tapi pink kan agak memalukan sayang!"
"Pokoknya mau pink! Kalau gak mau kita putus!"
"Wah! Kenapa dia memakai pakaian warna pink terlihat lucu. Tapi kalau aku yang pakai kayak anak ayam yang di cat warna-warni!"
"Kau kan emang jelek!"
Diam-diam Sean mengulas senyum mendengar pembicaraan orang-orang di belakang nya. Adella telah selesai membeli dua cup popcorn dan dua cup minum soda.
"Ini! Ayo masuk!" Ujar Adella menyerahkan cup minuman pada pada Sean.
Sean menoleh ke samping. Ia tersenyum, menerima cup minuman dari Adella. Kedua melangkah masuk ke dalam ruangan Bioskop.
"Kok ngambilnya di bangku paling depan sih?" tanya Sean kala mereka berhenti di bangku ke lima dari depan.
Adella duduk terlebih dahulu. Sebelum disusul oleh Sean.
"Kalau di belakang mata kita akan ternodai," jawab Adella santai.
"Memangnya ada apa di belakang sana?" tanya Sean polos.
Adella menatap lambat wajah Sean. Dahinya berlipat dalam.
"Jangan katakan sebelumnya kamu tidak pernah pergi nonton ke bioskop?" tebak Adella tepat sasaran.
Sean hanya tersenyum lima jari ke arah Adella.
"Jujur saja. Aku tidak pernah nonton bioskop. Mengingat kalau mau nonton ya tinggal putar di bioskop mini di gedung barat," jawab Sean dengan nada pelan.
"Ha?" Adella terkejut,"jadi di rumah besar ada bioskop mini?" tanya Adella tidak percaya.
Kepala Sean mengangguk tanpa dosa.
"Kalau begitu kenapa kita harus nonton di luar?"
"Kalau di rumah suasana tidak akan ada yang berubah Adella. Aku bosan," jelas Sean berbohong. Tentunya pria ini takut si setan betina Laura mengacaukan acara nonton mereka.
"Tapikan tetap saja lebih seru kalau nonton di rumah." Ujar Adella dengan bibir mengerucut lucu.
"Kalau di rumah kita tidak bisa pakai baju pasangan. Dan makan es cream di luar. Kan kalau kencan serunya di luar rumah!" jawab Sean.
"Iya, juga sih!" Ujar Adella dengan mengangguk kecil.
Suara keras pemutaran film terdengar. Kursi penonton telah terisi penuh. Sean menyandarkan kepalanya di bahu Adella. Pria Yamato ini mulai melancarkan aksi manja-manja nya. Sebelum satu Minggu tidak bisa bersama Adella. Mengingat gadis ini akan terbang ke Paris Minggu besok.
***
Kepala Laura mengeleng pelan melihat Vian makan buah apel di suapi oleh sang Ibu. Hiro juga di suapi. Ke limanya nonton di ruangan keluarga. Dera dan Hiro tentu di mintai izin oleh Sean perihal kencan ke duanya. Ah, lebih tepatnya Sean mengirimkan kedua orang tuanya pesan teks setelah membawa Adella ke Mall. Sungguh putra kurang asam. Minta izin tapi sudah sampai di tempat tujuan.
"Kenapa Abang dan Papa seperti anak burung yang membuka mulut saat induk burung menyuapkan cacing ke mulut nya," cemooh Laura.
Vian dan Hiro menoleh. Menatap wajah masing-masing. Sebelum terkekeh kecil. Dera tertawa renyah mendengar cemooh sang putri.
"Putri cantik Mama juga mau di suapikah?" tanya Dera dengan nada lembut. Dera pikir Laura cemburu dengan sang kakak dan sang ayah.
Kepala Laura mengeleng cepat. Sebelum melirik Launa yang menonton film kartun Upin dan Ipin yang tayang dengan teks bahasa Jepang di bawahnya.
Mau tak mau ia harus menjaganya harga dirinya. Begitu lah yang ada di otak Laura.
"Bagus kalau begitu, Papa dan Abang tidak punya saingan!" goda Hiro pada putri bungsu nya.
Laura mendengus pelan. Vian menusuk potongan apel di piring menyorokan nya di depan bibir sang adik.
"Laura kan maunya si suapi sama Abang Vian, kan ya!" Ucap Vian dengan senyum lebar.
Laura mengembangkan senyum. Sebelum membuka mulutnya lebar-lebar. Vian menyuapi potongan apel pada sang adik. Hiro tertawa pelan melihat bagaimana ekspresi lucu Laura yang malu-malu kucing di suapi oleh Vian. Dera hanya mengeleng pelan.
"Launa mau juga?" tanya Vian pada adik nya yang lain.
Launa menoleh kebelakang menatap Laura yang tengah mengunyah apel.
"Aku maunya di suapi, Papa!" Ujar Launa dengan berigsut kebelakang mendekati sang ayah.
Hiro meraih garpu yang satunya lagi. Menusuk potongan apel dan menyuapi Launa. Anak perempuan nya menerima dengan senyum lebar.
"Lalu Mama siapa yang suapi?" tanya Dera dengan nada yang di buat-buat sedih.
"Aku!!!" Teriakan serentak dari ke empat nya membuat Dera tersenyum bahagia.
Ruangan tengah terasa begitu ceria dengan gelak tawa keluarga kecil Yamato. Meskipun tanpa Sean Yamato yang tengah asik dengan kencan nya dengan Adella.
***
Sean memasang jaket tebal yang baru ia belikan pada tubuh Adella. Meski waktu baru menunjukkan pukul delapan malam. Udara dingin di Jepang mampu menusuk sampai ke tulang.
"Sudah agak hangat?" tanya Sean khawatir.
Kepala Adella mengangguk. Sean tersenyum, sembari memasang jaket kulit milik nya. Setelah selesai tak lupa ia meraih tangan Adella. Menggenggam tangan gadis itu, membawanya masuk ke dalam saku jaketnya. Keduanya melangkah menuju jajanan pinggir jalan.
"Bagaimana kencan hari ini?" Tanya Adella di sela langkah kakinya.
"Sangat menyenangkan!" Jawab Sean ceria.
"Syukur lah kalau begitu!"
"Setelah ini kita langsung pulangkan, ya?"
Kepala Sean mengangguk. Ia tak mungkin membawa Adella pulang malam. Bisa di gorok leherya oleh sang ibu. Sean beberapa kali menarik Adella ke sana dan kemari. Membeli beberapa jajanan pinggir jalan yang tentunya bersih dan tanpa penyedap rasa. Mengingat negara Sakura ini sangat jarang memakai penyedap makanan. Tidak seperti Indonesia yang sangat menyukai penyedap rasa. menambah cita rasa. Agar lebih enak lagi.
Sean menggosok ke dua telapak tangannya. Sebelum menempelkan ke dua telapak tangannya di ke dua sisi wajah cantik Adella yang hampir membeku.
Adella merona. Beberapa orang berbisik-bisik iri melihat pasangan remaja yang di nilai romantis.
Bug!
"Maaf, Kakak!" Seru anak kecil itu membungkuk ke arah Sean dan Adella yang baru saja ia tabrak.
"Ah! Iya, tidak apa-apa. Tapi apakah kamu tidak apa-apa?" tanya balik Adella menatap anak lelaki kecil itu.
"Ya, tidak apa-apa kak. Sekali lagi maafkan saya kak!" ujarnya membungkuk ke dua kalinya dan pergi.
Dahi Sean berlipat.
"Ada apa?" tanya Adella melihat wajah aneh Sean.
"Ah?" Sean terkejut,"kau tunggu di sini sebentar ya. Soalnya ada yang ingin aku belikan untuk Mama!" ujar Sean.
Belum sempat Adella menjawab Sean telah meninggal nya di depan gerobak kecil hotdog. Sean berlari kearah anak kecil tadi melangkah.