The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 15 (Mahkota Bunga)



Tiga ketuk kan di luar pintu membuat Adella menoleh ke ambang pintu.


"Masuk!" serunya.


Kreak!


Pintu terbuka perlahan. Gadis imut itu masuk bersama Cleo. Ia mengulas senyum pada gadis di atas ranjang. Ke duanya menutup pintu perlahan sebelum melangkah mendekati ranjang.


"Bagaimana keadaanmu, Del?" Tanya Delta sembari menduduki bibir ranjang. Cleo naik ke atas tempat tidur.


"Lebih baik, terimakasih Delta!" jawab Adella pelan.


Delta mengangguk pelan.


"Apa sudah makan?" tanya Delta lagi.


Kepala Adella mengangguk pelan."Ya, tadi sudah di suapi oleh Mama Dera."


"Kalian berdua kenapa berada di sini?" tanya Adella pelan.


"Kami sudah letih bermain dengan Abang Vian dan yang lainnya. Kakak Delta ingin menjenguk Kakak Adella katanya. Jadinya kami ke atas," jelas Cleo.


Adella mengangguk pelan.


"Sudah berapa lama kau mengalami gangguan panik, kalau boleh aku tau?" tanya Delta memelankan kata di akhir kalimat.


Adella mengigit bibir bawahnya.


"Kalau kamu keberatan tidak usah di jawab," ujar Delta cepat.


Kepala Adella mengeleng pelan. Pertanda ia tidak keberatan menceritakan pada Delta.


"Aku tidak ingat jelas kapan gangguan panik ini akan alami. Aku sempat mengalami kecelakaan. Membuat aku koma satu atau mungkin lebih dari satu tahun terbaring di atas ranjang rumah sakit. Setelah aku sadar, aku mulai mengalami gangguan panik. Papa sudah berjuang untuk ku, melakukan banyak pengobatan. Sayang, gangguan panik ini masih terasa. Aku hanya mengonsumsi banyak obat penenang." Jelas Adella sembari menggenggam ke dua tangan nya.


Cleo menatap iba Adella. Delta meraih tangan Adella, ia dapat merasakan gejolak aneh pada Adella. Gadis di depannya ini menyimpan seribu misteri yang sulit untuk di pecah kan.


"Lalu bagaimana bisa kau bermain piano. Bukan kah itu sangat sulit, karena menjadi sorotan?" tanya Delta pelan.


"Musik salah satu yang mampu membuat aku merasa lebih nyaman. Mungkin saat akan tampil aku akan mengonsumsi beberapa butir obat penenang. Bermain Piano membuat aku mampu menyalurkan rasa sedih yang terpendam, frustasi dan kemarahan yang tak tau sebenarnya aku tunjukkan pada siapa," paparnya dengan nada lirih,"Tak jarang stelah aku tampil. Aku akan mengeluarkan seluruh isi perutku," lanjut nya pedih.


Delta semakin mengeratkan genggaman nya pada Adella. Tangan satu lagi mengusap pelan punggung tangan Adella. Mencoba memberikan ketenangan bagi Adella.


"Tidak masalah. Sekarang kau punya aku dan yang lainnya," kata Delta.


"Kakak juga punya aku!" timpal Cleo.


Adella menarik ke dua sisi sudut bibirnya. Ia merasa sedikit lega. Meski hanya sebuah kata-kata dan genggam. Ia merasa lebih baik. Karena ia tak lagi sendiri.


"Tidak akan ada yang berani menyakiti mu. Terlepas trauma mu di picu oleh apapun itu. Sekarang kau punya banyak orang yang berada di sampingmu," ujar Delta lagi.


"Abang Vian dan Bang Sean adalah pria yang hebat. Ia bisa melindungi Kakak dari orang yang jahat. Yang terpenting selalu berada di sisinya. Kakak akan merasa aman. Meskipun Abang Vian dan Bang Sean terlihat tak normal kadang-kadang. Tapi mereka berdua adalah Abang yang hebat?" puji Cleo.


Kontan saja Adella dan Delta terkekeh ringan melihat bagaimana semangat nya Cleo mempromosikan ke duanya. Meski tak lepas dari sedikit hinaan. Di luar pintu Sean terkekeh pelan.


"Sebenarnya dia mau memuji ku apa menghina ku?" monolog Sean dengan nada pelan.


Pria remaja ini mencuri dengar. Bersandar di dinding luar kamar sang adik yang kini di tempati oleh Adella. Gadis yang ia cintai.


***


Satu persatu tangkai bunga Mawar merah di patah kan. Sean memotong beberapa tangkai bunga. Tentu, sudah mendapatkan persetujuan dari sang Ibu. Jika tidak wanita itu akan murka. Di seberang sana Laura dan Launa memetik beberapa bunga. Ke dua adiknya di minta untuk membuat mahkota dari bunga. Cherry berlari mendekati ketiganya membawa beberapa keperluan. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Keluarga Zhao telah pulang dua jam yang lalu. Begitu juga dengan David dan Delta.


"Ini Bang!" seru Cherry memberikan plastik khusus untuk membungkus bunga. Tak lupa pita kecil.


"Terimakasih cantik!" Seru Sean menerima bungkusan dari Cherry.


Anak perempuan itu tersenyum lebar. Laura melangkah mendekati Sean dan Cherry.


"Abang Sean lihat! Punya Laura sudah jadi!" Ujarnya memperlihatkan mahkota rangkai nya."Cantik tidak?" Lanjut nya.


Sean menatap."Cantik!" jawab Sean.


Laura bersorak ceria dengan pujian sang kakak. Anak perempuan satu ini memang sangat menyukai pujian. Berbeda dengan Launa. Anak itu masih memetik bunga dan merakit nya. Tidak terlalu peduli dengan sekitar.


Vian yang menjadi penonton hanya duduk di kursi taman dengan tangan tak lepas bermain game baru yang di kembangkan oleh sang ayah. Kepala nya mengeleng.


Vian menghentikan permainan nya. Membawa atensi ada wajah cantik sang adik.


"Tidak," jawab Vian malas.


"Kenapa?" tanya Laura penasaran.


"Malas!" jawabnya asal.


Laura mengeleng kan kepalanya. Sebelum melangkah mendekati Vian yang duduk di kursi.


"Abang menunduk!" pinta Laura ketika sampai di depan tubuh Vian.


Dahi Vian berlipat. Lucunya pria ini melakukan apa yang di minta di bungsu. Menunduk, hingga kepalanya sejajar dengan tubuh Laura. Anak berusia sembilan tahun itu meletakan mahkota bunga di atas kepala Vian.


"Sudah. Tadi mahkota ini sebenarnya untuk Mama. Tapi sepertinya, yang pertama untuk Abang Vian saja. Nanti Laura akan membuat yang lain untuk Mama," ujarnya.


Vian menegakkan tubuhnya. Tersenyum lebar.


"Abang cium!" Ujar Laura menunjukan pipinya pada Vian.


Vian mengecup pipi gembul Laura dengan lembut. Anak bungsu Yamato satu ini sangat menyukai ke dua kakaknya; Vian dan Sean. Ia loncat-loncat kegirangan. Cherry, Launa dan Sean hanya mengeleng melihat tingkah Laura. Anak perempuan itu kembali melangkah mendekati taman bunga.


Sedangkan di balkon kamar. Dera mengeleng pelan kepalanya melihat anak-anak di bawah sana. Pelukan hangat dan hembusan napas hangat di tengkuk nya tak membuat Dera terperanjat. Ia sudah biasa mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Bos Yakuza satu ini.


"Kenapa masih di luar?" seru Hiro pelan.


"Itu!" Tunjuk Dera pada arah taman.


Ke dua manik mata coklat hangat Hiro menatap ke arah tunjuk sang istri tercinta. Dahinya berlipat melihat anak-anak di bawah sana. Krasak krusuk memetik bunga.


"Ada apa dengan mereka, kenapa memetik bunga malam-malam?" tanya Hiro keheranan.


Dera membuang napas pelan.


"Kalau Sean aku tau dia kenapa. Tapi untuk ke dua putri kita aku tak tau," ujar Dera.


Hiro mengecup pipi kanan Dera. Membuat wanita satu ini mencubit pelan pinggang sang suami.


"Sakit sayang!" rengek Hiro."Kamu mau kakak petik seluruh bunga di bawah untuk mu?" lanjut Hiro.


Dera terkekeh pelan.


"Tidak, ah!"


"Kenapa?"


Dera tak menyahut ia melepaskan pelukan sang suami.


Pria itu mengikuti nya dari belakang.


***


"Tara!" Seru keras Laura kala pintu terbuka.


Adella terkekeh pelan melihat wajah kusam ke dua anak perempuan ini. Di atas kepala mereka ada mahkota bunga. Dan satu buket bunga mawar.


Ke duanya masuk ke dalam kamar. Adella berdiri dari posisi duduknya.


"Kenapa kalian terlihat kotor begini?" tanya Adella.


Serentak ke duanya menoleh ke arah cermin besar. Ke duanya terbelalak melihat keadaan mereka yang kacau. Ada noda lumpur di pipi dan di tangan.


"Kita harus cepat bersih-bersih!" ujar Launa panik.


"Ya. Mama akan murka!" kini Laura terdengar.


Adella terkekeh pelan.


"Ini bunga untuk kakak dari Abang Sean!" Seru Laura memberikan buket bunga pada Adella. Sebelum ke duanya setengah berlari menuju kamar mandi di dalam kamar.


Kepala Adella mengeleng pelan. Ia mencium pelan aroma bunga. Sebelum tersenyum lebar. Adella meletakan buket bunga di atas tempat tidur sebelum menyusul si kembar untuk membersihkan diri mereka.