The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 27 (Pecahan masalah)



Tiga ketukkan di daun pintu luar membuat kegiatan menyusun barang memiliknya ke dalam tas sang Dokter terhenti.


"Masuk!" serunya keras dari dalam ruangan kerja nya.


SRAK!


Pintu ruangan terbuka. Dahi Ochi Suzuki berkerut dalam kala melihat seorang wanita masuk ke dalam ruangannya. Wanita itu membungkuk saat sampai di depannya. Ochi berdiri dari posisi duduknya, ia ikut membungkuk sebagai salam penghormatan.


"Mohon maaf mengganggu Dokter Suzuki," ujarnya tak enak hati,"nama saya Dera, ibu dari teman Adella. Saya dengar putra saya beberapa hari yang lalu sempat mengantar Adella ke sini. Bolehkah saya meminta waktu Dokter Suzuki untuk berbincang?" lanjut Dera berbicara dengan formal.


Ochi mengulas senyum lembut.


"Ah, begitu ternyata. Saya Ochi Suzuki, seperti nya kita sebaya! Nyonya Dera bisa memanggil saya dengan panggilan Ochi saja!" balas Ochi dengan nada lembut.


Dera mengulas senyum lega. Sebelum ke duanya kembali berbicara. Di Rumah Sakit lain, terlihat Sean menyuapi Adella dengan telaten. Meski gadis remaja itu menolak untuk di suapi. Sayang nya, Sean Yamato dengan tegas mengatakan akan menyuapinya meskipun Adella menolak. Beginilah sekarang, Adella menerima suapan demi suapan bubur hambar.


"Kenyang!" tolak Adella dengan wajah memelas.


"Dua suap lagi saja," bujuk Sean.


"Dari tadi perasaan dua suap mulu! Jika di hitung ini sudah dua belas suap, dari yang di janjikan kata nya dua suap lagi." Kesal Adella memayunkan bibirnya.


Sean Yamato terkekeh lucu. Benar saja, akal-akalan dirinya saja. Agar Adella mau mengisi perut. Setiap gadis di ranjang pesakitan ini mengatakan kenyang. Maka Sean akan mengatakan dua suap lagi. Begitu lah yang terjadi. Adella bukan gadis bodoh yang bisa di tipu dengan kata yang sama.


"Sekali lagi saja, satu suap. Benar-benar udahan!" Bujuk Sean mendekatkan sendok berisikan bubur ke mulut Adella.


Adella sempat mendesah kesal sebelum membuka mulutnya. Menerima suapan dari Sean. Sean tersenyum lebar, tangannya bergerak meletakan nampan di atas nakas. Tepat di samping ranjang Adella. Sebelum meraih air putih hangat, tak lupa ia menyeka sisi bubur di bawah bibir sang gadis. Sebelum menyodorkan gelas pada Adella.


Adella merona.


"Terimakasih, Sean!" Kata Adella kala menyodorkan gelas kosong di tangan nya.


"Sama-sama," balas Sean. Sebelum mengembangkan senyum.


Wajah ingin muntah serentak di tunjukkan oleh Laura dan Launa. Melihat kemesraan sederhana yang bisa membuat kaum jomblo gali lubang kuburan masal, jika menonton interaksi Sean dan Adella.


"Hei! Ada apa dengan wajah kalian?" tegur Sean saat mata coklat kelam dingin milik nya gak sengaja melirik anak perempuan berusia sembilan tahun yang ada di sofa di dalam ruangan.


"Ayolah, kami tidak sedang ingin menonton drama picisah romansa anak sekolah. Seperti drama Korea yang di beli oleh kak Cleo. Kami berdua di sini sebagai pengawas dan menjaga kak Adella bukan penonton adegan ini," cemooh Laura dengan wajah masam khas milik nya.


Ugh! Bukan marah. Sean Yamato merasa ingin berlari ke sofa. Mencubit gemas ke dua sisi pipi chubby si setan kecil Laura. Sedangkan Adella tersenyum malu-malu kucing.


"Itu salah kalian sendiri, kenapa mau di suruh menjaga Abang dan Kak Adella. Kita berdua tidak akan macam-macam," tukas Sean. Sebelum menarik kursi untuk duduk, di samping ranjang Adella.


Ke dua bola mata Luana dan Laura berotasi malas.


"Aku juga tidak ingin menjaga Abang. Kami hanya di tugaskan menjaga kak Adella. Bukan jaga Abang," kini Launa angkat bicara meluruskan tugas mereka.


"Benar itu!" timpal Laura,"kami berdua hanya di tugaskan begitu. Lagipula mengawasi Abang tidak seru. Lebih seru kalau mengawasi dan menjaga Top dan Teddy!" lanjut Laura.


Laura memang sangat senang bermain dengan si beruang madu Teddy dan si Panda bernama Top. Dari pada sang kakak yang membuat matanya ternodai.


"Hei! Aku tidak suka dengan bintang berbulu itu," protes Launa.


"Itukan kakak Launa bukan aku," cibir Laura.


Launa cukup heran dengan kembaran nya ini. Meskipun tidak pernah menyentuh buku di rumah. Nilainya selalu saja tinggi, meski tak setinggi nilainya. Tapi, itu cukup aneh bagi Launa.


"Ya jelaslah nilaiku tinggi, aku itukan jenius!" Puji Laura pada dirinya sendiri.


Jika tadi Launa dan Laura yang berwajah kesal dan masam. Kini giliran Adella dan Sean. Launa dan Laura beradu mulut lagi. Entah untuk ke sekian ratus atau ribuan kalinya.


***


Guntur di sertai hujan badai menghantam sebagian negara Jepang. Langit di atas sana sangat gelap pekat, sesekali bercahaya kala kilat menyambar. Payung hitam dengan pakaian serba hitam melewati gang sempit. Aroma got menyatu dengan aroma anyir, kala sepatu hitam menginjak genangan air di badan jalan.


"Bos!" Seruan dan derap langkah kaki bergemericik kala genangan air di injak terdengar samar.


Langkah kaki sang pria berhenti. Ia membalikkan tubuhnya. Pria bertampang sangar itu membungkuk dalam. Sebelum mengajar tubuh yang basah dengan tegap.


"Bagaimana dengan kegiatan pasar gelap?" tanyanya dengan nada serak.


"Berjalan dengan lancar Bos. Barang-barang langka sudah mulai masuk ke gudang penyimpanan. Malam nanti, akan ada banyak orang yang hadir," paparnya.


"Yakuza, bagaimana dengan mereka?" ia memberi jeda,"apakah mereka juga akan datang untuk melihat barang bagus kita?" lanjut nya.


Seringai menakutkan itu tercipta


"Tentu saja Bos, mereka akan datang. Mengingat bukan hanya orang gila saja yang datang ke pasar gelap bawah tanah. Yakuza  dan Devil ikut serta hadir. Hanya saja aku tidak yakin apakah tuan Yamato dan Zhao sendiri yang akan menghadiri acara pelelangan nanti malam," jawabnya.


Segaris senyum naik tinggi. Melihat betapa ponggahnya pria tampan ini."Siapkan barang paling bagus. Kita akan melihat mereka dengan jelas. Sebelum melancarkan perang. Kita jelas harus bagaimana musuh kita," ujarnya.


"Ya, Bos!"


Ke duanya tersenyum menyeringai.


***


"Apa yang membuat mu termenung begitu lama, Hem?" Seru Hiro mengalungkan tangannya di leher sang istri.


Dera mendesah pendek."Aku bertemu dan berbicara dengan Dokter yang menangani Adella. Dia bilang trauma Adella cukup berat," kata Dera lirih.


"Lalu, apakah dia bilang solusi yang harus kita lakukan?"


"Ya."


"Apa itu?" tanya Hiro penasaran.


"Melakukan hipnoterapi dengan rutin. Setidaknya mengunci rasa takut Adella jangka panjang. Adella mengalami insiden kebakaran, sempat membuat ia terguncang. Bahkan sebelum kejadian itu dia bilang. Kalau Adella sudah terguncang kehilangan ibunya," papar Dera.


"Bukan itu sama saja dengan penipuan. Tidak ada yang bisa kita lakukan jika itu menyangkut masalah masa lalu. Seburuk dan semenakutkan masa lalu akan tetap harus di hadapi bukan?" ucap Hiro dengan nada tegas,"aku tidak mau dia kehilangan apa yang ingin di ingat," lanjut nya.


Dera mengerti dan paham maksud sang suami. Karena ia pun dahulu pernah merasakan berada di posisi Adella. Kehilangan ingatan nya secara paksa. Hingga ia kehilangan hal yang sangat berarti baginya.


"Lalu kita harus apa kak?" tanya Dera.


"Kembali kan ini padanya. Biarkan dia yang memutuskan. Aku juga tidak tau dengan pasti, apakah dia akan mau menerima nya atau tidak. Karena yang benar menurut kita belum tentu baik untuk Adella," jawab Hiro bijak.


Dera membalik tubuh nya. Memeluk tubuh sang suami. Dera beruntung, mempunyai suami seperti Hiro. Terlepas dari siapa Hiro dan seperti apa sifat aslinya.