The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 102 (Kehancuran diri)



Jalanan tampak ramai lancar. Kaki panjang itu tak berhenti berlari keras. Beberapa kali ia menabrak pejalan kaki, senyum di ukur lebar. Manik mata itu tampak liar kala berhenti di gedung hotel besar. Hembusan napas nya tampak memburu. Namun garis senyum tak kunjung jemu.


Flower Hotel.


Posisi yang diinformasikan oleh Adella. Langkah kaki masuk, membawa tubuh pegawai membungkuk. Sean melangkah mendekati meja resepsionis.


"Permisi," ucap Sean dengan sopan.


"Ya, apa ada yang bisa kami bantu tuan?" tanya wanita cantik berlipstik merah maron.


"Ya." Jawab Sean sembari mengangguk kecil,"tolong periksa nomor kamar atas nama Adella Putri. Saya sudah ada janji temu dengan nya di hotel ini," lanjut Sean.


Wanita itu tersenyum mengangguk pelan. Sebelum jari jemarinya bergerak lincah di atas keyboard komputer di meja. Senyum segaris terlihat, sebelum wanita itu mengangkat pandangan nya.


"113 di lantai enam tuan," jawabnya.


"Ah, terimakasih!" balas Sean sebelum membungkuk kecil di balas sopan oleh sang wanita.


Sean setengah berlari menuju lift. Masuk menekan lantai kamar. Ia tampak gelisah, menanti lift naik. Beberapa kali manik mata coklat itu bergerak liar menatap ke atas. Menatap nomor lantai yang tertera.


Ting!


Denting lift berbunyi menandakan jika pintu akan terbuka. Sean melesat cepat, bola matanya bergerak liar menatap barisan nomor yang tertera di daun pintu. Hingga langkah kakinya terhenti di depan pintu 113. Jari jemarinya bergerak menekan bel pintu. Hanya butuh waktu tiga detik hingga bunyi engsel pintu bergeser dan terbuka.


Wajah Adella langsung tampak oleh mata. Ingin rasanya Sean menghambur masuk kedalam tubuh gadis di depannya ini.


"Masuklah," ujar Adella.


Gadis itu membuka sedikit lebar pintu kamar hotel. Membiarkan pria itu masuk kedalam kamar hotel VIP yang kini ia tempati. Kamar mewah dengan satu kamar, satu kamar mandi, satu dapur mini, dan ruang tamu.


"Duduklah, Sean!" ucap Adella.


Sean membuka mulut nya. Namun terkatup kembali, ia memilih mengikuti perkataan Adella. Ia duduk di sofa, Adella tampak melangkah menuju dapur mini. Membuka lemari pendingin, meraih dua botol air mineral dingin yang masih bersegel. Gadis itu menghela napas, sebelum menutup pintu kulkas kembali. Ia melangkah mendekati Sean. Sebelum mengambil tempat duduk di samping Sean. Gadis itu lebih dahulu meletakkan dua botol air mineral berukuran sedang ke atas meja.


Udara terasa aneh. Baru hitungan delapan hari ke duanya tidak bertemu. Perasaan tidak lagi sama, seakan kini ada sekat yang mendindinggi diri mereka masing-masing. Baju kemeja lengan panjang dengan rambut yang di ikat tinggi. Rok selutut tampak membuat penampilan Adella berbeda dari biasanya, kala riasan natural ikut di poles kan.


Beberapa bagian memar di tutupi dengan sempurna. Kamera dengan ukuran kecil terpasang di lukisan ruang tamu hotel. Dengan senyum miring Kris menatap ke duanya. Seolah menantikan pertunjukan yang akan membuat ia merasa puas.


Kembali pada ke dua remaja itu. Sean yang menundukkan pandangan mengangkat pandangan nya. Jatuh pada wajah Adella. Gadis itu tak tau bagaimana berbicara dan memulai dari mana.


"Adella," panggil Sean lirih.


Adella mengangkat pandangan matanya. Ke dua manik mata bertubrukan, membawa getaran tersendiri.


"Hem," jawab Adella pelan,"aku...minta maaf jika apa yang aku lakukan kemarin mengecewakanmu," ucap Adella dengan nada bergetar.


"Apakah itu benar-benar kemauanmu?" tanya Sean.


Telapak tangan besar Sean meriah tangan Adella. Menggenggam nya dengan perlahan. Seolah-olah meminta kejujuran dan menginginkan jawaban yang ingin ia dengar. Jawaban jika itu bukan kemauan nya. Atau dia terpaksa melakukan nya.


"Apakah kau akan percaya jika aku mengatakan aku terpaksa?" tanya Adella takut-takut.


Sean mengangguk cepat."Ya, aku percaya padamu. Aku sangat percaya," jawab Sean cepat.


Adella mengulas senyum.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Sean dengan nada pelan.


"Aku," Adella memberikan jeda. Sebelum melirik kamera tersembunyi. Ia melepaskan genggaman tangan Sean pada tangannya. Sebelum berdiri dari posisi duduknya. Menarik cepat kabel dari lukisan hingga kamera kecil itu terputus. Sean terbelalak melihat apa yang di keluarkan oleh Adella. Gadis itu dengan cepat menginjak kemera kecil dengan sepatu miliknya. Hingga hancur.


Adella menoleh kebelakang."Ayo, kita keluar dari disini!" ucap Adella dengan mata penuh ketakutan.


Sean berdiri cepat. Kris mengerang di ruangan kontrol melihat kemera terputus. Namun penyadap suara lupa di hancurkan. Kris bergerak cepat mengirimkan Sean rekaman video. Tinggal dua langkah lagi, tubuh Sean terhenti kala ponsel di saku celananya bergetar.


Adella memilih melangkah mendekati Sean. Pria itu terlihat sibuk membuka file yang di kirim melalui aplikasi Line miliknya. Gerakan jemari membuka file berkas video membuat pria itu mematung. Begitu pula dengan Adella. Suara itu, sangat familiar dengan pendengaran keduanya. Mata Sean bergetar. Senyum meninggi terlihat di bibir Kris kala earphone di kedua telinga nya menyuarakan nyanyian merdu.


Adella pikir ia tidak punya banyak rencana untuk menghancurkan hubungan mereka. Jangan salahkan ia jika ia harus memperlihatkan hati seorang pria. Keegoisan hingga kemarahan pria sangat menakutkan. Wanita mungkin masih mampu menerima bahkan memaafkan kesalahan terbesar pria. Akan tetapi, pria tidak begitu. Mereka bukan makhluk yang mampu menerima kesalahan orang terkasih.


Kembali ke ruangan di samping kamar yang Kris tepati. Wajah Adella memucat, pupil matanya melebar. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Kepalanya mengeleng kecil. Hingga notifikasi ke dua terdengar di ponsel Sean. Sean mengangkat pandanganya, yang semula pada layar ponsel ke arah Adella.


"Itu, tidak benar. Sungguh!" bantah Adella dengan nada bergetar. Kepala gadis itu mengeleng.


Manik mata coklat itu kembali jatuh pada layar ponsel. Dimana pesan masuk membuat hatinya mencolos.


VIDEO INI BUKAN REKAYASA. JIKA KAU TIDAK PERCAYA, KAU BISA MENGUSAP KASAR LEHERNYA. ADA BEKAS CINTA KASIH KAMI DI SANA!


Sean mengeleng cepat. Ia melangkah lebar, ponsel mahal itu di genggaman sangat kuat. Hingga layar ponsel retak kecil.


"Itu...sama sekali tidak benar Sean!" bantah Adella sekali lagi. Gadis itu meraih tangan Sean.


Sean menepis kasar. Hingga ponsel terkapar di lantai.


"Bagian mananya yang tidak benar Adella?" tanya Sean dengan nada serak. Suaranya jatuh ke dalam.


"Video itu," tukas Adella,"itu bukan aku. Suara itu bukan suaraku!" lanjut Adella memberikan bantahan.


Desahan yang tadinya menggalun bukan miliknya. Akankah pria ini percaya? Atau malah tidak mempercayai nya.


Ke dua kelopak mata Sean tertutup perlahan dengan ke dua telapak tangan mengepal keras di sisi tubuh. Ke dua rahang seksi milik nya mengetat. Sean Yamato, tengah menahan gejolak amarah. Dan kebingungan di dalam dirinya. Kelopak indah itu kembali terbuka.


"Buktikan!" ujarnya dengan nada berat.


"Bukti?" ulang Adella membodoh.


"Ya."


"Caranya?" tanya Adella kebingungan disertai ketakutan.


Sean menarik tangan Adella. Gadis itu menegang kala jari jempol Sean mengusap kasar tengkuk Adella. Hingga foundation yang menutupi ruam ungu kemerahan itu terlihat. Bukan satu ada dua buah. Sean mengerang.


"Itu..aku. Itu tidak seperti yang kau pikirkan!" bantah Adella terbata.


Sean tersenyum sinis. Pria bukan wanita, yang menjatuhkan kepercayaan pada hati. Pria lebih menjatuhkan kepercayaan pada bukti dan logika.


"Bukan kamu?" ucapnya dengan manik mata mengelap.


Kepala Adella mengangguk cepat. Wajahnya memelas, air mata jatuh begitu saja. Sungguh! Ia tidak ingin menjadi gadis yang lemah. Ia pikir apapun yang terjadi, Sean akan mempercayai dirinya. Seperti ia mempercayai Sean.


"Dan kau harap aku percaya Adella?" teriaknya mengelegar. Beruntung ruangan kamar kedap suara. Namun meskipun begitu, tentu Kris mendengar suara kemarahan Sean melalui penyadap suara.


Adella terperejat mendengar teriakan Sean. Gadis itu mundur satu langkah saking syok nya. Ini kali pertama Sean berteriak dan berwajah menakutkan.


Refleks tubuh Adella di salah artikan oleh Sean. Pria ini berpikir jika gadis ini, ingin kabur darinya. Kala tangan Adella mencoba menarik cepat tangan nya dari menggenggam keras telapak tangan Sean.


"Itu tidak benar. Sungguh! Itu tidak benar Sean. Aku berani bersumpah! Aku tidak pernah mengkhianati mu, apa lagi melakukan hal menjijikan itu!" bantah Adella dengan nada suara bergetar.


"Ah! Masih ingin berdusta, Adella?" ucap Sean dengan nada setengah tak percaya.


"Sungguh!" ucap Adella tak mampu mengatakan apa-apa lagi.


"Buktikan! Jika kau masih suci Adella!" bantah Sean.


"A——aku...a——ku," Adella tergagap. Ia tak tau bukti seperti apa yang harus ia tunjukan. Mendadak otaknya kosong.


"Kau tidak bisa?" desak Sean kecewa.


"Apa harus?" jawab Adella memejamkan ke dua kelopak matanya.


Manik mata Sean jatuh kembali pada bercak pada leher Adella. Seakan bercak yang sengaja di tutupi itu adalah kebenaran. Adella terpekik keras saat Sean bergerak menyudutkan nya di dinding. Manik matanya mengelap tidak menatap wajah Adella pria itu masih menatap lekat leher Adella.


"Sean!!!!" Pekik Adella keras kala pergerakan Sean mencekal kedua pergelangan tangannya keatas.


Tubuh Adella memberontak. Berteriak keras, suara robekan keras mengalun. Permintaan ampun ikut mengalun. Di seberang kamar, Very dapat mendengar teriakan Adella dari earphone di telinga Kris yang memang di setel sedikit keras. Tubuh pria itu bergerak.


"Kau ingin melihat keluargamu lenyap," seru Kris.


Tubuh Very menegang."Dia adikmu, tuan. Bagaimana kau dengan teganya membiarkan perbuatan itu padanya?" tanya Very dengan nada berat.


Kris mengulas senyum miring."Jika ia hancur di tangan pria yang ia cintai dan ia percayai. Maka ia tidak akan percaya cinta lagi, Very!" jawab Kris.


Pria itu bergerak mencopot earphone di telinga nya meletakkan di atas meja. Kedua tangannya terkepal, menahan gejolak amarah. Ia harus bisa menahan rasa sakit sementara. Untuk rencana besar. Sedangkan di ruangan kamar hotel Adella.


Erangan keras, teriakan tertahan merobek ketidak mampuan. Merenggut kepercayaan, air mata meleleh di sela kegiatan gila. Kemarahan bercampur hasrat bergerak mencari kepuasan diri. Erangan, tumbukan di bawah tak terkendali. Wajah memerah itu bersembunyi di celah leher jenjang. Keadaan kacau, desahan hanya menjadi nyanyian mengulurkan. Karpet merah menjadi tanda kematian hati.


Dorongan dan tarikan adalah hal tabu. Air mata ikut meleleh di kedua mata Sean. Kala pelepasan di salurkan, mengisi penuh rahim hingga tumpah ruah di paha dalam Adella. Cairan lengket menyatu dengan darah segar.


"Akh!!" Erang Sean sebelum tubuh kekar itu ambruk di atas tubuh Adella.


Pria itu buta dan tuli. Ia bahkan tak sadar jika celah yang ia masuki tersegel. Hingga memecah nya tanpa perasaan. Keduanya menangis dalam emosi tertahan. Sean dengan kemarahan tentang pengkhianatan. Adella dengan ketidak mampuan menyatakan ketidak bersalah diri. Tubuh polos ke duanya bahkan tak mengigil di sela hembusan AC kamar.


Biarlah penyesalan Sean kala sadar menjadi pembuktian. Jika ia tak pernah berkhianat. Adella Putri mencintai Sean Yamato. Lebih dari pada pria itu kira.


...****...


Mobil sport merah metalik melesat cepat membelah jalan. Lea tampak memberikan arahan pada kakak sepupunya. Anak perempuan ini memecahkan kesalahpahaman yang terjadi antara Adella dan Sean. Vian terlihat panik mengemudi.


"Tikungan ke dua dari lampu merah sebelah kanan Bang," ucap Lea,"di sana posisi Abang Sean berada!" ucap Lea memberikan arahan.


Gila saja. Mencari keberadaan Sean saja sungguh menyulitkan. Sean memasang pengaman pada ponsel nya untuk tidak mudah di lacak keberadaan nya. Pria itu memasang pengaman karena enggan di recoki oleh adik-adik saat berkencan. Siapa sangka malah menjadi bumerang pada dirinya. Kecerdasan yang di miliki Sean untuk meblock peretas cukup sulit untuk meretas ponsel pria itu. Sepuluh kali percobaan gagal. Vian bahkan mencak-mencak marah pada peretas hebat kelompok Yakuza.


"Semoga saja mereka baik-baik saja!" doa Vian lirih.


Mobil merah metalik itu berhenti di depan pintu masuk hotel. Di belakang mobil mereka ada beberapa mobil anggota Yakuza. Terlihat ikut berhenti. Pegawai hotel Flower tampak panik saat beberapa orang berseragam serba hitam melangkah terburu-buru mendekati pintu masuk. Membukakan pintu untuk Vian dan Lea.


Keduanya bergegas menuju lift. Tangan Lea masih menggenggam ponsel. Menunjukan titik dimana Sean berada. Dentingan lift terdengar pintu terbuka cepat. Vian dan Lea berjalan setengah berlari. Hingga sampai pada titik merah.


Keduanya saling adu pandang kala berhenti pada pintu yang terbuka setengah. Vian melangkah mendekati pintu. Membuka lebar.


Kreat!


Pintu terbuka. Ke duanya masuk cepat, gerakan cepat tangan besar Vian menutup ke dua mata Lea. Sean tampak meringkuk di sudut ruangan dengan keadaan kacau. Air mata mengalir deras, tubuh depannya tanpa baju. Hanya memakai celana Hawai pendek. Aroma cairan anyir menguar, Vian menenggang. Derap langkah kaki terdengar jelas.


"Bawa Lea kembali ke rumah," ucap Vian kala bawahan sang ayah sampai di samping tubuh nya.


"Baik, Bos!" Jawab mereka tegas.


Lea di balikkan perlahan tubuh kecil itu oleh Vian. Sebelum dilepas kan telapak tangannya. Anak perempuan itu, seakan tau apa yang terjadi. Terlalu cepat paham, ia melangkah tanpa bertanya ataupun berbalik. Keluar dari ruangan. Meninggalkan Sean dengan penyesalan terdalam. Sedangkan Vian dengan rasa carut marut. Meskipun masih remaja, bukan berarti mereka tidak mengerti dengan kekacauan yang terjadi.


"Sean!" panggil Vian lambat.


Tubuh Sean masih bergetar. Ia sempat syok saat sadar jika ia telah merobek dan menghancurkan apa yang Adella punya.


Sedangkan di lain tempat. Sedan hitam melaju dengan kecepatan sedang. Very mengendarai mobil dengan mata sesekali melirik ke jok belakang. Kris menghela napas, melihat kebungkaman Adella. Gadis——ah, tidak ia bukan lagi gadis. Adella merenung menatap jalan. Yang mereka lewati dengan pandangan kosong.


"Hah!" Kris mendesah pendek,"aku yang menjadi pemenangnya. Karena itu, jangan lupakan janjimu untuk tetap di sisiku, Adella!" ucap Kris tanpa hati.


Adella tidak menjawab. Ia hanya diam, tidak membantah ataupun menolak. Ia mendengus.


"Kau terlalu percaya. Setelah apa yang kau alami. Apakah kau akan tetap percaya pada dia?" ucap Kris kembali.


Very tak tau bagaimana bisa Kris setega itu. Jika benar mencintai Adella sebagai seorang gadis bukan adik. Bagaimana bisa ia bisa melihat Adella di perkosa di depan mata. Sebagai seorang kakak pun, itu hal yang patut. Very merasa bukan cinta di hati Kris. Melainkan obsesi ingin memiliki.


Bersambung.....


Hehe🙈maaf, author cuma bisa segini untuk hal beginian. Nggak perlu di perjelas kan ya😁😁😁 konflik akhir akan berakhir. Sad or Happy ending, itu masih ngambang. karena S2 juga bakal muncul jadi, mau sad atau happy Sama aja ya kakak-kakak 😉😉😉😈🤣