
Aroma obat-obatan tercium memenuhi paru-paru. Kelopak mata bulan sabit itu terbuka perlahan. Sebelum menggerjab pelan, menyesuaikan pencahayaan masuk menyapa retina. Erangan di kerongkongan yang kering menyadarkan pria berbaju jas putih kebesaran itu, jikalau gadis Asia yang ia tolong dua hari yang lalu membuka ke dua matanya.
"Eugh...." Erang Adella pelan.
"Kau sudah sadar?" ujarnya melemparkan pertanyaan. Sebelum mendekati ranjang pesakitan Adella dengan nada serak basah.
Adella tidak langsung menjawab. Anak remaja satu ini menyapu sekitar. Dimana ia kini di tempat kan. Besar kemungkinannya dirinya berada di rumah sakit.
"Rumah Sakit?" tanya Adella pada pria gagah itu.
Bukan menjawab pertanyaan nya. Adella malah balik bertanya pada pria di samping nya ini. Pria itu mengulas senyum, memperlihatkan salah satu lesung di pipinya.
"Ya, Anda berada di Ramah Sakit nona. Bolehkah saya memeriksa keadaan nona terlebih dahulu?" tanyanya dengan sopan dan formal.
Adella menanggung pelan sebagai jawaban. Pria yang berusia kira-kira dua puluh delapan tahun ini terlihat telaten memeriksa keadaan Adella. Termasuk perut yang sempat mendapat tusukan. Masih sangat basah.
"Ngomong-ngomong bolehkah saya tau kenapa nona bisa mendapatkan luka tusukan dan berlari tanpa alas kaki?" tanya nya setelah selesai memeriksa.
Adella menatap lambat wajah tampan pria yang di nilai bukanlah pria Eropa. Melihat wajahnya pria di samping tempat tidur nya ini masih orang Asia. Dengan ciri khas mata yang sempit. Dan tidak terlalu tinggi.
"Kalau nona keberatan tidak masalah. Tidak usah di katakan, setelah ini nona akan mendapatkan interogasi dari polisi. Mengingat nona adalah korban penusukan," ujarnya melihat keraguan di ke dua manik mata Adella.
"Maaf," lirih Adella,"dan terimakasih telah menolongku. Dokter Se Jun Lee!" lanjutnya sembari membaca name tag di baju dinas pria kemungkinan besar adalah warga Korea melihat marga belakang yang ia sandang.
Se Jun Lee tersenyum kembali. Memperlihatkan lesung di pipinya.
"Sama-sama nona...."
"Adella. Itulah namaku," potong Adella cepat.
Kepala Se Jun mengangguk-angguk pelan. Kembali mengulas senyum.
"Kalau begitu istirahat lah nona Adella," ujar Se Jun.
Adella mengulas senyum. Pria itu keluar dari ruangan rawat. Meninggalkan Adella dengan hidung mengerut, menahan rasa nyeri di perut bagian kanan nya.
Otaknya kembali mengawang-awang pada dua malam lalu. Saat listrik mati total di apartemen yang ia tunggu.
Flashback on!
Malam semakin larut. Hani masih di apartemen nya setelah mendapatkan telepon dari orang tuanya kalau mereka akan pulang agak telat.
"Ah, kenapa mereka harus pulang telat padahal. Aku sangat ketakutan sendiri," keluh Hani dengan nada manja.
Adella terkekeh pelan. Setelah berbincang-bincang dengan Hani. Adella dapat menilai gadis Eropa di samping nya kini adalah gadis yang manja dan ceria.
"Kalau begitu Hani tidur saja di tempat ku. Lagipula aku tidur sendiri," tawar Adella.
Ke dua manik mata Hani berbinar-binar mendengar tawaran dari Adella. Jujur saja, Hani kurang yakin jika ke dua orang tuanya akan pulang sesuai janji. Mengingat mereka sering begitu.
"Bolehkah aku menginap di sini?" tanya antusias.
Kepala Adella mengangguk mengiyakan.
"Terimakasih Adella!" Ujar Hani tidak lupa memeluk Adella dari samping.
Hani merasa senang. Mendapatkan teman baru yang begitu ramah dan sopan. Apalagi gadis yang beberapa tahun lebih muda dari nya ini sangat mengerti dia.
"Tentu saja. Sebelum nya kabari orang tua mu. Aku siapkan kasur tambahan dulu," ujar Adella. Sebelum bangkit dari posisi duduk nya.
"Oke!" Jawab Hani dengan jari tangan menari-nari di atas layar ponsel.
Adella melangkah mendekati kamarnya. Gadis ini menarik keluar kasur tambahan yang ada di bawa kasurnya. Tak lupa ia menyiapkan dua selimut. Sebelum keluar dari kamar.
"Ayo, kita tidur!" ajak Adella.
Hani bergerak cepat. Bangkit dari posisi duduk nya. Melangkah mendekati Adella. Ke duanya memutuskan untuk tidur lebih cepat. Mengingat tidak ada yang bisa di lakukan di dalam keadaan temaram.
Waktu menunjukan pukul dua belas malam. Adella terbangun, gadis ini turun dari tempat tidur dengan perlahan. Kala kantung kemih ingin mengeluarkan air yang ada di dalam nya. Ia meninggal Hani yang masih terlelap di tempat tidur bawah. Adella keluar dari kamar dan masuk kamar mandi.
Samar-samar Adella mendengarkan erangan. Adella mengigit pelan bibirnya dengan wajah penasaran.
"Masa ada hantu?" ujarnya dengan nada pelan.
Buru-buru Adella menyelesaikan panggilan alam. Hidungnya mengerut baru saja membuka pintu kamar mandi. Pupil matanya terbelalak melihat ruangan dapurnya terbakar. Mengingat lampu yang masih mati. Membuat alarm kebakaran tidak berbunyi.
"Hani!" ujar Adella panik. Sebelum berlari mendekati kamar.
Kaki nya membeku saat melihat Hani terkapar dengan darah di perut nya. Pria itu menusuk-nusuk perut Hani tanpa jeda. Sampai ia merasakan kehadiran seseorang di ambang pintu. Menyaksikan kebrutalan nya dalam menikam mangsa.
Bibir Adella bergetar. Suara yang ingin ia keluarkan hilang entah kemana. Saat pria bermasker hitam itu menoleh menatap nya.
"Kenapa ada dua wanita?" ujarnya bingung. Mengingat sang bos meminta ia menghabisi satu wanita. Namun siapa sangka di dalam satu apartemen ada dua."Kalau begitu kita habisi saja ke dua-duanya!" ujarnya dengan senyum menyeringai di balik masker.
Ia berdiri dari posisi duduknya nya.
Craas!
Pria itu tertawa keras. Kala mencabut pisau di perut Hani.
"Siapa yang menyuruhmu menghabisiku!" teriak Adella keras.
Hyat!!
Seru pria itu menerjang Adella. Dengan gesit Adella bergerak menghindar. Beberapa kali pria itu melanyangkan pisau pada Adella. Gadis cekatan menghindar.
Bug!
Bruk!
Brang!
Bunyi gaduh terdengar jelas. Api semakin membesar. Adella terus berjuang melawan. Hingga gerakan memutar dan kaki menghantam pria itu terdengar jelas, menjadi pukulan telak. Pria itu terjatuh menghantam sudut dinding. Kepalanya mengeluarkan darah. Pria itu kehilangan kesadaran.
Adella bergerak cepat melangkah mendekati Hani. Gadis itu sekarat, napasnya tersengal-sengal. Adella menantunya berdiri.
"Pergilah....... Adella......tinggal———kan aku sendiri di sini!" Ujar Hani disela tarikan napasnya.
Kepala Adella mengeleng cepat. Air mata meleleh begitu saja.
"Tidak aku akan membawamu pergi. Kau masih bisa selamat!" tolak Adellla.
Kepala Hani mengeleng lemah.
"A——aku," ujarnya memberi jeda,"sudah tidak kuat!" sekuat tenaga Hani merangkai kata.
"Hani!" panggil Adella setengah berteriak kala ke dua kelopak mata tertutup dengan napas Hani yang terdengar putus-putus.
Adella menangis keras. Tangan nya penuh noda darah, kala menekan perut Hani yang terluka. Jantung nya bertalu-talu kala Hani menarik napas panjang dan tak lagi bernapas.
"Hani!!!!!!" Teriak Adella keras. Gadis itu menggoyang kan tubuh Hani."Tidak. Kau masih bisa selamat!" Ujar Adella. Gadis ini mengendong Hani di punggung belakang nya. Sebelum berdiri susah payah.
Adella melangkah cepat menuju pintu keluar. Kala pintu terbuka. Matanya kembali terbelalak melihat api begitu besar melahap bangunan di sampingnya. Adella tidak gentar, ia menggendong Hani di punggung tanpa alas kaki. Melewati lorong dan satu persatu tangga dalurat untuk turun.
Di lantai atas. Pria yang sempat pingsan itu terbangun. Ia meringis menyentuh kepala belakang nya yang berdarah. Terbatuk-batuk pelan karena asap yang mengepul. Ia mengeram.
"Sialan. Gadis itu tidak boleh lolos!" monolognya sebelum berdiri dan berlari. Ia yakin Adella belum jauh berlari.
Tap!
Tap!
Tap!
Ia berlari menuruni satu persatu anak tangga dalurat. Senyum di balik masker terlihat kala mata jelinya menangkap tubuh Adella di bawah sana. Satu tangga lagi. Maka Adella akan bisa keluar sari pintu belakang.
"Tertangkap kau!" ujarnya.
Semakin menggema suara langkah kakinya.
Bruk!
Jleb!
Akh!
Bug!
Pergerakan yang gesit membuat tubuh yang di gedong Adella berguling hingga lantai satu. Adella meringis kala perutnya di tusuk.
"Mati! Kau!" bisik penjahat itu dengan serigai.
Adella mengantur napas sebelum pria gila ini mendorong pisau semakin dalam.
Hyat!
Bruk!
Crass!
Adella menarik cepat pisau yang tertancap dan menendang kuda-kuda kaki pria itu. Membuat pria itu terjerebab.
Jleb!
Jleb!
Jleb!
Jleb!
"Mati! Mati! Mati! Mati!" Teriak Adella menghujam balik pisau yang ia cabut paksa dari perutnya.
Berkali-kali ia menusuk perut pria itu. Ke dua matanya mengelap. Siapapun yang melihatnya, mereka akan menjerit dan berlari ketakutan saat melihat bagaimana Adella menusuk dan menusuk perut pria itu.
Prang!
Pisau di tangan nya di buang asal. Darah merembes di perut nya di biarkan. Ia turun dengan cepat. Mendekati tubuh Hani yang terlihat mengenaskan. Adella kembali mengendong tubuh Hani. Sebelum keluar dari apartemen. Sayangnya ada banyak orang di luar. Membuat Adella meletakan tubuh Hani rerumputan. Sebelum melangkah tanpa arah. Gadis ini merasa linglung. Berjalan tanpa arah. Otaknya kosong seketika. Sebelum ia hampir di tabrak mobil sedan. Ia pingsan. Hanya sampai di sana ingatan nya.
Flashback off!
Adella mengusap pelan air mata yang meleleh di sisi pipinya. Ia merasa bersalah pada Hani. Gadis yang baru saja ia temui.