The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 16 ( Perasaan Delta)



"Kau suka?" seruan di belakang tubuh membuat Adella membalik kan tubuh nya.


Sean melangkah mendekati Adella. Gadis remaja berpipi chubby ini mengulum bibir merah nya perlahan. Aroma mint  terasa menyegarkan, bersatu dengan aroma embun pagi.


"Ya, aku suka!" Adella mengangguk kecil ia tau apa yang di maksud oleh pria berkulit albino ini."Musim Semi adalah musim terindah bagiku," lanjut nya.


Sean mengangguk pelan. Ke duanya menatap pohon Sakura yang tengah bermekaran terlihat sangat cantik. Dengan warna pink dan putih.


Adella mengasah menatap bunga dengan garis senyum meninggi. Ekor mata Sean mencuri pandang ke arah samping sang gadis.


"Cantik bukan?" tanya Adella begitu saja.


"Hem. Sangat cantik," balas Sean.


Adella menurunkan pandangan nya. Menoleh menatap Sean yang ternyata menatapnya. Sejak kapan pria ini malah menatapnya? Itulah yang ada di benak Adella.


Wajah nya tertunduk malu. Senyum lembut tercipta, debaran tersendiri tak akan mampu di gambarkan dengan kata-kata. Sean suka. Ah, mungkin lebih dari kata itu. Desiran angin pagi membawa sensasi tersendiri. Kala kulit merasa lembab dan dingin. Akan tetapi, jauh berbeda di dalam tubuh ke duanya.


"Jangan terus menatap aku begitu," tegur Adella tanpa mengangkat pandangannya.


Sean tak mampu menyembunyikan senyuman nya. Tangan kanannya terangkat menggaruk pelan leher belakang nya. Sean Yamato salah tingkah. Apakah ini yang di namakan cinta? Sebuah rasa yang memiliki jutaan definisi.


"Apakah salah menatapmu?"


Adella mengigit pelan bibir bawahnya kala Sean melontarkan sebuah pertanyaan. Salahkah? Bukan. Tentu saja tidak salah, hanya saja gadis remaja satu ini merasa malu di tatap lama oleh lawan jenisnya.


"I——itu, tidak baik!" Adella tergagap.


"Tidak baik kenapa?"


"Hanya, tidak baik saja!"


Sean mengulum bibir. Jarak di bentang di antara ia dan gadis ini. Kembali di kikis, Sean berdiri di depan Adella.


"Angkat dong wajahnya," tutur Sean dengan nada berat.


Tidak tau mengapa, gadis ini mengikuti perkataan Sean. Mengangkat wajah cantik nya, hingga ke dua manik mata mereka berbenturan.


"Kau cantik. Kata Mama, objek yang cantik tak akan mampu menipu dan mengalihkan pandangan," kata Sean begitu saja.


Deg!


Deg!


Deg!


Debaran jantung terpacu lebih cepat. Hanya karena barisan kalimat yang mampu menenggelamkan diri lebih dalam pada manisnya cinta.


"Dan Papa ku bilang, saat kita merasa jantung berdebar keras pada orang yang sama. Maka ikat dia sampai tak bisa lepas apapun caranya. Dan aku sedang melakukan nya," lanjut nya lagi.


Gila. Sean Yamato gila! Sungguh. Bagaimana bisa pria remaja ini bisa menjadi seorang pujangga cinta. Menuturkan kata semanis novel romansa. Adella merasa linglung, bibirnya terkatup rapat tak tau apa yang harus ia jawab pada pria di depannya ini.


"Aa——aku, tak mengerti apa yang kau katakan!" seru Adella tergagap. Sebelum memutuskan tatapan mata mereka.


Gadis itu bergegas membalik kan tubuh nya. Melangkah cepat menuju rumah besar Yamato. Sean tersenyum malu-malu, tidak masalah jika gadis itu menghindari perkataan nya. Asalkan tidak menghindari ke hadarian nya. Sean tidak bisa, jauh dari Adella. Entah kenapa dan sejak kapan gadis itu menjadi nikotin dalam dirinya. Membuat dirinya ketergantungan.


"Keluarlah Papa, jika sudah puas mencuri dengar pembicaraan anak remaja," seru Sean tanpa membalik kan tubuh nya.


Hiro terkekeh pelan, pria itu keluar dari balik pohon Sakura yang berjarak dua pohon dari posisi Sean berdiri. Derap langkah kaki terdengar jelas. Hiro masih asik dengan tawa geli nya. Ayah empat anak ini tak menyangka jika putranya, yang selalu di anggap kecil olehnya bisa berbicara seperti itu. Apakah cinta bisa merubah seseorang?


Tunggu. Bukankah seorang Hiro Yamato juga berubah karena cinta? Pria ini lebih gila dari puteranya. Tidak memberikan Dera pilihan, menjadi kan wanita itu tahanan rumah. Berpura-pura menjadikannya sebagai hewan peliharaan. Tidak ada yang tau, Hiro jatuh cinta pada pandangan pertama pada Ibu dari anak-anaknya. Cinta pandangan pertama dan cinta pertama nya. Sungguh beruntung. Hiro bisa mendapatkan Dera menjadi Ibu dari anak-anaknya. Dan mendapatkan cinta wanita itu.


"Perkataan mu terlalu hebat son! Bahkan pujangga cinta dan seorang penulis Novel kalah olehmu!" Ujar Hiro menepuk pelan pundak Sean kala berdiri di samping Sean. Menatap punggung belakang Adella.


"Benarkah?"


"Tentu!" Hiro mengangguk pelan.


"Papa!" panggil Sean pelan.


"Bagaimana caramu mendapatkan Mama dulu dan mendapatkan hatinya?" tanya Sean menoleh menatap sang ayah.


Hiro tersenyum lembut. Meskipun Sean dan Vian tau perjuangan aneh Hiro mendapatkan Dera. Namun tak semua nya di cerita kan dengan gamblang oleh Hiro dan Dera. Ke duanya hanya mempersingkat cerita romansa mereka. Hingga bisa awet sampai saat ini. Tidak ada yang bisa mengalahkan bagaimana besarnya cinta Hiro pada Dera. Begitu pula sebaliknya.


"Kau penasaran?" goda Hiro.


Sean tersenyum miring."Ya, aku cukup penasaran. Karena bukan cuma Papa saja yang mencintai Mama. Seperti semua orang tau ada tiga kandidat yang juga mencintai Mama," jawab Sean.


Hiro menurunkan tangan nya di atas bahu Sean. Pria ini melipat ke dua tangan berotot nya di depan dada.


"Cinta yang tulus dan takdir. Itulah yang membuat Papamu ini bisa bersama Mama mu. Ketulusan bukan kunci satu-satunya," jawab Hiro pelan.


Sean mengangguk pelan."Berati aku harus lebih keras lagi mendekati nya," putus Sean.


Hiro mengangkat ke dua bahunya."Jika kau mau, Papamu bisa membantu mu hingga ia jadi milik mu, son!"


"Caranya?"


"Gampang. Papa dan Mama hanya tinggal menikah kan mu dengan nya," jawab Hiro mendapatkan tatapan kesal dari Sean.


Hiro tertawa pelan. Sean memang lebih galak darinya. Mungkin galaknya sang putra di turunkan oleh sang istri. Dan sikap dingin Vian, benar-benar di turunkan darinya.


***


Pandangan mata orang-orang tertuju pada ke enam orang yang tengah melewati lorong. Adella menunduk dalam, tangan kiri nya di genggaman oleh Delta. Gadis imut itu, dari tadi memang selalu di sisinya. Dan di sisi kanannya, Sean Yamato melangkah beriringan.


"Aku bosan dengan pandangan orang-orang." Delta angkat bicara di sela langkah mereka menuju tangga paling atas.


"Kenapa?" Tanya David dengan pandangan aneh."Bukankah itu sudah biasa." Lanjutnya.


Willem berdecak pelan. David memang orang yang paling tidak peka. Vian? Anak lelaki ini fokus mendengar musik yang mengalun melalui earphone Bluetooth mahal milik nya. Sean merangkul pelan bahu Adella. Membawa tatapan kesal dari Delta. Sahabat nya satu ini benar-benar terlalu overprotektif. Mau tak mau Delta melepaskan genggaman tangannya pada tangan Adella.


Willem terkekeh pelan. Adella tidak berani melirik Sean. Hanya melangkah bersama ke lima nya. Delta melirik dari ekor matanya, wajah dingin khas Vian. Diam-diam, Delta merasakan debaran tak beraturan. Tepukan di pundak nya membuat gadis itu mengangkat pandangan. David ikut melakukan apa yang di lakukan oleh Sean pada Adella pada Delta.


"Besok adalah jadwal pemotretan kita. Sekaligus wawancara untuk casting drama terbaru. Kau ikut kan untuk casting?" Tanya David.


Delta menghembuskan napas pelan.


"Tidak tau." Balasnya seadanya.


"Loh! Bukanya kamu bilang ingin mencoba dunia entertainment?"


"Aku kurang yakin dengan yang ini!" Jawab Delta tak lupa melirik Vian dari ekor matanya.


Sean dan Adella hanya menjadi pendengar yang baik.


"Ambil saja kesepakatan yang ada. Setidaknya ada dua di antara kita yang terjun di dunia entertainment." Usul Willem angkat suara.


"Menurutmu bagaimana Sean?"


Sean mengerutkan dahinya sebelum menjawab."Kalau kau nyaman kenapa tidak! Benarkan Bang?" Kini Sean melempar pertanyaan pada Vian.


Vian tak menjawab. Sampai mendapatkan sikut dari Willem. Pria itu mengeluarkan sebelah earphone nya.


"Apa?" Tanya Vian dengan wajah polos.


David mengeleng kan kepalanya melihat tingkah Vian.


"Menurut mu, apakah Delta harus ikut casting film atau tidak?" Ujar David.


Vian melirik Delta yang ternyata menatap nya.


"Ikut saja. Kau pasti lolos, lagipula di sana ada David yang akan menjagamu!" Ujarnya.


Delta mengulas senyum tipis. Sangat tipis kepalanya mengangguk pelan.