The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 82 (Takut pada kemungkinan)



Hiro menghela napas kasar. Bos besar Yakuza itu tidak dapat berkata apa-apa melihat kekacauan yang terjadi di ruangan laboratorium yang di bangun khusus untuk sang putra pertama. Vian terlihat masih bernapas tersengal-sengal. Telapak tangannya berdarah. Yeko melirik anak remaja lelaki yang kini terduduk di lantai dengan pandangan kosong. Sebelum melirik isi ruangan yang kacau.


"Keluarlah!" titah Hiro dengan nada serak dan dalam.


Gio dan beberapa anggota Yakuza langsung membungkuk dan melangkah keluar. Tak terkecuali Yeko, tangan kanan Hiro. Ia ikut meninggalkan Hiro dan Vian di dalam ruangan. Hiro melangkah semakin mendekati sang putra.


Dia ikut duduk di samping Vian. Menepuk pelan pundak sang putra dengan pelan. Hingga wajah Vian menoleh ke samping. Menatap sang ayah yang juga menatap nya dengan pandangan tidak terbaca.


"Kenapa?" tanya Vian dengan nada lirih,"kenapa harus papa sembunyikan siapa dia, dariku?" lanjut Vian dengan manik mata kecewa.


Hiro kembali menghela napas pelan.


"Lalu kau sendiri kenapa, sudah tau dan bersikap seolah-olah dia bukan gadis yang kau cari?" bukan menjawab. Hiro malah balik bertanya.


Vian membuang muka asal. Tidak menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh sang ayah. Dokumen Adella di tak sengaja di baca oleh Vian. Saat anak remaja lelaki ini ingin berbicara perihal racun baru yang ia kembangkan. Ada rasa bahagia dan takut menyelubungi dirinya dalam satu waktu. Bahagia karena Adella yang sedang berada di samping nya saat ini adalah orang yang sama. Dia adalah sahabat kecil nya. Dan takut, ia takut jika semua nya tak berjalan seharusnya. Perasaan Sean, adiknya. Pria yang satu rahim dengan nya jelas-jelas memperlihatkan jika ia mencintai Adella. Begitu pula sebaliknya.


Meskipun ia ingin memiliki Adella. Ingin menjadikan Adella gadisnya seorang. Fakta baru terlihat membendung diri untuk mencurahkan rasa. Kala dinding tebal dan panjang terbentuk antara ia dan Adella. Sean dan Adella saling mencintai. Jika Sean bukan salah seorang yang ia sayangi. Mungkin saja, Vian akan egois. Menyingkirkan Sean dengan caranya. Membuat Sean dan Adella berpisah. Sayang, baik Sean maupun Adella. Memiliki tempat yang sama namun kedudukan yang berbeda. Satu adik dan satu gadis yang ia cintai.


Tepukan kecil di punggung belakang Vian membuat Vian menoleh kembali ke arah sang ayah. Pria itu tersenyum lembut pada sang putra.


"Kau takut menyakiti adikmu dan dia bukan?" tebak Hiro.


Kepala Vian mengangguk kecil. Senyum kembali mekar di bibir Hiro.


"Begitulah papa. Papa juga takut menyakiti baik kau maupun Sean. Papa bisa menyakiti orang lain tanpa harus berpikir. Namun kalau harus memilih antara kalian berdua untuk bahagia, papa tak mampu. Baik kau maupun Sean sama-sama berarti di hati papa!" papar Hiro. Membuka isi hatinya pada sang putra.


Vian diam. Ia mengerti, dan selalu mencoba untuk mengerti.


"Ya," jawabnya pelan.


"Karena itu, kita memilih bungkam. Serahkan semua nya pada waktu. Jika Adella benar-benar milik Sean. Maka dia akan terus berada bersama Sean. Jika dia miliki mu, cepat atau lambat ia akan menyadarkan hatinya. Jika ia mencintai mu," nasehat Hiro pada Vian.


Kembali kepala Vian mengangguk ringan. Hiro mengulas senyum. Inilah yang terjadi, jika ia menikah dengan wanita yang memiliki hati lembut. Meskipun ia seorang pria yang bengis dan egois. Keturunan nya tidak murni meniru sifatnya. Vian dan Sean, meskipun gila darah. Ke duanya tau cara saling mengasihani. Inilah yang selalu di syukuri oleh Hiro.


"Apa yang harus aku lakukan kedepannya pa?"


"Bertindak lah seperti biasa," jawab Hiro,"dan mari memulai membuat penawar racun nya. Karena hanya kau satu-satunya yang mampu membuat penawarnya," lanjut Hiro.


Vian menghela napas pelan. Sebelum tersenyum, berbicara dengan sang ayah dari hati ke hati memang benar-benar melegakan. Meskipun pria cenderung keras dan berontak. Namun, ada kalanya mereka menjadi lunak saat hati ikut terlibat.


...***...


Rambut pendek sebahu itu melambai kala di tiup angin siang. Adella duduk di depan kaca jendela yang di buka. Bibirnya masih pucat dan pecah-pecah. Begitu pula dengan wajahnya. Masih terlihat pucat, bahkan pipi nya yang berisi terlihat turus.


Srak!


Di sana ada Sean yang melangkah lebar dengan buket bunga Lili putih. Adella mengulas senyum, tidak ingin terlihat lesu dan lemas. Meski hari ini ia muntah darah dua kali dan mimisan.


"Kenapa kemari, kan masih jam sekolah!" Ujar Adella menarik roda kursi untuk menghadapkan tubuhnya pada Sean.


Remaja tampan itu terlihat membuang beberapa tangkai bunga yang telah mulai layu di vas ke dalam tong sampah Yang tempat di samping nakas.


"Ini jam istirahat pertama, nggak masalah datang ke sini!" ujar Sean tanpa membalik kan tubuh nya menghadap Adella,"dimana mama?" tanya nya.


"Mama sedang ke ruangan Dokter," jawab Adella jujur.


Terlihat kepala Sean mengangguk pelan. Sebelum membalikkan tubuhnya. Bunga Lili segar sudah berada di dalam vas bunga. Sean melangkah mendekati Adella. Adella memasang senyum manis. Sangat manis di mata Sean.


Saat sampai di depan kursi roda. Sean menekuk sebelah kakinya, guna menyamakan tinggi tubuh nya dan Adella. Manik mata elang itu tampak redup. Sean yang biasanya suka menggombalinya dengan banyak kata puitis hari-hari menghilang entah kemana. Pria ini cenderung serius.


"Tubuh mu kurus sekali sekarang," ujar Sean terdengar lirih.


"Hei! Wanita kurus adalah wanita yang terlihat menarik di mata pria," tukas Adella. Tak lupa ia terkekeh di paksakan. Tidak nyaman melihat pandangan mata Sean yang redup padanya.


Tangan hangat Sean menggenggam tangan dingin milik nya. Sean menundukkan pandangan nya.


"Mau tidak menikah dengan ku, secepatnya?" tanya Sean dengan nada serius.


"Kau becanda. Nikah bukan perkara gampang. Dan kita masih terlalu kecil untuk itu," tolak Adella halus.


Sean mengangkat wajahnya."Kita sudah berusia sembilan belas tahun Adella. Sudah cukup untuk menikah," kata Sean.


Adella diam.


Bukan. Sungguh, bukan maksud Adella menolak keinginan Sean. Ia ingin menikah dengan pria ini. Namun, dengan kondisi yang seperti saat ini. Ia tak ingin, apa lagi penyakit nya masih belum jelas. Jika kemungkinan terburuk ia dapat kan. Adella ingin Sean untuk tidak terlalu mencintainya lebih dalam. Karena kehilangan itu menyakitkan.


"Adella!" panggil Sean.


"Sean! Dengarkan aku. Kita, tidak tau seperti apa takdir bergerak. Kau tergesa-gesa ingin menikah dengan ku. Tapi aku tidak begitu," ujar Adella,"kau jangan terlalu memaksakan kehendak!" lanjut nya dengan nada berat.


Sean terdiam. Salahkah jika ia ingin gadis ini. Secepat. Ia takut kehilangan Adella. Sungguh.


"Kau seolah-olah ingin mendorongku jauh darimu Adella. Kau bahkan diam-diam meminta di rawat di Rumah Sakit luar negeri. Kau bermaksud menjauhiku, bukan?" ujar Sean dengan nada dalam,"tolong jangan mendorongku menjauh! Apa yang sebenarnya kau takutkan?" lanjut nya dengan nada bergetar.


Adella mengulum bibir keringnya.


"Sama seperti apa yang kau takutkan!" jawab Adella jujur.