The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 10 (Penasaran)



Nika tak henti-hentinya mengekori Adella. Hingga ke duanya berhenti di taman belakang sekolah. Adella duduk di kursi kayu panjang, di ikuti oleh Nika Yamada. Gadis cantik ini begitu penasaran dengan apa yang terjadi pada Adella dengan Sean Yamato. Orang-orang ramai-ramai membicarakan ke duanya. Lantaran, Adella berjalan berisian dengan Sean kala ke duanya sampai di sekolah. Pria remaja itu tak segan-segan memberikan tatapan mematikan pada orang-orang yang menatap Adella dengan pandangan kebencian atau pandangan penasaran dari mata lelaki.


"Kau penasaran dengan hubungan ku dan dia?" seru Adella tanpa menoleh menatap wajah penasaran Nika. Ia yakin gadis Yamada ini mengikuti nya karena rasa penasaran.


"Ya. Aku sangat ingin tau. Karena selama ini tidak ada anak perempuan yang bisa berjalan di samping Sean. Hanya ada Delta saja," jawabnya antusias.


Adella menengadah menatap indahnya langit biru di atas sana. Gumpalan awan berarak melintasi gedung sekolah mereka. Hembusan angin membelai wajah cantik Adella dan Nika. Gadis ini masih menunggu kata yang keluar dari bibir Adella.


"Kami hanya teman," jawab Adella setelah lama diam.


Terdengar jelas gadis di sampingnya ini melenguh tak percaya. Ayolah, pandangan itu bukan untuk seorang teman. Dan senyum itu bukan hanya senyum biasa. Orang-orang sekali lihat saja sudah dapat menerka jika Sean Yamato memiliki hati pada gadis ini. Meski wajah Adella tak secantik wajah anak perempuan disekolah mahal ini. Atau seimut wajah Delta yang menjadi teman satu geng Sean. Lucunya, Sean malah tertarik pada gadis satu ini.


"Jangan berbohong kawan. Hubungan kalian pasti lebih dari teman," sanggah Nika dengan ketidak percayaan nya.


Kepala Adella mengeleng. Membawa anak rambut nya yang di gerai lepas, bergerak ke sana kemarin. Terlihat sangat memukau.


"Sungguh. Aku tidak berbohong. Lagipula aku tidak tertarik dengan hubungan yang begituan," ujar Adella pelan.


"Eh! Kau tidak tertarik? Yang benar saja. Tidak ada satupun gadis remaja baik di dalam maupun luar sekolah ini yang tidak tertarik pada Sean. Banyak yang berlomba-lomba hanya untuk mendapatkan sekedar lirik


kan Sean. Tapi, kau yang mendapat lebih dari pada yang anak-anak lain ingin kan. Malah tidak tertarik," kata Nika tak percaya,"Apa yang membuat mu tidak tertarik?" lanjut nya.


Adella memejamkan ke dua matanya. Menikmati angin yang menerpa dirinya.


Apa?


Entahlah. Alasan untuk tidak menjalin hubungan dengan lelaki lain. Adella sendiri tak tau, yang gadis ini tau adalah ia sesungguhnya merasa tak suka berteman dengan siapapun. Merasa risih dan mendapatkan gangguan panik saat di tatap penuh dari orang-orang. Ia lebih suka menyendiri dalam kegelapan. Hanya ada ia dan kegelapan. Entah kenapa, ia merasa terbiasa dengan hal seperti itu.


Tapi di sini, ia harus belajar membuka diri. Sekedar berteman dengan orang-orang yang mendekati nya. Berbincang-bincang tak lebih.


"Adella!" Panggil Nika sembari menepuk pelan punggung tangan Adella.


Ke dua kelopak matanya terbuka perlahan-lahan.


"Pertanyaan ku," ujar Nika pelan.


"Aku tak tau alasan nya. Hanya saja aku belum memikirkan nya. Mungkin, aku ingin memiliki hubungan yang khusus nantinya. Setelah lulus sekolah dan tentunya dalam tahap pernikahan bukan pacaran." Jawab Adella sembari mengulas senyum tipis.


"Kau terlalu serius kawan," Canda Nika.


Adella menoleh ke samping."Begitukah?"


"Ya." Angguk Adella.


Ke duanya terkekeh ringan. Sebelum kembali membahas hal-hal lain. Adella terlalu engan membicarakan perihal hubungan.


***


"Cih! Sudahlah. Jangan menatapku seperti itu!" Kesal Sean.


Sontak ke empat pria itu memberikan tatapan kesal pula. Sebelum beralih pada Delta yang berpura-pura sibuk dengan kacang goreng telur di tangan nya.


"Jangan melihat aku juga begitu. Tanya kan saja pada Sean. Aku takut dia mengamuk padaku," tukas Delta takut di amuk Sean.


Sean di sofa hanya melipat tangan dengan wajah dingin.


"Benar. Padahal inikan berita bahagia," timpal David.


"Apa salahnya jatuh cinta. Kami tidak akan menertawakan mu. Hanya ingin tau siapa dia dan bagaimana kau jatuh cinta," cerocos Willem. Pria Zhao ini sudah sangat ceret sejak Sari menjadi Mamanya.


Kecerewetan nya hampir setara dengan David. Si kadal air, begitu lah Delta memanggil David.


Ke dua bola mata Sean berotasi malas. Kenapa orang-orang suka sekali mendesak dirinya. Apakah orang-orang tau dengan apa itu privasi. Membuat ia kesal saja.


"Setidaknya siapa namanya?" desak David. Sebelum menggeser duduknya mepet pada Sean.


"Hei! Kau membuat aku sesak bung!" Sean mendorong tubuh David ke samping kanan. Menjauh dari tubuh nya.


"Tidak mau! Aku ingin mendengarkan namanya. Kalau kau tak ingin berbicara, maka aku akan memakai wajah tampan ku ini untuk mencari tau. Bahkan aku akan membuat ia jatuh cinta padaku!" desak David dengan ancaman di akhir.


Sean berdecak.


"Oke! Menjauh dahulu!" Kesalnya. Sebelum memberikan pandangan membunuh pada David.


Pria bermata hijau ini terkekeh di buat-buat. Sembari memberikan jarak antara dia dan Sean. Vian dan Willem yang duduk di sofa di depan Sean terlihat memasang wajah penasaran. Pendengaran mereka bahkan di pertajam. Delta yang duduk di lantai dengan cemilan di tubuh nya hanya memutar malas matanya. Gadis ini tentu tidak lagi di landa kata penasaran. Karena sudah berteman dengan gadis itu. Dan tau tentang Adella.


"Namanya Adella. Anak baru di sekolah ini bagian seni. Aku bertemu pertama kali dengan nya di Perpustakaan beberapa hari yang lalu," papar Sean.


Willem dan David mengangguk-angguk. Berbeda dengan Vian, anak lelaki ini terdiam sangat lama.


"Dia bukan Adella teman kecil mu Bang. Karena aku sudah mencari tau info tentangnya. Dia di besarkan oleh Papanya. Papanya berpotensi sebagai seorang dokter. Yang terjun ke pelosok-pelosok untuk membantu orang-orang miskin. Mereka baru satu tahun ini tinggal di Jakarta. Terlebih lagi, di lehernya tidak ada tanda lahir. Wajah tidak cacat," jelas Sean dengan lugas.


Pria Yamato ini takut sang kakak salah paham. Sama seperti dirinya pertama kali mengetahui nama perempuan itu sama dengan teman kecil sang Kakak.


Delta mengerut dahinya. Ah! Gadis ini baru ingat, inilah kenapa ia merasa tak asing dengan nama gadis yang di sukai oleh Sean. Ternyata begitu. Diam-diam Delta merekam raut wajah Vian. Pria itu memasang tampang datar lagi setelah mendengarkan penjelasan Sean.


"Begitu ternyata. Aku berpikir ia kembali," seru Vian dengan nada berat.


Sean hanya mampu menatap Vian dengan pandangan ikut prihatin. Meski di dalam hati ia merasa was-was. Ia takut Vian terobsesi pada Adella. Ia tak ingin ada perang saudara hanya karena cinta. Mengulangi kisah klasik antara Hiro Yamato dan Leo Yamato. Semoga saja sang Kakak tidak jatuh cinta juga pada gadis yang sama dengan nya.


Anggap saja ia licik. Itulah kenyataannya.


"Aku ingin bertemu dengan nya," ujar Vian.


"Untuk apa?" tanya Sean.


Orang-orang di dalam ruangan diam. Hanya menjadi pendengar yang baik saja. Karena aura dari ke dua kakak-adik ini terasa aneh bagi mereka.


"Hanya ingin melihat calon adik iparku!"


"Dia akan merasa tak nyaman."


"Tidak Maslaah. Aku hanya akan melihat nya dari jauh."


Sean diam. Dia meragu, apa ia harus? Tapi melihat bagaimana ekspresi serius Vian. Ia tidak punya pilihan lain.


"Baiklah."