The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 44 (Berburu)



Malam dingin menusuk tulang. Dari kode matanya, ke duanya tersenyum miring. Ke duanya melesat dalam kegelapan malam. Hembusan napas dari lubang hidung membawa uap asap. Teriak keras hingga tembakan memekakkan telinga.


"Kita di serang!" seru pria bertato ular itu.


Sean tersenyum miring. Tangannya menggenggam erat pistol.


Door!


Door!


Akhh!


TANG!


Benar-benar gaduh. Vian tersenyum mengerigai kala wajah terciprat darah segar.


Sean memutar pistol di tangan nya.


"Di arah jam dua belas! Di sana adalah lautan darah untuk kita Bang!" Ujar Sean dengan alis di turun naik kan.


"Tentu, mari! Berpesta adik ku!" balas Vian.


Sean mengangguk. Vian mengeluarkan suntik berukuran cukup besar. Diisi dengan racun, di tangan kirinya ada pistol. Sedangkan Sean mengeluarkan belati. Menggenggam erat di tangan kiri nya. Sedangkan di tangan kanannya ada pistol.


"Show time!" Seru ke duanya sebelum melangkah.


"Itu mereka. Bidik!" Seru beberapa gangster.


Door!


Door!


Door!


Gerakan lincah ke duanya benar-benar mengecoh.


Door!


Door!


Akh!


Dua tembakan serentak melumpuhkan lawan. Kembali ke duanya bergerak, lues. Tembakan dan sebetan pedang terdengar jelas di kegelapan malam.


Door!


Door!


Door!!!!


Cipratan darah dan tubuh yang teronggok di tanah kumuh bersatu. Tubuh ke duanya sudah tak terlihat seperti tubuh manusia. Kala pistol di buang, belati bermain. Menghujam dan menangkis.


Hanya tiga puluh menit kurang. Para gangster telah tumbang. Cairan racun di tangan Vian telah kosong. Beberapa tubuh yang tidak di tembak mati rasa di dinginnya lantai. Sean tersenyum miring.


"Mereka sindikat penyeludupan dan penjual beli manusia." Ujar Sean kala merogoh salah satu saku orang yang terlihat mengelepar. Dengan leher memuncaratkan darah dari leher yang di gorok.


Vian mengangguk pelan. Teriakan sayup-sayup permintaan tolong dari dalam gudang kumuh mengalihkan atensi Vian dan Sean.


"Mereka ternyata di sana." Ujar Sean menunjuk pintu gudang.


"Ayo," ujar Vian. Sebelum ke duanya melangkah mendekati pintu gudang.


Tak jauh dari posisi ke dua nya. Dibalik pohon besar, Ella menatap ke dua kakak beradik itu dengan pandangan sulit di baca.


"Benar-benar mengagumkan," serunya dengan nada takjub.


Senyum nya merekah melihat punggung lebar Sean dari jauh. Pria yang ia cintai, terlihat sangat gagah. Ia menyukai Sean Yamato semakin dalam.


***


Hiro memangku ke dua tangannya di depan dada. Menatap ke dua putranya berganti-gantian. Tidak ada kata yang terucap dari Hiro. Meski ke dua anaknya sudah berdiri selama dua puluh menit dengan tubuh tegap.


Desahan Hiro terdengar. Ayah dari empat anak itu menggeleng pelan kepalanya.


"Berburu lah dengan baik anak-anak. Pulang dengan pakaian bersih. Papa tidak akan mentolerir lagi, jika kalian berdua pulang dengan pakaian penuh darah. Mama kalian akan kalang kabut melihat kalian. Beruntung tadi pagi, Papa yang memergoki kalian," seru Hiro dengan wajah dingin.


"Maaf, Pa!" Seru ke duanya serentak.


Mereka lupa jika ada sosok ibu yang akan memandang mereka dengan pandangan khawatir. Mereka terlalu asik berburu dan memulangkan orang-orang yang di jadikan perdagangan manusia ke pelabuhan Yakuza. Orang-orang yang di jual di pulangkan kembali pada keluarga atau negara mereka masing-masing. Terlalu sibuk, hingga lupa waktu. Terburu-buru pulang dengan tubuh penuh darah.


Hiro menyadarkan punggung belakang nya."Ya, sudah. Sana ke kamar kalian. Sebentar lagi kita akan sarapan pagi."


"Pulang berburu Bang?" seru Laura.


Vian dan Sean sontak mendesah pendek.


"Mau apa?" tanya Sean.


"Katakan mau mu cepat. Nanti Abang belikan," ujar Vian.


Laura mengulas senyum iblis. Jangan salah mengira, Laura Yamato memang anak perempuan yang manis. Namun di balik raut wajah manisnya, anak ini suka mengadu pada Dera. Baik, ayah mereka sampai ke dua Abangnya. Jika melakukan kesalahan. Maka ada yang harus di bayar sebagai uang tutup mulut.


"Berburu. Aku juga ingin ikut berburu, Papa sangat menyebalkan. Papa tidak akan mengizinkan aku berburu. Maka dari itu, Abang berdua harus membantu ku untuk bisa berburu," ujar Laura.


Kontan saja Vian dan Sean mendesah kesal. Laura Yamato! Ingin rasanya Vian dan Sean mencubit gemas pipi gembul Laura yang nakal ini dengan kasar. Sungguh menyebalkan.


"Bisakan!" ujarnya lagi.


"Hem!"


"Ya!"


Dua jawaban serentak dari ke dua kakak-kakak nya terdengar. Laura meloncat-loncat bahagia. Vian dan Sean melangkah menuju kamar mereka.


***


Adella membasuh perlahan ke dua tangan nya yang penuhi oleh cat air. Di samping tubuh nya ada Nika Yamada. Teman satu jurusan.


"Kau terlihat lelah akhir-akhir ini, Del! Apa sih yang kamu lakukan sampai terlihat lelah?" tanya Nika menatap pantulan wajah Adella.


"Terlihat begitu kah?"


"Ya." Nika mengangguk.


"Hanya kegiatan yang mampu menguras tenaga saja," jawab Adella pelan.


Nika menyodorkan tisu ke arah Adella. Adella menerimanya, mengusap tangannya yang basah. Sebelum membuang tisu yang telah basah pada ke tong sampai di samping nya.


"Aku dengar Minggu besok kau akan ke Paris?"


"Ya, ada perlombaan Piano di sana."


"Sean sendiri dong di sini."


"Kan ada teman-teman nya. Kenapa dia sendiri?" tanya Adella dengan wajah tak mengerti.


Nika menyenggol bahu Adella pelan.


"Kau seperti tidak tau saja. Maksud dari perkataan ku ini. Kalau kau pergi dia sendiri, pasti banyak gadis-gadis yang akan mendekati nya lagi. Mereka akan beranggapan kalau kau itu pergi dari Sean," jelas Nika.


"Biarkan saja. Yuk, keluar!" Tarik Adella menuju pintu keluar toilet.


Nika hanya menurut saja. Ke duanya keluar dari kamar kecil. Pintu di salah satu bilik toilet terbuka. Memperlihatkan gadis cantik yang melangkah menuju cermin besar. Senyum merekah lebar.


"Dia akan pergi?" Monolog nya dengan senyum semakin lebar.


Jika Adella tidak di samping Sean. Itu berarti ia memiliki kesempatan untuk bisa mendekati Sean. Tidak akan Ella sia-sia kesempatan yang ada. Ia akan mendekati Sean dan mengambil hatinya. Selesai membasuh telapak tangan nya. Ella keluar dari toilet.


Hap!


Pergelangan tangan Ella di tangkap dan di tarik menuju salah ruangan kelas teater yang kosong.


"Bos..." cicit Ella pelan.


"Hai! Kucing manis ku," balas Kris.


Ella melepas tangan Kris dari pengelangan tangannya. Kris mengulas senyum segaris.


"Kau tidak lupa dengan tugasmu kan sayang?" ujar Kris dengan nada lembut namun tidak mampu menyembunyikan nada penuh ancaman.


"Tidak Bos." Kepala Ella mengeleng pelan.


"Bagus! Ingat Ella. Kau, adalah mata-mata ku. Aku yang menyelamatkan mu di ambang keterpurukan. Jadi, jangan berpikir yang aneh-aneh dan macam-macam!" Peringat Kris dengan jari jemari mengusap pipi Ella.


"Tentu Bos," jawab Ella lemah.


"Aku tunggu keberhasilan mu. Jangan mengecewakan aku, kucing sayang ku!" Kris berbisik pelan.


Ia tersenyum menggoda pada gadis cantik ini.