
Seorang gadis duduk di hadapan tiga orang pria dengan satu wanita. Sedangkan pria remaja satu lagi berada di samping nya. Ke dua manik mata nya berkedip lucu. Manik mata coklat kelam tajam itu terlihat memindai dirinya. Adella meneguk pelan air liur yang terasa tersangkut di kerongkongan. Tatapan mata anak-anak di depannya sangat mengintimidasi.
"Sudah selesai?" tegur Sean.
Kontan saja ke tiga pria itu memutuskan tatapan mereka. Delta melirik dari ekor matanya, bagaimana ekspresi Vian. Pria itu masih sama! Dengan eskpresi datar yang masih tak mampu dirinya baca dengan baik.
"Kau pernah ke Jepang atau ke Texas?" tanya Vian membawa pandangan mata orang-orang jauh pada pria Yamato ini.
"Aku?" Tunjuk Adella pada dirinya sendiri.
"Ya."
Kepala Adella mengeleng pelan. Sebelum menarik ke dua sisi bibirnya untuk melengkung, membentuk senyuman. Di paksa.
Itu yang pasti.
"Aku lahir dan tumbuh besar di Indonesia. Meski sering berpindah-pindah tempat. Bersama Papaku," jelasnya.
"Benarkah?" desak Vian.
Sean diam. Pria remaja itu enggan ikut menengahi. Bagi Sean, lebih baik Vian menuntaskan keinginan tahuannya pada gadis di sampingnya.
"Ya." Jawab Adella mengangguk.
"Kau punya tanda lahir di tengkuk, mu?" tanya Vian lagi.
Kontan saja, Adella menyentuh permukaan leher belakang nya. Tidak. Ia yakin ia tidak memiliki tanda lahir di belakang lehernya.
"Tidak. Aku tidak punya hal yang seperti itu," jawabnya. Sebelum menurunkan tangannya.
David dan Willem hanya diam. Sembari sesekali menatap Vian dan Adella berganti-ganti.
"Memangnya ada apa dengan ke dua pertanyaan itu?" kini Adella balik bertanya.
Vian menghela napas pelan. Pria ini merasa tak asing dengan ke dua bola mata hitam legam di depannya. Hanya saja, paruh wajah gadis remaja ini tak bisa ia kenali. Lucunya ada rasa akrab diri Vian pada gadis ini.
"Aku pikir kau orang yang pernah aku kenal," Vian berucap pelan.
Adella hanya mengangguk pelan. Ke dua tangan nya bertaut di bawah sana. Bohong jika ia tidak merasakan perasaan aneh kala pertama kali menatap ke dua bola mata Vian. Nama Vian terasa tidak asing. Gadis satu ini hanya merasa familiar dengan mata dan nama. Akan tetapi, ia tak tau kapan dan dimana ia pernah melihat dan mendengar nama Vian?
Ah! Sudahlah.
"Kau di sini untuk berapa tahun?" David pada akhirnya melempar kan pertanyaan. Jujur saja bibirnya dari tadi sudah sangat gatal. Ingin mewawancarai gadis di depannya ini.
"Satu tahun, karena kita kelas tiga. Lagipula, Sekolah ini adalah batu loncatan untuk aku berkuliah di Universitas yang ada di Prancis," jawab Adella jujur.
Sean menoleh ke samping. Gadis ini ingin berkuliah di sana, sedang ia akan duduk di universitas Columbia bersama Vian sang kakak. Raut wajah kecewa Sean dapat di tangkap dengan jelas oleh Vian. Seperti nya kembaran nya ini benar-benar telah jatuh cinta pada gadis Indonesia ini. Setidaknya, Vian lega. Adella Putri bukanlah teman semasa kecilnya. Dengan begitu, mereka tidak harus mencintai gadis yang sama.
"Sekolah Seni?" tanya David lagi.
"Hem." Jawab Adella mengangguk pelan.
"Ngomong-ngomong hubungan mu dan Sean, apa?" tanya David lagi.
Kontan saja Adella dan Sean sama-sama melotot. Sean menatap David dengan mata menusuk. Ingin membunuh pria keturunan Bule ini dengan tangannya.
David meringis pelan. Willem terkekeh pelan.
"Bukankah Sean tampan?" goda Willem. Untuk pertama kalinya suara Willem terdengar.
Sean terlihat salah tingkah. Kala Adella menoleh ke samping, menatap wajahnya.
"Tentu dia tampan!" jawab Adella jujur apa adanya.
Benar bukan? Sean Yamato sangat tampan. Dengan kulit putih pucat, rahang tegas, ke dua mata coklat tajam yang mampu menenggelamkan orang-orang. Siapa yang bisa menolak pesona seorang Sean Yamato.
Delta mencibir melihat ekspresi salah tingkah dari Sean. Vian melipat ke dua tangan nya di depan dada.
"Kau menyukai adikku?"
Serentak teman-teman si kembar menelan air liur. Gila! Bagaimana bisa Vian berkata seteru terang ini. Wajah Sean bahkan memerah seperti kepiting rebus. Adella diam. Gadis remaja berpipi chubby itu, lama terdiam dengan pertanyaan Vian.
"Suka, tentunya. Sebagai teman itu sudah pasti," jawab Adella dengan wajah tak berdosa.
KRETAK!
Rasanya rahang orang-orang di dalam ruangan khusus ini dapat mendengar ada yang patah samar-samar. Serentak menatap ke arah Sean yang terlihat kecewa.
"Apakah itu salah?" tanya Adella kala melihat ekspresi orang-orang yang duduk di depannya. Sebelum menoleh ke samping kiri.
Air wajah Sean di rubah cepat. Pria ini memasang senyum yang sangat di paksakan.
"Tentu saja, tidak ada yang salah. Tidak ada," ujarnya berat.
Oh, God. Ingin rasanya teman-teman bahkan kembaran Sean tertawa keras melihat ekspresi nelangsanya seorang Sean Yamato. Pria ini bahkan kalah sebelum berjuang. Namun, mengingat hubungan persahabatan. Ke empat nya menahan tawa yang sudah mengelitik diri.
"Ah! Sebentar lagi jam Seni akan di mulai. Kalau begitu aku akan duluan ke kelas. Sampai ketemu nanti lagi!" Ujar Adella melirik jam di pergelangan tangannya. Gadis ini berdiri dari posisi duduknya.
Membungkuk sedikit sebelum melangkah meninggalkan ruangan. Ke empat nya melirik punggung belakang Adella yang melangkah menuju pintu keluar. Gadis itu semakin menjauh dari ruangan atap sekolah. Menuju tangga untuk turun.
Satu!
Dua!
Tiga!
Hahahahhahahhahahah!!!!!
Tawa ke empat nya melambung. Sean memberikan tatapan membunuh. Ke empat nya tidak peduli, mereka masih asik dengan tawa mengejek.
Ayolah, seorang Sean Yamato begitu sempurna dan di kejar-kejar oleh gadis mana pun. Malah hanya di anggap teman oleh gadis biasa. Yang lebih lucu nya, adalah gadis itu tau pria gagah ini sangat tampan. Sayangnya, ketampanan yang paripurna ini tak selalu bisa memikat seorang gadis. Sungguh miris.
"Tertawa saja sepuasnya!" Seru Sean sembari melipat tangan di dada.
Ke empat nya masih asik tertawa. Menertawakan nasib Sean yang begitu malang. Apalah gunanya ketampanan wajah, jika orang yang di cinta tidak membalas rasa. Sungguh malang.
***
Adella menatap teman-teman satu jurusan di kelasnya malah menghindari nya. Meski tidak terlihat memusuhi nya, akan tetap Adella tau. Orang-orang benar-benar menghindari dirinya.
Ia duduk di bangku belakang sendiri. Hari ini gadis Yamada itu tengah tidak masuk sekolah. Ada jadwal syuting iklan yang ia kerjakan. Meski belum mendapatkan posisi yang besar setidaknya, karir gadis itu sudah sangat bagus.
"Cih! Melihat wajah nya saja aku mual."
"Aku pikir ia masuk ke sekolah ini benar-benar untuk belajar. Tapi ternyata hanya untuk mengoda Sean!"
"Lumayan lah ya, menjadi gadis yang di lirik oleh Sean pasti membuat ia merasa di atas angin!"
"Ssstt!! Pelan-pelan nanti dia mengadu ke Sean!"
Bisik-bisik lirih orang-orang di dalam kelas membuat gadis berpipi chubby ini merasa pening. Tubuh nya terasa sangat dingin, degup jantung berpacu dengan keras. Ia merasa Dejavu dengan keadaan yang melanda. Di bawah meja Adella meremas keras tangan nya.
Di depan dan guru tengah menerangkan beberapa pianis terkenal dengan lagu yang mereka ciptakan sendiri. Peluh menetes membasahi punggung belakang nya.
"Maaf Pak!" Seru Adella mengangkat tangan.
"Ya?"
"Saya merasa tak enak badan. Bolehlah saya ke UKS?" ujarnya.
Sang guru menatap lambat Adella. Wajah gadis itu tampak sangat pucat.
"Ya. Cepat lah. Apa perlu di antarkan?" tanya sang guru khawatir.
"Tidak usah, terimakasih pak!" Ujarnya sembari berdiri.
Sang guru mengangguk. Adella melangkah menuju pintu keluar. Tatapan mata, bisik-bisik samar dan tawa pelan membuat Adella semakin pusing.