The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 21 (Kejahilan yang di gantikan)



CRAS!


Darah segar mengalir melalui pergelangan tangan yang telah di potong. Bibir tebal itu terlihat telah memucat. Senyum miring terlihat jelas, pria bertopeng itu tersenyum di balik topeng nya.


Lambang mawar hitam di balik lengan telah berpindah tempat. Kotak kecil berwarna hitam di buka oleh pria satu lagi. Dengan perlahan, pria topeng itu memindahkan daging lengan yang telah di potong di dalam kotak. Tanpa harus menghancurkan lambang mawar hitam.


Pria itu mengerakkan jari yang telah di lindungi oleh sapu tangan karet. Menulis dengan darah korban yang telah tergeletak tak bernyawa di lantai berdebu.


DENDAM LAMA. SUDAH SAAT NYA YAKUZA BAYAR DENGAN NYAWA. SATU PERSATU ANGGOTA MAFIA YAKUZA DAN ORANG TERKASIH. AKAN MERASAKAN DENDAM LAMA. TUNGGU! AKU AKAN DATANG.


Tulisan besar dengan darah di letakan di dalam kotak.


"Jangan sampai pergerakan kita terbaca," titahnya.


"Baik Bos!" jawab anak buah nya dengan patuh.


Pria itu bertopeng itu bersiul kecil. Sebelum melangkah keluar dari gudang kumuh yang ia datangi. Dendam yang tak terputus harus ia sudahi. Ini saatnya, ia menghancurkan kelompok sialan itu. Dan merebut kejayaan yang harusnya menjadi kelompok nya.


Harus.


***


Danau buatan terlihat sangat asri. Cahaya mentari di atas sana, terasa begitu hangat. Cucu Adam dan Hawa itu terlihat memandang hamparan danau. Adella tidak pernah berhenti takjub dengan apa yang di bangun oleh Mafia Yakuza ini.  Banyak hal mengejutkan gadis remaja satu ini.


"Kau menerima tawaran dari Mama?" tanya Sean membuka pembicaraan setelah lima belas menit ke duanya berada di tepi danau. Duduk di batang kayu yang rebah.


Adella menghela napas pelan memulai mulut.


"Entahlah," jawab Adella pelan.


"Kau ragu?"


"Bukan begitu, hanya saja....tidak enak."


"Apa masalahnya yang membuat mu tidak enak?" tukas Sean,"di sini kau akan sangat aman. Rumah besar ini di jaga sangat ketat oleh keluarga ku. Jika terjadi sesuatu padamu akan ada banyak pertolongan. Dan yang penting di sini ada Cleo yang bisa di ajak bicara dan bermain. Kau di rumah kontrakan itu sendiri, membuat aku khawatir," lanjut Sean.


Adella mengigit pelan bibir bawahnya. Apa yang di katakan oleh Sean tidak lah salah. Kontrakan nya memang lebih dekat dengan Sekolah. Akan tetapi, ia yang tinggal sendirian di sana akan sangat berbahaya.


"Adella!" panggil Sean berat dan dalam.


Adella menoleh ke kanan.


"Mama ku memberikan mu tinggal di sini bukan main-main. Mama tidak pernah sekedar berbasa-basi dengan orang. Mama ku adalah orang yang tulus. Kau tinggal di sini tidak akan merepotkan. Malah Mama akan sangat senang. Begitu juga dengan Papa dan saudaraku yang lainnya," papar Sean. Mencoba membujuk Adella untuk mau masuk ke rumah nya.


Sean Yamato cukup resah dan gelisah jika Adella tinggal sendiri di kontrakan. Sean merasa tidurnya tidak nyenyak jika Adella sendiri di sana.


"Lalu bagaimana dengan mu, apakah kau senang aku tinggal di sini?"


Bodoh. Ingin sekali Adella memaki pelan. Bagaimana bisa bibirnya berbicara seperti itu. Rasanya terdengar bodoh dan penuh harap.


Jika Adella memaki. Maka beda pasal nya dengan Sean. Pria remaja itu menarik tinggi lengkunggan senyum di bibirnya.


"Tentu saja aku, sangat senang." Jawab nya sembari tersenyum lebar.


"Eh! Eh! Atur jarak aman. Jangan coba-coba mepet pada kak Adella!" seruan keras di speaker terdengar jelas mengalun.


Kontak saja Sean dan Adella terlonjak. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Tiba-tiba suara keras Laura mengalun. Sean beringsut perlahan-lahan ke posisi semula. Ke dua kelopak matanya tertutup perlahan. Sebelum di buka kembali. Hati Sean memaki pelan. Ingin bermesraan, malah di ganggu oleh adik bungsu nya.


Sean lupa jika di beberapa sudut di luar rumah ada cctv kecil yang memantau pergerakan di dalam rumah besar Yakuza. Sean berani bertaruh, adiknya ini pasti tengah berada di ruangan kontrol cctv. Tidak ada yang berani mencegah Sean. Mengingat tuan muda ke dua Yamato itu begitu menakutkan.


Laura Yamato, adik kecil nya yang cukup nakal dan berpikir licik. Tidak ia sangka-sangka jika Laura malah mengunakan kelicikan padanya. Untung adik. Setidaknya itulah yang ada di otak nya saat ini.


Adella menunduk malu. Laura di ruangan kontrol monitor terkekeh. Beberapa penjaga di sana ikut terkekeh pelan. Anak perempuan Yakuza ini cukup jahil. Ia duduk di depan monitor hanya untuk merecoki kakak ke duanya.


"Sudahlah tuan putri yang cantik. Nanti Abang Sean marah loh," bujuk Yeko yang berada di samping kursi Laura.


Laura menengadah menatap tangan kanan sang ayah dengan lekat. Pandangan Laura membuat Yeko meringis kecil. Seperti nya di setiap keluarga Yakuza. Selalu ada setan kecil. Dulu sekali, saat Sean seusia Laura. Anak lelaki itu juga sama. Suka sekali merecoki Hiro ingin bermesraan dengan Dera.


Beberapa kali Hiro mengerang kesal, hanya karena kejahilan Sean. Tapi sekarang, lihat lah. Ada lagi pengganti Sean Yamato. Yang dulunya suka merecoki orang kini di recoki oleh orang lain. Yeah, benar saja. Karma is real. Dan itu yang kini Sean alami.


"Abang Sean tidak boleh mesra-mesraan dengan Kakak Adella. Kata Papa, dulu Abang suka gangguin Papa dan Mama. Jadi, Laura harus menganggu Abang juga. Kata Papa, biar Abang tau rasa. Bagaimana rasanya di gangguin saat ingin berdua," papar Laura dengan lugas.


Kontan saja beberapa anak buah yang tengah berada di dalam ruangan kontrol tertawa keras. Tidak ada yang salah dengan perkataan putri kecil sang Bos. Hanya saja ini terdengar lucu dan menggemaskan saat mendengar Laura memberikan penjelasan. Benar-benar cerdas.


"Ya. Silahkan lakukan apapun yang nona ingin kan," Yeko mengalah.


***


Dera tertawa keras mendengar cerita sang suami. Hiro hanya tersenyum. Pria satu ini mengusap pelan rambut hitam legam sang istri yang basah. Dengan sebelah tangan memegang hairdryer yang menyala.


"Astaga!" Keluh Dera sembari mengusap ke dua sisi matanya yang basah. Akibat tertawa mendengar cerita sang suami.


"Aku tidak menyangka Laura secerdas itu." Adu Hiro mengusap pelan rambut Dera.


Dera tersenyum. Jujur saja ibu satu ini ingin melihat ekspresi kesal dari putra ke duanya. Sudah lama Dera tidak melihat ekspresi kesal dari sang putra.


"Kakak jahat sekali," kata Dera.


"Kakak bukan jahat sayang. Suamimu yang tampan ini hanya ingin membuat putra kita yang menyebalkan saat kecil itu tau. Bagaimana rasanya di ganggu, saat lagi asik-asiknya. Tapi tidak bisa membalas, karena sayang pada orang yang jahil itu!" Hiro membela diri.


Dera tersenyum lembut. Hiro mematikan hairdryer yang menghembuskan angin hangat. Meletakkan nya di atas meja rias.


"Tetap saja kasihan, dia kan baru memulai."


Hiro mencondongkan wajahnya. Meletakkan dagu di atas pundak Dera. Ke dua tangannya memeluk pinggang ramping sang istri.


"Ya ya...nanti Kakak gak begitu lagi kok." Ujar Hiro sembari mengendus leher sang istri.


Dera terkekeh geli. Sebelum melayangkan cubitan kecil di perut keras Hiro. Pria itu mengaduh. Dan melepaskan pelukannya dari tubuh Dera. Tegak dengan lurus. Bibirnya manyun, sangat lucu.


"Sayang!" panggil nya dengan nada lucu,"kita buat adik lagi yuk untuk ke empat anak kita!" bujuk Hiro.


Dera membulatkan ke dua matanya. Sebelum berdiri dan berlari. Kabur dari Bos Mafia satu ini.


.