The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 92 (Fakta Baru)



Leo menatap lambat sang putri. Anak perempuan yang menguncir ke dua sisi rambut nya itu terlihat begitu mengemaskan. Garis senyum di kembang kan, mencoba membujuk sang ayah. Agar anak ke dua dari Zeo Yamato ini luluh dengan tampang imutnya. Leo menghela napas berat. Ke duanya duduk berhadapan di sebuah kafe. Setelah selesai dari sekolah.


"Papa!" panggil Lea dengan nada imut. Ke dua kelopak matanya di kedip cepat. Bak anak anjing yang minta di elus.


Ugh. Leo Yamato gemas pada anak perempuan nya yang selalu saja membuat masalah. Persekian detik kepala Leo mengeleng cepat. Menolak pesona anak perempuan nya. Jika ia terhanyut oleh pesona Lea Yamato. Anak perempuan ini akan berubah semakin mengerikan.


"Lea!" panggilan Leo dengan nada beratnya,"kamu tau kesalahan mu kemarin, Hem?" lanjut Leo merubah raut wajahnya menjadi tegas.


Lea mengeleng kecil dengan ekspresi polos. Benar-benar mampu memanipulasi diri siapapun melihat ekspresi polos tanpa dosa. Jika di lihat sekilas, Lea memang seperti anak perempuan lainnya. Begitu lucu dan menggemaskan. Senyum lucu yang sering kali ia perlihatkan. Namun siapa tau, Lea adalah perwujudan iblis. Terlihat polos namun penuh dengan rencana gila di otak nya. Jangan remehkan umur nya, Lea bisa menjadi senjata membunuh yang menakutkan.


"Bukankah ini sudah lebih dari ke lima puluh kali ya?" ujar Leo.


"Apanya, Pa?" tanya Lea sebelum mengembangkan senyum.


"Lea! Papa bukan tidak tau jika Lea memiliki keinginan membunuh yang kuat. Karena tidak bisa melepaskan nya itu membuat Lea begitu gemas. Papa tau bagaimana perasaan Lea. Tapi tidak begitu cara melepaskan hasratmu, sayang!" jelas Leo dengan nada lembut.


Senyum di bibir Lea memudar begitu saja. Manik matanya menajam, terlihat begitu menakutkan. Ah! Sekarang Leo tau wajah lain dari putrinya. Memiliki darah dingin, sangat wajar jika putrinya memiliki wajah lain. Sama seperti Sean, Vian dan ke dua anak sang kakak. Itu tidak membuat pria ini kaget dengan perubahan air wajah sang putri. Bukankah Sean, juga sama. Pria ini jelas melihat perubah anak-anak Leo dengan ke dua mata kepala nya. Meskipun Dera adalah manusia bisa. Manusia yang normal. Keturunan mereka bukan keturunan seperti manusia normal. Keinginan membunuh sangat kuat. Dan itu, di akui oleh Leo. Karena ia sendiri dulu pun begitu.


"Lalu, apa yang bisa menjadi pelampiasan ku, papa?" tanya Lea.


"Papa dan paman Hiro akan membantumu. Karena kakak-kakak sepupumu juga begitu. Tidak perlu menyembunyikan hal seperti ini dari papa, sayang. Dan papa harap setelah ini, minta maaflah pada Abang Sean. Kau hampiri membuat Buaya kesayangan nya meregang nyawa," ujar Leo dengan bijak.


Lea mengangguk pelan. Sebelum menyendok es cream dan mencomot kentang goreng di atas meja. Leo tersenyum.


"Tapi ingat, sembunyikan apa pun yang terjadi dari mama mu dan mama Dera. Bisa bukan sayang?" pinta Leo.


"Kenapa harus menyembunyikan hal ini. Jika dari mama, mungkin itu sudah pasti. Tapi kalau dari mama Dera itu begitu aneh papa. Bukankah anak mama Dera juga sama seperti ku. Lalu kenapa harus di sembunyikan?" tanya Lea penasaran. Otak dewasanya berjalan begitu saja.


Leo mengulas senyum.


"Mama Dera sama sekali tidak tau keanehan kakak sepupumu. Sama seperti mamamu, sayang!"


Lea tersenyum aneh. Sebelum mengangguk kecil. Leo ikut tersenyum. Kini Leo tau dengan pasti perasaan Hiro Yamato. Bagaimana takut nya, Hiro jika putra dan putrinya tidak terkendali akan darah. Sekarang, perasaan takut itu juga di rasakan oleh Leo. Pria ini dulu berpikir dan berharap jika putrinya akan seperti anak normal lainnya. Tidak mewarisi darah nya yang kental.


...***...


Manik mata hitam legam itu menatap musim yang akan segaera berganti. Musim dingin akan segera meninggalkan Jepang. Hingga musim paling di sukai banyak orang akan hadir. Pemanas ruangan terasa begitu hangat. Nika menepuk pelan pundak Adella. Membuat gadis remaja itu menoleh.


"Apa yang membuat mu, menatap jendela begitu lama Adella?"


Segaris senyum terlihat.


"Menanti!" jawab Adella ringan.


"Menanti?" ulang Nika dengan raut wajah tidak mengerti.


Kepala Adella mengangguk pelan."Menanti musim semi," ucap Adella.


"Ah. Musim semi ternyata," balas Nika dengan senyum lembut.


"Ya. Aku sangat menyukai musim Semi. Musim dimana ada tunas baru yang bermunculan. Hingga bunga Sakura bermekaran di banyak tempat. Dengan warna putih dan pink, terlihat begitu cantik."


"Kau terlihat memiliki kenangan indah di musim semi, Adella!" tebak Nika melihat senyum lebar dari Adella.


Kepala Adella mengangguk cepat."Oh! Musim semi adalah saat di mana aku pertama kali jatuh cinta."


Nika terbelalak."Jangan bilang kau sedang membicarakan cinta pertama mu?" tebak Nika kembali.


Kepala Adella kembali mengangguk cepat."Ya," jawabnya.


Belum sempat bibir Nika kembali menanyakan. Panggilan keras di ambang pintu membuat mereka berhenti berbicara. Adella menoleh ke ambang pintu.


"Aku keluar dulu ya, Sean sudah memanggil!" ujar Adella sebelum berdiri dari duduknya.


Nika hanya mengangguk pasrah. Adella bangkit dari posisi duduk nya. Melangkah setengah berlari ke arah Sean dan teman-teman pria itu. Tidak tampak kecanggungan, saat Sean menggandeng tangan Adella. Nika tersenyum kecil melihat pasangan mengemaskan itu. Ke enamnya melangkah menjauh dari kelas seni.


...***...


Ken menatap orang kepercayaan dengan wajah tak percaya. Pria tua itu menghela napas pelan. Selang infus masih melekat di tangannya. Begitu pula dengan alat bantu oksigen.


"Bagaimana bisa?" tanya Ken dengan nada lambat.


"Kami juga baru tau akan fakta ini Bos. Ternyata dia beberapa kali mencoba menghubungi Bos. Namun tidak bisa, mengingat saat itu kita sangat krisis Bos," jelasnya dengan nada lambat.


Ken Uchiha menatap lambat langit-langit kamar rawat inap nya. Very menatap lambat sang Bos.


"Lalu bagaimana dengan dia sekarang?" tanya Ken pelan.


"Saya mendengar jika dia mendapatkan penyakit parah saat setelah menemukan putri nya yang hilang bertahun-tahun Bos," jelas Very,"dan yang lebih mengejutkan lagi. Putri Bos dan dia berada di tangan Yakuza, Bos!" lanjut nya.


"Yakuza?" ulang Ken lirih. Hari ini pria yang sudah tidak bisa lagi bergerak selues dulu merasa pening. Kala mendapatkan berita keberadaan perawat yang pernah merawat nya.


"Ya, Bos." Jawab Very mengangguk pelan.


Sangat lama. Perawat cantik yang membuat ia jatuh cinta. Meskipun tau jika Susi sudah memiliki anak dan suami. Pria ini menginginkan Susi. Hingga hubungan terlarang terjalin di belakang istri nya. Sampai Susi hamil, tanpa ia ketahui. Tiba-tiba Susi balik ke Indonesia. Dan memutus kan hubungan mereka. Ternyata, wanita itu hamil darah dagingnya. Anak dari kegilaan ia dan Susi. Meskipun kondisi nya cacat, namun hati masih hidup dengan kuat. Dan pria ini berharap sang putra tidak mengetahui hal ini. Ia tidak ingin Kris menggila karena ia pernah mengkhianati cinta sang ibu. Bahkan wanita itu mati karena melindungi nya.


"Bagaimana keadaan nya saat ini di Yakuza?"


"Dia tubuh dengan sehat dan menjalin hubungan dengan Sean Yamato. Anak dari Hiro Yamato Bos," balas Very.


Ken mengangguk kecil pertanda mengerti. Susi meninggal satu anak untuk nya. Bahkan saat anaknya di culik, ia bahkan tidak tau akan hal ini. Bahkan hampir sampai pada saat kematian. Beruntung sebelum mati, Ken mengetahui fakta ini.


"Siapa namanya?"


"Adella."


"Adella," ulang Ken pelan,"nama yang cantik. Aku ingin melihat nya. Seperti apa wajah Putri ku," lanjut Ken penuh harap.


"Itu tidak mungkin Bos. Mengingat Yakuza akan curiga pada kita. Dan, tuan muda akan tau hal ini. Kita sama-sama tau trenpramen tuan muda seperti apa, Bos!" ingat Very.


Ken hanya mampu mendesah kecil. Pria tua ini merasa seperti makan buah simalakama.