
Dahi putih Adella mengerut halus kala tidak mendapatkan hasil dari pencarian nya. Meski lembaran corat-coret sudah hampir penuh. Hembusan napas kasar dari bibir Adella pertanda menyerah. Derap langkah kaki mendekati tubuh sang gadis remaja dapat ia tangkap dengan apik oleh indera dengarnya. Aroma mint bercampur dengan aroma tubuh maskulin Sean membuat Adella menghentikan gerakan pulpen di tangannya.
"Jangan mengejutkan aku, Se!" tegur Adella sebelum telapak tangan Sean mengudara menyentuh bahu kanannya.
Hembusan napas kasar Sean membuat ke dua sisi bibir Adella terangkat tinggi. Pria remaja gagah itu mengambil tempat duduk di samping Adella. Angin sore berhembus, menerbangkan anak rambut Adella yang tidak terikat.
"Kau lagi belajar?" tanya Sean berbasa-basi. Manik mata coklat gelap miliknya mencuri pandang pada buku paket Matematika.
Kepala Adella mengangguk pelan. Sean beringsut, mengikis jarak antara ia dan Adella.
"Kenapa dengan wajahmu?" tanya pelan.
Adella menoleh. Menatap wajah Sean, rahang tegas Sean serta aroma harum Sean menguar.
"Hei! Ken——napa sedekat ini," seru Adella tergagap. Kala ia sadari jarak ia dan Sean terlalu dekat.
Hembusan napas hangat Sean menerpa wajah Adella. Gadis ini kesulitan mengontrol detak jantung milik nya dan kesulitan hanya untuk menelan air liur yang telah berkumpul di tenggorokan nya.
"Kenapa?" tanya Sean dengan nada berat. Manik mata tajam itu menatap intens manik mata hitam legam milik Adella.
Bibir merah tanpa pewarna itu terbuka. Namun tertutup kembali, gadis ini ragu untuk memberikan jawaban. Sean gemas, sebelum manik matanya jatuh apa pada bibir merah sedikit bervolume milik Adella.
"Shit!" maki Sean lirih. Otak prianya terasa menyulutkan percikan kenakalan. Ia ingin merasakan bibir merah yang terbuka itu.
"Se———sean," lirih Adella. Kala kepala Sean di majukan.
Desir angin terasa menggoda diri pria dengan darah muda nan bergejolak ini. Jujur, hati kecil Sean ingin merasakan material lembut bibir Adella. Apakah yang di katakan oleh David Miyaki si kadal air itu benar. Jika bibir wanita terasa semanis permen kapas.
"Aku ingin mencobanya," ujar Sean dengan nada sangat berat dan lirih.
Ke dua manik mata Adella berkedip cepat. Kala hembusan napas Sean semakin menerpa wajah cantik nya. Ke duanya melupakan satu fakta, bahwa di rumah besar Yakuza ini terdapat banyak kamera pengawas. Termasuk di area taman belakang.
"Hem!" deheman keras. Kontan membuat Sean tercekat. Sedikit lagi, ya! Sedikit lagi. Bibirnya meraih bibir Adella.
Gila. Sean memaki dalam diam.
Ia lepas kendali dalam sekejap. Sean Yamato memundurkan wajahnya. Beringsut ke belakang dengan perlahan. Ke dua kelopak mata miliknya tertutup perlahan. Mencoba menguburkan aliran darah yang menggelora. Dengan debaran jantung yang menggila. Ia mengabaikan pria gagah yang melipat tangan di depan dada.
"Apa yang ingin kalian lakukan di sore yang indah ini, anak-anak?" seru Hiro dengan nada berat dan beribawa.
Wajah Adella memerah. Ia menunduk tak berani mengkat wajahnya. Salahkan Sean Yamato, pria remaja itu yang membuat si gadis manis berpipi gembul itu ingin tengelam dalam lautan samudera dari pada malu di depan mertua. Bolehkah, Adella menganggap Hiro Yamato sebagai mertua?
Hiro melangkah mendekati meja. Duduk di depan ke duanya. Meski ke dua sudut bibir Hiro berkedut. Ia ingin menyuarakan tawa keras saat ini juga. Melihat bagaimana Sean menahan hasrat prianya.
"Sean!" panggil Hiro dengan nada berat,"kenapa menutup mata, huh!" lanjut nya menggoda sang putra.
Sean membuka cepat kelopak matanya. Hingga bertemu dengan ke dua manik mata sang ayah. Dapat Sean lihat dengan jelas jika Hiro Yamato tengah meledeknya.
"Papa!" kesal Sean dengan nada setengah di tahan.
"Kenapa?" Tanya Hiro dengan dagu terangkat tinggi.
"Kenapa ke sini!" kesal Sean.
"Kalau Papa tidak ke sini. Malam ini akan ada pernikahan," goda Hiro. Sebelum memberikan pandangan mesum.
Wajah Adella semakin memerah saja hingga menjalar ke daun telinga.
"Papa!" tukas Sean dengan nada semakin kesal saja.
"Benar bukan. Kalau sudah tidak tahan tidak perlu di tahan. Katakan pada Papa dan Mama kalau kau mau menikah dengan Adella. Tidak ada yang sulit di tangan Papa mu ini, Son. Kau mau maka akan langsung terjadi. Mama akan senang juga menerima cepat pernikahan mu dan Adella. Berani sentuh, ya harus nikah dulu!" tutur Hiro dengan panjang kali lebar.
"Siapa yang nikah?"
Seruan keras membuat Sean dan Adella semakin merasa malu. Ibu empat anak itu mendekati ke tiganya. Di tangannya ada nampan yang berisi teko berisi jus jeruk, beberapa gelas dan cemilan. Melangkah semakin mengikis jarak. Dera meletakan nampan yang ia bawa di atas meja.
"Kenapa malah diam. Siapa sih yang mau nikah?" kembali suara Dera terdengar.
Hiro menarik tangan Dera. Membawa tubuh Dera berdiri di belakang nya, membuat posisi Dera pelukannya dari belakang. Kepalanya menengadah.
"Ini...Sean mau nikah sama Adella," jawab Hiro dengan entengnya.
Dahi Dera berlipat. Sebelum melayangkan pandangan pada Sean dan Adella. Ke duanya menunduk dalam. Senyum segaris terlihat di wajah Dera.
"Benar, kalian mau nikah. Mama sih gak masalah kalau Sean mau nikah muda sama Adella. Toh, kalian sudah berusia sembilan belas tahun di tahun ini. Dari pada memulai hubungan tidak jelas. Lebih baik di nikahkan. Yang terpenting itu adalah kalian udah siap," ujar Dera dengan nada lembut,"mama tidak suka kalau Sean main sentuh-sentuh. Adella anak perempuan, Sean juga punya adek perempuan. Jika adiknya di sentuh lelaki lain tanpa ikatan, Sean pasti akan marah. Benarkan?" lanjut Dera masih dengan nada lembut.
"Ya, Ma!" Angguk Sean patah-patah.
Hiro tersenyum lembut."Kalau masih belum mau nikah. Jangan macam-macam ya!" tegur Hiro dengan nada tegas.
Kontan saja ke duanya mengangguk cepat. Dera terkekeh geli, jujur saja. Hiro Yamato juga menyentuh nya tanpa ikatan dahulu. Meski tidak ada sentuhan ataupun hasrat seksual yang pria ini perlihatkan. Hiro hanya memeluk nya saja di saat malam menyapa. Tanpa melakukan hal lebih. Lucunya, si biang pemberi benih malah melarang sang putra berlaku sama. Kemungkinan besar, Hiro sadar. Ia punya anak perempuan yang harus di jaga dan di hormati. Takut juga ketua Mafia satu ini pada karma.
***
Hembusan napas tak teratur. Gaunggan Serigala lapar terlihat mengerikan. Di ruangan besar di lepaskan puluhan Serigala liar yang sengaja di pelihara. Air liur meleleh di sela gigi-gigi tajam sang bintang buas kala melihat Sean. Mereka sengaja tidak di berikan makan hanya untuk mengasah tubuh Sean kembali. Sudah lama Sean Yamato tidak melakukan pertarungan.
Pedang panjang penuh dengan darah yang menetes di ujung mata pedang. Beberapa tubuh Serigala tergelepar dengan darah yang menghujani.
Ggggrrrrrrrr!!
Kembali geraman terdengar. Sebelum bunyi gaduh membawa kegerian. Sean mengerakkan pedangnya dengan lincah. Menebas dan menusuk tubuh serta leher binatang berbulu itu.
Cras!!
Bruk!
Dua bunyi terdengar bergantian. Tubuh Serigala tumbang hanya dalam hitungan detik. Hiro melipat ke dua tangannya di depan dada. Yeko mengamati Sean di dalam sana. Adella menatap penuh keseriusan dengan pergerakan yang Sean lakukan.
"Pelajari lebih baik lagi. Kamu akan menjadi tangan kanan Sean kedepannya Adella. Jika benar-benar ingin bersama Sean. Yang bisa kau lakukan adalah memulai dan mengasah kembali kemampuan mu. Istri Sean adalah wanita yang kuat ke depannya. Kau mengerti!" ujar Hiro dengan nada nada berat dan tatapan tajam.
"Ya, Pa!" jawabnya patuh.
Hiro tersenyum. Adella Putri harus menikah dengan Sean. Gadis ini sudah terlanjur masuk ke dalam Yakuza. Jika ingin keluar, hanya kematian yang di dapat kan. Adella diam-diam mengamati Sean. Pemuda itu tampak bersemangat kala tubuh nya di mandikan darah. Adella merasa perasaan tidak biasa. Seakan-akan pemandangan seperti itu adalah hal biasa.
"Tambahkan jumblahnya!" titah Hiro dengan nada mengelegar.
"Siap, Bos!" jawab Yeko. Dengan kode tangan. Pintu di lorong di buka. Beberapa puluhan makhluk berbulu itu kembali masuk ke dalam menyapa Sean.
Pria itu telah menghabisi kawanan Serigala. Sean tersenyum miring, seakan. Ia menyambut ke datangan pada Serigala yang baru masuk. Napasnya terlihat tidak teratur.