
Grasak-grusuk terdengar di jendela kamar si kembar. Ke dua lelaki remaja tampak memanjat dinding kamar. Menuju pintu jendela kamar. Tubuh ke duanya di penuhi dengan darah segar. Sesekali ke duanya terkekeh karena mulai nakal. Hiro sudah memberikan wanti-wanti, untuk ke duanya jangan pulang lambat. Salahkan darah yang mengalir pada diri. Membuat mereka mengila dan tidak ingat waktu. Aroma anyir mampu menusuk hidung orang yang mencium tubuh ke dunya.
"Bang!" Seru Sean mengulur tangan nya pada sang kakak saat telah berada di dalam kamar.
Dengan senang hati Vian menyambut tangan sang adik. Ia masuk cepat.
"Thanks, my brother!" Ujar Vian sebelum mengulas senyum sok lugunya.
Sean mengangguk pelan.
Tok!
Tok!
Tok!
"Vian! Sean! Ini sudah jam berapa cepat bangun. Kalau lima belas menit belum bangun dan belum siap maka mama potong uang jajan!" Teriak Dera dari luar setelah menggedor pintu kamar sang putra.
Sontak saja wajah ke duanya panik.
"Jawab mama!" titah Vian dengan nada lambat.
"Abang saja!" balas Sean tak kalah panik nya.
Bak tertangkap basah sedang maling ayam di kandang ayam. Wajah ke duanya terlihat pucat. Takut ketahuan jika dari tadi malam tidak di rumah.
"Kamu saja!" ujar Vian mencicit.
"Vian! Sean! Dengar mama nggak?" Dera menggedor kembali pintu kamar sang putra.
wajah kembar tapi beda itu terlihat sangat lucu.
"I——iya, ma! Bagun. Kita udah bangun kok!" Teriak Sean pada akhirnya tergagap.
"Ya udah. Cepat siap-siap. Dan bangunin Abang Vian!" teriak Dera terdengar kembali.
"Oh! Iya," balas Sean berteriak dengan mata melirik Vian.
Langkah kaki terdengar menjauhi pintu kamar mereka. Ke duanya menghela napas lega. Sebelum terkekeh geli dengan wajah satu sama lain yang panik.
"Kita mandi bersama Abang!" ujar Sean.
"Ogah!" ketus Vian.
Sean tersenyum aneh."Kenapa?" tanyanya dengan nada aneh,"Abang takut kalah kalau punya aku lebih besar dari pada punya Abang. Jadi, karena itu Abang nggak pernah mau mandi lagi sama aku saat udah gede, Hem!" Goda Sean tak lupa ke dua alis matanya di naik turunkan.
Vian memerah. Sebelum mendorong pelan kepala Sean kebelakang.
"Enak saja. Pu——punyaku juga gede kali!" bantahnya dengan nada terbata.
"Iya kah?" ujar Sean dengan nada remeh,"coba mana aku lihat!" lanjut nya.
"Gila! Kau!" Teriak Vian sebelum melangkah cepat menunjuk kamar mandi.
Sean tersenyum setan."Abang ikut!" teriaknya. Sebelum melangkah mengikuti Vian ke kamar mandi.
BRAK!
Cklik!
"Hei! Kok pintunya di kunci. Katanya punyamu juga besar Bang!" Teriak Sean dengan jahilnya menggedor pintu kamar mandi mereka.
Tidak ada sautan dari dalam kecuali makian seisi kebun binatang. Sean tersenyum lucu. Sebelum senyum itu menghilang. Helaan napas letih terdengar lambat. Punggung belakang nya di sandarkan di pintu kamar mandi.
"Maaf, Bang. Aku mencintai nya dan menginginkan dia di sisiku!" lirih Sean pelan.
***
"Ada apa dengan ku?" lirihnya.
Kemarin-kemarin, tubuh nya masih baik-baik saja. Tiba-tiba batuk darah dan mimisan. Anehnya, hari ini terasa baik-baik saja. Hanya wajah pucat cukup menganggu. Tangannya meraih beberapa peralatan make up. Sekedar menutup ke pucatan wajah dan bibirnya.
"Pulang sekolah. Aku harus memeriksakan nya. Atau apakah aku harus bertanya pada papa Anto?" Monolog Adella di sela kegiatan nya mengulas pewarna bibir pink.
***
Masih seperti biasanya, anak-anak remaja perempuan akan mengila jika melihat dirinya dan kawan-kawan nya. David si kadal air masih terlihat tebar pesona pada banyak gadis. Willem mendelik tajam melihat bagaimana David mengedip mata ke arah kelompok gadis-gadis cantik di sekolah mereka.
"Berhenti lah melakukan hal genit David!" Ujar Willem di sela langkah kakinya.
Pria itu terkekeh."Nggak apa-apa lah selagi muda!" Balas David mengalungkan tangannya pada leher Willem.
Sean hanya memasang wajah jijik. Sebelum telapak tangannya bersinggungan dengan telapak tangan Adella. Pangkal hidung nya mengerut. Sebelum meraih tangan Adella yang terasa dingin.
"Hei! Kenapa tanganmu dingin sekali?" Tanya Sean mengusap pelan tangan Adella.
Gadis itu menarik cepat tangannya dari genggaman tangan Sean. Tak lupa tersenyum seolah-olah ia baik-baik saja.
"Hari ini semakin dingin. Wajarlah tanganku dingin Sean!" Bohongnya.
"Tanganku juga dingin tapi nggak ada yang tanyain tuh!" Cemooh David dengan nada lucu.
Willem terkekeh."Kau mah kadal air yang tinggalnya di air jadi wajar dingin!" Kelakar Willem.
Kontan saja Vian tergelak bersama Sean. Adella hanya tersenyum kecil. Delta cukup pendiam. Hanya ikut melangkah dan minim berbicara.
Sesekali matanya melirik Adella. Wajah gadis itu tampak biasa. Malah terlihat semakin cantik dengan bantuan make up di wajahnya. Itu membuat Delta mendengus kecil.
"Mau menarik perhatian Vian dengan memakai make up. Dasar murahan!" Gumamnya lirih.
"Apa, Ta?" Tanya David yang berada di samping Delta.
"Eh?"
"Tadi kau bilang apa?" Ulang David menatap lambat sahabat nya.
"Nggak. Aku nggak bilang apa-apa." Bantah Delta.
"Perasaan aku dengar kau ngomong. Jangan bilang tadi kau bergumam menyumpahi aku?" Tebak David dengan nada kesal.
"Kau pantas di sumpahin, Dav!" Seru Willem.
Wajah David terlihat semakin kesal saja. Vian melirik aneh Delta. Pria ini berpikir Delta tersinggung dengan apa yang di katakan olehnya dua kemarin. Hingga sikapnya berubah. Bukan maksud Vian melukai hati sahabat nya ini. Hanya saja, ia cukup sensitif. Saat hal yang ia anggap privasi di usik.
***
Ella melangkah cepat. Di ujung ekor matanya ia dapat melihat dua orang mengikutinya.
"Ugh! Sial!" umpatnya kesal. Sebelum menghentikan langkah kakinya.
Wanita cantik ini tidak tau jika ia di ikut oleh anggota Yakuza. Sejak kapan dan apa saja yang sudah Yakuza ketahui tentangnya. Itulah yang kini berkecamuk di otak cerdasnya. Kelopak matanya di tutup perlahan, mencoba mengendalikan kekesalan.
Kelopak matanya terbuka perlahan. Senyum tipis mengembang perlahan. Ia butuh tameng untuk saat ini. Setidaknya jaminan untuk ia tetap aman di negara Sakura ini. Jika terjadi sesuatu padanya, ayahnya akan sangat marah. Pria yang diam-diam menyokong Mirabel itu tidak boleh terlihat. Bagaimana pun, sang ayah. Tidak boleh berurusan dengan Yakuza. Ella tidak ingin hubungan Yakuza dan ayahnya menjadi rumit. Ia tidak ingin bermusuhan dengan Yakuza. Niat awal yang ingin menghancurkan Yakuza menghilang entah kemana.
Hanya karena Sean Yamato. Dendam dan rasa benci seorang Annabelle menghilang. Tergantikan dengan keinginan memiliki. Meski pun harus mengorbankan banyak hal. Bahkan jika mengorbankan Mirabel sekalipun. Ella rela, yang terpenting ia bisa bersama Sean.
Langkah kakinya terlihat kembali. Ia harus mengurungkan niatnya untuk bertemu Alex hari ini. Ia harus kembali ke kediaman keluarga Zhao. Mundur satu langkah untuk maju seratus langkah. Ini semua demi Sean. Pria yang membuat ia tak waras.