
Tubuh Dera mondar-mandir di kamar sendiri. Wajahnya tampak kusut, Hiro tidak membicarakan perihal Adella padanya. Padahal hari ini adalah hari ke tiga, selah Dera mendengar pembicaraan Hiro dan Yeko. Pria itu, juga belum kembali dari luar rumah. Telepon nya tidak aktif, yang bisa di hubungi hanya Yeko. Tangan kanan sang suami tidak bisa berkata banyak. Itu membuat ibu empat anak ini resah dengan keadaan yang tidak jelas. Di tambah beberapa hari ini Sean tidak bisa tenang. Anak lelaki nya itu terus menerus menanyakan tentang di mana Hiro. Dan kenapa Hiro tidak di rumah.
Dera tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Ino menjadi salah satu pemenang Sean. Wanita itu berkata jika beberapa hari ini Adella sungguh sangat sibuk dengan lomba. Dan membuat gadis remaja itu tidak bisa di hubungi barang sejenak.
Tok!
Tok!
Tok!
"De!"
Suara Clara terdengar dengan jelas oleh Dera. Wanita ini menghentikan pergerakan kakinya yang terus mondar-mandir tak jelas. Kaki pendek Dera melangkah cepat menuju pintu masuk.
Klik!
Kreat!
Engsel pintu di putar dan di tarik ke dalam. Dera membuka lebar pintu kamarnya.
"Ada apa Clara?" tanya Dera dengan wajah lesu.
"Katanya ada kabar baik tentang Adella," jawab Clara dengan nada pelan saat menyampaikan berita.
"Kabar baik apa?" tanya Dera dengan wajah kembali terlihat cerah.
Clara mengulas senyum. Sebelum mengerakkan kepalanya, menoleh ke kanan dan ke kiri. Takut kalau ada yang mendengar apa yang ia katakan. Mengingat berita tidak boleh di ketahui oleh siapapun. Apalagi Sean Yamato, putra ke dua Dera dan Hiro. Anak remaja itu bisa menggila jika tau apa yang sebenarnya terjadi. Clara mengikis jarak antara ia dan istri sang bos besar. Mendekatkan bibirnya ke daun telinga Dera.
"Adella di temukan di salah satu Rumah Sakit besar di Paris. Ia mengalami luka tusuk di perut kanannya. Beruntung kondisi nya tidak parah. Sekarang Bos sedang berada di Paris," bisik Clara.
Wanita dua anak ini menjauh dirinya dari Dera. Berdiri dengan tegap. Menatap Dera yang kini mengusap dadanya, tak lupa gunaman rasa syukur terlontar.
"Aku benar-benar merasa pasing beberapa hari ini. Syukurlah, Adella baik-baik saja!"
"Ya. Adella bukanlah gadis yang lemah," balas Clara.
Kepala Dera mengangguk."Jika memang seperti itu, berati ada seseorang yang sengaja mengincar nyawanya bukan?" tanya Dera panik.
"Hah!" Clara menghela napas pendek,"seperti nya begitu. Namun untuk kejelasan nya belum ada. Saat ini, yang perlu di fokuskan adalah penyembuhan Adella. Dan Bos berpesan untuk benar-benar menutup rapat akan hal ini dari orang rumah. Sebenarnya dari mu juga, cuma aku tidak tega melihat wajah pucat dan resahmu itu. Aku tidak ingin anak-anak mu sadar jika mama mereka sedang memikirkan hal berat," lanjut Clara.
"Terimakasih, Clara. Karena kau sudah memberikan informasi ini. Setidaknya, aku tidak lagi merasa resah dan gelisah."
Kepala Clara mengangguk pelan sembari mengulas senyum.
***
Aroma obat-obatan tercium sangat pekat. Adella tampak berdasar pada ranjang dengan bantal kepala sebagai sandaran. Di kursi di samping ranjang, Hiro duduk menatap intens Adella. Pria ini langsung terbang ke Paris saat mendapat informasi dari Ino. Kemarin malam Adella di pindahkan di ruang VIP dengan penjagan ketat. Adella sudah menceritakan dari awal mula kejadian sampai ia berada di Rumah Sakit. Kini, senyap menyelimuti ke duanya. Hanya pandangan tajam dari Hiro membuat Adella sedikit merinding.
"Papa akan mengurus polisi Paris. Kemungkinan besok pagi mungkin kamu akan di interogasi. Kau jawab saja, seperti yang telah papa ajarkan!" ujar Hiro setelah terdiam beberapa saat.
"Ya, Papa!"
Kepala Adella mengangguk patah-patah. Ada rasa takut di hati Adella pada ayah dari Sean dan Vian ini. Meskipun wajah nya tampak polos dan murah senyum. Seperti yang orang-orang katakan. Jangan pernah melihat sesuatu dari cover atau bentuk luar. Karena bentuk luar selalu menipu.
Hiro Yamato adalah pria yang di takuti sekaligus di segani oleh Adella. Perasaan Hiro yang tidak bisa di tebak membuat Adella cukup waspada. Secara tidak sadar.
"Kau..... apakah ingatamu sudah pulih?" tanya Hiro agak ragu.
Adella mengangkat pandangan nya. Pupil matanya membesar, jantung nya bertalu-talu. Tubuh nya terasa di siram air es, membekukan seluruh syaraf di tubuh nya. Hanya untuk menelan air liur yang tersangkut di kerongkongan saja Adella tak mampu.
"Ah, begitu ternyata!" Seru Hiro lagi dengan kepala mengangguk mengerti."Kau telah mendapatkan ingatanmu kembali."
"Kau tau jati dirimu benar begitu?"
"Ya, pa!"
"Jangan katakan apapun pada Sean maupun Vian. Cukup simpan dengan rapat tentang masa lalu mu. Aku tidak ingin jati diri mu maupun ingatan mu membuat kegaduhan bagi ke dua putraku," ujar Hiro dengan nada berat penuh ancaman.
Beginilah wajah lain dari Hiro Yamato. Bos besar Yakuza. Pria ini egois, jika sudah menyangkut orang yang sangat ia sayangi. Berani menyentuh keluarga nya seujung kuku saja. Orang tersebut akan merasa kematian menyakitkan. Atau lebih parah lagi, mereka akan mengemis kematian padanya. Begitu kelam dan kejamnya Hiro. Kekejaman, yang tidak pernah ia tampakkan pada Dera Sandya.
Wajah yang selama ini ia sembunyikan di balik senyum dan sikap yang berusa seromantis mungkin. Jika saja, Dera melihat wajah lain dari Hiro Yamato. Belum tentu Dera tidak akan syok.
"Baik, Pa!"
"Dan yang perlu di tegaskan dan di perjelas di sini adalah siapa yang kau cintai di antara ke dua putra ku?"
Adella membuka mulutnya. Sebelum terkatup kembali. Ia cemas sungguh.
"S——sean," jawab Adella,"aku mencintai nya dari dulu," lanjut Adella pelan. Sebelum menunduk dalam.
Hiro menghembuskan napas pelan. Ah, berbeda dengan kisah masa lalu.
"Jika kau mencintai Sean, jangan pernah memancing Vian untuk ingat padamu!" peringat Hiro.
"Aku tidak akan melakukan nya papa," balas Adella tegas.
"Jika kau berani melakukan nya, jangan salahkan papa jika kau benar-benar akan menghilang untuk selama-lamanya," kata Hiro dengan nada lembut penuh dengan aura mencekam.
"Aku tidak akan mengikarinya, Pa!" jawab Adella mantap.
***
Brak!
Bruk!
"Akh!" tubuh Ella terpelanting menabrak tembok. Ia meringis, kala kerah baju seragam sekolah nya di tarik paksa.
Wajah Kris terlihat merah padam. Urat-urat di lehernya bahkan tampak mencuat. Tubuh Ella mengigit ketakutan.
"Kau yang melakukan nya?" tanya Kris dengan nada penuh geraman.
"Ti——tidak, Bos. Aku sama sekali tidak melakukan apa-apa. Aku berani bersumpah!" jawab Ella sedikit mencicit.
Ke dua manik mata Kris menajam. Ke dua matanya memicing menatap Ella dengan pandangan curigai.
"Siapa lagi jika bukan kau, karena hanya kau yang berniat menghabisi Adella!" tuding Kris dengan yakin.
Kepala Ella mengeleng lemah. Ia harus bersandiwara dengan apik. Meskipun di hatinya kini tengah memaki Kris. Pria gila ini berani-beraninya menyakitkan diri nya. Jika bukan karena ingin menjadi kan Kris tameng nya. Mana mau ia seperti saat ini. Pura-pura takut dan tunduk pada Kris.
"Sumpah Bos! Aku tidak melakukan nya. Aku tidak punya kekuasaan dan kekuatan apapun untuk melakukan nya. Dan Bos tau itu lebih baik dari siapapun," bantah Ella.
"Sialan!" Makik Kris lagi sembari mendorong tubuh Ella.
Bruk!
Tubuh Ella kembali terjerembab ke lantai. Kris melangkah meninggalkan Ella sendiri di gudang kosong kumuh, milik sekolah.
Ciuh!
Ella meludah ke samping."Awas saja kau nanti!" makinya pelan sebelum tersenyum miring.