The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 8 (Kelas Seni)



Semua mata di meja menatap Sean dengan pandangan meminta penjelasan. Pria ini tidur di luar rumah tanpa seorang pun tahu kemana ia pergi. Bahkan ponselnya sengaja di matikan. Benar-benar membuat ke empat nya penasaran. Terutama si David, yang gemar mendapatkan banyak berita. Pria bermata hijau itu sangat penasaran.


"Singkirkan pandangan aneh kalian," kesal Sean.


Delta melipat ke dua tangan nya di depan dada. Menatap aneh ke arah Sean. Sedangkan Willem, pria Zhao ini benar-benar tak bisa di buat penasaran. Untuk Vian, ia juga terlihat penasaran namun dalam kadar yang berbeda. Tidak sebesar teman-teman nya yang lain.


"Kemana kau semalam. Bahkan kau tak balik ke rumah hanya untuk menukar baju. Seragam mu saja di bawa oleh Vian. Ayo katakan kemana saja anda tadi malam tuan muda Yamato?" wawancara Delta dengan nada serius.


Sean mendesah kasar."Aku hanya ingin bermalam di luar saja. Untuk kemana dan sedang apa itu, rahasia!" jawab yang di wawancara.


Serentak ke empat nya melenguh kesal dengan jawaban Sean.


"Kau pelit sekali pada kami," timpal Willem.


"Kita berlima ini bersahabat. Apapun selalu di bicarakan bersama. Kenapa kali ini kau malah main rahasia-rahasian!" cerocos David dengan nada bete.


Sean mengembangkan senyum maut. Yang mampu membuat para gadis menjerit keras. Beruntung, mereka tidak berada di mana ada banyak mata para gadis remaja yang mengelilingi. Hingga tidak terjadi pingsan masal karena senyum merenggut kesadaran para gadis.


PLUK!


Kacang goreng mental kala di lempar oleh Vian. Pria dengan wajah sempurna ini merasa kesal dengan jawaban sang kembaran.


"Sudahlah. Tidak usah berbicara tentang aku. Bukanlah hari ini kalian juga tengah dilanda kesibukan. Kau akan pergi pemotretan lima belas menit lagi. Silahkan bergegas kawan!" Ujar Sean menunjuk David."Sedangkan kau ada ekskul basket dan Abang sebentar lagi akan mengikuti olimpiade Kimia. Silahkan lakukan kegiatan masing-masing. Aku akan masuk kelas!" Lanjut nya sembari berdiri dari posisi duduk nya.


Ketiga pria remaja itu mendengus mendengar penuturan di setan Sean satu ini. Dari kecil sudah di panggil anak setan, sampai dewasa akan tetap begitu.


"Aku ikut!" Seru Delta bergegas berdiri dari posisi duduknya mengejar Sean yang melangkah menuju pintu keluar.


"Wah! Baru kali ini dia bicara tentang jadwal kita," ujar David takjub.


"Seperti nya dia memang engan membicarakan nya," timpal Willem.


"Tapi, ini membuat aku semakin penasaran!" Ujar Vian tersenyum miring.


Kontan saja ke duanya mengeleng pelan. Vian dan Sean sama saja. Kembar tak identik ini sama-sama aneh dan sama-sama gila. Yang kegilaan nya tak di ragunan lagi.


***


Bisik-bisik lirih mengalun di


ruangan besar. Pasalnya ke dua orang geng beken berada di kelas mereka. Seperti nya mengisi jam kosong di kelas mereka. Beberapa gadis cantik terlihat curi-curi pandang pada Sean Yamato. Pria yang terlihat tengah serius mendengarkan penjelasan guru Seni di atas podium. Sedangkan anak lelaki mencuri-curi pandang pada si imut Delta. Sangat sulit untuk bisa dekat dengan Delta. Gadis terkenal beken itu, adalah orang yang tertutup. Hanya mau bergaul dengan anak perempuan saja. Sedangkan untuk anak lelaki Delta terlihat sungkan dan risih. Loker nya selalu penuh dengan surat cinta baik dari adik kelas sampai teman-teman sebayanya. Sayang nya, Delta Amanda tidak akan menghiraukan nya.


Anak perempuan imut ini di apit oleh empat orang pria populer. Siapa yang berani mendekatinya atau menyakiti seorang Delta. Mengingat ada banyak yang melindungi nya. Bahkan saat inipun, Delta duduk di samping Sean.


"Iri sekali. Padahal aku sangat ingin duduk di samping Sean."


"Delta selalu mengekori Sean, bikin kesal saja."


"Aku ingin mengajaknya berkencan!"


"Memang tampangmu bisa mengalahkan tampang Sean?"


"Ah! Aku tidak akan bisa konsentrasi melukis."


Samar-samar Adella mendengar kan bisik-bisik teman-teman satu jurusannya. Gadis ini hanya mengeleng pelan kepala nya. Semalaman pria yang tengah menjadi bahan pembicaraan orang-orang itu tidur di kontrakan nya. Dengan dalil ia takut pulang malam. Dan ponsel mahalnya mati. Mengingat kabel charger ponsel mahal Sean tak ada padanya. Membuat Adella terpaksa membiarkan Sean tidur di ruangan tamu dengan futon menjadi alas nya. Yah, meski sebenarnya itu hanya akal-akalan anak Mafia itu. Agar bisa bersama Adella.


"Tumben mereka masuk kelas kita," bisik Nika dengan nada sangat pelan. Hanya bisa di dengar oleh ia dan Adella.


"Memangnya ini pertama kali mereka ikut kelas Seni?" tanya Adella cukup penasaran.


Kepala Nika mengangguk cepat."Iya. Ini adalah kali pertama nya mereka ikut kelas Seni."


Adella hanya mungut-mungut saja. Sebelum melayangkan tatapan matanya pada pria di jauh di depan sana.


GLEK!


Adella menelan kasar air liur di kerongkongan nya. Kala mata hitam legamnya terbentur oleh mata coklat kelam Sean. Kenapa pria itu harus menatap ke arahnya bersamaan dengan ia yang menatap ke arah depan.


Pekikan keras tak lagi mampu di taman oleh anak-anak perempuan. Kala Sean mengulas senyum. Bahkan Nika di samping tubuh Adella kegirangan dengan senyum Sean.


Kya!!!


"Sean tersenyum!"


"Senyum nya pasti untuk aku yang cantik ini!"


"Cih! Siapa bilang. Senyumannya sudah pasti untuk aku!"


"Tidak Jagan geer deh, itu untuk aku tau!"


Guru Seni lukis di depan podium mengeleng kan kepalanya pelan. Siswa-siswi di kelas nya bukan mendengar kan penjelasan nya sebelum melukis. Malah kesemsem sama murid terlalu tampan yang baru saja bergabung di kelas nya. Harusnya, ia tidak menerima formulir Sean untuk bergabung di jam nya. Melihat fokus malah jatuh padanya. Bukan menggambar.


"Oke! Sudah-sudah anak-anak. Sekarang saatnya serius. Objek yang kita gambar sekarang adalah manusia. Dan Bapak akan memasangkan kalian semua dengan lawan jenis!" Jelas Guru Kabuto.


Sontak saja kelas kembali ricuh. Orang-orang mulai kembali menggila. Para siswa pria dan wanita menyerukan nama pasangan yang mereka inginkan. Membuat Jiro Kabuto merasa semakin kesal saja. Para perempuan tentunya ingin di pasangkan dengan Sean. Dan para pria ingin di pasangkan dengan Delta.


Sean hanya memutar malas ke dua matanya mendengar seruan pada gadis remaja. Yang ingin menjadi pasangannya. Delta pun juga sama. Manik mata coklat kelam itu menatap Adella yang menatap kanvas polos di depan nya. Tanpa niatan ingin ikut dalam sorak-sorai gadis sebaya dengan nya. Bagi Adella, siapapun yang akan di pasangkan dengan nya itu tak masalah. Toh, sama saja hasil nya. Gambar ya tetap gambar. Tidak ada yang akan berubah.


Bug!


Bug!


"Tolong diam!" Seruan keras sembari memukul-mukul meja di podium membuat kebisingan senyap seketika.


"Pilihan ada di tangan Bapak! Jadi tolong berhenti!" seru keras Jiro Kabuto.


Kontan saja lenguhan tak rela terdengar.


***


Ujung pensil yang awalnya runcing kini telah mengecil dan menipis. Ke duanya melukis satu sama lain dalam diam. Begitu juga dengan anak-anak Seni yang lainnya. Dua jam di habiskan oleh mereka semua hanya untuk melukis dalam senyap dengan berhadapan dengan pasangan masing-masing. Tentunya berganti-gantian melukis partner mereka.


Sean terlihat duduk tegap menatap lurus ke depan dengan tangan berpose di kepal di depan pipi, begitu gagahnya. Gadis di depannya ini melukisnya dengan wajah serius. Debaran jantung Sean mengila meski wajah nya terlihat sangat tenang.


Kadang-kadang dahi Adella mengerut dalam. Kadang-kadang, ke dua sisi alis mata gadis di depannya ini menyatu. Ingin sekali Sean berdiri dari posisi duduk untuk mengusap peluh yang menghiasi ke dua sisi dahi Adella.


Sayangnya pria ini tak ingin terlalu terlihat. Jika ia tengah menaruh perhatian penuh pada gadis pindahan ini. Bisa-bisa banyak lelaki yang berlomba-lomba ikut merebut pergantiannya Adella. Dulu sekali, saat baru duduk di bangku pertama SMA. Ada seorang gadis yang di tolong oleh Sean. Pria ini hanya kasihkan, orang-orang malah berpikir ia mencintai gadis itu.


Hingga pada pria berlomba untuk memikat gadis itu. Hingga gadis itu harus pindah sekolah karena tak tahan dengan perlakuan orang-orang di sekolah nya. Para pria berlomba-lomba menjadi kan nya barang taruhan sedang para wanita terus menatap sinis dan berbicara buruk tentang nya. Meski tidak dapat membully, karena takut pada Sean dan geng nya.


"Ah! Akhirnya selsai juga." Seru Adella seraya tangannya bergerak mengusap peluh di kedua sisi dahinya. Sembari menatap hasil karya lukisnya.



Sean ikut tersenyum. Ia berdiri dari posisi duduk nya dengan gambar wajah gadis di depannya.


Berdiri di belakang Adella.


"Wah! Aku terlihat sangat tampan dengan tambahan bunga di atas kepala," pujinya pada diri sendiri.


Adella terkekeh pelan.


"Punyaku mana?" tanya Adella.


Sean membuka buku gambarnya. Memperlihatkan gambar Adella.



"Cantik bukan?" seru Sean.


"Apanya?" tanya Adella malu-malu.


"Gambar buatan ku, lah. Masa kamu!" jawabnya cepat. Tentu berbohong.


Adella cemberut. Sean tertawa, diam-diam banyak mata menatap ketidak sukaan pada gadis yang di goda Sean.