The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 28 (Rindu)



Pagi hari Rabu terlihat cerah. Jam istirahat pertama di habiskan di atap oleh ke lima orang geng beken sekolah ini. Sean terlihat uring-uringan di bangku. Ia di marahi oleh Dera sang Ibu, saat ingin minta izin libur menjaga Adella. Hal hasil, ia berada di sekolah dengan hati dan pikiran di Rumah Sakit.


"Muka kayak pakaian yang gak di setrika, bung!" cemooh Delta.


"Ya benar! Padahal kan pisahnya tidak satu hari," celetuk Willem.


"Kalian mana tau, cinta memang seperti itu kawan-kawan ku yang jomblo," ucap David,"tidak peduli hitung tahun, bulan, hari, jam dan detik itu rasa nya berbeda kawan!" lanjut nya.


Vian hanya menjadi pendengar. Pria Yamato satu itu sibuk dengan Laptop. Memeriksa berkas kantor yang di kirim oleh Hiro pada nya. Hiro ingin Vian menerima perlahan-lahan tanggung jawab kantor. Agar tiga tahun kedepannya Vian akan langsung menduduki kursi CEO di perusahaan Raksasa milik Yamato.


"Sok!"


Teriakan serentak dari Willem dan Delta membuat David tersenyum pongah.


"Jelaslah, kita berbeda kawan." Ujarnya dengan mengangkat dagunya ke atas.


Sean mencibir. David tidak pernah tidak sok exis jika soal perasaan dan wanita. Pria bule satu ini selalu seperti itu. Mengingat siapa dia.


"Nanti kita sama-sama ke Rumah Sakit kan ya?" tanya Delta mengalihkan pembicaraan menyebalkan di hatinya.


Kontan saja orang-orang menatap ke arah Sean. Pria itu mengerutkan dahinya.


"Kenapa kalian harus ikutan?" katanya dengan wajah tak suka.


"Lah! Memangnya kenapa kalau kita ikutan?" Willem protes dengan ketidak sukaan Sean.


"Kalian akan menganggu istirahat Adella," tukas Sean.


Bola mata Vian berotasi. Adiknya ini memang memiliki modus di atas rata-rata. Terlalu overprotektif pada Adella. Seperti saat kecil, Sean selalu overprotektif pada ibu mereka. Sean terlalu kentara, berbeda dengan nya yang tak pernah memperlihatkan isi pemikiran nya pada orang lain.


"Lalu kau tidak menggangu Adella begitu maksud mu, huh!" cibir David.


"Tidaklah. Kedatangan ku tentu di tunggu," tukas Sean cepat.


"Adella akan bosan kalau kamu terus di samping nya. Anak perempuan itu gak akan nyaman kalau ada lelaki di samping nya. Mereka lebih nyaman kalau ada teman sejenis. Karena ada beberapa kerisauan yang tidak bisa di bagi dengan mahluk yang selalu mengandalkan logika," tolak Delta dengan lugas.


Tepuk tangan bergemuruh dari Willem dan David mendengar paparan bijak dari Delta. Sean kembali mencibir.


"Terserah kalian saja," kesalnya.


Serentak ke tiganya tersenyum penuh kemenangan. Vian mendesah kecil, sebelum kembali mengfokuskan matanya pada layar Laptop.


****


"Bagaimana Del?" tanya Dera dengan nada lembut.


Adella mengigit bawah bibir merah merekah nya. Ia ragu, Papa angkat nya tidak berkata banyak tentang apa yang terjadi padanya. Mengingat peristiwa yang terjadi padanya sangat membuat ia berada dalam gangguan kecemasan. Sangat menakutkan.


"Aku......tidak tau Ma," balas Adella lirih.


Dera meraih tangan Adella. Tersenyum lembut, tak lupa pula wanita ini mengusap pelan punggung telapak tangan Adella. Mencoba menyalurkan kekuatan bertahan untuk Adella.


"Mama tau ini masih sangat membuat mu bingung. Mama akan selalu mendukung keputusan mu. Baik Adella mau melakukan pembukaan ingatan ataupun memilih untuk melupakan nya. Terkadang, ada ingatan yang bahagia tersembunyi di balik ingatan menakutkan. Lari dari rasa takut bukanlah solusi. Namun menghadapi rasa takut adalah solusi yang baik. Adella di sini tidak lah sendirian. Jadi jangan takut pada apapun," nasehat Dera dengan bijak.


Gadis remaja dengan pakaian Rumah Sakit itu menarik pelan garis bibir nya ke atas. Tersenyum tulus.


"Adella butuh waktu seperti nya, Ma! Di sini rasanya sangat takut!" Ujar Adella menyentuh dadanya.


Ia tidak berbohong. Ada rasa takut yang lebih mendalam di dalam sana. Seolah-olah begitu tidak siap dengan fakta. Berbanding terbalik dengan logika. Dimana otak nya menginginkan sebuah fakta lebih baik dari pada sebuah kebohongan tersembunyi. Dimana Adella hidup tanpa memori lama.


Kepala Dera mengangguk mengerti."Baiklah. Berpikir lah yang baik-baik saja. Jangan terlalu stres," ucap Dera.


Kepala Adella mengangguk cepat dan tersenyum.


SRAK!


"Kalian datang!" seru Dera. Sebelum melepaskan tangan nya dari tangan Adella.


"Ya,Ma!"


Jawaban serentak dari kelimanya terdengar. Parsel buah mahal rintangan David di ambil alih oleh Dera.


"Duduklah!" Titah Dera di sela langkah nya menuju kulkas.


Tidak perlu perintah dua kali. Ke limanya langsung ambil tempat sendiri-sendiri. Sean dengan tidak tau malunya malah duduk di kursi tepat di samping ranjang Adella.


"Ada sofa lembut dan luas di sini tapi malah suka duduk di kursi besi yang keras. Susah ya, kalau udah kena virus cinta," seru Delta dengan suara keras.


"Ya begitulah, namanya di mabuk cinta." Timpal David mengedip kan satu matanya ada Delta.


Delta berdecak jijik melihat ekspresi sok seksi David. Dera hanya terkekeh pelan mendengar perkataan ke dua sahabat putranya.


"Sudahlah, jangan di ganggu lagi. Wajah Adella merona itu, meski Sean tidak tau malu. Tapikan ada Adella yang tau akan rasa malu," kini Willem ikut menimpali.


"Iri! Bilang, Bos!" balas Sean dengan pukulan telak.


Vian acuh. Pria ini memilih mengeluarkan ponsel. Pencinta game sejati, begitu sahabat-sahabat dan adiknya katakan tentang dirinya. Delta dan Willem memasang wajah masam karena balasan tepat sasaran dari Sean.


"Aku tidak iri. Buat apa iri jika aku lebih dari Sean. Bayangkan, dalam sehari aja aku bisa di perhatikan oleh sepuluh gadis yang berbeda-beda. Apa lagi, mereka semua seperti porselen. Wajah cantik, bibir seksi dan body bohay!" tukas David dengan wajah pongah.


"Hem! Hem!" deheman dari sudut ruangan membuat gelak tawa menggelegar.


David Miyaki suka lupa tempat jika sudah masalah wanita. Ia bahkan melupakan keberadaan ibu sahabat nya. Yang masih berada di dalam ruangan.


"Mati kau David!"


"Dasar kadal air!"


Dua seruan puas dari Willem dan Delta terdengar jelas. David memerah, apalah daya. Belangnya sudah kelihatan oleh Dera.


"Heheh....becanda kok Ma!" ilak David.


"Becanda lubang Cina!" cibir Sean.


Dera mengeleng kan pelan kepala nya melihat pemikiran David.


****


Mobil sedan hitam mahal milik Yakuza membelah jalan Hiroshima dengan kecepatan standar. Hiro menyadarkan punggung belakang nya senyaman mungkin di kursi mobil.


"Apa yang di lelang oleh pasar gelap malam ini?" seru Hiro dengan nada berat.


Yeko memutar kepalanya kebelakang. Menatap sang Bos besar Yakuza.


"Ada beberapa barang langka yang di lelang oleh mereka Bos. Ada kalung peninggalan Ratu Inggris dan juga, seorang peliharaan wanita cantik Rusia yang di latih menjadi doggy bos besar di Jepang!" papar Yeko.


Hiro memejamkan kedua kelopak matanya.


"Hanya itu?" tanya Hiro dengan nada berat.


"Ya, Bos!" jawab Yeko,"apakah Bos ingin menghadirinya. Aku dengar Tuan Zhao sendiri akan hadir di sana," lanjut Yeko.


Kelopak mata Hiro terbuka perlahan.


"Apa yang di inginkan oleh Carlos?"


"Kalung Ratu Inggris untuk nyonya Sari, seperti nya!" jawab Yeko.


"Ah, begitu!" Hiro mengangguk pelan. Jika Carlos berani mengambil Wanita peliharaan Rusia itu. Maka sudah pasti akan ada kehancuran kedepannya.