The King, Son of Mafia

The King, Son of Mafia
Bab 31 (Cerita Ambigu)



Adella merasa tangan dan hatinya menghangatkan kala jari jemarinya di genggaman oleh Sean. Ke duanya melangkah sama-sama menuju atap sekolah. Dimana markas Sean dan teman-teman berada. Vian dan yang lainnya sudah ada di atap sekolah. Jam istirahat pertama, tentunya di habiskan oleh mereka berenam untuk sarapan.


"Sean!" Panggil Adella di sela langkah kakinya menaiki satu persatu undak tangga.


Sean menoleh ke samping."Ada apa?"


"Tidakkah kamu risih, di goda terus oleh teman-teman lainnya jika kita terus berpegangan tangan seperti ini?"


Dahi Sean berlipat."Apa masalahnya. Tidak ada kerisihan jika aku di goda karena bersamamu." Tukas Sean semakin mengeratkan genggamanan tangannya pada Adella."Kau sendiri apakah risih karena aku?" Sean membalik kan pernyataan pada Adella.


Adella mengigit pelan bibir bawahnya. Ke duanya berhenti melangkah naik. Tidak ada yang menyadari jika mereka sudah sampai di depan pintu masuk.


"Kenapa tidak menjawab?" desak Sean.


Adella menunduk sebelum menengadahkan kepala nya. Menatap wajah tampan Sean Yamato. Rahang tegas, hidung mancung, bibir tipis merah merekah dengan di perindah dengan ke dua manik mata coklat kelam mampu menenggelamkan banyak gadis remaja dalam pesona nya. Tidak ada yang tau berapa banyak gadis remaja yang jatuh terperosok dalam pesona seorang Sean Yamato.


Tidak yang tau.


"Entahlah," Adella memberi jeda,"bukan risih, mungkin lebih tepatnya aneh di sini!" Ucap Adella menempel kan sebelah telapak tangan nya yang bebas ke dada kirinya. Dimana jantung gadis ini berdetak keras. Dan itu mengganggu nya, akan tetapi dalam kadar yang berbeda.


Sean menarik ke dua garis bibirnya ke atas. Melengkung membentuk sebuah senyuman.


"Aku bahagia jika perasaan seperti itu ada padamu," ujar Sean tidak dapat menutupi betapa bahagianya dirinya.


Kontan ke dua wajah cucu Adam-Hawa ini merona. Mereka yang memberikan pertanyaan tentang rasa. Mereka sendiri yang merona.


"CK! Ck! Ck! Aku merasa merinding mendengar pembicaraan kalian berduaan," seru Delta membuat Sean dan Adella menatap cepat ke arah sumber suara,"aku yang berada di belakang kalian tidak mendapatkan respon apa-apa dari kalian berdua. Benar kata orang-orang, ya. Jika sudah jatuh cinta, dunia serasa milik berdua. Orang lain, hanyalah butiran upil yang menganggu!" lanjutnya dengan nada kesal.


Adella tersenyum tipis. Sean mencabik mendengar sindiran Delta padanya.


"Iri, huh!" cibir Sean.


Delta melangkah naik. Hingga posisi mereka sejajar. Tidak perlu lagi untuk menengadah menatap ke dua sejoli tanpa status ini.


"Kenapa harus iri?" balas Delta dengan wajah tak terima.


"Ya, jelas irilah. Secara kau kan belum bertemu dengan pria yang mau pada mu," canda Sean.


Jleb!


Gadis remaja imut itu terdiam. Beginikah rasanya sakit tapi tidak berdarah?


"Kau jahat!" Kesal Delta mengentak-hentakkan dua kakinya ke lantai. Sebelum melangkah menuju pintu.


Clik!


Brak!


Pintu besi di banting keras oleh Delta. Kaum jomblo memang lebih sensi di saat-saat seperti saat ini. Dan itulah yang di rasakan oleh Delta Amanda. Gadis imut, yang mempunyai banyak penggemar atau fans pria. Sayangnya, malah jatuh cinta pada pria seperti Vian Yamato. Pria yang tidak memiliki kadar peka lebih tinggi.


"Bukankah itu agak menyakitkan bagi Delta?" tutur Adella tak enak hati.


Sean mengeleng pelan."Tidak kok, kami sudah terbiasa seperti itu. Tenang saja, Delta bukan gadis yang mudah memasukkan apa-apa ke dalam hati."


"Ayo, masuk!" ujar Adella.


"Eh, ah! Iya. Ayo masuk!" Balas Sean sempat bodoh karena wajah Adella.


Sean membuka pintu. Sebelum menarik Adella untuk masuk ke dalam. Di dalam sana sudah sangat ribut, tidak ada yang tau apa yang di ributkan oleh teman-temannya.


***


Aroma teh hijau menguar di ruangan tengah rumah Yakuza. Para wanita yang sudah menjadi ibu dari masing-masing anak pria yang mereka nikahi tengah berkumpul. Clara menyesap perlahan teh hijau di cup. Sari menyandarkan tubuhnya di sofa. Rasanya sangat menyenangkan saat berada di rumah Yamato. Mengingat, ada banyak orang yang bisa di ajak bicara. Berbeda dengan di kediaman besar Zhao.


Sari bahkan merasa sangat kesepian saat Carlos kerja. Dimana Willem sekolah, anak tirinya itu lebih senang main di sini dari pada langsung pulang ke rumah. Hanya Mika Zhao yang bisa di andalkan oleh Sari. Sebagai penghilang rasa suntuk. Meskipun begitu, Mika cukup mengesalkan. Karena terlalu manja.


"Hei, ada apa dengan wajah kusut mu Sari?" tegur Clara.


Sari menghembuskan napas kasar.


"Aku rasa aku, semakin tua saja karena ulah Mika dan Kak Carlos," curhat Sari. Sebelum wanita cantik ini meraih kuping cup teh. Menyesap teh hijau dengan perlahan.


Clara dan Dera terkekeh pelan. Memang begitu lah jika sudah menjadi seorang istri dan ibu. Bukan hanya diri sendiri saja yang membuat pusing. Wanita akan menjadi semakin pusing mengurus anak dan suami sekaligus.


"Ada apa dengan Mika dan suamimu?" tanya Clara lagi. Dera hanya menjadi pendengar setia.


Sari meletakan kembali cup teh ke atas meja, di posisi semula. Sebelum membuka mulut nya untuk mengeluarkan keluh kesahnya.


"Dia meminta sama aku dan Papanya, itu Anu sama Otong nya punya si Sean. Yang benar saja, melihat Anu sama Otong punya Sean aku udah gak kuat. Apa lagi minta peliharaan yang begituan. Bisa ubanan cepat aku, Kak!" cerocos Sari.


Tidak ada tawa yang bisa di bendung kala mendengar curhatan Sari.


"Astaga! Ngapain minta Anu sama Otongnya Sean, Sar!" Canda Dera mengibaskan wajahnya yang memerah.


Clara tak kalah sama. Entah kenapa rasanya keabiguan nama bintang peliharaan Sean membuat perempuan Indonesia dan yang pernah tinggal di Indonesia ini menjadi tertawa geli.


"Emang punya nya itu, kurang kah?" ucap Clara menambahi.


Hahahahahahah!!!!


Kembali Dera dan Clara tertawa keras. Sari hanya mampu tersenyum geli mendengar ke duanya menggoda dirinya.


"Nah kan, malah ketawa. Tadi malam juga begini kasus nya. Aku sama Kak Carlos tertawa terpingkal saat Mika menyembutkan nama Otong dan Anu. Aku bahkan sampai terpingkal-pingkal, Mika sampai marah karena aku dan Kak Carlos malah ketawa karena permintaan nya," kata Sari.


"Oh, astaga! Perutku sakit!" keluh Dera. Sebelum mengusap perut datarnya.


Sean ada-ada saja bikin nama bintang reptil itu dengan nama yang ambigu. Salah-salah, ya pasti ketawalah karena merasa lucu bercampur geli.


"Terus maunya bagaimana, jadi beli Anu sama Otong. Kalau minta sama Sean mah pasti gak di kasih, karena dapat keturunan Jery sama Jumbo kan gak gampang, Sar!" kata Clara mengingat betapa kerasnya perjuangan Sean untuk Jery dan Jumbo mendapatkan keturunan.


"Ah, kayaknya gak deh. Aku gak mau anak ku itu jadi mainnya Buaya. Tar kalau udah gedek, malah mainnya sama buaya darat. Karena kecil nya main sama buaya air!" jawab Sari nyeleneh.


Kembali ketiganya terkekeh konyol. Pembicara ngerumpi mak-mak memang aneh bin nyeleneh. Yang di bicarakan jadi tidak tentu arah. Seperti inilah yang terjadi jika sudah berkeluarga. Berkumpul seputar topik keluarga. Tidak jauh dari itu.